Jihan Fahira memergoki suaminya selingkuh dengan sahabatnya. saat dia kembali dari rumah sakit. Saat itu suami dan sahabatnya sedang melakukan hubungan yang tidak pantas di dalam sebuah villa.
Saat itu Jihan tewas di tangan suami dan sahabatnya sendiri. Namun keajaiban muncul dalam hidupnya. Dia di beri kesempatan kedua. Jihan kembali hidup ke enam tahun yang lalu.
Kesempatan kedua untuk membalas dendam dan mengubah kembali takdir tragis yang akan terjadi di masa depan.
Mampukah Jihan membalas dendam dan mengubah takdir tragis yang akan menimpanya ?
Follow Ig: Hans_Sejin13.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Di dalam rumah, Jihan terus berpikir tak henti-hentinya dengan apa yang dia alami saat ini.
" Coba aku pikirkan sekali lagi... Saat ini ayah ku masih hidup, dan aku hari ini telah menikah... Di dalam ingatan ku di kehidupan sebelumnya ayah ku mengalami kecelakaan dua hari lagi..." gumam Jihan, sambil mengigit ujung jarinya.
" Jika aku kembali hidup maka seharusnya ayah... Tidak-tidak, itu tidak boleh terjadi... Ayahku harus hidup...!" tambah Jihan mengingat kejadian di kehidupan sebelumnya saat ayahnya mengalami kecelakaan.
📲 Tut...! Tut...! Tut...!
Ponselnya saat itu berbunyi. Regina menghubungi Jihan saat itu. Jihan melihat ponselnya, ternyata itu panggilan telepon dari Regina.
" Regina! Kenapa dia meneleponku ku...?" gumam Jihan penuh pertanyaan.
Perasaan tidak suka muncul dalam hatinya. Saat Regina menghubungi dirinya. Namun ponselnya terus berdering. Akhirnya Jihan mengangkat panggilan telepon dari Regina.
" Jihan kamu kenapa... Kenapa kamu tiba-tiba pergi, acara belum selesai.. Kamu tidak apa-apa kan Jihan... Aku sangat khawatir sama kamu..." ucap Regina lewat telepon.
" Tidak apa-apa Gin... Aku hanya tidak enak badan saja !" ucap Jihan, sedikit kesal mendengar suara sahabatnya itu.
" Serius Jihan kamu tidak apa-apa... Aku lihat tadi kamu berlari ketakutan... Kamu serius tidak apa-apa...?" tanya Regina lewat telepon.
" Aku serius... Aku hanya butuh istirahat sebentar... " jawab Jihan, ingin segera mengakhiri percakapan mereka.
" Jihan! Kalau ada apa-apa kamu bisa menghubungi aku... Aku akan selalu ada untuk mu... Begitu juga kak Hendrick. Dia sangat khawatir tadi...!" ucap Regina. Dia memberi tahu Jihan, kalau Hendrick sangat khawatir.
" Kamu istirahat saja... Nanti aku akan datang menemui mu bersama kak Hendrick" ucap Regina.
Jihan sangat ingin mengakhiri panggilan. Saat ini dirinya tidak ingin bertemu siapapun selain ayahnya. Jihan mengatakan bahwa mereka tidak usah datang.
" Jangan kesini...!" ucap Jihan.
" kenapa...?" tanya Regina.
" Tidak apa-apa! Saat ini Hendrick pasti sedang mengurus semuanya sendirian, aku tidak ingin dia kecapean, biar kalian istirahat saja...!" jawab Jihan.
" Tolong sampaikan sama Hendrick kalau aku hanya kecapean saja...! Aku sudah ya telepon nya!" tambah Jihan. Dia kemudian mengakhiri panggilan telepon dari Regina.
Jihan memegang kepalanya lalu memijat keningnya. Dia masih bingung harus melakukan apa untuk mencegah takdir buruk yang akan menimpanya.
Jihan kemudian membuka laptopnya, dan dia mulai catat tanggal dan kejadian apa yang akan terjadi yang masih dia ingat untuk membuktikan bahwa dia memang hidup kembali setelah mati di tangan Hendrick yang telah menjadi suaminya di enam tahun yang akan datang.
Malam itu Jihan mencatat semuanya, mulai dari hal-hal kecil hingga tragedi besar yang akan terjadi dan menimpa hidupnya.
...•••☘☘☘•••...
Malam itu Regina dan Hendrick, masih berada di dalam gedung pertunangan. Regina saat itu mulai mencari perhatian Hendrick yang sedang bersiap untuk kembali ke rumah nya.
" Kak Hendrick! Kamu belum pulang...?" tanya Regina, perlahan berjalan mendekati Hendrick dan duduk di sebelahnya.
" Belum, sebentar lagi aku pulang... Kamu juga! Kenapa belum pulang...?" ucap Hendrick, kembali bertanya kepada Regina kenapa dirinya juga masih berada di sana.
Regina memegang pundak Hendrick, "Kak, kenapa kamu duduk termenung di sini... Apa karena Jihan yang pergi begitu saja tadi?" tanya Regina.
Hendrick melihat Regina yang tampak sangat perhatian terhadap nya. Tatapan mata Regina tampak terasa lebih perhatian dari biasanya.
" Aku tidak habis pikir dengan Jihan! Kenapa dia tiba-tiba saja pergi begitu saja meninggalkan ku setelah kami selesai bertunangan... Apa aku berbuat salah kepadanya...?" ucap Hendrick.
" Kak Hendrick jangan bicara seperti itu... Jihan mungkin hanya butuh istirahat... Kakak kan tahu kalau Jihan itu sangat cinta sama kak Hendrick... Nanti aku bilang sama Jihan! Kak Hendrick jangan khawatir, Jihan itu cuma cinta sama kak Hendrik..." ucap Regina.
" Cuma saja ya kak... Wanita itu susah di tebak, mending nanti kak Hendrick, ngomong langsung sama Jihan, aku juga tidak tahu... Lihat tangan ku lecet tadi di dorong sama Jihan!" ucap Regina, dia menunjukkan lengannya yang sedih lecet karena bertabrakan dan di dorong oleh Jihan.
Hendrick melihat lengan regina yang sedikit lecet.
" Regina, serius kamu di dorong Jihan...?" tanya Hendrick.
" Ia, tapi tidak apa-apa kak, cuma lecet sedikit kok!" jawab Regina.
Regina kemudian berdiri, saat dia berjalan Regina pura-pura tersandung kursi. Dia kemudian terjatuh tepat di pangkuan Hendrick.
" Aww... " teriak Regina yang terjatuh di pangkuan Hendrick.
Wajah Regina begitu dekat dengan wajah Hendrick yang membuat Hendrick tampak kaget dan tersipu.
" Regina kamu tidak apa-apa?" ucap Hendrick saat Regina berada di pangkuannya.
" Tidak apa-apa kak, kaki ku tadi tersandung kursi..." ucap Regina, dirinya segera bangun dari pangkuan Hendrick.
" Kamu pulang sendiri...?" tanya Hendrick.
" Ia kak, aku pulang sendiri kak, nanti aku pesan taksi" jawab Regina. Berharap Hendrick mau mengantar dirinya pulang.
Hendrick yang merasa bahwa tidak baik untuk seorang wanita pulang larut malam sendirian. Dia akhirnya mengajak Regina untuk pulang bersamanya.
" Bagaimana kalau kamu aku antar pulang, tidak baik wanita pulang larut malam sendirian... Lagi pula sekarang sudah larut malam, susah mendapatkan taksi di jam segini...!" ajak Hendrick kepada Regina.
"Serius kak! Tapi apa kak Hendrick tidak capek...? Seharian ini kak Hendrick sibuk menyapa para tamu sendirian, sekarang kakak mau mangantar ku pulang...!" ucap Regina, sedikit mengulur.
"Tidak apa-apa, aku antar kamu pulang!" ucap Hendrick, kemudian berdiri, lalu berjalan keluar ruangan.
Regina tersenyum lebar mendengar ajakan Hendrick.
"Heeem... Kak Hendrick memang sangat perhatian" ucap Regina dalam hati. Dia kemudian segera mengikuti Hendrick.
Hendrick pergi ke parkiran mobil. Regina menunggu Hendrick mengambil mobilnya di luar gedung.
" Ayo masuk...!" ucap Hendrick yang keluar dari parkiran dengan mobilnya.
Regina masuk ke dalam mobil. Dia duduk di sebelah Hendrick. Memasang sabuk pengaman.
"Sudah! Kita pergi sekarang!" ucap Hendrick.
" Sudah kak..." jawab Regina selesai memakai sabuk pengaman.
Hendrick menyalakan mobilnya lalu pergi mengantar Regina pulang ke kontaknya.
Di perjalanan Regina sedikit menggoda Hendrick. Dia menaikan rok yang dia pakai sampai keatas lutut. Kemudian membuka jaket kulit yang dia pakai, sehingga menunjukan sedikit bagian dari belahan dadanya.
" Gerah ya kak malam ini...!" ucap Regina, sambil mengipasi dirinya.
Hendrick melihat Regina yang terlihat sangat seksi. Dia menelan ludahnya saat melihat belahan dada dan paha seksi Regina.
Hendrick tertegun dan sedikit tegang, terkejut melihat Regina yang sangat seksi dan membuat nya tidak bisa memalingkan pandangannya.
"K-kamu kepanasan Regina?" tanya Hendrick, dia menjadi gugup saat itu.
"Ia kak... Gerah banget!" ucap Regina.
Hendrick mengemudi sambil mencuri-curi pandang melihat Regina yang sangat seksi. Setelah perjalanan yang cukup lama dan menegakkan. Mereka sampai di kontrakan Regina.
Regina kemudian turun dari mobil, kemudian berterima kasih kepada Hendrick karena sudah mengantar dirinya pulang ke rumah.
" Kak Hendrick, terima kasih sudah mengantar ku pulang!" ucap Regina.
Regina menunduk kearah jendela mobil yang memperlihatkan dengan jelas belahan dadanya.
" Sama-sama... Kamu segera masuk tidak baik malam-malam di luar" ucap Hendrick, menelan ludahnya melihat belahan dada Regina yang terlihat sangat jelas dan menarik nafasnya sangat dalam.
" Kak Hendrick hati-hati di jalan! Aku masuk dulu. Bye-bye...!" ucap Regina, kemudian masuk ke dalam kontrakannya.
Hendrick kemudian pergi dari kontrakan Regina. Di perjalanan Hendrick memikirkan apa yang tadi dia lihat.
"Kenapa dengan ku? Sial kenapa Regina sangat seksi tadi...!" gumam Hendrick.
❅
❅
❅
𝐵ℯ𝓇𝓈𝒶𝓂𝒷𝓊𝓃ℊ...ღ