NovelToon NovelToon
Kisah Sang Penguasa

Kisah Sang Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Spiritual / Misteri
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Blueria

Dengan kecerdasan aku menantang jalan ku sendiri. Aku bukanlah pahlawan atau penjahat besar tapi aku ada untuk keluargaku sendiri.

Dengan segala yang kumiliki aku menantang takdir, langit dan bumi dan menjadi penguasa dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 — Kalian Dalam Genggamanku (1) [REVISI]

Wang Yan meletakkan sumpitnya perlahan. Ia tidak terlihat terkejut, seolah kedatangan Hong Jigong hanyalah salah satu dari bagian rencana yang sudah terprediksi oleh akal cerdiknya.

“Yue’er, tetap di sini bersama Paman,” ucap Wang Yan sambil tersenyum.

Lin Yue mengangguk pelan, namun jemarinya meremas sumpit dengan kuat. “Yan’ge, orang di luar itu sangat berisik. Hancurkan saja dia sekalian, beraninya dia menghina Yan’ge,” ucap gadis itu dengan nada dingin yang tidak seperti biasanya.

Mendengar itu, Wang Yan tidak bisa menahan tawa pendeknya. Ia mengacak rambut Lin Yue sekilas, merasa lucu karena adiknya lebih mempermasalahkan hinaan Hong Jigong ketimbang pintu gerbang depan yang mungkin telah hancur berkeping-keping.

“Jadi, menurutmu mulutnya lebih berbahaya daripada tinjunya, Yue'er?” bisik Wang Yan dengan nada bercanda yang seketika mencairkan ketegangan di meja makan tersebut. Lalu melirik Huo Ting.

“Paman tidak perlu beranjak. Aku mengenal suara pria yang mengamuk di luar ini, dia hanyalah seseorang dari masa lalu yang memiliki otot lebih besar daripada otaknya. Dia bukan musuh yang cukup kuat untuk membuat Paman mengotori tangan. Tapi, ketika nanti aku, ...,” ujar Wang Yan, lanjutnya membisikkan penjelasan sebuah rencana secara singkat.

“Baiklah, Yan’er!”

Wang Yan berdiri dan melangkah keluar menuju halaman depan. Di sana, tepat di tengah puing-puing gerbang kayu yang hancur, Hong Jigong berdiri sendirian. Ia tidak membawa pengawal, sebuah tanda kepercayaan diri yang berlebihan karena menganggap remeh Wang Yan yang baru berjalan di dunia kultivator.

Baginya, membawa bantuan hanya untuk meringkus seorang sarjana lemah akan menjadi aib besar. Ia tidak ingin ayahnya menganggapnya pecundang yang bahkan tidak mampu menangani urusan sekecil ini seorang diri.

Hong Jigong menyeringai saat melihat sosok ramping Wang Yan muncul.

“Akhirnya si sarjana pengecut ini keluar juga.”

“Kau menghancurkan gerbang rumahku, Jigong. Itu pelanggaran hukum kota dan etika bertamu.” ujar Wang Yan menegaskan.

“Hukum? Etika?” Hong Jigong tertawa keras, suaranya parau dan kasar.

“Di depan kekuatan, hukum itu hanya tulisan diatas kertas sampah! Aku tidak datang ke sini untuk berdebat soal aturan dinasti yang kaku ini.”

Ia melangkah maju, memperkecil jarak. Suaranya merendah, mencoba terdengar mengancam namun tetap waspada agar pembicaraan ini tidak membawa-bawa instruksi resmi ayahnya. Ia ingin ini terlihat seperti urusan pribadinya agar ayahnya tidak menganggapnya tidak becus bekerja.

“Serahkan kalung giok bulan sabit itu sekarang. Jika kau memberikannya secara sukarela, aku mungkin hanya akan mematahkan satu tanganmu sebagai balasan atas penghinaanmu empat tahun lalu. Jika tidak... aku akan memastikan kau tidak bisa lagi memegang pena seumur hidupmu.”

Wang Yan melirik lehernya sendiri, tempat kalung itu tersembunyi di balik jubahnya.

“Keluarga Hong memang tidak pernah berubah. Selalu ingin merampas milik orang lain.”

“Cukup omong kosongnya!” Hong Jigong mengepalkan tinju, energi spiritual mulai mengalir pada kepalan tangan kanannya.

“Aku dengar kau telah menjadi seorang kultivator? Membeli pedang murahan? Mana pedangmu? Keluarkan!”

Wang Yan melirik tangannya yang kosong. Pedang hitam yang ia beli kemarin sudah bengkok tak berbentuk setelah menahan hantaman cakar Harimau Perak di Hutan Kabut Awan. Senjata itu sudah rusak dan berada di cincin ruang perunggu nya sebagai rongsokan.

“Haha, kau benar. Tapi, aku tidak butuh pedang untuk menghadapi orang sepertimu,” ucap Wang Yan tenang.

“Sombong! Matilah kau!”

Hong Jigong menghentakkan kakinya ke tanah, menerjang maju dengan pukulan bertenaga sedang yang mengincar dada Wang Yan.

Sebagai seorang kultivator Lautan Spiritual lapisan ketiga, serangan ini sudah ia sesuaikan agar tidak membunuhnya. Seharusnya sudah cukup untuk menghancurkan tulang rusuk seorang pemula, sebelum ia merampas kalung giok bulan sabit dari Wang Yan.

Namun, dalam pandangan Wang Yan untuk seorang yang telah mencapai Lautan Spiritual lapisan keenam, gerakan itu terasa lambat. Kuda-kuda Hong Jigong terlalu terbuka karena rasa percaya diri yang berlebihan.

Wush!

Tubuh Wang Yan bergeser tipis ke samping. Pukulan Hong Jigong hanya mengenai angin.

“Apa...?!” Mata Hong Jigong membelalak.

Sebelum Hong Jigong sempat menarik tangannya, Wang Yan sudah bergerak. Ia tidak menggunakan teknik yang rumit, hanya teknik penebas udara yang ia modifikasi menjadi pukulan lurus yang didorong oleh sepersekian ledakan energi Lautan Spiritual lapisan keenam.

Bugh!

Tinju Wang Yan menghantam ulu hati Hong Jigong dengan telak.

“Ugh...!” Hong Jigong terlempar mundur tiga langkah, napasnya langsung tercekat. Wajahnya yang semula merah karena marah, kini berubah pucat pasi karena rasa sakit yang menusuk.

Ia memegang perutnya, menatap Wang Yan dengan tatapan tidak percaya yang bercampur dengan horor.

Ayahnya bilang Wang Yan baru mulai melangkah di jalan kultivasi. Seharusnya ia hanya seorang pemula yang baru belajar seni beladiri atau menyalurkan energi spiritual di meridiannya yang bahkan belum bisa mengontrol energi spiritual dengan benar.

Tapi barusan, ia bahkan tidak bisa melihat bagaimana Wang Yan bergeser. Tekanan energi yang keluar dari kepalan tangan Wang Yan terasa jauh lebih padat dan lebih berat daripada miliknya sendiri.

“Kau...” Hong Jigong terengah-engah, mencoba mengatur napasnya yang sesak.

“Kekuatan apa ini? Kau menyembunyikan diri sebagai kultivator selama ini?!” tanyanya tak percaya.

Wang Yan tidak menjawab. Ia kembali melangkah maju dengan wajah tanpa ekspresi, mengepalkan tinjunya yang kembali dialiri energi spiritual yang berpendar tipis.

“Sekarang, mari kita hitung berapa pukulan untuk gangguan sarapan keluargaku.” ucap Wang Yan dingin.

Hong Jigong berusaha bangkit, namun rasa sakit di ulu hatinya membuat kakinya gemetar. Mendengar ancaman Wang Yan, nyalinya yang tadi setinggi langit mendadak ciut.

“Kau... kau berani memukulku? Jika Ayahku tahu, kau akan mati! Seluruh keluargamu akan tamat!” teriak Hong Jigong dengan suara yang mulai serak.

Meskipun mulutnya menggertak, batinnya menjerit ketakutan. Ia membayangkan kemarahan ayahnya. jika ayahnya tahu dirinya dipermalukan oleh seorang sarjana fana yang dari katanya baru di jalan kultivasi. Rasa malunya jauh lebih besar daripada rasa sakit fisiknya.

Sementara itu, matahari mulai naik. Penduduk Kota Qingshi mulai keluar untuk beraktivitas. Di kejauhan mereka berbisik-bisik, mata mereka terbelalak melihat puing gerbang kayu dan sosok yang tersungkur di tanah.

“Lihat itu! Bukankah itu Tuan Muda Ketiga Keluarga Hong?” bisik seorang pria paruh baya.

“Benar! Dan pria yang berdiri di depannya... Itu? Astaga! Bukankah dia Sarjana Wang? Jadi rumor itu benar, dia benar-benar telah berjalan di jalan kultivator!”

“Tapi bagaimana mungkin? Hong Jigong dipukuli sampai berlutut? Sarjana Wang memukul Tuan Muda Ketiga Keluarga Hong?! Ini akan menjadi berita besar di kota!”

Wang Yan tidak memedulikan bisikan itu, semua kekacauan ini sudah termasuk dalam rencananya. Ia melangkah mendekat ke arah Hong Jigong yang masih berusaha memulihkan napas.

“Ayahmu tidak akan tahu jika kau pulang dengan wajah sehancur ini,” ucap Wang Yan datar.

“Tapi sayangnya, kau terlalu bodoh untuk memahami bahwa provokasi butuh kekuatan yang setara.”

Hong Jigong mencoba membalas dengan pukulan membabi buta, namun Wang Yan dengan mudah menangkap pergelangan tangannya.

Dengan gerakan efisien, Wang Yan menarik lengan itu dan mendaratkan satu pukulan telak tepat di mulut Hong Jigong.

Brak!

Suara benturan keras terdengar, diikuti oleh suara gigi yang retak.

Wang Yan tidak berhenti. Ia melayangkan pukulan beruntun dengan ritme yang teratur namun penuh tenaga. Setiap hantaman mengenai sasaran yang sama: rahang dan mulut.

“Ugh— Ahhh!”

Hong Jigong terjengkang ke belakang. Darah segar menyembur dari mulutnya. Enam gigi terlepas, terpental ke tanah yang berdebu. Wajahnya kini bengkak tak keruan dengan kehilangan banyak gigi depan, membuat ketampanan khas keluarga terhormat yang ia banggakan lenyap seketika.

Wang Yan berdiri tegak, menatap sosok yang mengerang di bawahnya dengan tatapan jijik. Ia mengambil sapu tangan dari balik lengan jubahnya dan mengusap tetesan darah yang mengenai buku jarinya.

“Aku tidak membencimu, Jigong. Bagiku, kebencian membutuhkan emosi, dan kau tidak layak mendapatkannya,” ucap Wang Yan dingin.

“Aku hanya jijik melihat kebodohanmu. Menggunakan nama ayahmu dan statusmu untuk menutupi kelemahanmu sendiri adalah strategi yang paling menjijikkan bagi seorang pria.”

Para penduduk yang menonton menahan napas. Mereka tidak pernah melihat sisi Wang Yan yang seperti ini. Bukan lagi seorang sarjana yang ramah dan penuh tutur kata lembut, melainkan seorang kultivator yang eksekusinya sangat bersih dan tanpa ampun.

Hong Jigong hanya bisa mengerang, tangannya menutupi mulutnya yang kini ompong dan penuh darah. Ia tidak bisa lagi bicara dengan jelas. Rencana awalnya untuk mengambil kalung dan membuat Wang Yan berlutut berbalik menjadi tragedi paling memalukan dalam hidupnya.

Wang Yan kembali mengepalkan tinjunya. Ia melangkah satu tindak lagi, bersiap mendaratkan pukulan terakhir tepat ke arah hidung Hong Jigong yang sudah berlumuran darah. Angin tipis mulai berputar di sekitar kepalan tangannya, tanda ia tidak menahan energi spiritualnya.

Namun, tepat sebelum tinju itu mendarat, sebuah bayangan hitam melesat dengan kecepatan yang sulit diikuti mata telanjang.

Wush!

...

1
BlueHeaven
*Seharusnya Hukum Dinasti
Ajipengestu
Lanjut💪
Author Lover's
Belum ngontrak ni thor?
BlueHeaven: makasih ya💪👋
total 3 replies
Nanik S
Wang Bo... apa lupa Ingatan
BlueHeaven: Bisa dikatakan seperti itu bang, ingatannya Feng Bo terpecah karena suatu hal yang akan di ceritakan alasannya dalam Arc besar.
total 1 replies
Nanik S
Hadir
BlueHeaven: Absen terus💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!