Yun Zhu hanyalah seorang murid rendahan dari Sekte Qingyun. Tanpa orang tua, tanpa latar belakang yang berarti—ia hanya bisa masuk sekte itu secara kebetulan setelah sebuah bencana menghancurkan hidupnya.
Akar spiritualnya lemah, bakatnya pun nyaris tak terlihat. Di mata orang lain, ia tak lebih dari sampah yang tak layak diperhitungkan. Tatapan meremehkan dan hinaan telah menjadi bagian dari kesehariannya.
Namun takdir mulai berbalik arah ketika Yun Zhu secara tak terduga memperoleh sebuah kekuatan misterius—kekuatan yang perlahan akan mengubah nasibnya… dan mengguncang dunia yang selama ini merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Kesunyian
Yun Zhu dan Han Ping'er melesat membelah langit yang diselimuti cahaya bulan merah, meninggalkan hamparan tanah merah yang tandus di belakang mereka.
Keduanya terbang dengan kecepatan tinggi, menciptakan riak udara yang membelah awan tipis saat mereka menembus angin pegunungan yang dingin.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk keluar dari wilayah tanah merah, hingga di bawah kaki mereka kini terbentang sebuah lautan luas yang airnya tampak hitam pekat dan diam tanpa gelombang.
Yun Zhu menoleh ke bawah, mengamati permukaan air yang terlihat begitu tenang tanpa ada satu pun monster laut yang menampakkan diri.
Namun, ketenangan itu justru memberikan rasa tidak nyaman yang menusuk di dadanya, seolah ada ribuan mata yang mengintai dari kedalaman yang tak terjangkau.
"Jangan terpengaruh, lautan ini mengandung energi aneh yang akan membuatmu mati jika menyelam," jelas Han Ping'er yang terbang tepat di sampingnya, jubah tipisnya berkibar elok memperlihatkan siluet tubuhnya yang ramping di udara.
Mendengar peringatan itu, Yun Zhu sedikit terkejut. Ia segera memacu energi spiritualnya untuk terbang lebih tinggi, menghindari uap dingin yang naik dari permukaan air hitam tersebut.
'Bahkan ada yang seperti ini juga, terlalu berbahaya. Harus cari tempat aman untuk segera membentuk inti.'
Setelah berhasil melewati lautan yang mencekam itu, mereka akhirnya tiba di sebuah kota reruntuhan yang luas.
Dari kejauhan, tempat itu nampak seperti peradaban besar yang telah mati, bangunan-bangunan batu yang menjulang tinggi kini hancur berkeping-keping, tertutup debu tebal dan lumut kering yang menempel di sela-sela dinding yang retak.
Yun Zhu mendarat perlahan, debu beterbangan saat kakinya menyentuh tanah tepat di depan gerbang kota yang sudah miring.
Pandangannya menyapu sekeliling, mencari tanda-tanda kehidupan, namun hanya kesunyian yang menyambutnya.
Han Ping'er mendarat dengan sangat anggun di sampingnya. Ia sedikit mengangkat ujung gaunnya agar tidak menyentuh tumpukan debu, lalu merapikan rambut putih saljunya yang sedikit berantakan karena angin kencang saat terbang tadi.
"Reruntuhan ini mungkin memiliki beberapa harta. Makam Abadi dulunya adalah dunia tempat siluman, namun tanpa diketahui apa sebabnya tempat ini hancur dan menjadi sisa-sisa para siluman."
Yun Zhu melangkah santai memasuki gerbang yang sudah tak berdaun, langkah botnya menimbulkan suara gema di antara reruntuhan yang sunyi.
"Jadi harta yang ada di sini, dulunya adalah milik para siluman itu?" tanyanya tanpa menoleh, tetap fokus pada bayangan-bayangan di dalam lorong kota yang gelap.
"Benar. Ngomong-ngomong, bagaimana cara kita membagi harta jika menemukannya?"
Han Ping'er berjalan dengan langkah ringan, sedikit melompat melewati beberapa puing bangunan untuk mendahului Yun Zhu.
Ia kemudian berbalik, berjalan mundur sambil menatap Yun Zhu dengan senyum kecil yang penuh rahasia, membiarkan angin mempermainkan kain gaunnya yang tipis hingga memperlihatkan lekuk kakinya yang jenjang di bawah sinar rembulan.
Yun Zhu tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Langkah kakinya terdengar teratur di atas puing-puing batu yang hancur, matanya terus memindai bayangan bangunan yang tampak seperti tengkorak raksasa di bawah cahaya bulan merah.
"Entahlah, Nona Han putuskan."
Keduanya terus berjalan melewati sisa-sisa peradaban siluman yang telah lama mati tersebut.
Tidak ada masalah yang menghadang, tidak ada serangan tiba-tiba dari kegelapan, bahkan tidak ada hembusan aura misterius yang biasanya menyelimuti tempat terkutuk.
Hanya ada ketenangan yang mutlak. Namun, bagi seorang kultivator seperti Yun Zhu, ketenangan yang terlalu sempurna ini justru terasa jauh lebih menakutkan daripada badai.
"Baiklah, kita bagi rata saja."
Han Ping'er berucap dengan nada santai sembari melangkah ringan, namun tiba-tiba langkah Yun Zhu terhenti seketika. Tubuhnya menegang, membuat debu di bawah kakinya berhenti beterbangan.
Han Ping'er yang menyadari perubahan mendadak itu ikut menghentikan langkahnya. Ia memiringkan kepalanya, membiarkan rambut putih saljunya jatuh menjuntai di bahunya yang terbuka, menatap Yun Zhu dengan heran.
"Ada apa?"
Yun Zhu tidak menjawab. Ia perlahan menutup matanya, mengonsentrasikan seluruh pikirannya untuk menyebarkan kesadaran ilahi ke segala arah.
Ia membiarkan jiwanya merayap menembus dinding-dinding retak dan lorong-lorong gelap di sekitar mereka.
"Terlalu tenang... ini..."
Detik berikutnya, mata Yun Zhu terbuka lebar. Tanpa memberikan penjelasan atau basa-basi, ia langsung menyambar pergelangan tangan Han Ping'er yang halus.
Dengan satu sentakan kuat, ia menarik tubuh wanita itu dan membawanya melesat cepat menuju sebuah bangunan hancur yang masih memiliki atap sebagian.
Han Ping'er sempat terkesiap kaget karena tarikan yang tiba-tiba itu.
Tubuhnya yang ramping hampir kehilangan keseimbangan, kakinya tersandung puing kecil sebelum akhirnya ia terseret mengikuti kecepatan Yun Zhu.
Mereka akhirnya masuk ke dalam reruntuhan bangunan yang gelap dan pengap.
Yun Zhu segera menarik Han Ping'er untuk duduk bersandar di balik dinding tebal yang sudah berlumut.
Posisi mereka sangat dekat, Yun Zhu menempelkan tubuhnya pada dinding sembari memperhatikan situasi di luar melalui sebuah lubang kecil di antara retakan batu.
"Sebenarnya ada ap—"
Belum sempat Han Ping'er menyelesaikan kalimatnya, telapak tangan Yun Zhu yang hangat sudah membekap mulutnya dengan rapat.
Han Ping'er terbelalak, napasnya yang memburu tertahan di balik tangan pemuda itu.
Dada Han Ping'er yang naik-turun karena kaget kini bersentuhan dengan lengan Yun Zhu, namun ia akhirnya memilih untuk diam dan tidak lagi memberikan perlawanan, menyadari bahwa bahu Yun Zhu yang tegang menandakan adanya ancaman besar yang sedang mendekat.
Dalam kegelapan ruangan itu, hanya suara detak jantung mereka yang terdengar samar, beradu dengan kesunyian mematikan di luar sana.