Bagi Adnan Mahendra, hidup adalah maha karya presisi. Sebagai arsitek ternama di Surabaya, ia percaya bahwa fondasi yang kuat akan membuat bangunan abadi.
Namun, dunianya yang simetris runtuh dalam perlahan ketika laporan demi laporan Jo Bima yang tidak lain asisten Adnan sendiri. Mengungkap sisi gelap Arini, istri yang sangat ia puja dengan ketulusan cinta sejatinya.
Namun di balik wajah cantik dan senyum lembutnya, Arini telah membangun istana kebohongan. Bersama pria lain di sudut-sudut kota Surabaya yang panas tanpa sepengetahuannya.
Akankah cinta mereka bertahan, akankah pondasi rumah tangga yang di bangun Adnan tetap berdiri kokoh? ketika Bagaskara masa lalu Arini kembali mengusik ketenangan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saksi Bisu di Balik Garis Polisi
Langit Surabaya sore itu seolah ikut berduka. Berubah menjadi kelabu gelap yang menggantung rendah di atas kawasan pergudangan Margomulyo. Berubah agak pudar sedikit berkabut, sejalan suasana mencekam di tempat kejadian perkara.
Bau anyir laut yang bercampur dengan aroma solar dan debu industri. Menyeruak masuk ke dalam kabin mobil Adnan saat ia menginjak rem dengan kasar. Di depannya, garis kuning polisi melintang, memagari sebuah kontainer karat yang terbuka di tengah kesunyian gudang tua yang terisolasi.
Lampu-lampu rostary dari mobil patroli polisi berputar-putar, memantul di dinding-dinding menari-nari di atas seng yang kusam. Begitu Adnan turun dari mobil dan menjejakkan tapak sepatu di aspal basah. Hawa dingin yang bukan berasal dari cuaca menyergap tengkuknya.
"Nan, akhirnya kamu sampai," suara bariton yang berat menyapa. Suara yang sangat familiar bagi Adnan sejak dulu, sejak dia masih di bangku kuliah.
Reza berdiri di sana, masih mengenakan seragam dinasnya. Namun dengan kancing kerah yang sudah dibuka. Wajah sang Kapolres tampak lelah. Matanya yang tajam menatap Adnan dengan simpati yang mendalam. Ia segera menahan bahu Adnan saat sahabatnya itu hendak melangkah lebih dekat ke arah kontainer.
"Siapkan mentalmu, Nan, Ini tidak mudah dilihat," bisik Reza.
Adnan mengangguk pelan, wajahnya kaku seperti pahatan batu. Ia melangkah melewati garis polisi. Di dalam kegelapan kontainer itu di bawah sorot lampu flash tim inafis, ia melihat mereka. Jo dan Bima, dua pria yang sudah dianggapnya seperti saudara sendiri, kini terbujur kaku dengan posisi yang mengenaskan.
Seketika, pertahanan Adnan runtuh. Satu tetes air mata jatuh melintasi pipinya yang tirus. Menyusul tetesan-tetesan berikutnya yang tak mampu ia bendung. Sebab selama ini Jo dan Bima bukan hanya sekedar rekan kerja.
Bukan hanya sekedar kaki tangan yang patuh pada Tuannya. Tapi sudah seperti saudara, sudah dianggap adik sendiri oleh Adnan. Tidak ada isak tangis yang pecah. Adnan tetap diam, berdiri tegak dengan tangan mengepal di samping tubuh yang mulai kaku mati rasa.
Kesedihannya adalah kesedihan yang sunyi, namun mengandung tekanan ribuan atmosfer amarah di dalamnya. Siap menggelontorkan neraka-neraka api bagi lawan-lawannya.
"Mereka ditemukan oleh penjaga gudang sekitar pukul empat sore tadi, Nan," Reza mulai menjelaskan kronologi dengan suara rendah, sambil berjalan mendampingi Adnan.
"Mobil mereka dipaksa masuk ke sini. Dari jejak di lokasi, mereka dicegat saat perjalanan kembali dari suatu tempat semalam. Ada bekas tabrakan di bumper belakang mobil mereka, tanda mereka dipaksa menepi."
Reza menghela napas, menunjuk ke arah jasad yang sedang diperiksa, "Pelakunya sangat kejam, Nan. Kami menemukan banyak luka memar akibat benda tumpul dan luka tusuk di area yang tidak mematikan. Seperti mereka sengaja disiksa untuk memberikan informasi sebelum akhirnya dieksekusi dengan satu tembakan di kepala masing-masing."
Adnan menatap luka-luka di tubuh Jo. Penyiksaan Itu menjelaskan mengapa ponselnya bersih pagi ini. Jo atau Bima kemungkinan besar dipaksa memberikan kode akses atau membiarkan pelaku meretas akun cloud Adnan melalui perangkat mereka sebelum mereka dihabisi.
"Nan," Reza menyentuh lengan Adnan, "Aku butuh izinmu untuk membawa mereka ke RS Bhayangkara. Kami perlu melakukan otopsi menyeluruh untuk mencari jejak DNA pelaku atau bukti fisik lainnya. Setelah itu, aku ingin kamu ikut ke kantorku di Polres. Ada banyak hal yang harus kita bicarakan, dan aku tahu ini bukan sekadar perampokan biasa."
Adnan menarik napas panjang, menghapus sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, "Lakukan apa yang harus dilakukan, Rez. Bawa mereka, aku akan ikut denganmu."
Perjalanan menuju kantor Polres Surabaya dilewati dalam keheningan yang mencekam. Adnan duduk di kursi penumpang mobil dinas Reza. Di dalam benaknya, ia menyadari bahwa ini adalah satu-satunya kesempatan untuk membuka tabir kegelapan ini. Ia tidak bisa lagi bergerak sendirian. Lawannya telah membuktikan bahwa mereka berani menumpahkan darah.
Sesampainya di ruang kerja Kapolres yang tertutup rapat, Reza mempersilakan Adnan duduk dan menyodorkan segelas air mineral. Menatap saudara seperjuanganya dulu saat kuliah itu dengan tatapan iba.
"Sekarang katakan padaku, Nan. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dua orang kepercayaanmu berakhir di dalam kontainer?" tanya Reza langsung tanpa basa-basi.
Adnan menatap gelas di tangannya, lalu menatap Reza dengan tatapan yang sangat tajam, "Ini tentang Arini, Rez dan tentang seorang pria bernama Bagaskara."
Selama satu jam berikutnya, Adnan menceritakan semuanya. Mulai dari kecurigaannya, laporan-laporan awal Jo. Pertemuan Arini dengan Bagas di halte tua. Hingga rahasia besar tentang keguguran dan kesucian palsu di Singapura yang diceritakan mertuanya.
Adnan juga menceritakan tentang siaran langsung yang ia tonton semalam. Bukti fisik terakhir yang dilihatnya sebelum ia dibius dan semua data di ponselnya dihapus secara permanen.
Reza mendengarkan dengan dahi berkerut, tangannya sesekali mencatat di buku kecil, "Jadi kau yakin, semua bukti itu dihapus setelah kau dibius di rumahmu sendiri?"
"Ya. Siapa pun pelakunya, mereka profesional. Mereka tahu cara masuk ke ruang kerja rahasiaku dan mereka tahu Jo dan Bima memegang cadangannya," ujar Adnan.
“Rez, aku butuh bantuanmu. Bukan hanya untuk menangkap pembunuh Jo dan Bima, tapi untuk mengembalikan data-data itu. Aku tahu kepolisian punya unit cyber yang bisa memulihkan data yang sudah dihapus, bahkan dari server pusat jika perlu."
Reza mengangguk, raut wajahnya sangat serius, "Kalau benar apa yang kau katakan ini adalah konspirasi tingkat tinggi, Nan. Bagaskara mungkin hanya pion, atau mungkin dia bekerja sama dengan pihak lain yang punya akses ke rumahmu. Aku akan segera memerintahkan unit Cyber Crime untuk menyisir akun digitalmu dan perangkat milik Jo serta Bima yang kami temukan di lokasi."
Reza berdiri, menepuk bahu Adnan, "Kita akan cari bukti itu kembali, Nan. Video itu, foto-foto itu, mereka pasti meninggalkan jejak digital dan untuk kematian Jo dan Bima. Aku berjanji padamu, mereka tidak akan mati sia-sia. Tapi untuk sekarang, kau harus tetap tenang. Jangan biarkan Arini atau siapa pun tahu bahwa kau sedang bekerja sama denganku."
Adnan berdiri, matanya berkilat dingin, "Aku akan tetap menjadi suami yang pemaaf di depan Arini, Rez. Setidaknya sampai kamu menemukan kembali rekaman video itu. Begitu bukti itu ada di tanganku lagi. Aku akan memastikan Bagaskara dan siapa pun yang membantu Arini merasakan neraka yang sesungguhnya."
Malam itu, Adnan meninggalkan Polres dengan satu tujuan baru. Ia tidak lagi sekadar mencari kebenaran, ia sedang mengumpulkan senjata untuk sebuah pembalasan yang paling sunyi namun paling mematikan. Di dalam kegelapan mobilnya, ia berjanji pada arwah Jo dan Bima bahwa keadilan akan ditegakkan dengan cara yang paling pahit.
Sori thor itu pendapat saya ... tapi tetap samangag bikin ceritanya ...