NovelToon NovelToon
Suami Untuk Istri Ayahku

Suami Untuk Istri Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andra Secret love

Ayahku menikahi seorang wanita… tanpa pernah memberitahuku.
Dan yang lebih buruk—aku tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ardi Hartono membenci istri baru ayahnya.
Tapi setiap malam, yang terngiang bukan kebencian… melainkan suara tangisnya.
Maya datang hanya dengan satu koper kecil dan tatapan yang tidak meminta apa pun.
Di rumah besar yang sunyi, jarak di antara mereka perlahan menghilang.
Awalnya hanya tatapan.
Lalu sentuhan.
Lalu sesuatu yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Sari masih percaya pada cinta mereka.
Masih percaya Ardi tidak akan berubah.
Sampai suatu hari, dia membuka pintu…
dan menemukan kebenaran yang tidak bisa diperbaiki.
Karena musuh terbesarnya… bukan orang asing.
Tapi wanita yang kini tinggal di rumah yang sama.
Dia adalah istri ayahku.
Tapi setiap malam… dia menangis di balik dinding kamarku.
Dan aku mulai bertanya—
apakah yang salah adalah dia…
atau aku yang tidak bisa berhenti mendengarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andra Secret love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Kejatuhan

Pagi datang dengan langit kelabu.

Ardi bangun lebih lambat dari biasanya. Tubuhnya masih hangat dari semalam—dari pelukan Maya yang tidak mau melepaskan, dari bisikan aku mencintaimu yang terasa seperti sumpah di ruangan yang gelap.

Tapi pagi ini, dengan cahaya yang masuk lewat jendela, sumpah itu terasa rapuh.

Dia bergerak dari ranjang dengan hati-hati, mencari pakaian yang berserakan. Maya bergumam, tangannya meraih ke tempat kosong di sampingnya. Ardi berhenti—menatap wajah yang tenang di antara bantal kusut, rambut yang terurai, bibir yang sedikit terbuka.

Dia ingin kembali berbaring. Ingin menghabiskan pagi dengan merasakan napas Maya di lehernya.

Dari bawah, terdengar suara Yuni di dapur.

Ardi mengenakan pakaiannya cepat, meninggalkan kamar tanpa menoleh.

Yuni berdiri di depan kompor, membalik dadar dengan gerakan terampil. Ketika Ardi masuk, dia menoleh, tersenyum.

"Pagi, Pak Ardi."

"Pagi, Yuk."

Ardi duduk, menuang air putih. Tangannya sedikit gemetar—Yuni tidak melihat, atau pura-pura tidak.

"Pak Ardi kurang tidur?"

"Iya. Banyak kerjaan."

"Ibu Maya juga kurang tidur." Yuni membalik dadar, suaranya datar. "Mata beliau sembab tadi pagi."

Ardi menegang. "Mungkin sakit kepala."

"Mungkin." Yuni meletakkan piring di depannya. "Tadi saya tanya, Ibu bilang tidak apa-apa. Tapi wajahnya pucat."

"Aku akan cek nanti."

Yuni mengangguk, kembali ke dapur. Ardi makan dengan perasaan yang semakin mengental. Yuni tidak melontarkan sindiran. Diamnya justru lebih mengancam dari kata-kata apa pun.

Maya turun sepuluh menit kemudian.

Rambut disisir rapi, wajah sudah dibersihkan. Tapi Ardi melihat lingkaran tipis di bawah matanya—bekas yang tidak bisa sepenuhnya disembunyikan. Dia duduk di seberang, mengambil nasi, makan tanpa bicara.

Yuni menyajikan teh hangat, tersenyum. "Ibu sudah minum obat?"

Maya sedikit terkejut. "Obat?"

"Sakit kepala tadi pagi."

"Iya. Sudah."

Yuni mengangguk, kembali mencuci piring. Ardi dan Maya makan dalam diam—tidak berani bertukar pandang terlalu lama, tidak berani bicara dengan nada yang berbeda dari biasanya.

Setelah sarapan, Ardi berdiri. "Aku ke kantor."

"Hati-hati," kata Maya.

Di lorong, Ardi mengambil jaket. Dari balik pintu dapur, suara Yuni—pelan, tapi cukup jelas.

"Ibu, saya titip pesan."

"Apa, Yuk?"

"Jaga diri Ibu baik-baik. Rumah besar begini, kalau tidak hati-hati, bisa jadi bahan omongan orang."

Ardi berhenti. Maya tidak menjawab. Keheningan yang panjang—jenis keheningan yang terasa seperti pengakuan.

Dia keluar rumah tanpa menoleh.

Kantor tidak memberikan ketenangan.

Grafik penjualan di layar tidak masuk akal. Ponselnya bergetar.

Yuni tahu. Aku yakin.

Aku juga, balas Ardi.

Dia bilang "bahan omongan orang". Itu peringatan.

Aku dengar.

Kita harus lebih hati-hati.

Ardi menatap kata-kata itu. Lebih hati-hati. Kalimat yang sudah berkali-kali mereka ucapkan, tapi tidak pernah benar-benar dilakukan. Karena setiap kali bertemu, setiap kali tersentuh, kewaspadaan itu luruh. Yang tersisa hanya dua manusia yang lapar, yang saling menemukan di tempat yang salah.

Atau kita berhenti, ketiknya.

Maya tidak membalas. Lima menit. Sepuluh menit. Layar tidak berubah.

Ardi membuka jurnal.

Yuni tahu. Atau setidaknya dia curiga. Dia tidak bodoh—melihat cara kami saling memandang, cara kami berbicara dengan nada yang berbeda ketika sendirian.

Maya bilang kita harus lebih hati-hati. Tapi aku tahu kita tidak akan pernah cukup hati-hati. Karena kita tidak bisa berhenti.

Aku sudah mencoba membayangkan hidup tanpa Maya. Tanpa senyumnya di pagi hari, tanpa suaranya di lorong gelap, tanpa tangannya. Aku tidak bisa.

Aku tidak takut ketahuan. Aku takut suatu hari Maya akan lelah dan pergi. Dan aku akan sendirian lagi.

Dia menutup jurnal. Di luar, hujan mulai turun—membasahi jalanan Jakarta yang macet, membentuk pola acak di kaca jendela.

Ardi pulang lebih cepat dari biasanya.

Hujan masih turun ketika dia memarkir di garasi. Rumah Menteng sunyi. Di dapur, lampu masih menyala.

Maya duduk sendirian di meja dapur, menghadap secangkir teh yang sudah dingin. Wajahnya pucat, matanya kosong—tatapan orang yang sudah terlalu lama memikirkan sesuatu yang tidak punya jalan keluar.

"Maya." Ardi mendekat.

Maya mendongak. Senyum tipis yang sudah menjadi kebiasaan. "Kamu pulang."

"Yuni sudah pulang?"

"Setengah jam yang lalu." Maya menunduk, memainkan sendok di atas meja. "Dia bilang sesuatu sebelum pergi."

Ardi duduk di seberang. "Bilang apa?"

Maya mengangkat wajah, matanya basah. "Dia bilang, 'Ibu, saya tidak mau ikut campur urusan rumah tangga. Tapi saya juga tidak mau jadi bagian dari rahasia yang bisa menghancurkan keluarga ini.'"

Ardi tidak bergerak.

"Dia tahu," bisik Maya. "Dia tahu semuanya."

"Kita tidak tahu pasti—"

"Dia tahu, Ardi." Suara Maya naik sedikit, tangannya gemetar. "Mungkin dari awal. Mungkin sejak dia mulai kerja di sini. Dan dia diam—karena dia ART, karena dia tidak punya kuasa. Tapi sekarang dia mulai bicara. Dan jika dia bicara pada Bram—"

Maya tidak melanjutkan. Air mata jatuh di pipinya, membasahi meja kayu yang mengilap.

Ardi berdiri, mengelilingi meja, duduk di samping Maya. Tangannya meraih tangan Maya—dingin, gemetar.

"Aku akan bicara dengan Yuni."

"Bicara apa? Suruh dia diam? Bayar dia?" Maya menatapnya, matanya merah. "Itu yang dilakukan ayahmu. Itu yang dilakukan semua orang kaya—menyelesaikan masalah dengan uang."

"Bukan begitu maksudku."

"Lalu apa? Apa yang bisa kita lakukan?" Maya menarik napas, tapi napasnya tidak stabil. "Kita sudah terperangkap. Yuni tahu. Suatu hari Bram akan tahu. Dan ketika itu terjadi—" Suaranya patah. "Aku akan kehilangan segalanya."

Ardi meraih kedua pipinya, membasahi air mata yang terus mengalir.

"Kamu tidak akan kehilangan segalanya."

"Aku akan kehilangan rumah ini. Nama baikku. Satu-satunya tempat yang bisa aku sebut rumah." Maya menutup mata, bersandar di telapak tangan Ardi. "Dan aku akan kehilangan kamu."

"Aku tidak akan pergi."

"Kamu akan menikah dengan Sari." Maya membuka mata. "Kamu akan punya hidupmu. Dan aku—aku akan sendirian lagi."

Ardi tidak bisa menjawab. Di mata dunia, dia adalah anak Bram, pewaris perusahaan, calon suami Sari. Maya adalah istri Bram. Tidak ada tempat untuk mereka berdua—tidak dalam versi dunia yang wajar.

"Aku tidak akan menikah dengan Sari," kata Ardi.

Maya menatapnya, matanya mencari kebohongan. "Kamu berbohong."

"Aku belum pernah sejujur ini."

Maya tertawa pahit. "Kamu jujur karena kamu panik. Besok kamu akan lupa. Kamu akan pergi ke apartemen Sari, makan malam bersamanya, berbohong tentang rapat, dan pulang ke sini dengan perasaan bersalah yang sama."

"Maya—"

"Aku mengenalmu, Ardi." Suaranya pelan, tapi tidak melunak. "Kau takut mengambil keputusan. Kau takut kehilangan. Karena itu kau biarkan semuanya menggantung—aku, Sari, hubungan ini. Kau mengambang, dan aku ikut tenggelam bersamamu."

Ardi melepaskan tangannya. Duduk diam.

Maya benar. Selalu benar tentang hal ini. Tentang ketakutannya, tentang ketidakmampuannya memilih.

"Apa yang kau mau aku lakukan?" tanyanya.

Maya menunduk, menatap tangannya sendiri. "Aku tidak tahu. Aku hanya tahu aku tidak bisa terus begini."

"Aku akan bicara dengan Yuni. Bukan menyuapnya. Hanya memintanya diam."

"Dan kalau dia tidak mau?"

"Maka aku akan bicara dengan Bram."

Maya menegang. "Kau gila."

"Aku tidak akan membiarkan kamu menanggung ini sendirian." Ardi menatapnya, matanya lebih tegas dari yang dia rasa. "Jika ini salah, setidaknya kita salah bersama."

Maya menatapnya lama. Air mata masih mengalir, tapi ada sesuatu yang bergeser di matanya—bukan ketakutan lagi, bukan kemarahan. Hanya kelelahan yang dalam, yang sudah terlalu lama dipendam.

"Kenapa kau membuat ini semakin sulit?" bisiknya.

"Karena aku mencintaimu."

Kata-kata itu keluar tanpa jeda, tanpa hitung-hitungan. Sama seperti malam sebelumnya. Tapi kali ini, dengan hujan di luar dan ancaman yang sudah punya wajah, kata-kata itu terasa lebih berat. Lebih nyata. Lebih tidak bisa ditarik kembali.

Maya menutup mata. Air mata jatuh lebih deras. "Kau egois."

"Aku tahu."

"Kau monster."

"Aku tahu."

Maya membuka mata, tersenyum—basah, patah. "Aku juga."

Ardi menarik Maya ke dalam pelukan. Tubuhnya gemetar, air matanya membasahi kemejanya. Di luar, hujan semakin deras, menghantam taman, membasahi bunga-bunga yang ditanam Maya dengan tangan sendiri.

Maya terisak di dadanya. Ardi menahan napas, mencium rambutnya, merasakan beratnya—bukan berat tubuh, tapi berat dari semua yang mereka sembunyikan, semua yang tidak bisa mereka akhiri, semua yang tidak punya nama yang layak.

"Aku tidak mau sendirian lagi," bisik Maya.

Ardi mempererat pelukannya.

Satu kalimat itu—dan sesuatu di dalam dirinya runtuh.

Bukan dengan suara keras. Bukan dramatis. Hanya luruh, pelan, seperti fondasi yang sudah retak sejak lama dan akhirnya menyerah. Ardi menarik mundur, menatap Maya—wajahnya basah, matanya merah, rambutnya berantakan—dan dia tidak bisa lagi berpura-pura bahwa ini bisa dikendalikan.

Dia mencium Maya.

Bukan ciuman yang lembut. Bukan yang pelan. Ciuman orang yang sudah terlalu lama berjuang melawan dirinya sendiri dan akhirnya kalah.

Maya membalasnya—tangannya meraih kemejanya, menggenggam erat, tidak melepaskan.

Mereka tidak berbicara lagi. Tidak perlu.

Di dapur yang sunyi, dengan hujan yang menghantam jendela dan teh yang sudah dingin di atas meja, Ardi membawa Maya ke kamarnya—bukan dengan tergesa, tapi dengan kepastian yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Kepastian yang menyakitkan, yang indah, yang salah.

Di ranjang, ketika semuanya usai, Ardi menangis.

Tanpa suara. Hanya air mata yang mengalir di pipinya, jatuh ke bantal. Maya tidak bertanya kenapa. Dia hanya mengangkat tangan, mengusap pipi Ardi, dan menatapnya dengan mata yang jujur—jenis kejujuran yang tidak pernah Ardi dapatkan dari siapa pun.

"Kau tidak sendirian," bisiknya.

Ardi tidak bisa menjawab. Tenggorokannya sesak.

Maya bersandar di dadanya, merasakan detak jantungnya yang masih tidak teratur. "Sekarang kau tak bisa kembali," bisiknya pelan—bukan sebagai ancaman, bukan sebagai peringatan. Hanya fakta. Fakta yang mereka berdua sudah tahu sejak lama, tapi baru berani diucapkan malam ini.

Ardi menutup mata, merasakan hangat tubuh Maya, mendengar napasnya yang perlahan teratur.

Di luar, hujan tidak berhenti.

1
Ida nyoman Subagia
🙏
Ida nyoman Subagia
👍👍
Ida nyoman Subagia
😍😍
andra
oke ,apa ada yang berani seperrti ardi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!