NovelToon NovelToon
Polisi & Dokter

Polisi & Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Action
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Akmaludd

Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.

Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.

bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Satu minggu setelah operasi penangkapan di pelabuhan, Jakarta sedang berada di puncak cuaca panasnya. Matahari seolah-olah sedang menguji kesabaran siapa saja yang berani melintasi aspal ibu kota. Bagi Alisa, satu-satunya tempat yang terasa seperti surga saat ini adalah lorong pendingin di sebuah supermarket besar di kawasan Jakarta Selatan.

"Al, lihat ini! Diskon 50% untuk skincare korea kegemaran kita," seru Fani dengan antusias, tangannya sibuk mengambil dua botol toner dari rak.

Alisa tersenyum kecil, mendorong troli yang sudah berisi beberapa kotak susu, sereal, dan kebutuhan dapur bundanya. "Kamu baru saja bilang bulan lalu mau hemat untuk cicilan mobil, Fan."

"Oh, ayolah. Ini namanya penghematan yang strategis. Beli sekarang selagi murah, itu artinya kita menabung untuk masa depan," jawab Fani dengan logika khasnya.

Alisa hanya menggelengkan kepala. Sebenarnya, ia sangat bersyukur Fani memaksanya keluar hari ini. Sejak percakapan dengan Bunda pagi itu—tentang 'sesuatu yang penting untuk masa depan'—pikiran Alisa tidak tenang. Ia merasa ada sesuatu yang besar yang sedang disiapkan bundanya, dan biasanya, itu bukan sesuatu yang memberinya banyak pilihan.

"Kamu melamun lagi?" Fani menyenggol bahu Alisa. "Masih soal Raka?"

Alisa menghela napas. "Bunda semakin keras, Fan. Tadi malam Raka menelepon, dan Bunda langsung menyuruhku mematikan ponsel. Aku merasa jahat pada Raka, tapi aku juga tidak berdaya melawan Bunda."

"Mungkin kamu butuh distraksi. Bagaimana kalau kita beli es krim besar dan menonton film di apartemenku malam ini? Kebetulan besok kita sama-sama libur shift pagi," tawar Fani.

Alisa baru saja akan setuju ketika telinganya menangkap suara gaduh dari arah pintu masuk supermarket yang tidak jauh dari tempat mereka berdiri.

Di bagian lain supermarket yang sama, Vino sedang berdiri di depan rak kopi dengan tatapan kosong. Ia sebenarnya benci belanja, tapi Maura merengek minta dibelikan bubuk kopi khusus yang hanya ada di supermarket ini sebagai imbalan karena telah mencuci motor besarnya.

Vino mengenakan kaos hitam polos yang pas di tubuh atletisnya dan celana jins gelap. Topi baseball yang ditarik agak rendah menutupi sebagian wajahnya, membuatnya tampak seperti warga sipil biasa, namun postur tubuhnya tetap memancarkan kewaspadaan seorang polisi.

Tiba-tiba, seorang pria dengan jaket hoodie lusuh berlari dengan tergesa-gesa dari arah kasir. Wajahnya pucat, keringat bercucuran, dan tangannya mendekap sebuah tas tangan wanita dengan erat.

"Copet! Tolong! Tas saya dicopet!" teriakan seorang ibu paruh baya memecah ketenangan supermarket.

Naluri Vino langsung bereaksi. Ia melepaskan kaleng kopi yang sedang dipegangnya dan mulai mengejar. Si pencopet terlihat panik. Melihat seorang pria berbadan tegap mengejarnya, ia mulai berlari serabutan, menabrak beberapa papan promosi dan pembeli yang sedang melintas.

Pencopet itu berbelok tajam ke arah lorong kosmetik—lorong tempat Alisa dan Fani sedang berdiri.

"Awas! Minggir!" teriak pencopet itu dengan kasar.

Alisa, yang posisinya sedang membelakangi arah datangnya pria itu, tidak sempat menghindar. Pencopet itu berlari dengan kecepatan tinggi dan menyenggol bahu Alisa dengan sangat keras. Tenaga dorongannya membuat Alisa kehilangan keseimbangan. Kaki Alisa tersangkut pada roda troli, dan tubuhnya limbung ke arah belakang.

"Alisa!" teriak Fani histeris melihat sahabatnya akan jatuh menghantam lantai marmer yang keras.

Alisa sudah memejamkan mata, bersiap merasakan benturan. Namun, benturan itu tidak pernah datang. Sebagai gantinya, ia merasakan sepasang lengan yang sangat kuat dan kokoh menangkap pinggangnya.

Dalam hitungan detik yang terasa seperti gerak lambat, Alisa jatuh ke dalam dekapan seseorang. Tubuhnya tertahan oleh dada yang bidang dan keras seperti batu. Wangi maskulin yang bercampur dengan aroma sabun yang segar menyeruak ke indra penciumannya.

Vino, yang tadi melompat untuk menangkap Alisa sambil tetap berusaha menjaga keseimbangannya sendiri, kini menimang tubuh gadis itu di lengannya. Ia menunduk, menatap wajah gadis yang nyaris jatuh tadi. Untuk sesaat, dunia di sekitar mereka seolah membeku. Vino terpaku melihat sepasang mata cokelat yang jernih namun menyiratkan ketakutan di depannya. Ada sesuatu yang aneh yang berdesir di dada Vino—perasaan yang sudah lama ia kunci rapat-rapat.

Alisa perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat adalah rahang tegas dan tatapan mata tajam di balik topi baseball. Pria ini tampak sangat... intens. Jantung Alisa berdegup kencang, bukan hanya karena hampir jatuh, tapi karena jarak mereka yang sangat dekat.

"Kamu tidak apa-apa?" suara berat dan rendah itu bertanya.

Alisa mengerjap, mencoba mengumpulkan kesadarannya. "I-iya... terima kasih."

Vino segera membantu Alisa berdiri tegak kembali. Begitu Alisa sudah stabil, Vino langsung melepaskan tangannya seolah-olah terkena sengatan listrik. Ia teringat tugas utamanya.

"Tetap di sini," perintah Vino singkat tanpa penjelasan lebih lanjut. Ia kembali berlari mengejar pencopet yang sudah hampir mencapai pintu keluar samping.

Fani segera menghampiri Alisa. "Al! Kamu oke? Ya Tuhan, hampir saja kamu gegar otak. Tapi tunggu... siapa pria tadi? Dia keren sekali! Seperti di film-film aksi! Ganteng banget loh al" ucap Fani meleyot.

Alisa masih memegang bahunya yang terasa sedikit nyeri bekas sengatan pencopet tadi. Matanya masih mengikuti arah perginya pria asing itu. "Aku tidak tahu, Fan. Tapi dia... dia sangat cepat."

Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, Vino kembali muncul dari arah pintu samping. Ia menyeret pencopet tadi dengan satu tangan yang terkunci di belakang punggung si pelaku, sementara tangan lainnya memegang tas yang dicuri. Beberapa petugas keamanan supermarket segera berlari menyambutnya.

"Serahkan ke polisi terdekat. Saya sudah menghubungi rekan saya di wilayah ini," kata Vino kepada kepala keamanan dengan nada dingin dan profesional. Ia memberikan kartu identitas kepolisiannya sekilas.

Setelah urusan itu selesai, Vino bermaksud pergi. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat Alisa masih berdiri di sana, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.

Vino melangkah mendekat. Alisa mendongak, merasa terintimidasi oleh tinggi badan pria itu.

"Apa ada yang terluka?" tanya Vino, kali ini sedikit lebih lembut, meski wajahnya tetap kaku.

"Hanya... sedikit kaget. Terima kasih banyak, Pak...?" Alisa menggantung kalimatnya, berharap pria itu menyebutkan namanya.

Vino hanya mengangguk singkat. "Lain kali lebih waspada. Jakarta sedang tidak aman."

Tanpa menyebutkan nama, tanpa menoleh lagi, Vino berbalik dan pergi menuju kasir untuk membayar bubuk kopi Maura yang sempat ia ambil kembali. Ia tidak ingin berlama-lama. Ada sesuatu tentang tatapan gadis itu yang membuatnya merasa tidak nyaman—dalam artian yang tidak biasa.

"Wah, wajah ganteng tapi sombong sekali ya?" gumam Fani sambil memandangi punggung Vino. "Tapi tampan sekali, Al. Tipe-tipe bad boy tapi pahlawan. Sayang dia tidak minta nomor teleponmu."

Alisa hanya tersenyum tipis, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih belum stabil. "Sudahlah, Fan. Dia cuma orang lewat. Ayo kita bayar, aku ingin cepat pulang."

Namun, di dalam hatinya, Alisa tidak bisa melupakan rasa aman yang sesaat ia rasakan di dalam pelukan pria asing itu. Sebuah rasa aman yang bahkan belum pernah ia dapatkan dari Raka.

Satu minggu berlalu sejak insiden di supermarket. Bagi Vino, kejadian itu sudah ia kubur di bawah tumpukan berkas kasus kriminal. Namun, bagi keluarganya, ini adalah minggu yang menentukan.

Di rumah keluarga Narendra, Mama Sari sedang sibuk menyiapkan pakaian terbaik untuk suaminya dan Vino. Hari ini adalah hari Minggu, hari yang sudah disepakati untuk pertemuan besar.

"Vino! Cepat pakai kemeja batik yang Mama siapkan di kasurmu! Jangan pakai kaos oblong hitam terus!" teriak Mama Sari dari lantai bawah.

Vino mendesah frustrasi di kamarnya. Ia berdiri di depan cermin, menatap kemeja batik bermotif elegan yang tampak terlalu rapi untuk seleranya. "Ma, apa ini benar-benar harus? Saya bisa cari sendiri kalau Mama mau saya menikah," protes Vino saat turun ke bawah.

"Kamu sudah bilang begitu sejak dua tahun lalu, Bang, tapi hasilnya nol besar," Maura menimpali sambil mengoleskan lipstik tipis. Ia juga ikut serta, mengenakan dress sopan yang cantik. "Sudah, ikut saja. Mama bilang calonnya dokter, lho. Cantik, pintar, dan yang paling penting, Bundanya teman baik Mama dan Papa."

Papa Hendra keluar dari kamarnya dengan setelan rapi. "Vino, ini bukan hanya soal perjodohan. Ini soal menyambung silaturahmi yang sempat terputus. Ayah gadis itu adalah sahabat baik Papa dulu saat masih bertugas. Setelah dia meninggal, kami kehilangan kontak dengan keluarganya. Baru sekarang kami berhasil menemukan mereka lagi."

Vino terdiam. Jika menyangkut kehormatan sahabat ayahnya, ia tidak bisa membantah. "Baiklah. Tapi saya tidak janji akan langsung setuju."

"Lihat saja dulu orangnya, Bang. Siapa tahu kamu langsung 'klepek-klepek'," goda Maura dengan menyenggol lengan kekar Abangnya.

Di tempat lain, suasana di rumah Alisa jauh lebih tegang. Alisa duduk di depan meja riasnya, menatap pantulan dirinya yang sudah dirias tipis oleh Fani yang sengaja datang untuk membantu—sekaligus memberi dukungan moral.

"Al, kamu cantik sekali pakai kebaya modern warna sage ini," puji Fani.

Alisa hanya menatap kosong ke cermin. "Aku merasa seperti sedang menuju tiang gantungan, Fan. Aku sudah mencoba bicara lagi pada Bunda semalam, tapi Bunda malah menangis dan bilang ini adalah wasiat tidak tertulis dari Ayah. Bagaimana mungkin aku menolak wasiat Ayah?"

Fani memeluk bahu sahabatnya. "Dengar, Al. Kalau nanti pria itu ternyata sangat buruk, aku akan membantumu kabur. Tapi kalau dia oke... coba buka hatimu sedikit. Kamu tahu sendiri, hubunganmu dengan Raka juga jalan di tempat karena restu Bunda yang mustahil didapat."

Pintu kamar terbuka, dan Bunda Ratna masuk dengan wajah berseri-seri. "Alisa, sudah siap? Keluarga Pak Hendra sudah dalam perjalanan. Mereka akan sampai sepuluh menit lagi."

Bunda Ratna menghampiri Alisa dan mengelus rambutnya. "Percayalah pada Bunda, Nak. Davino itu anak yang baik. Dia polisi, sama seperti Ayahmu dulu. Dia pasti bisa menjagamu seperti Ayah menjagamu."

Mendengar kata 'polisi', Alisa sedikit tersentak. Entah kenapa, pikirannya langsung melayang pada pria di supermarket minggu lalu. Ah, tidak mungkin. Jakarta itu luas, pikirnya menepis kemungkinan itu.

Suara deru mobil terdengar di depan pagar rumah. Jantung Alisa serasa merosot ke perut.

"Mereka sudah sampai! Ayo turun," ajak Bunda Ratna dengan antusias.

Alisa menarik napas panjang, menguatkan hatinya, dan mulai melangkah turun. Di ruang tamu, ia melihat beberapa orang sudah berdiri. Ada seorang pria paruh baya yang tampak gagah, seorang ibu yang terlihat sangat ramah, dan seorang gadis muda yang tampak seumuran dengannya.

Namun, perhatian Alisa langsung tertuju pada pria yang berdiri paling belakang, agak tersembunyi di balik bayangan pintu. Pria itu mengenakan kemeja batik gelap, tubuhnya tinggi tegap, dan wajahnya...

Vino mendongak saat merasakan kehadiran seseorang. Matanya bertemu dengan mata Alisa yang sedang menuruni tangga.

Keduanya terpaku di tempat.

"Kamu?!" ucap mereka hampir bersamaan, meski dalam volume yang sangat rendah.

Mama Sari menoleh dengan heran. "Lho, kalian sudah saling kenal?"

Maura, yang berdiri di samping Vino, langsung membelalakkan mata. Ia mengenali tatapan kakaknya. "Wah, jangan bilang ini yang namanya jodoh sebelum bertemu!"

Vino berdehem, berusaha mengembalikan ekspresi datarnya meskipun batinnya sedang bergejolak. Gadis yang ia selamatkan minggu lalu, gadis yang matanya menghantuinya selama beberapa malam terakhir, sekarang berdiri di depannya sebagai calon istrinya.

Alisa merasa lututnya lemas. Pria kasar namun heroik di supermarket itu adalah Davino Narendra. Pria yang akan dijodohkan dengannya.

"Vino, Alisa, silakan duduk," suara Papa Hendra memecah kecanggungan. "Sepertinya semesta memang sudah mengatur pertemuan kalian lebih awal."

Malam itu, di ruang tamu yang hangat di pinggiran Jakarta, pembahasan tentang perjodohan resmi dimulai. Di antara aroma teh melati dan kue-kue pasar, dua jiwa yang penuh luka dan rahasia itu dipaksa untuk duduk berdampingan, merancang masa depan yang tidak pernah mereka minta, namun mungkin sangat mereka butuhkan.

Vino melirik Alisa dari sudut matanya. Alisa tertunduk, meremas jemarinya sendiri.

Jadi, ini dokter pilihan Bunda? batin Vino.

Jadi, ini polisi pilihan Bunda? batin Alisa.

Satu minggu lagi, kehidupan mereka tidak akan pernah sama lagi.

Bersambung

1
Rian Moontero
mampiiirr/Bye-Bye/👍👍
Akmaluddin: makasih kak, jangan lupa like kaka👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!