NovelToon NovelToon
Dendam Flora

Dendam Flora

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sayong

Flora, putri sulung keluarga Amor, kehilangan ibunya saat usianya baru 17 tahun—sebuah luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Kepergiannya ke luar negeri untuk kuliah menjadi pelarian, hingga tanpa ia sadari, hidupnya berubah.
Di sana, ia bertemu seorang pria yang membuatnya bisa melupakan kesedihan nya.

Namun kedua nya hanyalah hubungan Tampa status.lebih tepat nya keduanya hanya teman tidur saja.mereka tidak tahu identitas masing masing.
hubungan mereka berakhir dengan damai.
Flora kembali ke tanah air, bersiap mengambil alih perusahaan peninggalan ibunya. Tapi hidup tak pernah sesederhana rencana. Ayahnya telah menikah lagi, dan dunia yang ia tinggalkan kini terasa asing.
Di sisi lain, pria yang pernah mengisi malam-malamnya—Evan—terpaksa menerima perjodohan demi kepentingan politik keluarga.
Keduanya melangkah ke masa depan masing-masing… tanpa tahu bahwa takdir belum selesai mempermainkan mereka.
Karena ketika rahasia mulai terungkap, dan masa lalu kembali .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 5 Pertunangan di Tunda

Bisa di bayangkan wajah Evan seperti pantat panci gosong.dia sangat marah.

Flora mendekat.Jarak di antara mereka terlalu dekat.yang membuat Evan hampir hilang kendali.

Napas Flora masih sedikit tertahan, namun tatapannya… tetap tenang.

Flora mengangkat dagunya sedikit, menatap Evan dari jarak yang nyaris tak ada.

Lalu senyum menggoda terukir di bibirnya.

“Kenapa wajahmu seperti itu?” bisiknya pelan.

Tangannya perlahan terangkat menyentuh dada Evan dengan ujung jari.

Sentuhan itu cukup untuk membuat tubuh pria itu menegang.

“Marah?” lanjutnya lirih.

Tatapannya turun sebentar, lalu kembali naik, menatap mata Evan dalam-dalam.

“Atau…” ia sedikit mendekat, hampir menyentuh wajahnya, “…merasa tertipu?”

Rahang Evan mengeras.

“Flora—”

Namun ia belum sempat melanjutkan.

Karena Flora lebih dulu tersenyum.

“Ah… maaf,” ucapnya santai.

Jemarinya kini bergerak perlahan dari dada Evan, naik ke kerah kemejanya, merapikannya seolah itu hal paling wajar.

“Seharusnya aku memanggilmu dengan benar sekarang,” lanjutnya pelan.

Ia mendekat sedikit lagi.

Suaranya hampir seperti bisikan di telinga—

“Adik ipar.”

Seketika—tatapan Evan berubah.

Lebih gelap.

Lebih tajam.

Tangannya kembali mencengkeram pergelangan tangan Flora, menahannya.

“Jangan main-main, Flora,” suaranya rendah, penuh tekanan.

Namun Flora tidak mundur.

Sedikit pun tidak.

Sebaliknya—ia justru semakin santai.

“Bukankah itu kenyataannya?” balasnya ringan.

Ia menarik tangannya perlahan dari genggaman Evan, lalu menyentuh pipi pria itu dengan lembut.

“Kamu tunangan Agnes,” ucapnya pelan.

“Adikku tiriku.”Ia tersenyum tipis.

“Maka… kamu adalah adik iparku.”

Setiap kata diucapkan dengan tenang.

Namun menusuk.

Evan menatapnya tajam.

Amarahnya jelas terlihat.

Namun di balik itu—

ada sesuatu yang lain.

Sesuatu yang tidak ia kendalikan.

Flora menatapnya sebentar, lalu mundur satu langkah.

Jarak kembali tercipta.

Dan bersamaan dengan itu kehangatan tadi… lenyap.

Wajahnya kembali dingin.

Seolah semua sentuhan barusan tidak pernah terjadi.

“Tenang saja,” ucapnya datar.

“Hubungan kita sudah berakhir.”

Ia merapikan gaunnya dengan elegan.

Tatapannya tak lagi menggoda melainkan tegas.

“Dan aku tidak punya kebiasaan menyentuh milik orang lain.”

Kalimat itu sengaja ditekankan.

Flora melangkah pergi tanpa ragu.Namun baru beberapa langkah tiba-tiba tangan nya ditarik kembali dengan kuat.

“Flora—”

Belum sempat ia bereaksi, tubuhnya sudah ditarik mendekat.Dan dalam sekejap Evan menciumnya dengan Kasar.Penuh emosi yang tak terkendali.

Seolah seluruh amarah, kekesalan, dan sesuatu yang tak ia mengerti… diluapkan dalam satu tindakan.

Mata Flora membesar.Ia langsung meronta.

Mendorong dada Evan, berusaha melepaskan diri.

Namun kekuatannya tidak sebanding.

Cengkeraman Evan terlalu kuat.Ciuman itu semakin dalam.Semakin menekan.

Tanpa pilihan Flora menggigit bibir Evan.

“Ah—!”

Evan langsung melepaskannya.Napas keduanya terdengar berat.Tatapan Evan gelap, penuh emosi yang belum reda.

“Apakah kamu anjing?” desisnya marah. “Kenapa menggigit?”

Flora menatapnya dingin, tanpa rasa bersalah.“Karena aku tidak suka disentuh oleh orang asing.”

Kalimat itu tajam.Menusuk.

Ia merapikan pakaiannya dengan tenang, seolah tak terjadi apa-apa.“Dan apakah kamu sudah lupa? kamu sendiri yang bilang... hubungan kita sudah berakhir.”

Evan menatapnya tajam.“Lalu apa hubunganmu dengan Garvin?”

Nada suaranya rendah.Namun jelas… menuntut jawaban.

Flora tersenyum tipis.Senyum yang sulit ditebak.“Seperti yang kamu lihat.”

Jawaban ambigu itu justru membuat Evan semakin marah.“Jauhi dia,” ucap Evan tegas.

Flora mengangkat alis.“Kenapa?”Ia melangkah sedikit mendekat.

“Sejak kapan kamu punya hak melarang ku?”

Ia menatap Evan dari jarak dekat.

Lalu dengan nada genit yang tipis, hampir seperti godaan.“Jangan bilang…” bisiknya pelan, “…kamu cemburu?”

Evan langsung membalas dingin.

“Tidak mungkin..”Nada suaranya tegas.

Flora tersenyum.Seolah sudah tahu jawabannya.

“Aku hanya tidak ingin kamu menyakiti Garvin,” lanjut Evan.

Flora terkekeh pelan.“Bukan urusanmu.”

Jawabannya ringan.

Flora mendekat sedikit lagi, cukup untuk membuat napas mereka hampir bersentuhan.

Lalu berbisik lembut Menggoda.

“Sampai bertemu lagi Adik ipar…”

Seketika rahang Evan menegang.

Flora mundur satu langkah.Senyumnya masih ada.Licik dan Menggoda.

Tanpa menunggu respon ia berbalik.

Dan kali ini benar-benar pergi.Meninggalkan Evan di lorong itu.Dengan emosi yang… tak lagi bisa ia kendalikan.

"FLORA.....!" Wanita ini memang selalu membuat nya hilang kendali.

Flora tidak kembali ke dalam aula.

Langkahnya justru kembali ke taman.

Ia duduk di kursi yang sama, mengambil napas perlahan, mencoba menenangkan dirinya. Wajahnya kembali datar, seolah kejadian barusan… tidak pernah terjadi.

Namun beberapa menit kemudian—

langkah kaki mendekat.

Garvin.

“Kamu di sini? Aku sudah lama menunggu mu” tanyanya sambil duduk di samping Flora.

Flora meliriknya sekilas, lalu kembali menatap ke depan.“Aku diganggu anjing liar,” jawabnya santai.

Garvin mengernyit.“Anjing liar?” ulangnya. “Di tempat seperti ini?”Ia menoleh ke sekeliling taman yang terawat rapi.“Aneh juga…”

Namun melihat ekspresi Flora yang tenang, ia hanya tersenyum kecil.“Mungkin aku yang terlalu serius,” gumamnya.

Flora tidak menjawab.Garvin tiba-tiba berdiri.

“Ayo,” katanya.

Flora menatapnya. “Ke mana?”

Garvin tersenyum misterius.“Ada tempat yang pasti kamu suka.”

Flora sedikit mengangkat alis, tapi tidak menolak.

Beberapa menit kemudian mereka sudah berada di dalam mobil.

Garvin dengan santai menutup mata Flora dengan saputangan .

“Hey—” Flora sedikit protes.

“Percaya saja,” ucap Garvin ringan.

Perjalanan terasa singkat.Mobil akhirnya berhenti.Garvin turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Flora.

“Pelan-pelan,” katanya sambil menuntunnya.

Flora mengikuti.Langkah demi langkah.

Hingga akhirnya “Sekarang buka.”

Flora perlahan membuka matanya.

Dan ia terdiam.Di depannya berdiri sebuah rumah pohon.Tempat yang sangat familiar.

Tempat masa kecilnya.Tempat ia dan Garvin dulu sering bermain.

Napas Flora sedikit tertahan.Ia melangkah mendekat.Tangannya menyentuh kayu rumah pohon itu perlahan.Masih sama.

Tidak berubah.Terawat dengan baik.Ingatan lama bermunculan.Terakhir kali ia datang ke sini…adalah saat ibunya meninggal.Ia datang sendirian.Menangis sekuat-kuatnya.Flora menunduk sedikit.

Matanya melembut—untuk pertama kalinya.

“Aku tidak menyangka…” gumamnya pelan, “masih seperti ini.”

Garvin berdiri di sampingnya.“Aku tidak pernah membiarkannya rusak,” ucapnya sederhana.

Flora menoleh.Menatapnya.Lalu tersenyum tipis.“Terima kasih, Garvin.”

" Untuk apa berterimakasih,ini juga tempatku untuk melarikan diri.saat kamu memutuskan untuk keluar negri,aku sering datang kesini."

Garvin menunjuk ayunan di sebelahnya." lihat ayunan itu.aku ingat dulu kamu pernah jatuh dan menangis sangat keras.saat itu usia kita kita kira tujuh tahun.aki bahkan sampai pusing mendengar suara kamu menangis."

Flora tertawa kecil.kejadian itu Memang benar.saat itu karena dia terus menangis.Garvin bingung bagaimana menghentikannya.sampai akhirnya Garvin melihat kelinci dan menangkap nya.

" Kelinci itu...."Flora menatap Garvin dengan penasaran.

" Oh ..ayok ikut aku."

Kedua nya berjalan ke arah belakang pohon itu dan melihat ada kandang kecil.

Flora terkejut melihat ada tiga ekor kelinci didalam nya.

" Itu adalah anak dari kelinci yang aku berikan padamu.kelinci yang aku tangkap waktu itu ternyata sedang mengandung.Sementara induk nya sudah meninggal."

Kedua nya mengenang masa kanak kanak mereka.

Suasana menjadi tenang.Seolah dunia luar… tidak ada.

Sementara itu di gedung pertunangan.Evan kembali masuk ke dalam aula.Wajahnya sudah kembali dingin.

Agnes langsung menghampirinya.

“Evan,” panggilnya, “apa yang terjadi dengan bibirmu?”

Tatapannya penuh khawatir.

Evan menjawab tanpa emosi.“Digigit anjing liar.”

Agnes mengernyit.“Anjing liar?” ulangnya. “Di sini tidak ada anjing liar.”Ia menatap Evan penuh curiga.“Kamu melihatnya di mana?”

Evan menatap lurus ke depan.“Sudah pergi.”

Jawaban singkat.Memutus percakapan.

Agnes masih ingin bertanya, namun akhirnya menahan diri.“Acara akan segera dimulai,” ucapnya pelan. “Semua sudah menunggu.”

Evan tidak bisa berpikir jernih.pertemuan nya dengan Flora tadi benar benar membuat nya hilang kendali.

Evan berbalik.“Aku ada urusan penting.”

Nada suaranya dingin.“Tunda pertunangannya.”

Langkahnya langsung pergi.Tanpa menoleh.

Agnes membeku di tempatnya.

Wajahnya berubah.“Evan—!”

Namun pria itu sudah pergi.

Di luar mobil Evan sudah menunggu.

Asistennya segera mengikuti di belakang.

“Selidiki Flora,” perintah Evan tanpa basa-basi.

Nada suaranya rendah dan tegas.

“Aku ingin tahu semuanya.”

Ia menatap ke depan.

Tatapannya gelap.

“Dulu aku tidak peduli,” lanjutnya. “Karena aku pikir dia tidak ada hubungannya dengan keluarga Amor.”

“Tapi sekarang… semuanya berbeda.”

Ia mengepalkan tangan.

“Aku ingin tahu—”

Tatapannya menyipit.

“Apakah dia sengaja mendekatiku… karena sudah tahu siapa aku.”

“Atau…”

Suaranya semakin rendah.

“…semua ini hanya kebetulan.”

Asistennya Joy mendengarkan dengan tenang.Dia juga cukup terkejut mengetahui bahwa simpanan tuannya ternyata pewaris keluarga Amor.

'Permainan orang kaya memang unik' pikirnya dalam hati.

Sementara itu—

di dalam aula—

Agnes berdiri sendirian.

Di tengah tatapan para tamu.

Pertunangan yang seharusnya sempurna…

berantakan.

Tangannya mengepal kuat.

Wajahnya menegang.

Malu dan Marah.

1
Himna Mohamad
lanjut kk,,ceritanya bagus👍👍👍👍👍
Laar Ani
cerita hebat
Fulayah Haddad
Good , keren & menarik alur ceritanya bagus
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!