"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMEGANG PULPEN TAKDIR
Siang harinya, suasana kantor sedikit lebih sibuk karena ada kunjungan mendadak dari audit internal cabang. Dina sibuk mengurus dokumen-dokumen fisik, namun pikirannya sesekali kembali pada kotak nasi kuning tadi pagi. Ia merasa harus mengucapkan terima kasih, tapi ia tidak ingin terlihat terlalu agresif.
Saat jam istirahat, ia duduk di taman belakang kantor yang sepi. Ia mengeluarkan ponselnya, menatap kontak bernama "Letda Adrian" yang baru ia simpan kemarin.
“Mas Adrian, terima kasih ya nasi kuningnya. Enak sekali, saya sampai kekenyangan,” ketik Dina, namun ia menghapusnya lagi. Terlalu kaku, pikirnya.
Akhirnya ia mengetik: “Terima kasih sarapannya, Mas. Nasi kuning asramanya memang juara. Jadi semangat kerja hari ini.”
Hanya dalam hitungan detik, ponselnya bergetar.
Adrian: “Sama-sama. Syukur kalau cocok. Jangan dibiasakan perut kosong kalau mau tempur di kantor. Nanti konsentrasinya buyar.”
Dina tersenyum kecil membaca balasan singkat dan tegas itu. "Tempur," batinnya. Adrian benar-benar bicara seperti seorang prajurit bahkan dalam hal sarapan.
Namun, ketenangan Dina tidak bertahan lama. Sore itu, sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal muncul di layar ponselnya. Biasanya Dina tidak akan mengangkat, tapi karena ini adalah nomor kantor, ia mengira itu adalah vendor logistik yang baru.
"Halo, dengan Dina di sini?" ucapnya profesional.
Hening sejenak di seberang sana, sebelum sebuah suara yang sangat ia benci terdengar.
"Din... akhirnya kamu angkat juga."
Jantung Dina serasa berhenti berdetak. Suara itu. Suara Rama yang lembut namun penuh tekanan.
"Mas Rama? Dapat nomor ini dari mana?" tanya Dina, suaranya dingin dan tajam.
"Nggak penting aku dapat dari mana, Din. Aku cuma mau minta maaf. Aku tahu aku salah kemarin, tapi aku benar-benar nggak tenang kamu pergi jauh begini. Kamu itu sendirian di sana, nggak ada yang jaga. Aku sudah urus mutasi baliku ke pusat supaya aku bisa susul kamu ke sana. Kasih tahu aku alamat kosmu, ya?"
Dina merasa mual. Obsesi Rama ternyata belum berakhir. Pria itu masih merasa bahwa Dina adalah properti yang hilang dan harus ditemukan.
"Mas, dengar baik-baik," ucap Dina dengan nada yang sangat mantap, sesuatu yang belum tentu bisa ia lakukan sebulan yang lalu. "Aku di sini aman. Aku di sini punya teman-teman yang tulus, dan aku punya perlindungan yang jauh lebih baik daripada yang pernah Mas kasih. Jangan pernah cari aku lagi, atau aku nggak akan segan-segan bawa masalah ini ke jalur hukum yang lebih tinggi."
"Dina, kamu jangan keras kepala—"
Dina langsung mematikan sambungan telepon dan memblokir nomor tersebut. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena marah. Ia tidak ingin ketenangannya di kota ini dirusak oleh masa lalunya yang beracun.
Ternyata, tindakan Rama tidak berhenti di situ. Malam harinya, saat Dina sedang dalam perjalanan pulang dari kantor, ia merasa ada sebuah mobil yang membuntutinya dari kejauhan. Perasaan waswas mulai muncul. Apakah Rama nekat datang ke sini?
Tiba-tiba, sebuah motor trail dinas TNI muncul dari arah berlawanan dan berhenti tepat di samping Dina. Itu bukan Adrian, melainkan salah satu anggotanya yang tadi pagi ikut membantu di Puskesmas.
"Mbak Dina, ya?" tanya anggota TNI itu sambil membuka kaca helmnya. "Izin, Mbak. Tadi Letnan Adrian pesan ke saya, kalau lihat Mbak Dina pulang sore, tolong dipastikan sampai ke gerbang kos. Katanya ada laporan kendaraan asing yang muter-muter di sekitar sini tadi siang."
Dina tertegun. Adrian... pria itu ternyata benar-benar menjaga wilayahnya, atau lebih tepatnya, menjaga Dina, tanpa harus bersikap posesif. Ia melakukannya melalui sistem, melalui tugasnya sebagai aparat, bukan dengan cara mengekang pribadi Dina.
"Kendaraan asing, Mas?" tanya Dina khawatir.
"Iya, Mbak. Tapi sudah kami tegur dan minta surat identitasnya. Katanya lagi cari alamat tapi nggak jelas. Sudah kami arahkan untuk keluar dari area pemukiman," jelas petugas itu ramah. "Mari Mbak, saya kawal sampai depan."
Sesampainya di kos, Dina segera mengunci pintu. Ia merasa sangat terlindungi. Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat pada Adrian.
“Mas, terima kasih buat pengawalannya tadi. Saya dengar ada orang asing yang cari alamat?”
Balasan Adrian datang tak lama kemudian.
Adrian: “Bukan masalah. Itu tugas kami. Jangan takut, di sini aturannya jelas. Siapa pun yang nggak punya kepentingan jelas dan bikin warga nggak nyaman, pasti kami tindak. Istirahatlah, Mbak. Besok jangan lupa sarapan lagi.”
Dina merebahkan tubuhnya di kasur. Ia menyadari satu hal: Adrian adalah pahlawan yang tidak pernah meminta imbalan. Ia memberikan rasa aman tanpa meminta Dina untuk tunduk padanya. Ia memberikan nasi kuning tanpa meminta pujian berlebih.
Di kota kecil ini, Dina belajar bahwa cinta sejati tidak pernah terdengar seperti jeruji penjara yang mengunci, melainkan terdengar seperti langkah kaki yang menjaga di kejauhan, memberikan ruang bagi kita untuk tumbuh menjadi diri sendiri yang paling berani.
Dina memejamkan mata dengan senyum tipis. Esok hari, ia akan bangun lebih pagi, memakan nasi kuningnya dengan lahap, dan melanjutkan hidupnya sebagai wanita yang merdeka.
Pagi itu, suasana di dalam kamar kos Dina terasa mencekam. Sinar matahari yang biasanya ia sambut dengan senyum, kini terasa seperti lampu sorot yang mengancam. Sejak panggilan telepon dari Rama kemarin sore dan laporan dari anggota TNI tentang kendaraan asing yang mondar-mandir di sekitar pemukiman, mental Dina kembali ke titik nol.
Ia duduk di tepi ranjang, meremas jemarinya yang dingin. Bayangan wajah Rama yang manipulatif—pria yang selalu merasa paling tahu apa yang terbaik untuknya—terus berputar di kepalanya. Dina merasa seperti buronan. Setiap kali ia mendengar suara mesin motor atau mobil yang melambat di depan gerbang, jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dada.
"Dia pasti tahu. Dia nggak akan membiarkan aku lepas begitu saja," bisik Dina pada dirinya sendiri.
Bagi orang lain, mungkin Rama terlihat seperti mantan kekasih yang gigih. Namun bagi Dina, Rama adalah hantu yang ingin mengurungnya dalam sangkar emas. Keberanian yang ia bangun bersama Olan dan latihan motor tempo hari seolah menguap, digantikan oleh trauma bertahun-tahun yang diteriakkan oleh ayah dan ibu tirinya.
Ia sudah siap untuk berangkat kantor, sudah mengenakan kemeja rapi dan tas pundaknya, namun kakinya terasa seberat beton. Untuk melangkahkan kaki keluar pintu kos saja ia tidak sanggup. Ia takut saat pintu itu terbuka, Rama sudah berdiri di sana dengan senyum "penyelamat"-nya yang memuakkan.
Tiba-tiba, suara ketukan pintu yang mantap dan berirama memecah keheningan.
Tok... Tok... Tok...
Dina tersentak, hampir menjatuhkan ponselnya. Ia menahan napas, matanya tertuju pada gagang pintu yang seolah bisa bergerak kapan saja. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia tidak berani bersuara, berharap siapa pun di luar sana akan mengira kamar itu kosong dan pergi.
Namun, sebuah suara bariton yang berat dan tenang terdengar dari balik pintu kayu itu.
"Mbak Dina? Ini saya, Adrian."
Dina memejamkan mata, mengembuskan napas yang sedari tadi ia tahan. Itu bukan suara Rama. Itu suara Letda Adrian.
"Buka pintunya, Mbak. Biar saya antar ke kantor hari ini. Saya tahu Mbak pasti panik soal kejadian semalam," lanjut Adrian. Suaranya tidak memaksa, namun memiliki nada otoritas yang membuat Dina merasa janggal jika tidak menurut.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Dina membuka kunci pintu. Begitu pintu terbuka, sosok Adrian berdiri di sana. Ia tidak memakai seragam loreng hari ini, melainkan jaket taktikal berwarna hijau zaitun dan celana jeans hitam. Ia memegang helm cadangan di tangan kirinya.
Wajah Adrian tampak serius, namun matanya yang tajam langsung melunak saat melihat wajah Dina yang pucat pasi.
"Mbak Dina nggak apa-apa?" tanya Adrian pelan, langkahnya tetap di luar ambang pintu, menghargai privasi Dina.
Dina menggeleng pelan, lalu menunduk. "Saya... saya cuma takut, Mas. Saya pikir orang semalam itu benar-benar dia."
Adrian mengangguk paham. Ia tidak bertanya "dia" itu siapa, karena ia sudah bisa menebak dari laporan Manda melalui Pak Baskoro yang sempat ia dengar selentingan informasinya. Sebagai aparat kewilayahan, Adrian sudah terlatih membaca situasi ancaman, termasuk ancaman yang bersifat personal seperti obsesi mantan kekasih.
"Selama Mbak ada di wilayah saya, Mbak aman," ucap Adrian tegas. "Mobil semalam sudah kami amankan nomor platnya. Itu mobil sewaan dari kota sebelah. Orangnya sudah kami minta meninggalkan area ini karena tidak bisa menunjukkan identitas yang jelas. Sekarang, pakai helm ini. Saya antar Mbak sampai ke meja kantor."
Dina menerima helm itu. "Tapi Mas, ini nggak merepotkan? Mas kan punya tugas lain?"
Adrian tersenyum tipis, jenis senyum yang membuat Dina merasa benar-benar terlindungi tanpa merasa dikecilkan. "Menjaga ketenangan warga baru adalah bagian dari tugas saya. Lagipula, saya nggak mau murid setir motor saya absen kantor cuma gara-gara satu orang yang nggak tahu aturan."
Dina naik ke boncengan motor matic hitam milik Adrian. Begitu motor mulai melaju, Dina merasakan hembusan angin pagi yang segar mulai mengikis rasa sesaknya. Adrian berkendara dengan sangat stabil. Ia sesekali melirik spion, bukan hanya untuk melihat kendaraan lain, tapi untuk memastikan Dina masih duduk dengan nyaman di belakangnya.
"Mbak Dina," panggil Adrian di tengah deru mesin motor.
"Iya, Mas?"
"Hidup Mbak di sini adalah lembaran baru. Jangan biarkan orang dari masa lalu memegang pulpennya. Mbak yang berhak tulis akhirnya mau gimana," ucap Adrian. Kalimatnya singkat, tapi bagi Dina, itu adalah dukungan moral terkuat yang pernah ia terima.
Rama selalu bilang: "Kamu nggak bisa apa-apa tanpa aku." Adrian bilang: "Mbak berhak tulis akhirnya mau gimana."
Perbedaan itu sangat mencolok. Adrian memberinya kekuatan untuk mandiri, sementara Rama memberinya ketergantungan.
Sesampainya di kantor, Adrian benar-benar turun dari motor dan mengantar Dina masuk hingga ke dalam lobi. Olan yang sedang menyiram tanaman di depan kantor langsung melongo melihat adegan itu.
"Wah, wah, wah! Pagi-pagi sudah ada kawalan VVIP!" seru Olan, matanya berkedip jenaka ke arah Dina.
Adrian hanya mengangguk sopan pada Olan. "Mbak Olan, titip temannya ya. Kalau ada telepon masuk yang aneh-aneh atau orang nggak dikenal tanya soal Mbak Dina, langsung hubungi saya atau lapor ke Pak Baskoro."
Olan langsung memberi hormat ala tentara yang kocak. "Siap, Komandan! Mbak Dina aman di tangan Olan!"
Adrian kemudian menatap Dina. "Saya patroli dulu. Nanti sore kalau Mbak masih merasa tidak tenang untuk pulang sendiri, kirim pesan saja. Jangan dipendam sendiri."
Dina menatap punggung Adrian yang menjauh dengan perasaan campur aduk. Ada rasa syukur yang luar biasa, tapi juga ada rasa penasaran. Mengapa pria sekuat dan sedingin Adrian—yang kata Olan susah jatuh cinta—bisa begitu perhatian padanya?
-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib