NovelToon NovelToon
SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

SUARA YANG KAMU TINGGALKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:137
Nilai: 5
Nama Author: hai el

Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CARA SESEORANG BERCERITA TENTANG YANG SUDAH PERGI

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka.

Arsa sudah mengantisipasinya. Sudah menyiapkan jawabannya. Atau mengira ia sudah menyiapkannya.

"Saya tidak tahu," katanya. Dan baru ketika kata-kata itu keluar ia menyadari betapa beratnya mengakui itu. "Raka menyebut nama itu sekali — hanya sekali, setahu saya — di meja makan, beberapa bulan sebelum ia pergi. Saya tidak ada di sana. Kakak saya yang cerita." Ia berhenti. "Nama itu terdengar seperti nama panggilan. Seseorang yang Raka cintai, mungkin. Tapi Raka tidak pernah cerita tentang siapa pun kepada siapa pun."

"Dan tidak ada yang mencari tahu?"

"Waktu itu kami sibuk berduka." Kalimat yang terdengar seperti pembelaan diri. Arsa tahu itu. "Kemudian waktu berlalu dan Langit menjadi salah satu dari banyak hal tentang Raka yang tidak sempat kami kenal. Dan kami belajar hidup dengan lubang-lubang itu."

Wren mengangguk pelan. Bukan anggukan yang menghakimi — anggukan yang mengerti. "Sampai podcast itu."

"Sampai podcast itu." Arsa menatapnya. "Surat-surat itu — apakah semuanya tentang Langit?"

"Semuanya ditujukan kepada Langit. Isi suratnya..." Wren mengambil napas kecil. "Tidak semuanya tentang perasaan romantis, kalau itu yang Anda maksud. Beberapa terasa seperti surat kepada teman. Beberapa terasa lebih dari itu. Tapi ada benang yang konsisten — Raka menulis kepada Langit seperti menulis kepada seseorang yang membuatnya merasa aman untuk jujur."

Seseorang yang membuatnya merasa aman untuk jujur. Arsa menyimpan kalimat itu.

"Berapa surat yang tersisa?"

"Delapan belum dibuka." Wren meletakkan tangannya di atas kotak. "Saya sudah membacakan empat. Setiap minggu satu." Ia menengadah. "Saya ingin tetap melanjutkannya — jika Anda mengizinkan. Bukan untuk konten atau angka pendengar. Tapi karena saya rasa Raka ingin kata-katanya didengar. Itulah kenapa ia menulisnya."

Arsa menatap kotak itu. Lama. "Kalau ia ingin kata-katanya didengar, kenapa tidak pernah dikirim?"

"Mungkin ia belum siap." Suara Wren pelan. "Atau mungkin ia tidak tahu caranya. Atau mungkin ia meninggal sebelum sempat memutuskan." Ia menggeser kotak itu sedikit ke arah Arsa. "Tapi kata-katanya ada. Dan ada jutaan orang yang sudah mendengarnya dan merasa sesuatu. Saya rasa itu bukan kebetulan."

Arsa menyentuh tepi kotak itu. Kayu yang halus, sedikit kusam di sudut-sudutnya. Ia bisa membayangkan Raka memilihnya — adiknya yang teliti tentang hal-hal tertentu, yang punya selera estetik yang diam-diam tapi konsisten. Kotak yang sederhana tapi tepat.

"Lanjutkan," katanya akhirnya. "Tapi saya ingin ikut. Bukan di podcast — saya tidak perlu ada di sana. Tapi saya ingin tahu setiap surat sebelum dibacakan." Ia mengangkat mata menatap Wren. "Apakah itu bisa?"

Wren menatapnya balik. Sesuatu bergerak di balik matanya — pertimbangan, mungkin, atau sesuatu yang lebih rumit dari sekadar pertimbangan.

"Bisa," katanya.

Mereka membuat kesepakatan yang aneh di atas meja kafe itu — aneh dalam artian tidak ada kontrak, tidak ada formalitas, hanya dua orang yang sampai sejam lalu adalah orang asing berbicara tentang sesuatu yang personal dengan cara yang terasa lebih natural dari yang seharusnya.

Kesepakatan intinya: Wren akan membuka satu amplop setiap minggu, dan sebelum merekamnya ia akan berbagi isinya dengan Arsa. Arsa bisa memberikan konteks — informasi tentang Raka, tentang keluarganya, tentang apapun yang mungkin relevan dengan isi surat. Wren akan menggunakan konteks itu untuk membacakan surat dengan pemahaman yang lebih dalam, tapi tidak akan mengungkapkan detail pribadi kepada pendengar.

"Dan Pak Wahyu?" tanya Wren. Ia sudah mendengar penjelasan singkat tentang proyek rekonstruksi Arsa — bagaimana Dito, bukan Raka, adalah adik yang ada dalam foto rumah sakit itu, dan bagaimana Pak Wahyu adalah ayah Dito.

"Saya masih perlu mencari tahu koneksi pastinya," kata Arsa. "Tapi saya yakin kotak ini — surat-surat ini — ada hubungannya dengan Dito. Bukan hanya karena kotak kayu yang mirip di foto, tapi karena..." ia berhenti, mencari kata yang tepat. "Cara Raka menulis tentang Langit. Ada kualitas tertentu di sana. Dan Dito — dari apa yang sudah saya ketahui tentangnya sejauh ini — terdengar seperti seseorang yang bisa menjadi Langit bagi seseorang seperti Raka."

Wren mempertimbangkan ini. "Anda belum pernah bertemu Dito?"

"Tidak. Dito dan Raka seusia — dua puluh tiga waktu keduanya pergi, selisih setahun. Kemungkinan mereka kenal di kampus atau komunitas yang sama." Arsa mengambil ponselnya, membuka sebuah foto — foto yang Ibu Sari kirimkan, foto Dito di rumah sakit. Ia memutar layar ke arah Wren. "Ini Dito."

Wren melihat foto itu. Ekspresinya tidak banyak berubah, tapi matanya bergerak dengan cara yang mengatakan ia sedang membaca lebih dari sekadar gambar.

"Ia terlihat seperti seseorang yang sudah lelah dengan sangat lama," katanya akhirnya.

Arsa menatap foto itu dari sudut yang berbeda, sudut yang diambil Wren. Seseorang yang sudah lelah dengan sangat lama. Ya. Ia tidak akan mendeskripsikannya dengan kata itu, tapi sekarang Wren menyebutkannya ia tidak bisa tidak melihatnya.

"Anda sering membaca orang dari foto?" tanyanya.

Wren menggeser ponsel kembali ke Arsa. "Saya membaca emosi. Dari suara, dari kata-kata, dari ekspresi. Ini yang saya lakukan." Ia mengangkat bahu kecil — bukan merendahkan diri, lebih seperti menjelaskan fakta. "Tidak selalu akurat. Tapi kadang."

"Pekerjaan Anda membuat Anda lebih pandai itu, atau Anda memilih pekerjaan itu karena sudah pandai?"

Pertanyaan itu keluar lebih langsung dari yang Arsa rencanakan. Semacam pertanyaan yang ia biasa tanyakan di wawancara, bukan di percakapan pertama. Tapi entah kenapa di konteks ini terasa wajar.

Wren tidak terlihat terganggu. "Dua-duanya, saya rasa. Seperti kebanyakan hal." Ia memiringkan kepala sedikit. "Pekerjaan utama saya mengisi suara audiobook. Thriller, romance, anak-anak — apapun yang ada. Suara Asing adalah yang saya lakukan untuk diri saya sendiri." Jeda kecil. "Anda juga sepertinya memilih pekerjaan karena sudah pandai melakukannya sebelum pekerjaan itu ada."

Arsa menatapnya. "Apa yang membuat Anda bilang itu?"

"Cara Anda mendengarkan saya tadi. Anda tidak hanya mendengar kata-katanya. Anda mendengar ruang di antaranya." Wren mengambil cangkir tehnya. "Itu bukan keterampilan yang dipelajari dari buku teks."

Sebelum berpisah, Wren membuka kotak kayu dan mengeluarkan amplop kelima.

"Ini yang akan saya buka minggu ini," katanya. "Mau baca sekarang?"

Arsa menatap amplop itu. Kertas kuning gading, agak kusam di tepinya. Tulisan tangan yang ia kenal dari foto-foto surat yang Wren posting di deskripsi podcastnya — tapi beda melihat foto dan melihat aslinya. Aslinya lebih kecil dari yang ia bayangkan. Lebih ringkih.

Untuk Langit — dua kata dengan huruf L yang sedikit lebih besar.

"Ya," katanya.

Wren membuka amplop dengan hati-hati menggunakan jari telunjuknya menyusuri tepi — gerakan yang terlatih, terbiasa memperlakukan kertas-kertas seperti ini. Mengeluarkan lembar surat yang dilipat tiga.

Meletakkannya di meja. Di antara mereka berdua.

Arsa membacanya.

Langit,

Aku mimpi tentangmu tadi malam.

Kita sedang di pantai yang tidak pernah aku datangi di dunia nyata — pasirnya berwarna abu-abu, langitnya menjelang sore, dan gelombangnya tidak tinggi. Kamu berdiri di tepi air dan aku duduk agak jauh di belakangmu. Kamu tidak tahu aku ada.

Dalam mimpi itu aku tidak mendekatimu. Aku hanya duduk dan melihat kamu berdiri di sana, dengan angin yang membuat rambutmu bergerak ke kiri, dan aku berpikir: ini cukup. Melihatmu dari jauh dan tahu kamu baik-baik saja — ini sudah cukup.

Lalu aku bangun dan kamu tidak ada.

Dan aku baru sadar bahwa "cukup" yang aku yakini dalam mimpi itu ternyata bohong. Atau bukan bohong — tapi setengah kebenaran yang nyaman. Karena kalau aku benar-benar cukup hanya dengan melihatmu dari jauh, aku tidak akan merasakan yang aku rasakan ketika bangun.

Aku tidak tahu cara mendekat, Langit. Bukan hanya kepadamu — kepada siapapun. Aku selalu tahu cara ada di dekat orang-orang, tapi ada dan dekat adalah dua hal yang berbeda, dan jarak antara keduanya terasa seperti lautan kadang.

Tapi aku sedang belajar.

Aku tidak tahu apakah kamu akan pernah membaca ini. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa belajar ini — untuk pertama kalinya dalam hidupku — terasa seperti sesuatu yang layak.

— Raka

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!