NovelToon NovelToon
Terbelenggu Cinta Sahabat Suamiku

Terbelenggu Cinta Sahabat Suamiku

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Diam-Diam Cinta / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 4.8
Nama Author: Red_Purple

‎Dua tahun pernikahan yang Nara jalani bersama dengan Arga mulai terasa hambar ketika Arga memilih untuk sibuk dengan pekerjaan. Hingga suatu malam dia menyaksikan suaminya itu tengah berselingkuh dengan sekretarisnya sendiri.

‎Saat dunianya terasa gelap, sosok Aditya Narendra yang merupakan sahabat baik Arga muncul sebagai pelindungnya. Rendra selalu ada di sisi Nara, memberikan dukungan dan perhatian yang telah lama tidak dia dapatkan dari suaminya.

‎Sentuhan lembut dan kata-kata hangat Rendra menjadi obat yang menyembuhkan luka dalam hatinya, sekaligus membawanya pada permainan penuh gairah pria itu. Namun, Nara tak menyadari bahwa di balik kebaikan Rendra tersembunyi sebuah rahasia besar.

‎"Jawab pertanyaanku, Nara. Lebih puas denganku, atau dengan suamimu yang selalu meninggalkanmu sendirian?" ~ Aditya Narendra.

‎‎📍Membaca novel ini mampu meningkatkan imun dan menggoyahkan iman 😁 bukan area bocil, bijak-bijaklah dalam membaca 🫣


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

‎Tokk... Tokk...

‎‎Suara ketukan pintu terdengar pelan namun cukup jelas memecah keheningan malam di dalam kamar yang dingin itu. Nara yang sedang duduk bersandar pada headboard sambil memainkan ponselnya mendongak perlahan. Dia tahu persis siapa yang ada di balik pintu itu.

‎‎"Masuk," ucap Nara singkat, tanpa nada.

‎Pintu terbuka perlahan. Arga melangkah masuk dengan tangan terselip di saku celana panjangnya. Matanya menyapu sekeliling kamar yang kini menjadi tempat tinggal terpisah istrinya itu. Rasanya aneh, rumah ini begitu besar namun jarak di antara mereka terasa ribuan kilometer jauhnya.

‎‎Arga berhenti di dekat meja rias, menatap Nara yang duduk di atas ranjang.

‎‎"Masih belum tidur?" tanya Arga memecah keheningan, suaranya terdengar sedikit canggung.

‎‎Nara tidak langsung menoleh. Dia hanya meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu mengangkat wajahnya menghadap pria itu dengan wajah datar, tanpa senyum, tanpa emosi.

‎‎"Ada apa, Mas? Kenapa belum istirahat?" balas Nara balik bertanya, suaranya dingin bagaikan es.

‎‎Arga menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian. Dia melangkah mendekat dan akhirnya duduk di ujung ranjang, menjaga jarak aman agar tidak membuat Nara merasa terganggu atau marah.

‎"Aku mau bicara sebentar, Nara," ucap Arga pelan, matanya menatap wajah istrinya yang terlihat begitu cantik namun kini terasa begitu asing. "Lusa..."

‎‎Nara menatapnya menunggu, alisnya sedikit terangkat menanti kelanjutan kalimat itu.

‎‎"Lusa ada acara gala dinner yang sangat penting. Semua petinggi perusahaan dan rekan bisnis akan hadir di sana. Aku..." Arga berhenti sejenak, menelan salivanya susah payah. "Aku ingin kamu ikut bersamaku. Jadilah pendampingku malam itu."

‎‎Suasana kembali hening. Nara diam saja, menatap Arga lekat-lekat dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. Tatapan itu membuat Arga merasa tidak nyaman, seolah dia sedang diadili.

‎‎"Kenapa tiba-tiba mengajak aku?" potong Nara akhirnya, suaranya terdengar sinis. "Selama ini kan kamu lebih suka datang sendirian, atau... mungkin lebih nyaman jika didampingi oleh sekretaris pribadimu yang cantik itu? Kenapa sekarang repot-repot memintaku?"

‎‎Pertanyaan tajam itu langsung membuat wajah Arga berubah pucat. Dia menunduk sedikit, rasa bersalah kembali menghantuinya.

‎‎"Nara, tolong... jangan bahas itu lagi. Itu sudah lewat dan sudah selesai," ucap Arga lemah, mencoba membela diri. "Aku mengajakmu karena kamu istriku. Dan malam itu... aku benar-benar membutuhkan kamu di sisiku. Tolong penuhi permintaanku sekali ini saja."

‎‎Nara terdiam selama beberapa saat.

‎‎"Baiklah," jawab Nara akhirnya dengan nada datar. "Aku akan ikut."

‎‎Arga langsung mendongak, wajahnya tampak lega. "Benarkah? Terima kasih, Nara. Terima kasih banyak."

‎‎"Tapi ingat," potong Nara cepat, menatap Arga tajam. "Aku ikut bukan karena aku mau, dan bukan karena aku sudah memaafkanmu. Aku ikut hanya karena tidak ingin orang-orang melihat kamu datang tanpa pasangan, dan aku tidak ingin mereka menduga-duga tentang hubungan kita ini, tentang apa yang terjadi didalam rumah tangga kita."

‎‎Arga menelan salivanya, meski permintaannya dikabulkan, nada bicara Nara terasa begitu menusuk. Namun dia tidak berani protes.

‎‎"Asal kamu mau ikut, itu sudah cukup," jawab Arga pasrah. "Terima kasih, Nara. Istirahatlah. Selamat malam."

‎‎Arga berdiri dan berjalan perlahan menuju pintu. Sebelum keluar, dia menoleh sebentar menatap wanita yang masih duduk di atas ranjang itu. Tatapan matanya menyiratkan sejuta penyesalan dan kerinduan yang tak terucapkan. Namun dia tahu, saat ini dia tidak berhak meminta lebih.

-

-

-

Suasana ruang makan terasa begitu hening dan kaku pagi ini. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang sesekali bersentuhan dengan piring.

‎‎Nara duduk dengan tenang, menikmati sarapannya tanpa menatap suaminya sedikitpun. Sementara Arga, dia sesekali melirik wanita di hadapannya itu dengan perasaan campur aduk. Meski hubungan mereka sedang retak parah, melihat Nara duduk di sana dengan wajah cantik dan tenang membuat hatinya sedikit lebih tenang.

‎‎"Sayang..." panggil Arga pelan, berusaha memecah kebekuan. "Tentang gaun untuk acara lusa... kamu mau aku suruh asistenku untuk memesankan atau kamu ingin pilih sendiri?"

‎‎Nara berhenti mengunyah, dia menatap Arga sekilas dengan tatapan datar.

‎"Tidak perlu repot, Mas. Aku akan pakai gaun yang ada saja," jawabnya singkat.

‎‎"Jangan begitu, Sayang," ucap Arga lagi dengan nada memohon. "Acara itu penting, banyak orang penting dan rekan bisnis yang akan hadir. Aku ingin kamu tampil sempurna di sisiku."

‎‎Belum sempat membalas ucapan suaminya, tiba-tiba suara bel rumah berbunyi nyaring memecah suasana kaku itu. Keduanya terdiam dan saling bertukar pandang.

‎‎"Siapa yang datang pagi-pagi begini?" gumam Arga bingung, lalu meletakkan sendok dan garpunya. "Kamu tunggu disini, biar aku saja yang buka pintunya."

‎‎Arga berdiri dan berjalan menuju pintu utama. Seketika senyum di wajahnya lenyap dan digantikan oleh ekspresi terkejut saat dia membuka pintu dan melihat siapa yang datang. ‎‎Rendra berdiri dengan baluran setelan jas mahal yang rapi. Wajahnya tampak segar dan penuh wibawa. Matanya menyipit membentuk senyum miring yang khas.

‎"Pagi, Ga." sapa Rendra.

‎‎"Ren... kamu... kenapa bisa ada disini pagi-pagi begini?" tanya Arga bingung.

‎"Kenapa? Tidak boleh aku main ke rumah sahabatku sendiri?" Rendra tertawa renyah, suaranya terdengar santai namun matanya tajam mengamati sekeliling. "Aku kebetulan lewat sini, jadi sekalian mampir saja. Boleh masuk kan?"

‎‎"Eh... eh iya, silakan masuk, Ren," Arga mempersilakan, memberi jalan untuk Rendra masuk.

‎‎Rendra melangkah masuk, matanya langsung menyapu ruang tamu untuk mencari sosok wanita yang selalu dia rindukan.

‎‎Arga menepuk bahu Rendra, "Duduk Ren, biar aku panggil Bi Imah dan suruh buatkan kopi,"

‎‎"Tidak perlu repot-repot, Ga. Aku cuma sebentar kok," jawab Rendra santai, lalu duduk di salah satu sofa panjang.

‎‎Arga ikut duduk di sebelahnya, "Kebetulan kamu datang, Ren. Karena kamu sudah ada di sini, boleh aku minta tolong sekali ini saja? Tolong temani Nara pergi memilih gaun yang bagus untuk acara lusa."

‎‎Rendra menaikkan sebelah alisnya, berpura-pura tidak tertarik mendengar permintaan itu. Padahal di dalam hatinya, dia sedang bersorak penuh kemenangan.

‎‎"Menemani Nara belanja?" ulang Rendra santai, "Kenapa tidak kamu saja?"

‎‎"Iya Ren," sahut Arga. "Hari ini aku ada rapat penting dan meeting seharian, jadi aku benar-benar tidak bisa meninggalkan kantor."

‎‎"Sekalian tolong kamu bujuk Nara supaya mau memaafkan dan memberiku kesempatan lagi, aku sudah benar-benar putus asa, Ren." lanjut Arga dengan nada memohon. "Aku ingin memperbaiki semuanya,"

‎‎Rendra menahan senyum miring yang hampir terbit di bibirnya. Di dalam hatinya, dia tertawa puas. Dia menatap Arga dengan tatapan yang seolah penuh pengertian dan persahabatan, namun matanya menyimpan api kemenangan yang besar.

‎‎"Tenang saja," jawab Rendra santai sambil menepuk bahu Arga dengan erat. "Aku mengerti. Aku akan coba bicara dengannya nanti. Semoga setelah itu dia mau mendengar penjelasanmu dan memberimu kesempatan lagi."

‎‎"Terima kasih banyak ya Ren, kamu memang sahabat terbaikku." Arga menghela napas lega.

‎‎Sementara itu di ruang makan, Nara yang sejak tadi duduk diam perlahan berdiri untuk melihat siapa yang datang bertamu. Langkah kakinya terdengar pelan namun pasti, memecah keheningan yang mulai terasa mencekam.

‎Matanya langsung terpaku saat dia muncul di ambang pintu ruang tamu. ‎Disamping suaminya, duduk seorang pria yang akhir-akhir ini terus menghuni pikirannya, pria yang telah menjadi obat penyembuh luka di hatinya.

‎Rendra yang sejak tadi menunggu langsung menoleh saat mendengar langkah kaki itu. Tatapan matanya yang tadi terlihat biasa saja seketika berubah menjadi gelap, hangat, dan penuh hasrat yang terpendam lama. Matanya menyapu seluruh tubuh Nara dengan pandangan kagum dan kepemilikan yang sangat jelas.

‎‎"Hai, Nara," ucap Rendra, suaranya terdengar ramah namun ada nada rendah yang sangat menggoda di dalamnya. "Kamu terlihat sangat cantik pagi ini,"

Nara terkesiap mendengar pujian itu. Nekad sekali Rendra memujinya seperti itu didepan suaminya.

-

-

-

Bersambung...

1
Farida Dalle
Nah lho... hmn Nara, sekarang kamu bilng benci pd Rendra, pdhl kalian sdh saling berbagi peluh... itulh kamu tetlalu yakin dg Rendra, nyesal jg kan??? iya psti nyesal lh, masak nggak🤣
Farida Dalle
Ayo Zoya, kamu hrs menceritakan semua yg km dengar... semoga ada peluang utk kamu dan Rendra
Farida Dalle
Kamu tdk mau baikan lg sm Arga krn km sdh
terpuaskan dg "barang " yg ada pd Rendra
🤭
Farida Dalle
Bongkar sekalian kebusujan Nara di depan orang tuanya, biar semua tahu bukan hanya Arga yg busuk
tp Nara jg...
Farida Dalle
Kamu yg lbh berengsek, Rendra... km tega menghancurkan rumah tangga sahabatmu😡
Farida Dalle
Kamu yg lbh berengsek, Rendra... km tega menghancurkan rumah tangga sahabatmu😡
Farida Dalle
Knp yah dlm novel ini semua tokoh2nya tdk ada yg akhlaknya baik... heran
Farida Dalle
Dasar si Nara,sama yg halal tdk mau tp giliran sm si Rendra dg suka rela ngangkang,dasar....
😡
Farida Dalle
lakukanlh Arga sesukamu, dia itu msh istrimu, yg tdk sah sj bisa dg bebas keluar masuk tanpa hambatan apalgi km yg msh berstatus suami... puaskan si gatal itu biar tdk mencari barang yg lain garuk smpe puas, wkwk
Farida Dalle
Rendra.... plis deh kamu itu sakit jiwa, tdk ada seorng sahabat yg menusuk sahabatnya dg pisau berkarat... kewarasan km benar2 dipertanyakan, mmngnya tdk ada wanita lain, sehingga hrs mengganggu istri orng, ini jg si Nara moralnya sdh rusak, mau2 aja dipeluk2dan dibawa tidur sm laki2 sementara msh jd istri, hadeuhhhh 🤭🤮🙏🙏
Farida Dalle
Kamu curhat pd orng yang salah Ga, dia itu bukan sahabatnu, tp dia adlh iblis... boleh gak thor klu aq nampar si Rendra, biar puas hati ini, sumpah thor aq sebel sampe ubun2😡😡😡
🔥Violetta🔥: Tampar aja kak 🤣🤣🤣✌️✌️
total 1 replies
Farida Dalle
pusing aq tuh.... jd nda bisa ngomong, kedua2nya bikin sebel, iya gak sih.... 🤭🤮
Farida Dalle
Jadi penasaran thor, gmn reaksi Arga klu Nara tiba2 hamil??? 🤔
Farida Dalle
Memangnya Arga ank kcl yg bisa dibohongi, klu itu adlh digigit binatang, Arga jg pengalaman keles🤭🤣
Farida Dalle
Hubungan yg sangat menjijikkan, Rendra adalh iblis berkedok sahabat😡
Farida Dalle
Mending kamu sm Zoya aja tuh Ren, jangan ganggu rumah tangga sahabatmu
Farida Dalle
Nara sdh tdk mau memperbaiki hubungannya dgnmu Arga, krn sdh candu dg yg lbh hot dn lbh beeeesaaaar🤣🤣🤣
Farida Dalle
Thor, biasanya klu tokoh utama itu sifat dn prilakunya baik, tp ini koq sangat2 menyebalkan yah... maaf🙏
🔥Violetta🔥: Yang ini emng dibuat agak laen kak 🤭🤭✌️✌️🤣🤣
total 1 replies
Farida Dalle
Seharudnya klu mmng Rendra sangat mr cintai Nara, dia tdk akan tega melakukan semua itu ke Nara, Rendra tega merisak rumah tangga sahabatnya dg dalih cinta... yuhhhh gak banged deh, dan dg seenak2nya menikmati tubuh si Nara... itukh yg disebut cinta? atau perusak???
Farida Dalle
Gak banged deh ini Rendra, egois ... trus si Nara nya jg, mau2 sj ditidurin sm si Rendra, klu mmng lbh suka ke Rendra, mending minta cerai dulu lah, setelhnya teserah.... mau tidur, mau tengkurap, atau apa aja serah deh..... 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!