NovelToon NovelToon
Sang Legenda Telah Kembali

Sang Legenda Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.

Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.

Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.

Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 29

Lina terengah-engah di bawah tekanan lutut Ilwa, matanya membelalak penuh kebencian yang bercampur dengan teror murni.

Meskipun benang mana telah melilit sendi-sendinya dan luka di lehernya masih berdenyut perih, bibirnya tetap terkatup rapat.

Doktrin *The Nightshade* telah mendarah daging; baginya, kematian adalah penebusan, sementara pengkhianatan adalah kehinaan abadi.

Ilwa menatap kebuntuan itu dengan tatapan datar.

Ia bisa membaca api fanatisme di mata Lina.

Sejujurnya, Ilwa tidak terlalu peduli siapa yang mengirim pembunuh peringkat rendah ini—ia sudah bisa menebak beberapa nama di kepalanya.

namun membiarkan variabel liar seperti Lina tetap bernapas tanpa kendali hanya akan memperumit rencananya dalam lima tahun ke depan.

"Kau benar-benar keras kepala, ya?" bisik Ilwa, suaranya lembut namun membawa kengerian yang tak terlukiskan.

"Aku sebenarnya malas menggunakan teknik ini karena sangat menguras presisi manaku, tapi kau tidak memberiku pilihan lain."

Ilwa mengangkat tangan kanannya, jari telunjuk dan tengahnya menyatu.

Seberkas mana berwarna ungu gelap, yang jauh lebih pekat dan jahat daripada mana biru sebelumnya, mulai berkumpul di ujung jarinya.

"**Neural Scolopendra**," gumam Ilwa pelan.

Seketika, mana tersebut memadat dan membentuk manifestasi sihir yang mengerikan:

seekor kelabang transparan kecil yang kaki-kakinya bergetar dengan energi listrik statis.

Tanpa peringatan, Ilwa menempelkan jarinya ke dahi Lina.

Kelabang mana itu seolah menembus kulit dan tengkorak Lina, merayap masuk ke dalam jaringan otaknya secara paksa.

"AAAAAAGGGHHHHH!"

Lina menjerit histeris. Kepalanya terasa seolah sedang dibelah oleh ribuan silet panas.

Ia bisa merasakan sesuatu yang dingin dan berkaki banyak sedang merayap di atas selaput otaknya, menyusup ke sela-sela memori dan pusat sarafnya.

Rasa sakit itu begitu intens hingga bola matanya berputar ke atas, dan tubuhnya kejang-kejang di bawah jeratan benang mana.

---

### Sihir Terlarang: Neural Scolopendra

**Neural Scolopendra** adalah sihir manipulasi pikiran tingkat tinggi yang diciptakan oleh para penyihir hitam di era Albus.

Ini bukan sekadar alat interogasi, melainkan sebuah **Parasit Mana Multiguna**.

Extraction (Ekstraksi):Kelabang mana tersebut berfungsi sebagai alat pembaca memori secara paksa.

Ia tidak membutuhkan jawaban verbal dari korban; ia langsung menyedup sinapsis saraf yang berisi informasi spesifik yang diinginkan oleh penggunanya.

Time Bomb (Bom Waktu): Setelah tugasnya selesai, kelabang itu tidak menghilang.

Ia akan meringkuk di batang otak, menyatu dengan sistem saraf pusat korban.

Jika korban mencoba mengkhianati pengguna sihir atau mencoba membongkar keberadaan sihir ini kepada pihak ketiga, kelabang tersebut akan meledak, menghancurkan otak korban secara instan dari dalam.

The Sentinel (Pengawas): Selama ia berada di sana, ia juga berfungsi sebagai alat pelacak dan penyadap jarak jauh.

Pengguna bisa merasakan emosi dan keberadaan korban selama pasokan mana masih tersisa.

Setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian bagi Lina, rasa sakit itu mereda secepat ia datang.

Kelabang tersebut seolah "menghilang" ke dalam kegelapan pikirannya. Lina terengah-engah, keringat membasahi seluruh tubuhnya, dan pandangannya perlahan kembali fokus.

---

Ilwa menarik tangannya kembali, berdiri tegak sambil menutup matanya sejenak, mencerna informasi yang baru saja ia "curi" dari saraf memori Lina.

Sebuah senyuman dingin dan penuh kepuasan muncul di wajahnya yang masih tampak kekanak-kanakan itu.

"Begitukah jadinya?" Ilwa membuka matanya, menatap Lina yang masih gemetar hebat di tanah. "

Paman Marc... jadi dialah yang secara pribadi menandatangani kontrak perunggu ini untuk mengawasiku?"

Lina tersentak, wajahnya yang pucat kini berubah menjadi seputih kertas. "Bagaimana... bagaimana kau..." Ia tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun.

Ia yakin rahasia kliennya terkunci rapat di balik dinding mentalnya yang paling dalam. Bagaimana mungkin bocah ini bisa menyebut nama tuannya dengan begitu akurat?

"Sihir tadi memberitahuku segalanya, Lina," ucap Ilwa sambil berjalan santai mengelilingi Lina yang tak berdaya.

"Setiap instruksi yang kau terima, setiap surat yang kau tulis di dalam kepalamu, aku sudah membacanya. Aneh juga dipikir-pikir... Paman Marc mengirimkan organisasi pembunuh bayaran hanya untuk mengawasiku. Tampaknya, keputusannya untuk melakukan hal tersebut tidak salah, karena aku memang jauh lebih berbahaya dari yang dia bayangkan."

Ilwa berhenti tepat di hadapan Lina, membungkukkan tubuhnya sedikit hingga wajah mereka sejajar.

Di bawah cahaya rembulan yang mulai muncul, mata Ilwa berkilat dengan rencana yang jauh lebih besar.

"Sekarang kau tahu bahwa aku bukan hanya 'tuan muda yang sakit-sakitan', dan aku tahu siapa yang membayar upahmu. Namun, membunuhmu sekarang hanya akan membuang-buang tenagaku dan membuat Marc mengirimkan pembunuh yang lebih kuat, yang mungkin akan lebih merepotkan bagiku," ucap Ilwa dengan nada bicara yang manis namun mengancam.

"Lina... aku punya tawaran menarik untukmu," Ilwa tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang putih.

"Kau bisa tetap menjadi 'mata-mata' Marc di paviliun ini, kau bisa tetap mengirimkan laporan kepadanya... namun, kau akan mengirimkan laporan yang *aku* tulis. Kau akan menjadi pion gandaku, atau kelabang di otakmu itu akan memastikan kau tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi."

Lina menatap Ilwa dengan ngeri.

Ia menyadari bahwa ia baru saja terjebak dalam jaring laba-laba yang jauh lebih mematikan daripada organisasi manapun.

Di hadapannya, seorang anak kecil sedang menyusun papan catur yang akan menghancurkan seluruh klan Eldersheath dari dalam, dan ia baru saja dipaksa menjadi bidak utamanya.

"Jadi, Lina... apakah kau ingin hidup sebagai alatku, atau mati sebagai sampah Nightshade yang gagal?"

------

Lina terpaku di atas tanah yang dingin, napasnya tersengal-sengal di tengah heningnya hutan yang kini terasa kian mencekam

Pilihan yang disodorkan Ilwa bukan sekadar tawaran, melainkan sebuah jerat leher yang terbuat dari sutra halus namun mematikan.

Matanya yang gemetar menatap sosok kecil di hadapannya—seorang bocah yang seharusnya menjadi mangsa, namun kini justru berdiri sebagai pemangsa tertinggi.

"Kau terlihat sangat bingung, Lina," suara Ilwa memecah keheningan, terdengar begitu tenang, hampir seperti suara angin yang berbisik di antara dedaunan.

"Apakah kau sedang mempertimbangkan untuk menolakku, melarikan diri, lalu melaporkan kegagalan ini pada organisasimu?"

Lina tidak menjawab, namun otot-otot di rahangnya mengeras.

Pikirannya berkecamuk antara loyalitas buta dan naluri bertahan hidup yang mulai memberontak.

Ilwa menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan ejekan.

"Coba pikirkan dengan otakmu yang masih berfungsi itu. Jika aku melepaskanmu sekarang, dan kau kembali ke markas **The Nightshade** dengan luka di leher dan informasi bahwa kau telah dikalahkan oleh targetmu sendiri... menurutmu, apa yang akan mereka lakukan?"

Lina tertegun. Pupil matanya mengecil. Ia tahu persis prosedur organisasi bagi agen yang gagal total.

"Mereka tidak akan memujimu karena kejujuranmu," lanjut Ilwa, langkah kakinya berderak pelan di atas ranting kering saat ia berjalan mengitari Lina.

"Bagimu, organisasi itu adalah rumah. Bagi mereka, kau hanyalah alat peringkat perunggu yang tidak becus. Kau akan langsung dieksekusi karena dianggap sebagai liabilitas. Nama baik Nightshade tidak boleh tercemar oleh kegagalan seorang pelayan. Dan setelah kau mati, mereka hanya akan mengirimkan orang lain untuk menggantikan posisimu. Kau akan dilupakan seolah-olah kau tidak pernah ada."

Kalimat Ilwa menghantam kesadaran Lina layaknya palu godam.

Kata-kata itu adalah kebenaran pahit yang selama ini ia coba kubur jauh di dalam sanubarinya.

Di dunia bawah yang gelap, kegagalan berarti kematian—sering kali di tangan rekan sendiri.

"Namun," Ilwa berhenti tepat di samping Lina, suaranya kini merendah, memberikan nada godaan yang berbahaya.

"Jika kau mengikuti ucapanku, aku menjamin nyawamu. Kau tetap bisa menjadi mata-mata di mata Marc, kau tetap menerima upahmu, dan kau tetap bernapas. Aku hanya butuh kau menjadi corong informasiku. Bagaimana? Penawaran yang cukup adil untuk nyawa yang hampir melayang, bukan?"

Lina menunduk, menatap tanah yang ternoda oleh darah gagak dan tetesan darahnya sendiri.

Kebimbangan menyelimuti hatinya seperti kabut tebal.

Di satu sisi, ada sumpah setianya; di sisi lain, ada kenyataan bahwa ia hanyalah pion yang bisa dibuang kapan saja.

Terlebih lagi, ia bisa merasakan keberadaan parasit *Neural Scolopendra* yang bersemayam di dalam kepalanya—bom waktu yang siap meledakkan otaknya jika ia berani berkhianat.

Setelah keheningan yang terasa seperti berjam-jam, Lina akhirnya menghela napas panjang yang gemetar.

Ia menutup matanya, menyerah pada takdir yang baru saja merenggut kebebasannya.

"Aku... aku mengerti," bisik Lina, suaranya nyaris pecah. "Aku akan melakukan apa yang kau minta."

Mendengar itu, senyum Ilwa melebar, sebuah senyum kemenangan yang murni. Tanpa banyak bicara, ia menjentikkan jarinya.

*Sret!*

Seketika, benang-benang mana biru yang melilit tubuh Lina terurai menjadi partikel energi yang menghilang di udara.

Tekanan yang menghimpit sendi-sendinya lenyap, membuat Lina terduduk lemas.

Ia segera memegang lehernya yang terluka, menekan goresan tipis yang masih mengeluarkan darah dengan telapak tangannya yang gemetar.

Rasa sakitnya masih ada, namun ia merasa seolah-olah beban ribuan ton baru saja diangkat dari dadanya.

Ilwa berdiri tegak, merapikan mantelnya yang sedikit berantakan akibat pertarungan singkat tadi.

Ia menatap Lina untuk terakhir kalinya sore itu dengan tatapan seorang tuan kepada budaknya.

"Kalau begitu, bersikaplah seperti biasanya," ucap Ilwa dengan nada santai, seolah-olah mereka baru saja selesai mendiskusikan menu makan malam.

"Kembalilah ke paviliun. Bereskan kekacauan ini, hapus jejak darahmu, dan pastikan Martha tidak curiga. Ingat, Lina, mulai detik ini, hidupmu adalah milikku. Jangan mencoba melakukan manuver yang bisa membuat kelabang di kepalamu itu merasa... gelisah."

Tanpa menunggu jawaban, Ilwa berbalik dan melangkah pergi dengan tenang, menyusup kembali ke dalam rimbunnya hutan menuju paviliun.

Langkah kakinya sangat ringan, hampir tidak meninggalkan jejak di atas tanah, menunjukkan betapa besarnya kontrol mana yang ia miliki sekarang.

Lina tetap terduduk di tepi danau yang kini telah gelap sepenuhnya.

Ia menatap punggung kecil Ilwa yang menghilang di balik pepohonan dengan perasaan hampa.

Ia tidak tahu apakah keputusannya untuk tunduk adalah langkah yang tepat, atau justru awal dari penderitaan yang jauh lebih besar.

**BERSAMBUNG.**

1
Orimura Ichika
oke sih
Ilwa Nuryansyah
terimakasih banyak 😄😄
black_rose
Karyamu masterpiece teruskan dan semagattt(っ´▽`)っ
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!