NovelToon NovelToon
Aku Ini Istrimu

Aku Ini Istrimu

Status: sedang berlangsung
Genre:KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Penyesalan Suami
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author:

Aku nggak pernah membayangkan kalau gaun putih ini bakal terasa seberat rantai besi. Menikah dengan Bara Adiwangsa bukan mimpi indah yang jadi nyata, tapi awal dari sandiwara panjang yang nggak tahu kapan selesainya.

Bara itu suamiku, tapi dia yang paling sering bikin aku merasa nggak berharga. Dia bisa bersikap manis di depan orang tuanya, lalu berubah jadi orang lain yang kasar saat dia bersamaku.

Capek? Banget. Karena suamiku mungkin berpikir dia bisa menginjak-injak harga diriku hanya karena dia merasa telah "membeliku". Dia bisa saja menatapku dengan jijik, mengacuhkanku seolah aku hanyalah pajangan mati di pojok ruangan. Dia bisa memuja masa lalunya atau mencari pelarian pada orang lain, tapi ada satu kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa dia hapus, sekeras apa pun dia mencoba.

"Tatap aku, Bara. Hina aku sesukamu, tapi jangan pernah lupa satu hal... Aku Ini Istrimu."

Bab 1 Aku Sebenarnya Siapa

Suasana kamar hotel berbintang itu mendadak pengap begitu pintu tertutup dengan bantingan keras. Renata masih berdiri mematung di dekat ranjang, jemarinya yang gemetar berusaha meremas kain gaun pengantinnya yang mahal. Wangi mawar dari buket bunga yang dia pegang sekarang malah terasa muak.

Bara melepas dasinya dengan kasar, lalu melemparnya ke sembarang arah. Dia berbalik, menatap Renata dengan mata yang menyalang tajam.

"Jangan pikir karena kita udah sah, lo bisa bersantai di rumah gue," suara Bara rendah, berat, dan penuh ancaman.

Renata memberanikan diri menatap laki-laki yang baru saja mengucapkan janji suci di depan pendeta itu. "Gue juga nggak pernah minta buat ada di sini, Bara. Lo tahu itu."

"Halah, nggak usah akting lo," Bara melangkah maju, memangkas jarak sampai Renata bisa merasakan hawa dingin dari tubuh pria itu. Bara mencengkeram rahang Renata, memaksa gadis itu mendongak. "Bokap lo udah nerima transferan dari gue. Jadi, secara teknis, lo itu barang yang udah gue beli. Paham?"

Renata meringis kesakitan, tapi dia nggak melepaskan tatapannya. "Barang? Lo pikir gue serendah itu?"

"Di mata gue, iya," Bara menyeringai sinis. "Jangan pernah ngarep ada adegan malam pertama. Gue nggak sudi nyentuh cewek yang bapaknya penjilat kayak bokap lo. Kamar lo di sebelah. Besok pagi jam enam, lo harus udah siap di meja makan. Jangan bikin malu gue di depan nyokap."

Bara melepaskan cengkeramannya dengan kasar sampai wajah Renata teralih. Pria itu mengambil kunci mobil dan jaketnya, berjalan menuju pintu tanpa menoleh sedikit pun.

"Lo mau ke mana? Ini malam pernikahan kita!" teriak Renata, suaranya serak menahan tangis.

Bara berhenti sebentar, memegang gagang pintu. "Bukan urusan lo. Mau gue mati di jalan atau tidur sama cewek lain, itu hak gue. Tugas lo cuma satu: tutup mulut dan jalanin peran lo sebagai istri."

Brak!

Pintu tertutup lagi. Renata jatuh ke lantai, air matanya ikutan jatuh juga. Dia menatap pantulan dirinya di cermin besar, seorang pengantin cantik yang baru saja dijatuhkan ke dalam jurang paling dalam. Menjadi istri dari pria yang paling dia benci adalah hukuman yang bahkan nggak pernah dia bayangkan sebelumnya.

Renata menghapus air matanya dengan kasar. "Lo pikir gue bakal nyerah gitu aja, Bara? Kita liat siapa yang bakal hancur duluan."

Malam itu Renata tidak tidur di ranjang besar yang empuk. Dia meringkuk di sofa kamar sebelah, masih dengan gaun pengantin yang terasa mencekik lehernya. Suara deru mesin mobil Bara yang menjauh dari hotel seolah menjadi musik pengantar tidurnya yang penuh sesak.

Pagi harinya, tepat jam enam pagi, Renata sudah berdiri di ruang makan rumah mewah keluarga Adiwangsa. Matanya sembap, tapi dia memoles makeup setebal mungkin untuk menutupi jejak tangisnya. Di meja makan, Nyonya Sarah sudah duduk dengan anggun, menyesap teh hangat tanpa gula. Di sampingnya ada Siska, adik Bara, yang sibuk memoles kuku sambil sesekali melirik sinis ke arah Renata.

"Baru bangun? Pengantin baru harusnya lebih rajin, bukan malah kesiangan begini," sindir Nyonya Sarah tanpa menoleh.

"Maaf, Ma. aku baru menyesuaikan diri," jawab Renata pelan, mencoba sesopan mungkin.

"Jangan panggil Mama dulu kalau kelakuan kamu masih kayak gitu," sahut Siska ketus. "Oh ya, Bara mana? Semalam dia nggak pulang ke rumah kan? Kasihan banget, malam pertama ditinggal suami."

Renata terdiam, tangannya mengepal di bawah meja. Tepat saat itu, pintu depan terbuka kasar. Bara masuk dengan kemeja yang sudah kusut dan bau alkohol yang menyengat. Dia bahkan nggak menoleh ke arah meja makan, langsung melangkah menuju tangga.

"Bara! Duduk dulu, sarapan sama istri kamu," perintah Nyonya Sarah dengan nada otoriter.

Bara berhenti, menoleh malas. Matanya merah, menatap Renata dengan pandangan menghina. "Istri? Oh, ini maksud Mama, Renata? Aku nggak selera makan kalau liat mukanya. Bikin mual."

"Bara!" tegur Nyonya Sarah, tapi Bara cuma mengangkat bahu dan lanjut naik ke lantai atas.

Nyonya Sarah menghela napas panjang, lalu menatap Renata tajam. "Dengar, Renata. Saya nggak peduli gimana hubungan kalian. Tapi hari ini, perusahaan kita ada acara peresmian proyek baru. Kamu harus ikut Bara. Pakai baju yang pantas, jangan bikin malu nama Adiwangsa. Kalau sampai media tau kalian nggak akur, saya nggak segan-segan bikin hidup keluarga kamu makin hancur."

Renata menelan ludah. Ancaman itu nyata. Dia nggak punya pilihan selain mengangguk.

Dua jam kemudian, Renata sudah berada di dalam mobil mewah bersama Bara menuju lokasi acara. Suasana di dalam mobil bener-bener sedingin es. Bara sibuk dengan ponselnya, sementara Renata menatap keluar jendela.

"Nanti di depan wartawan, lo tunjukkin ektingnya," ucap Bara tiba-tiba, suaranya dingin tanpa emosi.

"Gue tau," balas Renata singkat.

"Gue serius. Jangan pasang muka kasihan lo itu. Kalau ditanya, bilang kita bahagia banget semalam. Paham?" Bara narik tangan Renata, mencengkeram pergelangan tangannya sampai Renata meringis.

"Sakit, Bara! Lepasin!"

"Makanya dengerin gue!" Bara mendekatkan wajahnya, napasnya yang bau alkohol menerpa wajah Renata. "Lo itu cuma properti buat naikin citra gue. Begitu acara selesai, lo bebas mau mati atau apa kek, gue nggak peduli."

Renata memalingkan wajah, menahan air mata yang hampir tumpah. "Gue benci banget sama lo, Bar."

"Bagus," sahut Bara sambil melepaskan tangan Renata kasar. "Karena rasa benci itu satu-satunya hal yang bakal bikin lo bertahan di rumah gue."

Begitu mobil berhenti di depan gedung, kilatan lampu kamera wartawan langsung menyambut mereka. Bara tiba-tiba mengubah ekspresinya. Dia tersenyum menawan, lalu merangkul pinggang Renata dengan posesif, seolah-olah mereka adalah pasangan paling bahagia di dunia. Tapi Renata terpaksa tersenyum palsu, meski di dalam hati dia merasa ingin muntah.

Di tengah kerumunan pengusaha berjas rapi, seorang pria paruh baya dengan wajah yang jauh lebih teduh dibanding Bara melambaikan tangan. Itu Pak Baskoro, ayah Bara. Berbeda dengan istrinya yang judes, sombong. Tapi anehnya kenapa Pak Baskoro punya hati yang ramah pada Renata. Begitu melihat Bara dan Renata masuk, senyumnya langsung mengembang lebar.

"Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu!" seru Pak Baskoro pelan namun tegas, membuat beberapa kolega bisnisnya menoleh.

Bara yang tadinya memasang muka kaku langsung mengubah ekspresinya jadi lebih luwes, meski tangannya masih melingkar protektif atau lebih tepatnya mencengkeram pinggang Renata.

"Sini, Sayang. Papah mau kenalin mantu Papah ke temen-temen Papah," panggil Pak Baskoro sambil mendekat. Baskoro langsung memegang bahu Renata lembut, gestur yang bikin Renata sedikit merasa tenang di tengah lingkungan yang asing ini.

"Kenalin, ini Renata. Istrinya Bara," ucap Pak Baskoro bangga ke arah dua pria bule dan satu pengusaha lokal di depannya. "Cantik kan? Bara pinter banget nyarinya. Papa seneng banget akhirnya kamu jadi bagian keluargaku."

Renata tersenyum, kali ini sedikit lebih tulus karena perlakuan Pak Baskoro. "Halo, Om... eh, Papa. Saya Renata."

"Aduh, panggil Papah dong, kan kamu udah jadi bagian keluarga lah," sahut Pak Baskoro sambil tertawa kecil. Beliau menepuk bahu Bara. "Jagain istrimu baik-baik, Bar. Jangan kerja terus. Renata ini permata, jangan sampai kamu sia-siakan."

Bara cuma berdehem pelan, senyumnya kelihatan dipaksakan banget. "Iya, Pah. Bara jagain kok."

Tapi begitu Pak Baskoro berbalik buat lanjut ngobrol sama temannya, bisikan Bara langsung menusuk telinga Renata. "Jangan kepedean. Bokap gue emang baik ke semua orang, bukan cuma ke lo. Jangan pikir lo bisa ngadu apa-apa ke dia."

Renata nggak ngejawab. Dia cuma nunduk sebentar, ngerasain kontras yang luar biasa antara kehangatan Pak Baskoro sama dinginnya sikap Bara.

Tiba-tiba, Reno sepupu Bara yang tadi cuma ngeliatin dari jauh mulai jalan mendekat dengan segelas wine di tangannya. Dia masang senyum miring yang bikin Renata ngerasa nggak nyaman.

"Wah, ada pengantin baru disini?" tanya Reno santai, suaranya kedengeran ngeledek. "Bar, emang bener apa yang dibilang tante Sarah lo nggak pulang semalam, Bar. Ke mana aja? Kasihan istri baru lo sendirian di hotel mewah."

Mata Bara langsung menajam. Cengkeramannya di pinggang Renata makin kencang sampai Renata refleks meringis kecil.

"Bukan urusan lo, Ren," desis Bara.

"Tenang, gue cuma nanya," Reno beralih natap Renata, matanya merhatiin Renata dari ujung rambut sampai kaki dengan cara yang kurang ajar. "Hai, Renata. Gue Reno, sepupu Bara. Kalau Bara lagi sibuk atau dia nggak pulang, lo bisa hubungin gue kapan aja. Gue dengan senang hati ngeluangin waktu gue buat nemenin lo."

Bara maju selangkah, mukanya udah merah padam. "Jaga mulut lo sebelum gue pecahin gelas itu di muka lo."

Renata langsung megang lengan Bara, bukan karena peduli, tapi dia nggak mau ada keributan di depan Pak Baskoro yang lagi bahagia. "Bara, udah. Malu dilihat orang."

Bara menepis tangan Renata kasar, lalu natap Reno sekali lagi dengan tatapan membunuh sebelum narik Renata pergi dari sana. "Ikut gue. Kita pulang sekarang."

"Tapi acaranya belum selesai, Bar!" bisik Renata panik.

"Gue bilang pulang, ya pulang!" bentak Bara pelan tapi penuh penekanan.

Di sudut ruangan, Renata sempat ngelihat Nyonya Sarah lagi ngobrol sama cewek cantik dengan gaun merah yang sangat berani. Cewek itu menatap Renata dengan pandangan menghina sambil menyesap minumannya. Renata punya firasat, itu pasti Maya, mantan Bara yang diceritain orang-orang.

Bara menarik lengan Renata dengan kasar menuju parkiran VIP, mengabaikan tatapan beberapa tamu yang sempat menoleh heran. Begitu sampai di depan mobil, Bara menyentakkan tangan Renata sampai punggung cewek itu membentur pintu mobil.

"Sakit, Bar! Lo apa-apaan sih?!" bentak Renata, matanya mulai berkaca-kaca karena perlakuan kasar itu.

"Apa-apaan? Lo yang apa-apaan!" Bara menunjuk wajah Renata dengan telunjuknya. "Seneng lo digodain Reno tadi? Hah? Murahan banget lo, baru semalam jadi istri gue udah mau cari yang lain?"

Renata melotot, nggak percaya sama apa yang dia denger. "Gue nggak ngapa-ngapain! Dia yang nyamperin gue. Lo harusnya mikir, lo yang ninggalin gue semalaman, bukan malah nyalahin gue!"

Bara tertawa sinis. "Oh, jadi sekarang lo berani jawab? Inget ya... Bokap lo itu pengemis di mata keluarga gue. Jangan harap lo bisa dapet simpati dari gue cuma karena bokap gue baik sama lo."

Dia membukakan pintu mobil dengan sentakan keras. "Buruan masuk!"

Renata masuk dengan perasaan hancur. Di sepanjang jalan, tak ada satu pun kata yang keluar. Bara menyetir seperti orang kesetanan, meliuk-liuk di antara kendaraan lain seolah nyawa mereka nggak ada harganya.

Begitu sampai di rumah besar keluarga Adiwangsa, Bara langsung turun tanpa membukakan pintu untuk Renata. Dia melangkah lebar masuk ke dalam rumah, tapi langkahnya terhenti di ruang tengah.

Di sana, Nyonya Sarah sudah menunggu bersama wanita bergaun merah yang tadi dilihat Renata di acara peresmian. Wanita itu berdiri tersenyum manis, tipe senyum yang bikin Renata merinding.

"Bar, kamu pulang cepat sekali?" tanya Nyonya Sarah santai. "Kebetulan, Maya baru saja mampir. Dia bilang mau kasih selamat buat pernikahan kamu."

Bara terdiam. Tatapannya yang tadi penuh amarah mendadak melunak, berganti dengan raut wajah yang sulit dibaca. "Maya? Kapan lo balik?"

Wanita bernama Maya itu melangkah mendekati Bara, mengabaikan keberadaan Renata yang berdiri kaku di belakang suaminya. Maya menyentuh lengan Bara dengan manja. "Baru dua hari yang lalu sayang. Aku nggak nyangka kamu secepat ini..."

Maya melirik Renata dari atas ke bawah, lalu tertawa kecil yang terdengar sangat merendahkan. "Jadi, ini istri kamu? Cantik sih, tapi sayang, seleramu jadi turun ya setelah aku pergi?"

Siska yang juga ada di sana ikut menimpali sambil nyemil buah di sofa. "Ya gitu deh. Namanya juga barang pesanan Papa, mana bisa milih."

Renata merasa harga dirinya diinjak-injak tepat di depan mukanya sendiri. Dia menatap Bara, berharap pria itu setidaknya membelanya sebagai sesama manusia. Tapi Bara cuma diam, membiarkan tangan Maya tetap di lengannya.

"Renata, kamu ke dapur sana. Siapkan minum buat Maya," perintah Nyonya Sarah dingin. "Biarkan Bara dan Maya ngobrol sebentar. Mereka sudah lama nggak ketemu."

Renata mengepalkan tangannya. "Aku bukan pelayan di sini, Ma."

Suasana mendadak hening. Nyonya Sarah berdiri, matanya menatap Renata dengan tajam. "Kamu bilang apa?"

"Aku bilang, Aku bukan pelayan!" ulang Renata, kali ini menatap Bara. "Bar, lo denger kan? Istri lo disuruh jadi pelayan buat mantan lo, dan lo diem aja?"

Bara menoleh, matanya kembali dingin. "Ya tinggal bikin minum apa susahnya sih? Jangan banyak drama. Sana ke belakang kalau nggak mau gue seret."

Renata tertawa getir. Dia nggak tahan lagi. Tanpa sepatah kata pun, dia berbalik dan berlari naik ke lantai atas, menuju kamar. Begitu masuk ke kamar, dia mengunci pintu rapat-rapat. Dia bisa mendengar sayup-sayup suara tawa Maya dan Siska dari bawah. Di tengah rasa sesak itu, ponsel Renata bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

“Halo Cantik. – Reno.”

Renata melempar ponselnya ke kasur. Dia terjepit di antara suami yang brengsek, mertua yang jahat, dan sepupu yang buaya. Renata menarik napas panjang, mencoba meredam gemuruh di dadanya yang terasa mau meledak. Dia berjalan ke arah balkon kamar, menatap lampu-lampu kota Jakarta yang berkilauan di kejauhan. Mewah, tapi terasa hampa.

"Gue nggak boleh cengeng," bisiknya pada diri sendiri, menghapus sisa air mata di pipinya dengan kasar. "Kalau mereka anggep gue barang, gue bakal jadi barang paling mahal yang nggak bakal bisa mereka beli pake harga diri gue."

Tiba-tiba, suara ketukan keras terdengar dari balik pintu. Bukan ketukan sopan, tapi gedoran yang nggak sabaran.

Tok! Tok! Tok!

"Renata! Buka pintunya!" Itu suara Bara. Kedengarannya dia makin mabuk atau makin emosi, Renata nggak tahu pasti.

Renata diam saja. Dia sengaja nggak mau jawab. Dia pengen Bara ngerasain gimana rasanya diabaikan.

"Gue tau lo di dalem! Jangan sok drama ngunci diri. Keluar sekarang, Maya mau pamit!" teriak Bara lagi dari balik pintu.

Renata mendengus sinis. Maya mau pamit? Terus hubungannya sama gue apa? batinnya dongkol. Dia jalan mendekat ke pintu, tapi nggak membukanya. Dia cuma berdiri di baliknya, membiarkan kayu tebal itu jadi pembatas antara dia dan suaminya yang brengsek itu.

"Suruh dia pulang sendiri, dia punya kaki kan?" sahut Renata lantang, suaranya dingin banget. "Atau kalau lo masih kangen, lo anterin aja. Gue udah nggak peduli!"

Hening sejenak di luar sana. Renata bisa ngerasain hawa panas kemarahan Bara tembus sampai ke dalam kamar.

"Lo bener-bener nantangin gue, ya?" suara Bara merendah, tipe suara yang biasanya bikin orang gemetar. "Buka sekarang, atau gue dobrak pintu ini."

"Dobrak aja kalau berani! Biar Papa tau kelakuan asli anaknya kayak gimana!" tantang Renata balik. Dia tau cuma nama Pak Baskoro yang bisa bikin Bara mereda.

Di luar, Bara menendang pintu itu sekali dengan keras sampai suaranya menggelegar ke seluruh lorong. "Sialan!" umpatnya. Langkah kakinya terdengar menjauh, mungkin kembali ke bawah untuk menemani mantan kandungnya itu.

Renata luruh di balik pintu, duduk di lantai marmer yang dingin. Dia memeluk lututnya sendiri. Di bawah sana, dia masih bisa denger suara tawa Maya yang melengking, disusul suara mobil yang menderu pergi.

Renata menatap ke arah tempat tidur besar yang masih rapi. Kamar ini terlalu luas untuk rasa sepi yang dia rasain sekarang. Dia teringat pesan dari Reno tadi. Licik memang, tapi setidaknya Reno orang pertama di rumah ini yang nggak memandangnya kayak sampah—walaupun Renata tau ada maksud tersembunyi di balik itu.

Dia mengambil ponselnya lagi, menatap layar yang masih menampilkan pesan dari Reno. Renata nggak membalas, tapi dia juga nggak menghapusnya. Dia simpan itu sebagai pengingat, bahwa di rumah ini, dia harus punya "senjata" kalau mau bertahan hidup.

Malam ke dua di rumah Adiwangsa resmi berakhir dengan luka yang menganga lebar. Renata mematikan lampu kamar, membiarkan kegelapan menyelimutinya. Sebelum akhirnya memejamkan mata dalam kelelahan yang luar biasa.

1
Nanda
salam kenal yah...
neng aja
bintang 5 buat renata hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!