NovelToon NovelToon
Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Fantasi Timur / Roh Supernatural
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.

Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.

Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Transformasi Tubuh Suci

Saat Shou Wei membuka mata, ia sempat mengira dirinya sudah mati.

Goa terdalam masih gelap. Obor telah hampir padam. Udara tetap dingin, lembap, dan berbau batu. Namun ada sesuatu yang berbeda. Tubuhnya tidak lagi terasa remuk. Rasa panas yang semalam membakar tulang dan darahnya telah menghilang, digantikan oleh sensasi aneh—ringan, namun penuh. Seolah di dalam dagingnya mengalir sesuatu yang lebih padat dari darah.

Ia mengangkat tangan kirinya perlahan.

Luka di pergelangan tangannya telah hilang.

Bukan hanya menutup. Bukan sekadar mengering. Bekas sayatan itu lenyap seolah tak pernah ada. Shou Wei segera duduk tegak. Gerakannya jauh lebih cepat daripada sebelumnya, sampai ia sendiri terkejut.

Di sisi barat lingkaran, Hui Song masih terbaring miring. Di selatan, Chu Hua menelungkup dengan rambut berantakan menutupi wajahnya. Di utara, Bo De tertidur dengan tangan masih mengepal erat, seolah bahkan saat pingsan pun ia menolak melepaskan kewaspadaan.

Shou Wei menoleh ke lantai.

Formasi itu telah hancur.

Semua garis yang mereka susun dari batu roh kini retak dan pudar. Batu-batu roh yang tertanam berubah menjadi abu kelabu. Bahkan ukiran kecil di lantai yang dulu tampak hidup kini tinggal guratan mati. Di dekat dinding, tempat kitab kuno disimpan, hanya tersisa tumpukan debu halus.

Kitab itu juga telah lenyap.

Jantung Shou Wei berdegup lebih keras.

Ia meraih segenggam debu bekas kitab itu, lalu membiarkannya jatuh perlahan dari sela jari. Tidak ada lagi gulungan, tidak ada lagi petunjuk, tidak ada lagi jalan mundur. Semua telah masuk ke dalam diri mereka.

Hui Song mengerang pelan, lalu bangun mendadak seperti seseorang yang baru terlempar dari mimpi buruk. Ia langsung menoleh ke kanan, kiri, dan baru sedikit santai saat melihat Shou Wei.

“Kita... hidup?”

“Sepertinya.”

Hui Song menatap pergelangan tangannya sendiri, lalu wajahnya berubah. “Lukaku hilang.”

“Punyaku juga.”

Tak lama kemudian Chu Hua tersentak bangun. Napasnya cepat, mata liarnya menyapu ruangan seolah siap menggigit siapa pun yang mendekat. Saat melihat tidak ada bandit, ia baru menunduk memeriksa tubuhnya sendiri. Gadis itu terdiam cukup lama, menatap kulit lengannya yang mulus.

Bo De justru bangun paling akhir dengan cara paling kasar. Ia melonjak duduk, menatap keempat arah, lalu merogoh dadanya, pinggangnya, bahkan lipatan bajunya.

“Bagus,” gumamnya. “Aku masih hidup dan masih miskin.”

Chu Hua meraba tanah bekas formasi. "Tidak ada bekas garis-garis formasi."

Hui Song menambahkan. "Batu roh juga lenyap."

Untuk pertama kalinya setelah malam yang hampir membunuh mereka, Hui Song tertawa.

Tawa itu pendek, serak, tetapi nyata.

Mereka bangkit satu per satu. Tidak ada seorang pun yang benar-benar tahu harus berkata apa. Tubuh mereka memang telah sembuh, tetapi perasaan aneh itu terlalu jelas untuk diabaikan. Ada kekuatan baru dalam otot. Ada ketajaman aneh pada pendengaran. Bahkan warna api obor tampak lebih jelas, lebih berlapis.

Shou Wei memejamkan mata sejenak.

Ia bisa mendengar tetesan air di celah batu bagian timur.

Bisa merasakan langkah samar di lorong sangat jauh di atas.

Bahkan bisa mencium bau darah lama yang menempel di dinding goa.

Ia membuka mata lagi, pelan.

“Kalian merasakan juga?” tanyanya.

Chu Hua mengangguk lebih dulu. “Udara rasanya... berbeda.”

“Hidungku bisa mencium bau busuk bandit dari lorong atas,” kata Hui Song dengan wajah jijik. “Padahal biasanya cuma bau debu.”

Bo De mengepalkan tangan. Otot di lengannya menegang dengan bentuk yang lebih tebal daripada sebelumnya. “Tenagaku juga berubah.”

Shou Wei menatap. “Warisannya berhasil.”

Tidak ada yang bersorak. Tidak ada yang memuji langit. Mereka semua terlalu terbiasa dengan penderitaan untuk mempercayai keajaiban dengan mudah. Namun jauh di dalam diam itu, ada sesuatu yang sama-sama mereka pahami.

Mereka bukan lagi anak-anak biasa.

Tak lama kemudian, bunyi gong dari goa utama mengguncang lorong.

Pagi telah dimulai.

Mereka saling pandang.

Mereka baru sadar jika telah tertidur begitu lama dan malam telah berlalu.

“Seperti biasa,” kata Shou Wei pelan. “Jangan tunjukkan apa pun.”

Chu Hua dan Bo De pergi lebih dulu. Gadis kecil itu mengambil baki kayu kosong yang semalam ia tinggalkan. Bo De memanggul keranjang dan memasang wajah masamnya yang biasa. Sebelum keluar, keduanya sempat menoleh sebentar pada Shou Wei dan Hui Song.

Bukan untuk meminta kepastian.

Melainkan untuk memastikan bahwa malam tadi benar-benar terjadi.

Lalu mereka pergi.

Shou Wei dan Hui Song mulai menggali seperti biasa, meski keduanya sadar bahwa “biasa” kini terasa palsu. Cangkul di tangan Shou Wei menjadi jauh lebih ringan. Sekali ayun, batu keras yang biasanya butuh tiga hantaman kini retak lebih dalam. Hui Song bahkan harus menahan tenaga beberapa kali karena hampir menghancurkan bongkahan terlalu besar.

Shou Wei tampak cemas."Semoga mereka tidak terjadi masalah karena tertidur disini."

Hui Song menunduk. "Jika tubuh kecil Chu Hua dicambuk maka aku bersumpah untuk membunuh semua Bandt.

Mereka bekerja dalam diam, sampai tiba-tiba.

teriakan terdengar dari goa tengah.

Bukan satu teriakan.

Banyak.

Jerit panik, raungan marah, bunyi tubuh jatuh, dan benturan keras bercampur menjadi satu. Suara itu datang begitu mendadak hingga dinding goa seolah ikut bergetar.

Hui Song langsung mengangkat kepala. “Itu bukan hukuman biasa.”

Terbayang siksaan yang di lakukan para bandit kepada Chu Hua dan Bo De.

Shou Wei menjatuhkan cangkul dan berlari ke lorong. Hui Song mengikuti di belakang.

Semakin dekat ke goa tengah, bau darah makin tajam. Para pekerja paksa yang biasa menunduk kini berhamburan ke sudut-sudut, meringkuk, menjerit, atau justru mematung karena terlalu takut untuk bergerak.

Saat Shou Wei sampai di mulut goa tengah, ia berhenti mendadak.

Tiga bandit tergeletak mati di lantai batu.

Dada yang satu remuk seperti dihantam palu raksasa. Leher yang lain terpuntir ke arah mustahil. Yang ketiga tubuhnya hangus sebagian, kulitnya menghitam dan berbau daging terbakar.

Di tengah kekacauan itu berdiri dua makhluk.

Makhluk pertama bertubuh besar, bahunya lebar, punggungnya membungkuk seperti memikul tempurung berat yang tak terlihat. Kulitnya gelap kebiruan dan dipenuhi guratan seperti sisik batu. Kedua tangannya tebal dan brutal, cukup besar untuk meremukkan kepala manusia. Wajahnya masih samar-samar mempertahankan bentuk Bo De, tetapi telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih liar.

Makhluk kedua jauh lebih ramping, namun tak kalah mengerikan. Tubuhnya tinggi dan dewasa, dengan lengan panjang, kulit di beberapa bagian tertutup bulu halus berwarna jingga keemasan. Dari punggungnya membentang sepasang sayap api yang belum sempurna, seperti bayangan burung yang terbentuk dari cahaya. Wajahnya tetap menyisakan mata tajam Chu Hua, tetapi aura yang dipancarkannya jauh lebih dingin dan berbahaya.

Shou Wei menatap mereka tanpa berkedip.

“Bo De... Chu Hua...”

Salah satu pekerja paksa di dekat dinding mengenal Shou Wei dan meraih lengannya dengan tangan gemetar. “Mereka berubah! Bandit marah karena dua anak itu datang terlambat. Mereka dipukul... lalu... lalu jadi monster!”

Seorang bandit yang masih hidup mengayunkan kapak ke arah Bo De dengan teriakan kasar. Bo De, atau makhluk Xuanwu itu, bahkan tidak mundur. Kapak itu menghantam bahunya dan hanya meninggalkan bunyi berat seperti logam mengenai batu. Sesaat kemudian, Bo De menangkap kepala bandit itu dengan satu tangan dan menghantamkannya ke dinding sampai pecah.

Di sisi lain, Chu Hua bergerak seperti kilat jingga. Seorang bandit baru sempat mengangkat cambuk saat tubuhnya sudah diterjang dari samping. Cakar-cakar api merobek perutnya, dan pria itu jatuh sambil menjerit sebelum suaranya putus.

Para bandit mulai mundur.

Anak-anak pekerja paksa yang lain menatap dengan mata liar, antara takut dan kagum. Tak seorang pun pernah membayangkan akan melihat para penyiksa mereka jatuh seperti rumput kering.

“Shou Wei!” teriak Hui Song.

Dua bandit ternyata datang dari sisi kanan, menyeret tombak pendek. Salah satu menyerang Hui Song lebih dulu. Pemuda itu menangkis dengan cangkul, tetapi tombak lain menyabet bahunya dan meninggalkan luka tipis.

Semuanya terjadi sangat cepat.

Begitu darah Hui Song keluar, tubuhnya membeku.

Matanya membelalak.

Lalu ia meraung.

Bukan suara manusia.

Dari dahinya tumbuh tonjolan tanduk melengkung. Otot-otot di bahunya membesar, menegangkan bajunya sampai sobek. Kedua tangannya memanjang, dan jari-jarinya berubah menjadi bilah-bilah tulang tajam seperti pedang pendek. Kulitnya mengeras dalam pola retak keemasan. Wajah Hui Song masih ada di sana, tetapi kini dibalut kemarahan liar makhluk Qilin.

Bandit yang tadi melukainya mundur dengan wajah pucat.

Terlambat.

Dalam satu gerakan, Hui Song menebas.

Bilah tulang di tangannya memotong tombak dan lengan si bandit sekaligus. Darah menyembur ke lantai. Bandit itu berteriak, namun suara itu berhenti saat Hui Song menghantam dadanya dan melemparkannya ke dua orang lain.

Shou Wei berdiri kaku sepersekian detik.

Empat nama di kitab itu berputar dalam kepalanya.

Utara—Xuanwu.

Selatan—Fenghuang.

Barat—Qilin.

Timur—Longwang.

Itu berarti...

Aku.

Seorang bandit melihat Shou Wei yang belum bergerak dan langsung menyerbu dengan cambuk besi. “Anak sialan!”

Cambuk itu meluncur ke udara. Refleks Shou Wei jauh lebih cepat daripada pikirannya. Ia mengangkat lengan untuk melindungi diri.

Cambuk mengenai kulitnya.

Rasa sakit itu ada, tetapi kecil. Sangat kecil.

Lalu sesuatu dalam darahnya bangun.

Panas melesat dari dada ke leher, dari tulang belakang ke kedua lengan. Penglihatannya menajam. Ia mendengar suara gemuruh air yang tak ada di sana, seperti sungai raksasa mengalir di balik langit. Kulit di lengannya ditutupi sisik-sisik biru kehijauan. Jari-jarinya memanjang, kukunya mengeras. Dari pelipis dan rahangnya merambat garis-garis keras seperti tanduk naga yang belum sempurna.

Shou Wei menarik napas, dan dunia berubah.

Ia bisa melihat aliran gerak lawan sebelum serangan datang.

Bisa merasakan ketakutan bandit-bandit itu seperti bau.

Bisa mendengar darah mereka memukul nadi.

Bandit yang tadi menyerangnya membeku, wajahnya pucat. “Mo-monster!”

Shou Wei melangkah.

Hanya satu langkah.

Tubuhnya sudah muncul di depan pria itu. Tangannya yang kini setengah bercakar meraih dada lawan, lalu melemparkannya ke udara. Sebelum tubuh itu jatuh, Hui Song menebas dari samping. Darah menghujani lantai.

Seluruh goa tengah berubah menjadi pembantaian.

Bo De menghancurkan garis depan para bandit seperti batu besar yang bergulir turun gunung. Chu Hua menyambar dari udara rendah dengan kecepatan gila, meninggalkan luka bakar dan robekan. Hui Song membelah apa pun yang mendekat dengan tangan pedangnya. Dan Shou Wei bergerak di antara mereka seperti bayangan naga muda—cepat, dingin, dan mematikan.

Beberapa bandit mencoba lari ke luar.

Tidak satu pun berhasil jauh.

Dalam waktu singkat, suara teriakan berganti menjadi erangan dan napas berat. Darah mengalir di sela batu, membawa debu tambang menjadi lumpur merah. Para pekerja paksa menatap dengan wajah tak percaya.

Bandit-bandit Hutan Mosenlin yang selama ini terasa seperti langit gelap di atas kepala mereka... kini mati bergelimpangan.

Satu per satu, perubahan tubuh mereka mulai surut.

Chu Hua jatuh berlutut lebih dulu, sayap apinya memudar menjadi semburat cahaya lalu hilang. Bo De terengah-engah sambil memegangi bahu kirinya, bentuk Xuanwu di tubuhnya menyusut perlahan. Hui Song masih berdiri paling tegak, tetapi tanduk dan bilah tangannya juga menghilang sedikit demi sedikit. Shou Wei sendiri merasakan sisik di lengannya surut ke bawah kulit, meski sensasi dingin naga itu belum sepenuhnya pergi.

Beberapa detik tak ada yang bicara.

Lalu Hui Song menoleh ke para pekerja paksa yang gemetar di sudut-sudut goa.

“Ambil batu roh sebanyak yang kalian bisa,” katanya keras. “Pergi dari sini. Sekarang. Sebelum orang sekte datang!”

Kalimat itu memecah kebekuan.

Anak-anak dan remaja yang selama ini dipukuli mulai bergerak seperti orang baru terbangun dari tidur panjang. Ada yang berlari ke gudang, ada yang merampas karung, ada yang menangis sambil tertawa, ada yang hanya memungut batu roh dengan tangan gemetar karena tak percaya ini nyata.

Hui Song lalu menatap tiga lainnya.

“Kita juga harus pergi,” katanya. “Tapi tidak bersama.”

Bo De mengangkat kepala. “Berpisah?”

“Kalau kita jalan satu arah, kita terlalu mencolok. Orang sekte akan mengejar. Kalau terpencar, peluang hidup lebih besar.”

Chu Hua mengangguk pelan. Matanya masih menyala dingin. “Benar.”

Hui Song menatap Shou Wei. “Jangan kembali ke tempat yang mudah ditebak. Sembunyikan dirimu. Tumbuh lebih kuat.”

Shou Wei tidak langsung menjawab. Di tengah bau darah dan kekacauan, bayangan lama tiba-tiba terlintas di kepalanya: rumah keluarga Shou yang terbakar, jerit orang-orangnya, bendera pemerintah, dan para kultivator Sekte Jiwa Pedang yang datang atas nama keadilan.

Kota Changbo.

Akar masa lalunya ada di sana.

Namun dirinya sekarang masih terlalu lemah.

Ia menatap tangan sendiri, yang beberapa saat lalu berubah menjadi cakar naga. Kekuatan ini nyata, tetapi belum matang. Belum cukup untuk menantang sekte, pemerintah, atau siapa pun yang pernah menghancurkan keluarganya.

Shou Wei mengangkat wajah.

“Aku akan pergi ke utara,” katanya pelan. “Menjauh dari negeri ini.”

Hui Song mengangguk.

Itu bukan perpisahan yang hangat. Bukan juga janji besar. Mereka berempat terlalu muda dan terlalu keras ditempa penderitaan untuk mengucapkan kata-kata indah.

Namun mereka saling memandang sekali, dan itu sudah cukup.

Malam ini, mereka lahir kembali dari darah dan batu.

Dan mulai malam ini pula, jalan mereka akan terpisah.

Di dalam diri Shou Wei, darah naga mengalir sunyi.

Ia tidak memikirkan balas dendam.

Tidak memikirkan kemarahan.

Karena di matanya, orang-orang yang pernah menginjaknya kini hanyalah makhluk kecil di bawah langit yang lebih besar.

Suatu hari nanti, saat ia berdiri cukup tinggi, semua musuh itu tak lebih dari semut.

Dan untuk mencapai hari itu, ia harus terus berjalan.

Ke utara.

Menuju kekuatan.

Menuju jalan kultivasi yang tak berpuncak.

1
Muhammad Arsyad
ini...kapan saktinya...lama amat🤭🤭
Simon Semprul
nie cerita pendekar apa misterii si thor /Gosh/
Daryus Effendi
ada b.ingrisnya jadi gak enak bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!