Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Beberapa minggu setelah euforia wisuda, Zira sedang bersantai di rumahnya ketika Maura, asisten pribadinya yang mengelola jadwal kepenulisan dan kegiatan dakwah "Nana", datang dengan wajah penuh harap. Maura meletakkan sebuah tablet di depan Zira yang berisi ribuan komentar dan pesan singkat (DM).
"Mbak Zira, lihat deh. Fans Nana sudah nggak terbendung lagi," ujar Maura antusias. "Sejak berita kecelakaan Aryan dan ketegaran Mbak menghadapi kasus Clara kemarin viral secara tersirat, banyak yang sadar kalau Nana itu Mbak Zira. Mereka ingin Mbak kembali mengisi kajian."
Zira menghela napas, jemarinya mengusap layar yang penuh dengan doa-doa baik dari pembaca setianya. "Aku belum tahu, Ra. Rasanya mentalku baru saja pulih. Apa aku sudah siap bicara di depan umum lagi?"
"Justru ini momennya, Mbak," potong Maura cepat. "Tema yang mereka minta sangat menyentuh: 'Memaafkan Tanpa Melupakan Keadilan'. Mereka terinspirasi cara Mbak menangani Clara tanpa kehilangan martabat."
Persiapan yang Mengusik Masa Lalu
Akhirnya, dengan dukungan penuh dari Nathan dan Aryan, Zira setuju untuk mengisi kajian akbar di sebuah masjid besar di pusat kota. Acara itu bertajuk "Cahaya di Balik Luka".
Namun, sehari sebelum acara, sebuah kiriman tak terduga datang ke kantor Maura. Sebuah surat dari lembaga pemasyarakatan. Surat itu dari Clara.
Maura ragu untuk memberikannya, tapi Zira yang kebetulan ada di sana langsung mengambilnya. Di dalamnya tertulis:
"Zira, aku dengar kamu akan bicara soal memaafkan di kajian besok. Apa kamu benar-benar bisa memaafkan orang yang hampir membunuh adikmu? Ataukah itu hanya pencitraan nama pena 'Nana'-mu saja?"
Tangan Zira gemetar.
Surat itu jelas sebuah provokasi untuk meruntuhkan kepercayaan dirinya tepat sebelum ia naik mimbar.
*Hari Kajian: Ujian Sesungguhnya*
Hari yang ditentukan tiba. Masjid sudah sesak oleh jamaah yang sebagian besar adalah anak muda pengikut setia karya-karya "Nana". Zira berdiri di balik tirai panggung, wajahnya pucat. Nathan mendekat, menggenggam tangannya erat.
"Mas, bagaimana kalau aku tidak bisa menjawab pertanyaan mereka? Bagaimana kalau aku sendiri sebenarnya belum sepenuhnya ikhlas?" bisik Zira lirih.
Nathan menatap mata istrinya dalam-dalam.
"Dakwah itu bukan tentang menunjukkan kita sempurna, Zira. Tapi tentang menunjukkan bagaimana orang biasa sepertimu berjuang di jalan Allah saat dihantam badai. Bicaralah dengan hatimu, bukan dengan namamu."
Zira mengangguk. Saat Maura memanggil nama "Nana" ke atas podium, gemuruh takbir dan tangis haru terdengar dari jamaah wanita.
Baru saja Zira memulai mukadimahnya dengan suara yang bergetar namun merdu, tiba-tiba seorang wanita di barisan tengah berdiri dengan masker hitam menutupi wajahnya. Ia mengangkat tangan dengan kasar, memotong ucapan Zira.
"Ustazah Nana!" teriak wanita itu, suaranya terdengar sinis. "Bagaimana Anda bisa bicara soal kedamaian, sementara di luar sana orang-orang bilang Anda memenjarakan teman anda sendiri dengan kejam? Bukankah Islam mengajarkan memaafkan tanpa batas?"
Suasana masjid mendadak tegang. Jamaah lain mulai berbisik-bisik. Maura panik di pinggir panggung, sementara Nathan yang berjaga di barisan pria langsung waspada.
Zira terdiam sejenak. Ia teringat surat Clara kemarin. Ia sadar, ini adalah ujian langsung atas apa yang akan ia sampaikan.
Suasana di dalam masjid semakin tegang. Wanita bermasker itu masih berdiri menantang, sementara bisik-bisik jamaah mulai menyerupai dengung lebah yang gelisah. Maura sudah bersiap memberikan kode pada keamanan, namun Zira mengangkat tangannya pelan, memberi isyarat agar semua tenang.
Zira menarik napas dalam-dalam. Di balik meja podium, ia mengelus perutnya yang masih rata secara tersembunyi. Kabar bahagia itu baru diketahuinya dua hari lalu melalui testpack dan pemeriksaan singkat ke dokter. Ada nyawa kecil di dalamnya yang memberinya kekuatan luar biasabkekuatan seorang ibu.
"Terima kasih atas pertanyaannya, Saudari," ujar Zira, suaranya kini terdengar sangat stabil dan teduh. "Islam memang mengajarkan maaf. Tapi Islam juga tegak di atas keadilan. Memaafkan adalah urusan hati saya dengan Allah, tapi hukum adalah pelindung bagi nyawa-nyawa yang tidak berdosa agar tidak ada lagi korban seperti adik saya."
Zira terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca namun pancarannya sangat kuat. "Saat ini, saya tidak hanya berdiri sebagai seorang kakak atau istri. Saya berdiri sebagai seorang wanita yang sedang memikul amanah baru dari Allah..."
Kalimat itu menggantung. Nathan yang duduk di barisan pria tersentak, matanya membelalak menatap istrinya. Ia belum tahu Zira akan mengumumkannya di sini.
"Di rahim saya, sedang tumbuh detak jantung baru. Anak pertama kami," lanjut Zira dengan senyum tipis yang tulus. "Demi anak ini, demi masa depannya, saya belajar bahwa memaafkan bukan berarti membiarkan kejahatan merajalela. Saya memaafkan pelakunya agar hati saya tidak busuk oleh dendam, tapi saya membiarkan hukum bekerja agar anak saya nanti tumbuh di dunia yang lebih aman."
Kesaksian yang Meruntuhkan Keangkuhan
Tiba-tiba, dari arah samping, terdengar bunyi ketukan tongkat di lantai marmer. Aryan muncul, berjalan perlahan namun pasti menuju mimbar. Seluruh mata jamaah tertuju padanya.
"Saya adalah korban yang dimaksud," suara Aryan menggema melalui mikrofon cadangan yang diberikan Maura. "Saya yang ditabrak, saya yang hampir mati. Dan saya yang paling pertama meminta kakak saya untuk tidak mencabut laporan polisi. Bukan karena kami jahat, tapi karena kami ingin pelaku belajar bahwa nyawa manusia bukan mainan untuk memuaskan rasa iri."
Aryan menatap wanita bermasker itu. "Jika Anda menganggap kami kejam karena menegakkan hukum, bayangkan jika itu terjadi pada keluarga Anda sendiri."
Wanita bermasker itu perlahan duduk kembali, tertunduk lesu. Beberapa jamaah di sekitarnya melihat ia mulai terisak, entah karena malu atau tersadar.
*Momen Haru Nathan dan Zira*
Setelah kajian ditutup dengan doa yang sangat menyentuh, jamaah berebut ingin menyalami Zirs sang "Nana" yang ternyata begitu tegar. Namun, Nathan dengan sigap membelah kerumunan, matanya hanya tertuju pada satu orang: istrinya.
Di ruang transit yang privat, Nathan langsung memeluk Zira begitu erat. "Zira... kamu serius? Kenapa tidak bilang dari kemarin?" bisik Nathan, suaranya serak karena haru.
Zira tertawa kecil dalam pelukan suaminya. "Aku baru mau kasih kejutan nanti malam, Mas. Tapi tadi, saat wanita itu menyerang, bayi ini seolah menendang hatiku. Dia memberiku keberanian untuk bicara jujur."
Nathan berlutut di depan Zira, mencium perut istrinya dengan takzim. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih sudah menjaga dirimu, Aryan, dan sekarang... anak kita."
Maura masuk ke ruangan dengan wajah sumringah. "Mbak Zira, Mas Nathan, maaf mengganggu. Tapi ada ribuan pesan masuk lagi. Mereka semua mengucapkan selamat atas kehamilan Mbak! Nama 'Nana' sedang jadi trending topic sebagai simbol ketegaran wanita."
Namun, di tengah kebahagiaan itu, Maura menunjukkan satu pesan lagi yang baru masuk. Pesan dari pengacara keluarga.
"Mbak... ini soal Clara. Dia minta izin untuk bertemu Mbak Zira satu kali saja di penjara. Katanya, ada rahasia tentang siapa sebenarnya yang menghasut dia untuk mencelakai Aryan. Dia bilang, dia bukan satu-satunya orang yang membenci pernikahan kalian."
Zira dan Nathan saling berpandangan. Ternyata, badai belum sepenuhnya berlalu.