Gadis miskin dipaksa menikah menggantikan kakaknya dengan CEO dingin.
Awalnya dihina dan diabaikan, tapi perlahan suaminya berubah.
Tanpa diketahui, sang istri ternyata memiliki identitas tersembunyi yang bisa menghancurkan semua orang yang meremehkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 - Munculnya Pelakor
Siang itu, suasana rumah keluarga Wijaya terasa sedikit berbeda dari biasanya, seolah ada sesuatu yang sengaja dipersiapkan dengan lebih serius. Ketika Alyssa turun dari lantai atas, ia langsung merasakan perubahan yang tidak terlalu mencolok, tetapi cukup untuk membuatnya berhenti sejenak di ujung tangga dan memperhatikan sekeliling dengan lebih teliti.
Biasanya rumah itu terasa tenang dengan ketegangan yang tak terlihat, namun hari itu ada ritme lain yang mengalir di antara para pelayan. Langkah kaki mereka lebih cepat, suara percakapan lebih sering terdengar meski tetap dijaga agar tidak terlalu keras, dan meja ruang tamu disusun dengan ketelitian yang lebih dari biasanya, seolah setiap sudut harus tampak sempurna di mata seseorang yang akan datang.
Alyssa berjalan perlahan menuju dapur, masih mencoba memahami perubahan itu. Aroma bunga segar tercium lebih kuat dari biasanya, dan bahkan tirai-tirai tampak baru saja dirapikan dengan lipatan yang lebih rapi. Semua itu membuatnya merasa seperti orang asing yang sedang menyaksikan persiapan di rumah yang seharusnya menjadi tempat tinggalnya sendiri.
Di dapur, suasana juga tidak kalah sibuk. Beberapa pelayan sibuk memotong bahan, yang lain mengatur hidangan, sementara koki utama terlihat memberi instruksi dengan nada yang lebih tegas dari biasanya. Alyssa berdiri di dekat meja, memperhatikan sebentar sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
“Ada tamu penting?” tanyanya dengan suara pelan, mencoba tidak mengganggu ritme kerja mereka.
Salah satu pelayan yang berdiri paling dekat mengangguk singkat tanpa menghentikan tangannya. “Iya, Nona.”
“Siapa?” lanjut Alyssa, lebih karena rasa penasaran yang sulit ia abaikan daripada kepentingan apa pun.
Pelayan itu sempat ragu, matanya melirik ke arah rekan di sebelahnya seolah memastikan apakah ia boleh menjawab. Setelah beberapa detik, ia menurunkan suaranya sedikit.
“Nona Cassandra.”
Nama itu tidak pernah Alyssa dengar sebelumnya, namun cara pelayan itu menyebutnya membuat sesuatu di dalam dirinya terasa tidak nyaman. Ada nada hati-hati di sana, seolah nama itu membawa arti lebih dari sekadar tamu biasa yang datang berkunjung.
Alyssa tidak melanjutkan pertanyaan. Ia hanya mengangguk kecil, lalu kembali memusatkan perhatian pada sayuran yang ada di depannya. Meski begitu, pikirannya tidak benar-benar tenang, karena ada perasaan asing yang perlahan muncul dan sulit dijelaskan.
Beberapa saat kemudian, suara dari arah pintu utama terdengar jelas, diikuti bunyi sepatu hak tinggi yang berirama teratur dan mantap. Suara itu berbeda dari tamu biasa, lebih tegas dan seolah tidak ragu dengan setiap langkah yang diambil.
Tanpa sadar, Alyssa menoleh ke arah ruang tamu, dan saat itulah ia melihat sosok yang baru saja datang.
Seorang wanita berdiri di sana dengan postur tegap dan sikap yang begitu percaya diri. Gaun panjang berwarna krem membalut tubuhnya dengan sempurna, mempertegas garis yang anggun tanpa terlihat berlebihan. Rambut hitamnya jatuh rapi di punggung, dan riasan wajahnya tampak halus, cukup untuk menonjolkan kecantikan tanpa terkesan mencolok.
Namun bukan hanya penampilannya yang menarik perhatian, melainkan aura yang ia bawa. Ada ketenangan yang kuat, seolah ia sudah terbiasa berada di tempat seperti ini, bahkan mungkin lebih pantas berada di sana dibanding siapa pun yang ada di ruangan itu.
Ibu Daren menyambutnya dengan senyum yang berbeda, jauh lebih hangat dan tulus dibandingkan sikap yang biasanya ia tunjukkan pada Alyssa. Perbedaan itu terasa begitu jelas hingga membuat Alyssa tanpa sadar menarik napas lebih dalam.
“Cassandra, kamu datang juga,” ucapnya dengan nada yang hampir terdengar senang.
Wanita itu tersenyum tipis, matanya lembut tetapi tetap menyimpan sesuatu yang sulit ditebak. “Tentu saja, Tante. Sudah lama sekali aku tidak berkunjung.”
Nada suaranya halus dan terkontrol, setiap kata diucapkan dengan tenang seolah ia selalu tahu bagaimana cara membawa dirinya di hadapan orang lain. Alyssa yang berdiri tidak jauh dari sana hanya bisa memperhatikan, mencoba memahami situasi tanpa benar-benar menjadi bagian darinya.
Pelayan di dekatnya berbisik pelan, suaranya hampir tidak terdengar. “Itu Nona Cassandra. Dulu…”
Kalimat itu terputus, tetapi cukup bagi Alyssa untuk menangkap maknanya. Ia tidak membutuhkan penjelasan lebih lanjut untuk mengerti bahwa wanita itu memiliki hubungan di masa lalu dengan Daren, hubungan yang mungkin lebih dari sekadar kenalan biasa.
Perasaan yang tadi hanya samar kini terasa sedikit lebih jelas, meski Alyssa berusaha menekannya. Ia menunduk dan kembali ke dapur, memilih untuk tidak terlalu memikirkan hal yang mungkin hanya akan menyakitinya.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Seorang pelayan datang menghampirinya dengan langkah cepat, lalu berhenti di sampingnya.
“Nona Alyssa, Ibu memanggil.”
Alyssa terdiam sesaat, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia mengangguk pelan, membersihkan tangannya, lalu merapikan pakaian sebelum melangkah menuju ruang tamu dengan langkah yang terasa lebih berat dari biasanya.
Begitu ia memasuki ruangan itu, suasana berubah sedikit. Percakapan yang tadi mengalir kini melambat, dan beberapa pasang mata beralih menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Alyssa berhenti beberapa langkah dari sofa, menjaga sikapnya tetap tenang meski ada rasa tidak nyaman yang perlahan muncul.
“Ibu memanggil saya?” tanyanya dengan sopan.
Ibu Daren menoleh, lalu mengangguk singkat. “Ya, kemari.”
Alyssa mendekat, berusaha menjaga langkahnya tetap stabil. Ia bisa merasakan tatapan dari wanita yang duduk di sana, menelusuri dirinya tanpa berusaha menyembunyikan penilaian.
“Ini Cassandra,” lanjut ibu Daren. “Dia sudah seperti keluarga sendiri.”
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi maknanya terasa berat bagi Alyssa. Ia mengangguk kecil sebagai tanda hormat, lalu menatap wanita di depannya.
Cassandra memandangnya dari atas hingga bawah dengan tenang, seolah sedang menilai sesuatu yang belum memenuhi standar yang ia harapkan.
“Kamu Alyssa,” ucapnya akhirnya.
Alyssa mengangguk. “Iya.”
Senyum tipis muncul di bibir Cassandra, tetapi tidak benar-benar mencapai matanya. “Aku sudah dengar banyak tentangmu.”
Kalimat itu terdengar sopan, namun ada nada tersembunyi yang membuat Alyssa langsung mengerti bahwa yang didengar bukanlah hal yang menyenangkan.
“Senang bertemu,” jawab Alyssa dengan nada yang tetap dijaga.
Cassandra tidak langsung membalas. Ia hanya menatap beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya berbicara lagi, kali ini dengan nada yang sedikit berubah.
“Aku tidak menyangka.”
Alyssa sedikit mengernyit. “Maksudnya?”
“Pengganti Arin,” lanjut Cassandra tanpa ragu sedikit pun. “Ternyata seperti ini.”
Ucapan itu jatuh begitu saja di tengah ruangan, membuat udara seakan berhenti bergerak. Tidak ada yang menegur, tidak ada yang mencoba mengalihkan pembicaraan, bahkan ibu Daren tetap diam seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan.
Alyssa merasakan sesuatu menekan dadanya, tetapi ia berusaha tetap berdiri tegak. Ia sudah pernah mendengar kata itu sebelumnya, namun diucapkan secara langsung seperti ini tetap terasa berbeda.
“Saya tahu posisi saya,” jawabnya pelan, menjaga suaranya agar tidak bergetar.
Cassandra mengangkat alis sedikit, tampak tertarik dengan jawaban itu. “Bagus kalau kamu sadar.”
Ia menyandarkan tubuhnya dengan santai, sikapnya menunjukkan bahwa ia berada di posisi yang lebih tinggi tanpa perlu mengatakannya secara langsung.
“Tapi sepertinya kamu perlu diingatkan lagi,” lanjutnya dengan nada yang tetap lembut, meski setiap kata terasa tajam.
“Kamu cuma pengganti. Jangan lupa posisi.”
Ruangan kembali sunyi, kali ini lebih berat dari sebelumnya. Alyssa merasakan tangannya mengepal pelan di sisi tubuh, berusaha menahan reaksi yang hampir muncul.
“Aku tidak lupa,” jawabnya akhirnya, memilih kata-kata yang paling aman untuk diucapkan.
Senyum Cassandra melebar sedikit, seolah puas dengan jawaban itu. “Tentu saja. Kalau sampai lupa, itu akan jadi masalah besar.”
Ibu Daren menyesap tehnya dengan tenang, seakan semua yang terjadi hanyalah percakapan biasa yang tidak perlu campur tangan. Sikap itu membuat Alyssa semakin sadar bahwa ia memang tidak memiliki tempat di ruangan ini.
Ia menunduk sedikit, mencoba mengakhiri situasi yang semakin tidak nyaman. “Kalau tidak ada yang lain, saya permisi.”
Namun sebelum ia sempat berbalik, suara langkah kaki dari arah tangga menarik perhatian semua orang. Alyssa ikut menoleh, dan saat itu ia melihat Daren turun dengan langkah tenang, mengenakan pakaian kerja yang rapi seperti biasa.
Begitu sampai di ruang tamu, pandangannya langsung tertuju pada Cassandra. Ada perubahan kecil di wajahnya, tidak cukup jelas untuk disebut hangat, tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa wanita itu bukan orang asing baginya.
“Cassandra,” ucapnya singkat.
Wanita itu berdiri, senyumnya berubah sedikit lebih hidup. “Daren. Lama tidak bertemu.”
Mereka saling menatap beberapa detik, dan dalam keheningan itu ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh Alyssa. Ia berdiri di samping, merasa seperti bagian yang tidak penting dalam percakapan yang seharusnya melibatkan dirinya.
“Kapan kamu kembali?” tanya Daren.
“Baru beberapa hari,” jawab Cassandra. “Aku dengar kabar pernikahanmu, jadi aku memutuskan untuk datang.”
Nada suaranya santai, tetapi ada makna lain yang terselip di baliknya. Daren hanya mengangguk pelan, tidak memberikan respons yang lebih jauh.
“Seharusnya kamu diberi tahu lebih awal,” lanjut Cassandra. “Supaya tidak terjadi perubahan mendadak seperti ini.”
Tatapannya melirik ke arah Alyssa dengan jelas, tanpa usaha untuk menyembunyikan maksudnya. Alyssa menahan napas, menunggu apakah Daren akan mengatakan sesuatu, apa pun yang bisa meredakan situasi itu.
Namun tidak ada.
Daren tetap diam, seolah itu bukan sesuatu yang perlu ditanggapi.
Cassandra tersenyum kecil, seolah sudah mengetahui jawaban yang akan ia dapatkan. “Sayang sekali, rencana yang sudah disusun lama harus berubah karena seseorang yang tidak bertanggung jawab.”
Kalimat itu terdengar seperti ditujukan pada Arin, tetapi tatapannya tetap berada pada Alyssa. Perasaan sesak di dada Alyssa semakin kuat, membuatnya harus menahan diri agar tidak menunjukkan apa yang ia rasakan.
“Semua sudah terjadi,” jawabnya pelan. “Tidak bisa diubah.”
Cassandra mengangguk, menerima jawaban itu dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Tentu. Makanya kita harus menerima hasilnya.”
Ia melangkah mendekat ke arah Daren dengan begitu natural, seolah jarak di antara mereka tidak pernah berubah sejak dulu. Pemandangan itu membuat Alyssa menyadari sesuatu yang selama ini ia coba abaikan.
“Meski tidak sesuai harapan,” tambahnya.
Alyssa menatap mereka berdua, merasakan sesuatu yang tidak pernah ia miliki bersama pria itu. Kedekatan yang terlihat sederhana, tetapi terasa begitu jauh dari jangkauannya.
“Aku harus pergi,” kata Cassandra akhirnya, memecah suasana.
Ia menoleh pada ibu Daren dan berpamitan dengan sopan, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Daren. “Kita bicara lagi nanti.”
Daren mengangguk tanpa ragu, tanpa memberi jarak yang seharusnya ada.
Cassandra berbalik dan berjalan menuju pintu, langkahnya tetap anggun seperti saat ia datang. Ketika melewati Alyssa, ia berhenti sejenak dan sedikit menoleh.
“Jaga posisi,” bisiknya pelan.
Suara itu cukup rendah untuk tidak didengar orang lain, tetapi cukup jelas untuk meninggalkan bekas.
Beberapa detik kemudian, pintu tertutup dan keheningan kembali mengisi ruangan. Alyssa tetap berdiri di tempatnya, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
Ia menoleh perlahan ke arah Daren, berharap ada sesuatu yang bisa ia tangkap dari ekspresi pria itu. Namun yang ia lihat hanya wajah datar, seolah semua yang terjadi tadi tidak memiliki arti apa pun.
Tidak ada pembelaan, tidak ada penjelasan, bahkan tidak ada tanda bahwa ia menyadari posisi Alyssa di situasi tersebut.
Alyssa menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Senyum tipis muncul di bibirnya, bukan karena ia merasa baik-baik saja, tetapi karena ia akhirnya mengerti sesuatu yang selama ini belum ia akui sepenuhnya.
Ia benar-benar sendirian di rumah ini.
Tanpa mengatakan apa pun lagi, Alyssa berbalik dan melangkah keluar dari ruang tamu. Setiap langkah terasa berat, tetapi ia tetap berjalan tanpa menoleh kembali.
Di dalam hatinya, satu perasaan kini menjadi semakin jelas dan tidak bisa ia abaikan lagi. Ia bukan hanya asing dan terabaikan, tetapi juga dipermalukan di tempat yang seharusnya memberinya perlindungan.
Dan yang paling menyakitkan, semua itu terjadi di depan pria yang seharusnya berdiri di sisinya, tetapi memilih untuk tetap diam seolah ia bukan siapa-siapa.
sadar casandra.... km itu trlalu bnyak omong n trlalu bnyk mngatur... pdahal nyata" km hnya org luar😅😅
saat itu alyssa sdh tak peduli daren...
ap nunggu alyssa tiba" kabur & tak akn prnah km temukan.... ato hmpaskn org luar yg seolah brkuasa layaknya seorang istri🙄🙄
tpi menantu... layaknya pmbantu & org asing...
smpe kpan km tetap brtahan di rumah neraka suamimu Alyssa....
dgn hrga diri yg sdh trcabik"
& tak ada lgi yg nmanya ksempatan ke 2 untuk daren mmprbaiki smuanya...🙄🙄
🤔🤔