NovelToon NovelToon
Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Maaf, Aku Menyerah Mencintaimu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Dosen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:819
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
​Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan yang Tidak Bisa Ditolak

Sore itu, kediaman keluarga Ramiro diselimuti oleh keheningan yang menyesakkan, jenis keheningan yang biasanya mendahului badai besar. Leah sedang duduk di perpustakaan pribadi ayahnya, menatap barisan buku tua yang tak lagi ia baca. Pikirannya melayang pada Denzel, pada Seraphina, dan pada tawa palsu yang belakangan ini menjadi latar musik dalam hidupnya.

Pintu perpustakaan terbuka pelan. Zefan masuk dengan langkah yang terasa berat. Wajah kakaknya tampak sepuluh tahun lebih tua hanya dalam hitungan hari. Ia tidak membawa berkas, tidak juga membawa kopi. Ia hanya membawa sebuah amplop tebal berwarna hitam dengan emboss emas yang berkilau tajam di bawah lampu ruangan.

"Leah," panggil Zefan rendah. Ia duduk di kursi seberang adiknya.

Leah menoleh, matanya menangkap amplop itu. Instingnya langsung berteriak waspada. "Itu dari Jeff, bukan?"

Zefan menghela napas, meletakkan amplop itu di meja kayu jati di antara mereka. "Gala Tahunan Chevalier. Jumat malam ini. Jeff secara pribadi meminta—atau lebih tepatnya, menuntut—kehadiranmu sebagai pendampingnya."

Leah tertawa sinis, sebuah suara kering yang tidak mengandung kegembiraan sedikit pun. "Pendamping? Dia ingin aku menjadi pajangan di sampingnya agar seluruh kolega bisnisnya tahu bahwa dia berhasil menjinakkan keluarga Ramiro. Aku tidak mau pergi, Kak."

"Leah, dengarkan aku dulu," Zefan memajukan tubuhnya, suaranya sarat akan keputusasaan yang tertahan. "Kondisi perusahaan sedang kritis. Vendor di Kalimantan sudah mulai mengancam akan membawa ini ke jalur hukum. Bank-bank menutup pintu mereka. Jeff adalah satu-satunya yang menawarkan jembatan modal melalui proyek superblok di Jakarta Utara."

Leah mengerutkan kening, rasa mual mulai merayap di perutnya. "Jadi ini harganya? Aku harus menjadi umpan agar dia mau mengucurkan dananya? Kau menjualku, Kak?"

Zefan terdiam, wajahnya memerah karena rasa malu dan bersalah. "Aku tidak pernah menjualmu, Leah. Tapi Jeff sangat cerdik. Dia mengemas investasi ini sedemikian rupa sehingga kehadirannmu di gala itu menjadi simbol 'kepercayaan' antara kedua keluarga. Jika kau menolak, dia akan menganggap ini sebagai penghinaan pribadi. Dia akan menarik tawarannya, dan Ramiro Group akan runtuh dalam semalam."

Leah berdiri, berjalan menuju jendela yang menghadap ke arah paviliun tempat Denzel berada. Dari sana, ia bisa melihat Denzel sedang membersihkan mobil, gerakannya stabil dan tanpa cela. Ia teringat bagaimana Denzel sekarang menghabiskan waktunya dengan Seraphina, mencoba menjauh darinya agar ia tidak merasa bersalah.

"Denzel tahu tentang ini?" tanya Leah tanpa menoleh.

"Dia tahu. Dia setuju bahwa ini adalah satu-satunya jalan keluar yang logis untuk saat ini," jawab Zefan pelan.

Leah memejamkan matanya rapat-rapat. Tentu saja dia setuju, batinnya pahit. Denzel adalah prajurit. Baginya, strategi dan keselamatan objektif adalah segalanya. Jika menjadi pendamping Jeff adalah cara untuk menyelamatkan dinasti Ramiro, Denzel akan memastikan Leah memakai gaun terindah dan berjalan masuk ke kandang singa itu tanpa cacat.

"Logis," gumam Leah. "Semua orang di rumah ini bicara soal logika. Tapi tidak ada yang peduli bagaimana rasanya harus tersenyum pada pria yang memperlakukanmu seolah kau adalah aset perusahaan yang bisa dibeli."

"Aku peduli, Leah! Demi Tuhan, aku kakakmu!" Zefan berdiri, mendekati adiknya. "Tapi aku juga punya tanggung jawab pada ribuan karyawan kita. Jika perusahaan ini jatuh, bukan hanya kita yang hancur. Jeff tahu itu. Dia memegang leher kita, Leah."

Leah berbalik, menatap Zefan dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh ketegasan. "Dia tidak memegang leher kita, Kak. Dia memegang hatiku, dan dia sedang mencoba meremasnya sampai mati. Jika aku pergi, aku tidak akan pergi sebagai pendamping yang mencintainya. Aku pergi sebagai sandera."

"Leah..."

"Baiklah. Aku akan pergi," potong Leah. Suaranya mendadak dingin, sebuah mekanisme pertahanan yang ia pelajari dari Denzel. "Katakan pada Jeff, sanderanya akan hadir. Tapi katakan juga padanya, jangan harap dia bisa mendapatkan lebih dari sekadar kehadiranku di sampingnya."

Zefan tampak lega namun sekaligus hancur. Ia mengangguk pelan. "Jeff sudah mengirimkan seseorang untuk mengukur gaunmu besok pagi. Dia ingin kau memakai warna merah Chevalier."

"Merah," desis Leah. "Warna darah. Sangat cocok untuk pesta pemakaman harga diriku."

Setelah Zefan keluar, Leah masih berdiri di depan jendela. Tak lama kemudian, ia melihat Denzel menengadah. Mata mereka bertemu. Tidak ada lambaian tangan, tidak ada senyum. Hanya sebuah tatapan yang bertahan lama, penuh dengan pesan yang tak tersampaikan. Leah tahu Denzel sedang mengawasinya, melindunginya dengan cara yang paling menyiksa: membiarkannya pergi dengan pria lain demi keselamatannya sendiri.

Keesokan paginya, suasana di rumah menjadi sangat sibuk. Penjahit pribadi Jeff datang dengan roll kain sutra merah yang sangat mahal. Leah berdiri seperti maneken di tengah ruang tamu, membiarkan orang-orang asing itu mengukur setiap inci tubuhnya. Ia merasa tidak berdaya. Ia merasa seperti sebuah produk yang sedang dipersiapkan untuk peluncuran besar.

Denzel masuk ke ruang tamu untuk memberikan beberapa dokumen pada Zefan, namun langkahnya melambat saat melihat Leah sedang dipasangi jarum pentul di bagian pinggang gaun merah yang mencolok itu. Gaun itu memiliki potongan punggung terbuka yang sangat rendah, sebuah desain yang sengaja dibuat untuk menarik perhatian.

Denzel mengepalkan tangannya di samping tubuh. Kemarahan yang dingin menjalar di nadinya. Ia tahu Jeff sengaja memilih gaun seperti itu untuk memamerkan Leah sebagai trofinya.

"Nona Leah," sapa Denzel formal.

Leah menatap Denzel melalui cermin besar di hadapannya. "Bagaimana menurutmu, Denzel? Apa warna ini cocok untuk seorang sandera?"

Para penjahit itu tampak bingung, namun Denzel tetap tenang. "Warna itu membuat Anda tampak kuat, Nona. Dan di acara besok, Anda akan membutuhkan seluruh kekuatan Anda."

"Kekuatan atau topeng?" tanya Leah sinis.

"Terkadang keduanya adalah hal yang sama," jawab Denzel singkat sebelum berbalik pergi.

Sore harinya, Seraphina datang berkunjung. Ia membawa kabar gembira bahwa ia juga diundang ke gala tersebut karena ayahnya adalah salah satu mitra strategis Chevalier. Seraphina sangat bersemangat, bercerita tentang gaun yang akan ia pakai dan bagaimana ia sangat tidak sabar untuk berdansa dengan Denzel di acara formal pertamanya.

"Denzel pasti akan terlihat sangat tampan dengan tuxedo, kan Leah?" tanya Seraphina sambil memeluk lengan Leah.

Leah hanya bisa mengangguk lemah. "Ya. Dia selalu terlihat rapi."

Leah merasa terjebak dalam lingkaran setan. Di satu sisi, ia harus menghadapi Jeff yang posesif. Di sisi lain, ia harus melihat Denzel bersandiwara mencintai Seraphina di depannya sendiri. Dan puncaknya adalah Jumat malam nanti, di mana semua kepura-puraan ini akan dipentaskan di panggung yang paling megah.

Undangan hitam emas di atas meja itu terasa seperti beban berton-ton. Leah tahu bahwa setelah malam gala itu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia telah menerima tawaran itu, ia telah menandatangani kontrak tak tertulis untuk menyelamatkan kakaknya, dan ia telah merelakan dirinya menjadi bagian dari "investasi" Jeff Chevalier.

Saat malam tiba, Leah duduk di meja riasnya, menatap undangan itu sekali lagi. Ia menyentuh permukaan kertas yang kasar. Ia teringat bisikan Jeff tempo hari: "Kau milikku, Leah. Dengan atau tanpa persetujuanmu."

Dulu, Leah akan tertawa menantang. Tapi sekarang, dengan perusahaan yang di ambang kehancuran dan Denzel yang berada di pelukan orang lain, Leah menyadari bahwa ia memang tidak punya pilihan. Undangan ini bukan hanya sekadar ajakan ke pesta; ini adalah perintah penyerahan diri yang tidak bisa ia tolak tanpa menghancurkan semua orang yang ia cintai.

"Aku akan pergi," bisik Leah pada bayangannya di cermin. "Tapi aku akan pastikan kau tidak akan pernah benar-benar memilikiku, Jeff. Tidak akan pernah."

Di luar sana, di bawah cahaya bulan yang pucat, Denzel berdiri di dekat mobil, menatap jendela kamar Leah. Ia tahu badai besar akan datang besok malam. Ia menyiapkan senjatanya—bukan pistol, melainkan kesabaran dan topeng ketenangannya. Ia akan berada di sana, di acara gala itu, menjaga Leah dari kegelapan, meski ia harus melakukannya dari balik bayangan statusnya sebagai kekasih Seraphina.

Perang saraf ini baru saja memasuki babak yang paling berbahaya, di mana gaun merah dan tuxedo adalah seragam perang mereka, dan senyum palsu adalah satu-satunya perisai yang tersisa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!