Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Sang Ratu
Arsenia menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya sembap, tapi tatapannya tajam. Ia baru saja menutup map "Lentera Merah". Bukti di tangannya sangat mengerikan: Sofia-lah yang memerintahkan pembakaran itu untuk memicu klaim asuransi dan percepatan lahan, sementara ayahnya, Bramantyo, sebenarnya mencoba memindahkan anak-anak panti secara diam-diam.
"Maafkan aku, Raka," bisiknya. "Untuk menghancurkan Sofia, aku harus menjadi seperti dia."
Langkah Pertama: Sandiwara di Valen Group
Pagi harinya, Arsenia masuk ke kantor dengan gaya yang berubah total. Ia mengenakan setelan hitam yang kaku dan memperlakukan stafnya dengan sangat dingin. Ia memanggil Sofia ke ruangannya.
"Bibi benar," ujar Arsenia sambil melemparkan map kosong ke atas meja. "Keluarga Valen harus diutamakan. Raka hanyalah gangguan. Aku akan mengurusnya."
Sofia tersenyum puas, matanya berkilat kemenangan. "Bagus. Aku senang kau sadar. Daniel akan segera bebas bersyarat dengan bantuan The Syndicate. Dia akan membantumu 'membersihkan' sisa-sisa di wilayah barat."
Arsenia menahan mual. "Aku ingin bertemu dengan perwakilan The Syndicate. Jika aku harus melakukan ini, aku ingin tahu siapa yang sebenarnya berada di belakang kita."
"Sabar, Arsenia. Buktikan dulu kau bisa menyingkirkan Raka dari hidupmu."
Konfrontasi Berdarah Dingin di Tepi Sungai
Sore itu, Arsenia menemui Raka di tepi sungai. Raka sudah menunggunya dengan jam saku perak di tangan dan tatapan penuh luka. Pengacara tua itu, Pak Broto, telah meyakinkannya bahwa keluarga Valen adalah monster.
"Senia, aku sudah tahu semuanya," ucap Raka suara serak. "Ayahmu... panti asuhan itu... kenapa kamu tidak pernah bilang?"
Arsenia memalingkan wajah, memasang topeng kedinginan yang paling sempurna. "Kenapa aku harus bilang? Itu urusan bisnis masa lalu, Raka. Kamu pikir kenapa aku mendekatimu? Wilayah barat butuh ditenangkan agar proyek kami jalan. Dan sekarang, proyek itu tetap akan jalan dengan atau tanpa izinmu."
Raka tertegun, seolah jantungnya baru saja diremas. "Jadi... semua perhatianmu, semua bantuanmu... itu hanya untuk mengamankan lahan?"
"Jangan naif, Raka Adiwangsa," Arsenia menggunakan nama asli Raka dengan nada menghina. "Seorang pewaris Valen Group tidak mungkin jatuh cinta pada penjaga warung. Ini adalah kompensasi agar kamu pergi dari sini."
Arsenia melemparkan sebuah cek dengan angka fantastis ke dada Raka. Cek itu jatuh ke tanah yang becek.
"Ambil uang itu, pergi dari kota ini, dan jangan pernah muncul lagi. Jika tidak, pengacara kami akan memastikan kamu membusuk di penjara atas tuduhan pemerasan."
Raka menatap cek itu, lalu menatap Arsenia. Matanya berkaca-kaca, bukan karena marah, tapi karena kecewa yang luar biasa. "Aku tidak butuh uangmu, Arsenia. Aku butuh keadilan. Dan sekarang aku tahu... kamu sama saja dengan mereka."
Raka berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi. Begitu punggung Raka menghilang di tikungan, pertahanan Arsenia runtuh. Ia jatuh terduduk di tanah, meremas rumput, dan menangis tanpa suara.
Di Balik Bayangan: Rencana Raka
Raka tidak pergi meninggalkan kota. Ia kembali ke Pak Broto, sang pengacara tua.
"Dia menghinaku, Pak. Dia mencoba menyuapku," ujar Raka dengan suara yang kini penuh dengan tekad balas dendam.
Pak Broto tersenyum tipis—sebuah senyum yang sebenarnya menyembunyikan agenda rahasia. "Bagus. Kebencian adalah bahan bakar yang kuat. Sekarang, kita akan mengajukan gugatan perdata atas kepemilikan saham 40% Valen Group atas nama mendiang ayahmu, Adiwangsa."
Tanpa Raka sadari, Pak Broto sebenarnya adalah informan dari faksi lain di dalam The Syndicate yang ingin melihat keluarga Valen saling menghancurkan dari dalam.
Malam di Kantor Daniel
Daniel, yang kini sudah berada di rumah aman setelah dibebaskan secara rahasia, menerima telepon dari Sofia.
"Arsenia sudah membuangnya," lapor Sofia.
"Bagus," jawab Daniel sambil menyesap cerutunya. "Sekarang, kita biarkan Raka menghancurkan reputasi perusahaan dengan gugatannya. Saat saham Valen Group anjlok, kita akan membelinya dengan harga murah. Dan Arsenia? Dia akan menjadi kambing hitam atas semua skandal masa lalu ayahnya."