NovelToon NovelToon
A Choice For Gaby

A Choice For Gaby

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"I am not designing for anyone," (Saya tidak mendesain untuk siapa pun) jawab Gaby akhirnya, suaranya sedikit lebih kuat dari sebelumnya, berusaha menjaga martabatnya di depan kelas.

"Good," Melvin menegakkan tubuhnya, kembali menjadi asisten dosen yang profesional. "Prove it. For the next assignment, I want a 3D render of a garment that represents 'Sanctuary'. But remember, a sanctuary can easily turn into a cage if you're not careful."

(Buktikan. Untuk tugas berikutnya, saya ingin render 3D dari pakaian yang merepresentasikan 'Suaka'. Tapi ingat, suaka bisa dengan mudah berubah menjadi sangkar jika kamu tidak hati-hati.)

—Gabriella Queensa Vanessa, tinggal dengan sepupunya di London-sebagai mahasiswi baru di Oxford University bersama dua sahabat barunya, Sabrina dan Emilia. Tapi ada lagi sahabat baru Gaby yang bernama Melvin Jabulani-Blackwood. Dia awalnya baik, tapi....

Daripada kepo-mending chek it out ke ceritanya langsung!!!

Happy Reading~

[Update Tergantung Mood]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Dapat!

Happy Reading~

.

.

.

Penthouse Kaito – Sore Hari

Hujan gerimis mengguyur London sejak siang.

Gaby berdiri di depan jendela kamarnya, keningnya menyentuh kaca dingin, menatap butiran air yang meluncur perlahan di permukaan jendela. Setiap tetes meninggalkan jejak, seperti air mata yang enggan berhenti mengalir.

Sudah seminggu sejak pertemuan dengan Sabrina.

Seminggu sejak ia mendengar suara ayah Sabrina di rekaman itu.

Suara yang tenang, berwibawa, namun memerintahkan penculikannya seolah itu hanya proyek bisnis biasa.

Seminggu sejak ia memutuskan untuk tidak membenci Sabrina, meskipun hatinya masih perih setiap kali mengingat nama Blackwood.

Di tangannya, sebuah amplop coklat tanpa identitas pengirim.

Ditemukan pagi ini di bawah pintu kamarnya.

Tidak ada nama. Tidak ada alamat. Hanya satu lembar kertas dengan tulisan tangan yang sangat ia kenali.

"I still recall your penchant for jasmines, Gaby girl. Some things never change, do they?"

Tidak ada ancaman. Tidak ada permintaan. Hanya sebuah kalimat yang mengirimkan getaran dingin dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Gaby telah menyembunyikan amplop itu di bawah bantalnya. Ia tidak tahu mengapa ia tidak memberitahu Emrys. Mungkin karena takut. Mungkin karena malu. Atau mungkin karena... ada bagian kecil dari dirinya yang ingin merahasiakannya.

Dari siapa?

Dari kakaknya yang telah berkorban segalanya untuk melindunginya.

Atau dari dirinya sendiri?

Gaby menghela napas. Ia melepaskan keningnya dari kaca jendela dan melangkah menuju kamar mandi.

Air hangat membasuh wajahnya, mencoba menghapus jejak kelelahan yang terus menghantuinya.

Ia tidak tahu bahwa di luar sana, di jalanan basah di depan gedung, seorang pria berambut putih telah menatap jendela kamarnya selama satu jam penuh.

...

Depan Gedung Kaito – Sore Hari yang Sama

Melvin Jabulani-Blackwood duduk di kursi pengemudi mobil hitam yang tidak mencolok. Bukan Bentley, bukan Ferrari. Hanya sedan biasa yang tidak akan menarik perhatian kamera keamanan mana pun.

Jas hujan tipis menutupi tubuhnya. Topi rendah menutupi separuh wajahnya. Rambut putihnya tersembunyi dengan sempurna.

Ia telah berada di sini sejak pagi.

Menunggu.

Mengamati.

Setiap pintu yang terbuka, setiap mobil yang keluar, setiap bayangan yang lewat di balik jendela lantai atas.

Semuanya ia rekam dalam ingatan.

Ia melihat Emrys keluar dua jam lalu, ditemani dua pengawal. Wajah sepupu Gaby itu tegang, khas seorang pria yang sedang mempersiapkan perang.

Melvin tersenyum tipis.

"Aku juga sedang mempersiapkan perang, Kaito. Tapi perangku tidak akan kau lihat. Hingga kau sadar bahwa kau sudah kehilangan semuanya."

Ia menunggu.

Hingga akhirnya, ia melihat apa yang ia tunggu-tunggu.

Seorang pria paruh baya dengan seragam kebersihan gedung keluar melalui pintu belakang, mendorong gerobak berisi peralatan. Wajahnya biasa saja. Tidak ada yang mencurigakan.

Melvin mengambil ponselnya, menekan sebuah tombol.

"Lima menit lagi. Gerbang belakang."

"Sudah siap," jawab suara di seberang sana.

Panggilan berakhir.

Melvin menghela napas. Ia menutup matanya sejenak, membayangkan wajah Gaby. Wajah yang selama setahun ia lihat setiap hari. Wajah yang selama seminggu terakhir hanya ia lihat dalam ingatan.

"Tick-tock, Gaby girl. I'm coming for you."

...

Di kamarnya.

Gaby sedang duduk di tepi kasur, memeluk bantal, ponsel di tangan.

Ia membuka aplikasi pesan. Tidak ada dari Mama. Tidak ada dari Papa. Emrys belum mengirim kabar sejak pagi.

Ia menggulir kontak hingga berhenti pada satu nama.

Sabrina.

Jemarinya berhenti di atas layar. Haruskah ia menghubungi? Atau diam?

Ia teringat pelukan Sabrina di ruang tengah beberapa hari lalu. Air matanya yang tulus. Suaranya yang hancur saat meminta maaf.

Tapi nama Blackwood tetap Blackwood.

Gaby meletakkan ponselnya.

Di luar, hujan mulai reda.

Ia berjalan menuju jendela lagi. Membukanya sedikit, membiarkan udara dingin masuk.

Dan di bawah sana, di seberang jalan, sebuah sedan hitam menyalakan mesin.

Gaby tidak menyadarinya.

...

Seorang pria berseragam kebersihan mendorong gerobaknya melewati pintu belakang.

Penjaga keamanan hanya melirik sekilas.

"Lembur, Pak?" tanya salah satu penjaga.

"Iya. Lantai 12 bocor karena hujan. Harus segera di bersihkan sebelum esok hari."

Penjaga itu mengangguk, membiarkannya lewat.

Pria itu masuk ke lift servis. Menekan tombol lantai 29.

Lantai 29. Satu lantai di bawah penthouse.

Rencananya sederhana. Masuk lewat lantai servis, naik ke lantai 30 melalui tangga darurat yang tidak terpantau CCTV, dan masuk ke penthouse melalui pintu dapur yang jarang dijaga.

Melvin telah mempelajari celah ini selama berbulan-bulan.

Setiap jadwal penjagaan, setiap rotasi shift, setiap titik buta kamera...

Semuanya ia hafal di luar kepala.

Ia tahu bahwa Emrys sedang tidak ada di rumah.

Ia tahu bahwa dua pengawal di lantai 30 sedang bergantian makan malam.

Ia tahu bahwa Gaby sendirian.

Pria berseragam kebersihan itu melepas topinya di dalam lift.

Rambut putihnya terurai.

Wajahnya terpantul di cermin lift.

Melvin tersenyum.

...

Gaby baru saja selesai berganti pakaian. Kemeja longgar berwarna abu-abu dan celana pendek kain yang nyaman.

Rambutnya masih setengah basah, terurai di bahu.

Ia melangkah keluar kamar menuju dapur untuk mengambil segelas air. Langkah kakinya pelan di lantai marmer.

Ia tidak melihat bayangan yang bergerak di balik dinding lorong.

Tangan.

Tangan besar menutup mulutnya dari belakang.

Gaby tersentak. Air liurnya tercekat. Matanya membelalak.

"Shhh..."

Bisikan itu. Suara itu. Hangat di telinga, tapi dingin di tulang belakang.

"Save your breath, Gaby girl. Screaming won't change a thing."

(Jangan berteriak, Gaby girl.)

Melvin.

Gaby meronta. Tangannya mencakar lengan yang menjeratnya, kakinya menendang ke udara, tapi Melvin terlalu kuat. Terlalu siap.

"Aku tidak akan menyakitimu. You know that."

Melvin menariknya mundur, menjauh dari dapur, menuju koridor belakang yang menuju tangga darurat.

Gaby masih meronta. Air mata mulai jatuh.

"K-Kak... Kak Em-"

"Emrys tidak di sini, sayang. Dia sedang sibuk dengan rencananya yang mulia untuk menghancurkan keluargaku." Suara Melvin tenang, terlalu tenang. "Aku tahu jadwalnya. Aku tahu semua yang dia rencanakan. Karena..."

Ia berhenti, membalik tubuh Gaby hingga mereka berhadapan.

Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Gaby. Mata birunya menatap dalam-dalam ke mata coklat yang basah oleh air mata.

"...karena orang yang paling dekat dengannya selama ini adalah mataku yang lain."

Gaby tidak mengerti. Tapi tidak ada waktu untuk bertanya.

Melvin menggendongnya dan melangkah ke tangga darurat.

"We’re going home, Gaby girl. Exactly where you belong."

Gaby hanya terdiam.

Otaknya membeku.

Kacau.

...

Melvin melangkah cepat di tangga beton yang sunyi. Gaby dalam gendongannya diam. Tidak meronta. Tidak berteriak. Hanya air mata yang terus mengalir.

Ia tahu ini salah.

Ia tahu seharusnya ia berteriak, memukul, menggigit.

Tapi tubuhnya tidak bergerak.

Pikirannya kosong.

"Kau tahu," bisik Melvin sambil terus melangkah, "setiap malam selama seminggu ini, aku duduk di mobil di depan gedung ini. Menatap jendela kamarmu. Menghitung berapa lama lampu kamarmu menyala sebelum akhirnya padam."

Gaby tidak menjawab.

"Aku tahu kau tidak bisa tidur, Gaby. Aku tahu kau masih berguling-guling di kasur sampai jam tiga pagi. Aku tahu kau masih... memikirkan aku."

Melvin berhenti di depan pintu lantai 1. Ia menurunkan Gaby sejenak, membuka pintu dengan hati-hati.

Di luar, sebuah mobil hitam tanpa pelat sudah menunggu. Mesin menyala.

"Kau tidak akan aman di sini, Gaby. Emrys terlalu sibuk membenci namaku hingga ia lupa bahwa yang kau butuhkan bukanlah perlindungan, tapi... pengertian."

Ia membuka pintu mobil. Membantu Gaby masuk ke kursi belakang.

Gaby duduk kaku. Tidak melawan.

"Aku memahami-mu, Gaby. Even when you don't quite grasp it yourself."

Melvin masuk ke kursi pengemudi. Mobil melaju perlahan meninggalkan gedung.

Tidak ada yang mengejar. Tidak ada yang melihat.

Kamera keamanan di gerbang belakang? Melvin telah mematikannya satu jam sebelum beraksi.

Penjaga keamanan? Sedang sibuk dengan rekaman palsu yang memperlihatkan Gaby masih berada di kamarnya.

Semuanya telah diatur.

Rencana B. Rencana yang ia siapkan selama berbulan-bulan. Bukan untuk menculik, tapi untuk menjemput.

...

Mobil hitam itu melaju menuju luar London.

Gaby masih diam di kursi belakang.

Air matanya telah berhenti.

Ia hanya menatap kosong ke luar jendela, melihat gedung-gedung tinggi berganti menjadi rumah-rumah, lalu pepohonan, lalu hamparan hijau yang tak berujung.

"You utterly detest me, Gaby girl? How delicious."

Hening.

"Kau berhak membenciku. Aku menculikmu. Aku mengurungmu. Aku... memaksamu untuk menerima aku." Suaranya bergetar di akhir kalimat, anehnya terdengar seperti penyesalan. "Tapi aku tidak pernah menyakitimu. Tidak pernah."

Gaby menggigit bibirnya.

"Aku tidak akan pernah menyakitimu, Gaby. I simply want you to look at me. Sebagai seseorang yang mencintaimu, rather than the monster you imagine."

"Kau tetap monster," bisik Gaby. Suaranya serak, nyaris tak terdengar.

Melvin tersenyum tipis di spion tengah.

"Quite. That is precisely who I am, and I shan't apologize for it. In fact, I’m rather pleased with my new title."

Gaby menutup matanya.

Ia ingin berteriak. Tapi tidak ada suara.

Ia ingin membenci. Tapi hatinya terasa mati rasa.

"Kemana..?" bisiknya akhirnya.

"Ke tempat di mana tidak ada Kaito. Tidak ada Blackwood. Tidak ada perang keluarga. Hanya aku dan kau." Melvin menghela napas. "Tempat yang tidak akan pernah ditemukan Emrys. Karena tempat itu... belum pernah ada di peta mana pun. Aku yang membangunnya. Untukmu."

Gaby membuka matanya.

Untuk pertama kalinya, ia melihat ke spion tengah dan menatap mata biru itu.

Ada sesuatu di sana. Bukan kegilaan. Bukan obsesi.

Tapi kesedihan yang begitu dalam hingga hampir menenggelamkan segalanya.

"Kau gila," bisik Gaby.

"Mungkin," jawab Melvin. "Tapi setidaknya aku gila untukmu."

...

Emrys kembali ke penthouse pukul 20.00.

Wajahnya lelah, tapi matanya masih waspada.

Pertemuan dengan tim pengacaranya membuahkan hasil. Mereka punya cukup bukti untuk melaporkan Lord Alistair ke pihak berwenang. Dalam hitungan hari, nama Blackwood akan tercoreng selamanya.

"Gaby?" panggilnya saat masuk ke ruang tengah.

Tidak ada jawaban.

"Gaby?"

Ia melangkah ke kamar adiknya. Pintu terbuka. Kamar kosong.

Kamar mandi kosong. Dapur kosong. Balkon kosong.

Emrys mengambil ponselnya. Menghubungi tim keamanan.

"Di mana Gaby?"

Hening di seberang sana.

"Tuan... kami pikir dia di kamarnya. CCTV menunjukkan..."

"CCTV BISA DIPALSUKAN!" bentak Emrys. "Cari dia! Sekarang!"

Tim keamanan panik. Pencarian dimulai.

Tapi Emrys sudah tahu.

Ia berlari ke ruang kontrol keamanan. Memutar ulang rekaman.

Tampak Gaby berjalan ke dapur. Lalu... gambar itu berulang. Terjebak dalam putaran.

Seseorang telah mengganti rekaman.

Seseorang telah memasuki penthouse tanpa terdeteksi.

Seseorang telah membawa Gaby pergi.

Melvin.

Emrys membanting tinjunya ke meja.

"Melvin!" raungnya, suaranya pecah antara amarah dan keputusasaan. "I Kill You!"

...

Mobil melaju di tengah kegelapan.

Gaby telah tertidur di kursi belakang. Kelelahan, shock, dan tangisan telah menguras seluruh energinya.

Melvin sesekali menatapnya melalui spion tengah.

Wajahnya tenang saat tidur. Seperti dulu, di pulau itu. Saat ia terbiasa melihat Gaby terlelap di sampingnya.

"I shan’t lose you again, Gaby girl. Not a chance." bisiknya pelan. "Go on, hate me if you must. Rage all you like. But you’ll do it by my side. Not his."

Ia menginjak gas.

Mobil melaju lebih cepat, menembus malam, menuju tempat yang tidak diketahui siapa pun.

Menuju rumah baru mereka.

Menuju babak berikutnya dari obsesi yang tidak pernah benar-benar berakhir.

...

Emrys berdiri di kamar Gaby.

Ia memegang bantal yang masih menyisakan aroma vanila adiknya.

Tangannya gemetar.

Bukan karena takut. Tapi karena amarah yang terlalu besar untuk ditampung dalam satu tubuh manusia.

Ia akan menemukannya.

Ia akan membunuh Melvin.

Dan kali ini... tidak akan ada yang bisa menghentikannya.

 

To Be Continued...

1
Jj^
Thor kasih visualnya Melvin yg rambut putih itu pasti cakep bgtt dah😁
Jj^: ok thor
total 3 replies
Jj^
terimakasih Thor😍
Jj^
lanjut Thor 🤗
Jj^
yg banyak update nya thor aku makin penasaran maaf ngelunjak 😁
Jj^
makin seru nih Thor🤩
Thinker Bully ><: aku juga😄👍
total 4 replies
Jj^
terimakasih Thor 🤗
lanjut update lagi thor
🤗
Jj^: siapp thor🤗
total 2 replies
Jj^
lanjut Thor 🤗
Jj^: semangat Thor aku selalu menunggu 🤗
total 2 replies
Thinker Bully ><
Keep up the good work for myself.
delta_core127
up lagi dong~
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!