Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Kuali Merah dan Bayangan di Balik Jubah
Gunung adalah sangkar es yang sunyi, sedangkan kota di bawahnya adalah kuali raksasa yang mendidih oleh keserakahan manusia.
Kota Kabut Merah terletak tepat di kaki pegunungan Sekte Langit Berkabut. Kota ini bukanlah tempat bernaung bagi para bangsawan berdasi sutra, melainkan titik kumpul bagi para tentara bayaran, pemburu liar, dan kultivator pengembara yang mengais rezeki dari sisa-sisa gunung. Udara di sini tidak berbau dupa cendana yang sakral, melainkan campuran tajam antara keringat kuda, arak beras murahan, dan darah kering dari besi berkarat.
Matahari baru saja sepenggalah ketika sesosok siluet berjalan melewati gerbang kayu kota yang lapuk.
Itu adalah Shen Yuan.
Ia memegang selembar plakat kayu kusam berukirkan kata 'Izin Turun Gunung'—sebuah hak bulanan bagi murid pelayan untuk membeli kebutuhan pribadi. Namun, begitu ia berbelok ke sebuah gang sempit yang diapit oleh kedai tuak dan pandai besi, identitasnya sebagai 'pelayan nomor tujuh' menguap bersama angin.
Shen Yuan membeli sebuah jubah hitam tebal dan topi bambu dengan cadar kain hitam dari seorang pedagang kaki lima tua seharga beberapa keping tembaga. Ia masuk ke balik tumpukan jerami di belakang kedai, lalu mengenakan pakaian itu.
Ketika ia melangkah keluar dari gang, postur tubuhnya yang tadinya membungkuk telah berubah sepenuhnya. Punggungnya tegak bagaikan tombak. Langkah kakinya yang biasanya terseret kini menjadi seringan hembusan napas—sebuah aplikasi pasif dari Langkah Penghancur Bayangan. Ia bukan lagi anjing pelataran; ia adalah hantu tanpa nama.
Di punggungnya, terkalung sebuah karung kain kasar yang terlihat cukup padat.
Logika Shen Yuan selalu bekerja dua langkah di depan. Selama dua bulan terakhir di Hutan Pinus Hitam, ia tidak menelan setiap binatang buas yang ia bunuh. Jika ia melakukan itu, ia hanya akan mendapatkan abu. Ia secara khusus menyisihkan waktu untuk memburu sepuluh ekor Serigala Iblis Salju dan dua ekor Beruang Batu menggunakan kekuatan fisik murninya. Ia menguliti mereka dengan rapi, mengambil inti binatang buas mereka, dan menyimpannya di balik gubuk jeraminya.
Hari ini adalah hari panen.
Shen Yuan berjalan menyusuri jalanan berbatu yang becek oleh salju yang mencair, mengabaikan tatapan liar para tentara bayaran di sekitarnya. Tujuannya hanya satu: Paviliun Bulan Sabit.
Bangunan itu tidak mencolok, terhimpit di antara toko obat dan rumah bordil. Namun bagi mereka yang mengerti jalanan, Paviliun Bulan Sabit adalah pasar gelap paling aman dan paling kaya di Kota Kabut Merah. Mereka tidak pernah menanyakan asal usul barang, dan mereka tidak pernah menjual nama pelanggan. Tentu saja, harga keheningan itu dibayar dengan potongan komisi yang mencekik.
Lonceng angin di atas pintu bergemerincing pelan saat Shen Yuan melangkah masuk.
Ruangan di dalam terasa hangat, diterangi oleh lampion-lampion minyak berbau harum. Di balik meja kayu jati yang panjang, seorang pria paruh baya dengan kumis tipis dan kacamata kristal bundar sedang menggosok sebuah cawan tembaga. Pria itu, Penilai Kuang, melirik sekilas dari balik kacamatanya.
"Selamat datang, Tuan. Menjual atau membeli?" suara Penilai Kuang meluncur licin, matanya dengan cepat memindai aura pelanggannya. Namun, ia mengerutkan dahi. Jubah hitam itu entah terbuat dari apa, atau pelanggan ini memiliki teknik penyembunyi aura yang sangat tinggi, karena ia sama sekali tidak bisa merasakan fluktuasi Qi dari orang di depannya.
Shen Yuan tidak menjawab. Ia melangkah maju, melepaskan karung kain dari punggungnya, dan meletakkannya di atas meja jati dengan suara bruk yang berat.
"Menjual," ucap Shen Yuan. Suaranya ditekan hingga terdengar serak, berat, dan jauh lebih tua dari usia aslinya. "Hitung dengan cepat. Aku tidak punya banyak waktu."
Penilai Kuang tersenyum profesional. Ia membuka ikatan karung tersebut. Namun, saat melihat isinya, senyum di wajahnya sedikit menegang.
Ia mengeluarkan selembar kulit Serigala Iblis Salju. Putih bersih, tanpa sepercik pun noda darah, dan yang paling mengejutkan... utuh. Tidak ada bekas sayatan pedang, tidak ada lubang tusukan tombak.
Penilai Kuang mengambil kaca pembesarnya, memeriksa bagian dalam kulit tersebut dengan teliti. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya.
"Ini... luar biasa," gumam Penilai Kuang tanpa sadar. "Tulang rusuk hancur berkeping-keping, organ dalam berubah menjadi bubur, tapi kulit luarnya sama sekali tidak robek. Mati karena hantaman tumpul yang sangat presisi dan mematikan. Tuan... apakah Anda membunuh serigala ini hanya dengan... tangan kosong?"
Di balik cadar hitamnya, mata Shen Yuan tetap datar. "Paviliun Bulan Sabit seharusnya menghitung harga, bukan bertanya tentang caraku berburu."
Kalimat itu diucapkan dengan nada dingin, diiringi seutas aura membunuh setipis rambut yang sengaja dibocorkan dari Benih Hitam di Dantian-nya.
Aura purba yang berat dan liar itu menyapu wajah Penilai Kuang selama sepersekian detik. Pria paruh baya itu tersentak mundur, jantungnya seolah diremas oleh tangan tak kasat mata. Ia segera menundukkan kepalanya, tidak berani lagi mencoba memancing informasi. Kesimpulannya sudah bulat: pria berjubah hitam ini adalah seorang Master Penempa Tubuh tingkat tinggi yang sangat berbahaya.
"M-Maafkan kelancangan saya, Tuan. Ini murni kekaguman profesional," ucap Penilai Kuang, buru-buru mengeluarkan sempoa dari bawah meja. Jari-jarinya bergerak lincah menghitung. "Sepuluh lembar kulit Serigala utuh, dua kulit Beruang Batu, dan dua belas inti binatang tingkat menengah. Kulit yang utuh seperti ini sangat langka dan dihargai tinggi oleh para penjahit jubah pelindung di ibu kota."
"Totalnya," potong Shen Yuan, tidak peduli dengan basa-basi pasar.
"Seratus lima puluh keping Batu Roh Tingkat Rendah, Tuan. Harga ini sudah sangat adil, dipotong komisi paviliun sepuluh persen."
Seratus lima puluh keping. Bagi seorang murid pelayan yang jatah bulanannya hanya tiga keping, ini adalah jumlah kekayaan yang bisa membuat mereka saling membunuh di pelataran.
Namun Shen Yuan menggelengkan kepalanya. "Aku tidak butuh tumpukan batu rendahan yang hanya akan memenuhi kantongku. Tukar semuanya dengan Batu Roh Tingkat Menengah."
Penilai Kuang terdiam sejenak. Batu Roh Tingkat Menengah memiliki kemurnian Qi seratus kali lipat lebih padat dari tingkat rendah. Nilai tukarnya di pasar memang satu banding seratus, tapi sangat jarang ada orang yang mau menukarkannya karena tingkat menengah sangat sulit dicari.
"Tuan, nilai tukar pasarnya adalah satu banding seratus. Berarti saya hanya bisa memberi Anda satu setengah keping..." Penilai Kuang ragu-ragu. "Paviliun kami bersedia menggenapkannya menjadi dua keping Batu Roh Tingkat Menengah, sebagai bentuk niat baik untuk transaksi jangka panjang dengan ahli seperti Anda."
Shen Yuan mengangguk pelan. "Sepakat."
Penilai Kuang bergegas menuju brankas besi di belakang ruangan, dan kembali membawa sebuah kotak kayu cendana kecil. Saat kotak itu dibuka, dua keping batu kristal sebesar telur puyuh memancarkan cahaya biru yang sangat pekat dan jernih. Bahkan tanpa menyentuhnya, Shen Yuan bisa merasakan energi spiritual yang kental menguar ke udara, membuat pori-pori kulitnya terbuka dengan rakus.
Ini adalah katalis yang ia butuhkan. Binatang buas memberikan energi yang liar untuk menyembuhkan luka dan menstabilkan fondasi. Namun untuk mendobrak penghalang Lapisan Keenam, ia butuh energi alam yang murni dan stabil seperti ini, agar tidak ada cacat di jalur meridiannya.
Shen Yuan menutup kotak itu, memasukkannya ke dalam saku jubahnya yang terdalam.
"Kerja sama yang menyenangkan," ucap Shen Yuan serak, berbalik menuju pintu keluar.
"T-Tuan!" Penilai Kuang tiba-tiba memanggil, membuat langkah Shen Yuan terhenti. "Tiga bulan lagi... Sekte Langit Berkabut akan mengadakan Ujian Evaluasi Sekte Luar. Jika Anda kebetulan memiliki barang-barang langka atau pil perangsang Qi, harga pasar akan melonjak dua kali lipat minggu depan. Paviliun kami akan selalu menyambut Anda."
Shen Yuan tidak menoleh. Ia hanya mengangkat tangannya sedikit sebagai tanda mengerti, lalu mendorong pintu kayu itu, menghilang ke dalam lautan manusia di Kota Kabut Merah.
Begitu pintu tertutup, lutut Penilai Kuang langsung lemas. Ia duduk tersungkur di kursinya, menyeka keringat dingin di dahinya.
Dari balik tirai bambu di sudut ruangan, sesosok wanita berpakaian sutra merah menyala melangkah keluar secara perlahan. Tangan lentiknya memegang sebuah pipa tembakau emas berukir naga.
"Nyonya," Penilai Kuang buru-buru berdiri dan menunduk hormat.
Wanita itu menghembuskan asap tipis beraroma mawar, matanya yang tajam menatap ke arah pintu keluar tempat Shen Yuan baru saja menghilang. "Sangat menarik. Di era di mana semua orang berlomba menelan pil dan berlatih pedang terbang, masih ada orang gila yang menyiksa dirinya di jalur Penempaan Tubuh Ekstrem. Serangan mematikan tanpa merusak kulit luar... Bahkan tetua Sekte Langit Berkabut pun akan kesulitan melakukannya tanpa membocorkan fluktuasi Qi."
"Apakah kita perlu mengirim lalat untuk membuntutinya, Nyonya?" tanya Penilai Kuang hati-hati.
Wanita bersutra merah itu tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti lonceng perak yang dingin. "Jangan bertindak bodoh, Kuang. Kau mengirim penguntit pada monster yang mengoyak beruang dengan tangan kosong? Itu sama saja dengan membuang nyawa anak buahku. Biarkan saja. Jika dia kembali, berikan dia harga terbaik. Angin badai sedang berkumpul di gunung itu, dan aku punya firasat pria berjubah hitam ini adalah matanya."
Di luar sana, Shen Yuan tidak tahu bahwa ia baru saja masuk ke dalam radar seorang penguasa pasar gelap. Namun, bahkan jika ia tahu, ia tidak akan peduli.
Ia berjalan menyusuri jalan pinggiran kota, melepaskan jubah hitamnya dan membakarnya di sebuah tungku sampah yang apinya menyala redup. Ia menaburkan sedikit abu ke wajahnya, kembali membungkukkan punggungnya, dan melangkah kembali ke jalan setapak menanjak menuju Puncak Pedang Patah.
Dua keping Batu Roh Tingkat Menengah di sakunya terasa hangat.
Tiga bulan menuju turnamen. Lin Feng, sang jenius harimau kertas, saat ini sedang dipuja-puja di atas singgasananya. Sementara Shen Yuan, sang pelayan, baru saja mengamankan amunisi terakhirnya.
"Mari kita lihat," gumam Shen Yuan diiringi derak salju di bawah pijakannya. "Seberapa keras sebuah gunung bisa runtuh."