Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12.Romansa & Rasa Yang Berbicara
Pagi itu, udara di GOR Kota Karasu yang luas terasa penuh dengan getaran listrik—seolah setiap molekul udara bergetar bersama dengan harapan dan ketegangan ratusan peserta yang sudah berkumpul sejak pagi. Bau pembersih lantai yang segar bercampur dengan aroma ratusan jenis bumbu yang mulai dipanaskan di berbagai stan persiapan, menciptakan paduan aroma yang kompleks namun tidak menyengat. Festival "Pesta Rasa Nusantara" babak penyisihan kategori pelajar akhirnya dimulai, dan sorot lampu halogen yang terpasang di langit-langit mulai menerangi setiap sudut ruangan dengan cahaya yang terang hingga sedikit menyilaukan.
Di tengah aula, sebuah panggung megah dengan barisan peralatan dapur stainless steel terbaru berkilauan seperti permata di bawah sinar matahari. Setiap stan dilengkapi dengan kompor profesional, lemari pendingin kecil, dan talenan yang sudah disiapkan bersih. Ren berdiri di depan stan nomor tujuh, posisinya tepat berada di seberang garis tengah dengan stan nomor satu—di mana Ryuji Asuka berdiri dengan sikap yang penuh rasa diri tinggi.
Ryuji mengenakan seragam koki putih bersih yang dipadukan dengan apron hitam bergambar logo emas Asuka Jaya, tampak seperti seorang konduktor orkestra yang siap memimpin setiap gerakan. Dikelilinginya, dua asisten bergerak dengan gerakan yang presisi namun terkesan mekanis, seolah mereka hanya bagian dari mesin besar yang dikendalikan oleh sang pemimpin.
"Ren, lihat mereka..." Hana bisik di sisinya, tangannya yang terbungkus sarung tangan plastik bening sedikit gemetar saat ia menata kembali wadah berisi potongan wortel yang sudah mereka siapkan dengan cermat kemarin sore. Di belakang mereka, kamera profesional sedang mengabadikan setiap gerakan tim Asuka, bahkan ada seseorang yang membawa papan tulis untuk mencatat setiap langkah mereka. "Mereka bahkan membawa tim dokumentasi sendiri. Seolah ini bukan kompetisi, melainkan panggung untuk mempromosikan perusahaan mereka."
Ren tidak mengalihkan pandangannya dari talenan di depannya. Ia sedang sibuk memeriksa tajamnya mata pisau gyuto miliknya dengan menyentuhnya perlahan menggunakan ujung ibu jari, gerakannya lembut seperti menyentuh kain sutra. "Jangan lihat mereka, Hana. Lihat bahan-bahan yang ada di depanmu—ikan kakap yang masih segar, serai yang masih harum, ubi ungu yang sudah matang pas." Ia mengangkat kepala sebentar, matanya menatap Hana dengan pandangan yang tenang namun penuh keyakinan. "Mereka tidak akan membantu kamu saat kompor sudah menyala dan waktu mulai berjalan cepat."
Di bangku penonton yang terletak di sisi kiri panggung, Bu Keiko duduk dengan punggung lurus dan wajah yang kaku seperti biasanya. Matanya tidak pernah lepas dari setiap gerakan Ren dan teman-temannya, tangan kanannya menggenggam selembar kertas catatan yang sudah ditulisi dengan rapi. Di sisinya, Rin duduk dengan mengenakan kaos dengan logo Ren’s Cuisine, terus melambaikan tangan dengan semangat setiap kali melihat Ren memandang ke arah mereka. Sedangkan Kudo—ayah Ren—hanya menyilangkan tangan di dadanya, wajahnya menunjukkan ekspresi netral namun mata yang tajam memperhatikan setiap detail dengan seksama seperti seorang ahli yang sedang menilai karya peserta di pameran seni.
"Waktu memasak dimulai... SEKARANG!" Suara pembawa acara yang energik menggelegar melalui pengeras suara, membuat seluruh ruangan bergema.
Seketika, ruangan yang tadinya penuh dengan bisikan murmur langsung meledak dalam simfoni suara dapur yang luar biasa. Bunyi "takk-takk-takk" pisau yang cepat menyilang talenan terdengar seperti rentetan tembakan yang teratur. Suara api yang menyala besar di bawah kompor, gelembung air yang mulai mendidih, dan suara sendok yang mengaduk bahan-bahan membentuk irama yang penuh dengan semangat. Hana bergerak cepat menyiapkan bumbu dasar—bawang merah, bawang putih, jahe, dan kunyit yang sudah dipotong kecil sesuai dengan pelatihan mereka. Sementara itu, Yuki berdiri tepat di depan panci kaldu ikan, matanya terkadang terpejam sejenak saat ia mengangkat hidungnya perlahan, mengandalkan indera penciumannya yang luar biasa untuk menangkap momen tepat saat aroma ikan dan rempah mulai mencapai titik puncaknya.
Ren mulai bergerak. Ia tidak menggunakan alat-alat canggih seperti mesin sous-vide atau pemotong laser yang digunakan oleh tim Ryuji. Ia hanya mengambil sepotong besar ikan kakap putih segar yang masih memiliki kulit berwarna keperakan cantik. Dengan satu gerakan mengalir yang hampir menyerupai tarian tradisional, ia memegang pisau dengan tangan kanannya dan membelah daging ikan itu dengan presisi yang luar biasa—tidak merusak satu serat daging pun dan dengan mudah memisahkan tulang dari dagingnya.
"Yuki, masukkan serai dan daun jeruk sekarang. Hana, kecilkan api di kompor nomor dua agar bumbunya tidak gosong sebelum harumnya keluar sempurna." Perintah Ren tidak terdengar keras, tapi suara yang rendah dan jelasnya mampu menembus kebisingan sekelas badai, memberikan jangkar emosional bagi kedua gadis itu agar tidak terjebak dalam kepanikan yang bisa datang kapan saja di kompetisi semacam ini.
Kemistri yang terbentuk di antara mereka bertiga terlihat sangat kontras dengan tim Asuka yang bekerja seperti mesin yang efisien namun dingin. Setiap gerakan tim Ren saling melengkapi—saat Hana sedang menumis bumbu, Yuki sudah siap dengan kaldu yang sudah disaring berkali-kali; saat Ren sedang membumbui ikan, Hana sudah menyiapkan bahan pelengkap dengan tepat. Saat Hana hampir menjatuhkan wadah Garam karena jantungnya berdebar terlalu cepat, Ren tanpa melihat langsung mampu menangkap pergelangan tangannya dengan lembut—sentuhan singkat yang hanya berlangsung beberapa detik namun mampu mengirimkan gelombang ketenangan ke seluruh tubuh gadis itu.
"Tenang, Hana. Rasakan irama api dan aroma bumbu di sekitar kita. Jangan biarkan kebisingan luar mengganggumu." Ren bisik dengan suara yang hanya bisa didengar Hana.
Hana mengangguk perlahan, menutup mata sebentar untuk menarik napas dalam-dalam. Setelah itu, napasnya mulai menjadi stabil dan tangannya kembali lincah seperti biasanya. Ia menambahkan sedikit garam dan gula pasir ke dalam wajan, lalu mengaduknya dengan gerakan yang teratur hingga bumbu kuning itu mengeluarkan aroma yang harum dan mulai menyebar ke seluruh sudut tribun penonton, membuat beberapa orang menoleh ke arah stan mereka dengan antusias.
Namun, tidak segala sesuatunya berjalan lancar. Di tengah proses memasak yang sudah memasuki tahap krusial, sebuah masalah tiba-tiba muncul.
Api di bawah panci kaldu yang sedang dirawat Yuki dengan penuh perhatian mendadak mengecil drastis, nyaris padam total. Uap yang tadinya banyak membubung perlahan menghilang, dan permukaan kaldu yang sudah hampir mencapai titik didih mulai kembali mendingin. Yuki sedikit panik, tangannya mulai mencari-cari tutup kompor untuk menambah api namun tidak berhasil. "Ren! Ada yang salah dengan apinya! Kaldunya belum mencapai suhu yang tepat dan aroma ikannya mulai surut!"
Ren cepat sekali melirik ke arah stan Ryuji yang berada di seberangnya. Seperti sudah menunggu momen ini, Ryuji sedang menatap mereka dengan senyuman tipis di sudut bibirnya, sambil dengan santai menyesuaikan pengaturan suhu pada mesin sous-vide yang sedang mengolah bahan mereka. Sabotase semalam mungkin telah gagal, tapi jelas saja tim Asuka masih punya cara lain untuk mengganggu persiapan mereka di hari pertandingan yang sebenarnya.
Ren tidak menghabiskan waktu untuk memanggil teknisi—ia tahu bahwa setiap detik yang terbuang bisa membuat mereka kalah. Ia cepat bergerak ke belakang meja kerja, menarik kursi kecil yang berada di sana, lalu membungkuk untuk memeriksa bagian bawah kompor. Ia melihat bahwa regulator gas terpasang dengan tidak rata dan ada sedikit penyumbatan pada katup pengaman yang membuat aliran gas tidak lancar. Dengan sentakan tangan yang kuat namun terkontrol dengan baik, ia membersihkan penyumbatan dan menyesuaikan regulator hingga posisinya tepat. Dalam sekejap, api kembali menyambar dengan nyala besar berwarna biru cerah yang sempurna untuk memasak.
"Lanjutkan saja! Kita masih punya waktu cukup banyak!" Ren seru dengan suara yang penuh semangat, membuat Hana dan Yuki kembali fokus dengan segera.
Sisa tiga puluh menit diisi dengan ketegangan murni yang membuat setiap orang yang menyaksikan tidak bisa berkedip. Ren mulai memasuki tahap plating—proses menyusun hidangan di atas piring dengan cara yang tidak hanya menarik secara visual namun juga dapat meningkatkan rasa. Ia tidak hanya menaruh makanan di atas porselen putih bersih itu; ia menyusunnya dengan hati-hati seolah sedang melukis pemandangan pantai Jayapura di sore hari. Ikan kakap yang sudah dipanggang hingga permukaannya kecoklatan keemasan diletakkan di atas hamparan puree ubi ungu yang lembut, disiram dengan kaldu kuning bening yang jernih seperti kristal dan aromanya begitu kuat hingga membuat para juri yang duduk di meja depan mulai saling berbisik dengan ekspresi yang mengesankan.
"Waktu habis! Semua peserta, angkat tangan di atas kepala!"
Suara pembawa acara sekali lagi menggelegar, dan semua gerakan di panggung berhenti seketika. Tim Ryuji adalah yang pertama menyajikan hidangannya ke meja juri—hidangan yang terlihat sangat futuristik dengan bentuk bola-bola kecil yang terbuat dari cairan yang akan meledak di lidah dengan rasa foie gras dan saus buah nanas yang dimodifikasi. Tampilan teknisnya sangat sempurna dan jelas menunjukkan penggunaan peralatan mahal yang tidak dimiliki oleh sekolah lain.
Kini giliran tim Ren. Mereka berjalan bersama-sama menuju meja juri, langkah kaki mereka tetap stabil meskipun hati mereka berdebar kencang. Hana dan Yuki berdiri di belakang Ren, wajah mereka merah karena panas dari kompor dan adrenalin yang masih mengalir deras di dalam tubuh mereka.
Juri utama—seorang pria tua dengan rambut putih yang dikenal sebagai pengkritik kuliner paling kejam dan jujur di Indonesia, Pak Bambang Sudrajat—mengambil sendok dengan sikap yang penuh rasa hormat. Ia menusuk sendoknya ke dalam kaldu kuning, lalu mencicipinya dengan perlahan. Setelah itu, ia memotong sedikit daging ikan kakap dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Segera, seluruh ruangan menjadi sangat hening—bahkan suara napas pun hampir tidak terdengar.
"Ini..." Pak Bambang meletakkan sendoknya dengan hati-hati di atas alas piring, lalu menatap Ren dengan pandangan yang berbeda dari biasanya—pandangan yang penuh dengan rasa kagum dan sedikit nostalgia. Ia kemudian melihat ke arah Hana dan Yuki yang berdiri dengan raut wajah penuh harapan. "Ini bukan sekadar masakan yang dibuat oleh pelajar. Di dalam sup ini, aku bisa merasakan rasa rindu—rindu akan masakan yang dibuat oleh tangan orang tersayang. Ada kehangatan sentuhan manusia yang tidak bisa diduplikasi oleh mesin apapun di laboratorium kuliner sekalipun."
Di kejauhan, Ryuji tampak mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih dan wajahnya menjadi sedikit kemerahan karena kemarahan yang tidak bisa ia tahan lagi. Ia tidak menyangka bahwa hidangan yang dibuat dengan alat sederhana bisa mendapatkan pujian seperti itu dari juri yang dikenal sangat sulit puas.
Pak Bambang kemudian tersenyum tipis dan mengangguk dengan tegas. "Selamat kepada Tim SMA Sakura Harapan. Kalian tidak hanya memberikan hidangan yang lezat—kalian memberikan saya sesuatu yang sudah lama hilang dari industri kuliner masa kini: kejujuran sebuah rasa yang datang dari hati."
Hana tidak bisa menahan emosinya lagi. Tanpa sadar, ia memeluk lengan Ren dengan erat, air mata kebahagiaan mulai mengalir deras di pipinya tanpa ia bisa hentikan. Yuki juga menghela napas lega, menyandarkan kepalanya ke bahu Ren sejenak sebelum segera menariknya kembali karena merasa sedikit malu, meskipun senyum bahagia di wajahnya tidak bisa disembunyikan.
Ren hanya tersenyum sedikit, namun matanya yang biasanya tenang kini menyala dengan semangat baru. Ia menatap langsung ke arah Ryuji yang kini menatapnya dengan pandangan penuh api kebencian. Ia tahu bahwa babak penyisihan ini hanya sebatas pembukaan—perang yang sesungguhnya, yang akan menentukan masa depan restoran keluarga dan martabat mereka sebagai koki, baru saja dideklarasikan secara resmi di atas meja juri yang menjadi saksi sejarah kecil mereka.