Novel "Cinta yang Tak Pernah Hilang" mengisahkan perjalanan Lia, seorang ibu tunggal yang mencari anak laki-laki nya Rio yang hilang karena diperdaya lembaga adopsi yang tidak resmi, hingga akhirnya menemukan dia tinggal bersama keluarga angkat Herman dan Nina di Langkat, dimana Rio membangun hubungan hangat dengan kedua keluarga, menjalani kehidupan dengan dukungan bersama, belajar serta berkembang menjadi anak yang cerdas dan penuh cinta, membuktikan bahwa keluarga tidak hanya terbatas pada darah namun pada kasih sayang yang menyatukan semua pihak dalam suka dan duka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 : MEMBANGUN JALAN BARU
Hari sudah mulai larut ketika Lia menyelesaikan pekerjaan cuciannya di rumah sakit. Udara sore masih terasa hangat dengan sedikit hembusan angin yang membawa aroma bunga dari taman dekat rumah sakit. Dia menyimpan semua alat cuci dengan hati-hati, kemudian mengambil tas kerja yang sudah dia siapkan dari malam sebelumnya. Di dalam tas itu ada beberapa baju bekas yang masih bisa digunakan, sapu tangan kecil, dan sebuah bingkai foto kecil yang selalu dia bawa kemana-mana.
“Sudah cukup kerja hari ini, Lia. Kamu pulang dulu aja ya,” kata Pak Joko dengan suara yang hangat. Dia membawa segelas air putih untuk Lia yang sudah mulai berkeringat karena cuaca yang semakin panas. “Besok ada banyak cucian lagi dari ruangan dokter lho, jadi istirahat yang cukup ya.”
Lia mengangguk dengan senyum lembut. Dia menerima gelas air putih dan meminumnya habis dalam sekejap. Tangan dia yang penuh dengan kapalan masih terasa sedikit sakit karena sering bersentuhan dengan deterjen. Dia melihat sekeliling halaman belakang rumah sakit yang sudah begitu akrab baginya selama bertahun-tahun – bak cuci besar, pohon jambu yang selalu berbuah setiap tahun, hingga tembok bata yang sudah mulai lapuk akibat hujan dan panas matahari.
“Saya mau bertanya dong, Pak Joko,” ucap Lia dengan suara lembut. “Kalau ada anak yang hilang dan akhirnya ketemu lagi sama keluarga, gimana cara membangun hubungan yang baik antara keluarga kandung dan keluarga angkatnya?”
Pak Joko terdiam sejenak sebelum menjawab. “Yang paling penting adalah cinta dan pengertian, Lia. Keluarga bukan hanya soal darah aja, tapi tentang kasih sayang yang kita berikan satu sama lain. Kalau semua pihak mau saling mengerti, pasti bisa menemukan cara yang baik buat hidup bareng.”
Lia mengangguk sambil merenungkan kata-kata Pak Joko. Dia mengambil foto kecil yang selalu ada di mejanya – tiga wajah bayi yang tertidur berdampingan. Mal dengan lekukan di bibirnya seperti Lia, Rini dengan alis yang mirip ayahnya, dan Adit dengan bintik merah kecil di punggungnya. Setiap hari dia melihat foto itu, hati selalu terasa hangat namun juga sedikit sakit karena sudah lama tidak bertemu dengan anak laki-lakinya.
“Saya selalu berdoa bisa ketemu dia lagi, Pak,” ucap Lia dengan suara sedikit getar. “Apalagi sekarang Mal dan Rini udah mulai sering nanya tentang kakaknya. Mereka pengen punya saudara yang bisa mereka ajak bermain dan belajar bareng.”
Pak Joko menepuk bahu Lia dengan lembut. “Kamu sudah usaha yang terbaik untuk mereka berdua, Lia. Cinta yang kamu kasih pada mereka tidak akan pernah hilang, bahkan kalau suatu hari kamu ketemu sama Adit lagi.”
Setelah itu, Lia mulai membersihkan mejanya yang penuh dengan deterjen dan air bekas cucian. Dia melihat ke arah jalan yang akan dilalui untuk pulang – jalanan yang sudah begitu akrab dengan semua rumah dan warga sekitarnya. Di sepanjang jalan, ada pedagang sayur yang baru mulai membuka kiosnya, tukang becak yang sedang bersiap menjemput penumpang, dan anak-anak yang sedang bermain dengan riang.
“Siang sudah, Bu Lia!” teriak suara yang akrab dari kejauhan. Lia melihat ke arah suara itu – Mal dan Rini sedang berlari cepat ke arahnya dengan tangan penuh dengan bunga dan mainan kecil. “Kita bawa kamu makanan, Bu!” kata Mal dengan senyum ceria.
Lia meraih kedua anaknya dengan pelukan erat. “Kamu berdua sudah makan belum? Bu juga bawa makanan dari rumah sakit lho.”
“Belum, kita mau makan bareng Bu,” jawab Rini dengan suara lembut. Matanya yang besar melihat foto kecil di mejanya dengan rasa ingin tahu yang mendalam. “Bu, itu kakak kita ya?”
“Ya nak, itu kakakmu Adit,” ucap Lia dengan lembut. “Dia punya bintik merah kecil di punggungnya kayak hati ya, sama kayak yang ada di bingkai foto ini.”
Mal dan Rini melihat foto itu dengan mata penuh rasa ingin tahu. “Kapan kita bisa ketemu sama Kak Adit ya, Bu?” tanya Mal dengan suara penuh harap.
“Kita akan ketemu dia suatu hari nanti, sayang,” jawab Lia dengan senyum hangat. “Yang penting kita selalu cinta satu sama lain dan berdoa agar dia selalu sehat dan bahagia.”
Setelah itu, Lia membawa kedua anaknya pulang ke kontrakan milik Bu Warsih. Udara sore sudah mulai sejuk dengan hembusan angin dari arah kebun yang tidak jauh dari rumah sakit. Di jalan pulang, mereka menyapa setiap tetangga yang sudah kenal mereka – pedagang sayur yang selalu memberi harga murah, tukang becak yang sering menawarkan tumpangan, hingga ibu-ibu yang sedang memasak di depan rumah mereka.
“Sampai jumpa, Lia! Besok kita kasih kamu sayur yang segar ya,” teriak salah satu ibu di kontrakan dengan senyum hangat.
“Terima kasih ya, Bu!” jawab Lia dengan senyum yang penuh rasa terima kasih.
Ketika sampai di kontrakan, Bu Warsih sudah menunggu dengan makanan hangat di mejanya. “Kamu sudah datang ya, Lia. Cepat aja duduk dan makan sama anak-anak,” ucapnya dengan suara ramah. “Saya sudah kasih mereka makan dulu, tapi mereka bilang pengen nunggu kamu.”
Lia duduk bersama anak-anaknya di mejanya yang sudah penuh dengan makanan hangat. Udara di kontrakan terasa hangat dengan aroma makanan dan bunga yang ditanam di halaman belakang. Mal dan Rini bercerita tentang sekolah mereka – teman baru yang mereka temui, pelajaran yang mereka suka, dan mainan baru yang mereka dapatkan dari tetangga baik hati.
“Bu, kita mau kasih kamu sesuatu,” kata Mal sambil mengambil sebuah gambar kecil yang digambarnya sendiri. Di dalamnya ada tiga anak yang sedang bermain bersama dengan senyum ceria. “Ini kita sama Kak Adit ya, Bu.”
Lia melihat gambar itu dengan mata yang berkaca-kaca. “Terima kasih banyak, sayang. Kita akan selalu bersama sama saja kan?”
“Ya Bu!” jawab kedua anaknya dengan suara penuh semangat.
Di sudut mejanya, foto kecil kembaran itu tetap terpampang dengan jelas – sebuah bukti bahwa cinta yang diberikan tidak akan pernah padam, walau harus menunggu lama dan melalui jalan yang panjang untuk bisa bersatu kembali.