Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mak Comblang
Restoran yang dipilih untuk reuni kecil itu memiliki suasana semi-formal yang nyaman. Lady sudah menunggu di meja pojok, dan benar saja, penampilannya malam ini jauh berbeda. Rambutnya ditata wavy yang jatuh lembut di bahu, dipermanis dengan riasan wajah yang natural namun menonjolkan kecantikannya.
Begitu Alessia dan Nathaniel melangkah mendekat, Lady sempat terpaku sejenak. Namun, kejutan terbesar justru datang dari bibir Alessia.
"Haii! Ini dia kakakku, Nathaniel Luca Sinclair," kata Alessia dengan nada bangga, memperkenalkan Nathaniel kepada teman-temannya.
Nathaniel tersentak kecil. Langkahnya tertahan sedetik. Nama belakang itu, Sinclair, bukanlah nama yang tercatat di identitas resminya, meski ia sudah dianggap anak sendiri oleh William. Mendengar Alessia menyematkan nama keluarga itu di depan publik, seolah menegaskan statusnya sebagai bagian tak terpisahkan dari dinasti mereka, membuat dadanya bergemuruh aneh.
"Kak, sapa dong! Kok diam saja," bisik Alessia sambil menyenggol lengan Nathaniel pelan, menyadari kakaknya itu mendadak jadi patung.
Nathaniel berdeham, mencoba menguasai keterkejutannya. Ia memasang senyum tipis yang sopan. "Hai... saya Nathaniel. Panggil Nathan saja, atau Niel," ucapnya dengan suara bariton yang tenang.
"Oke, sekalian makan saja kita kenalannya! Aku sudah lapar sekali," seru Alessia ceria, langsung menarik kursi untuk duduk.
Sepanjang sesi awal makan malam, Lady hampir tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Nathaniel. Pria itu tampak sangat berkarisma; garis rahangnya tegas, potongan rambut comma hair yang kekinian membingkai wajah tampannya dengan sempurna.
Apalagi Nathaniel mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, mengekspos lengan bawahnya yang kokoh, sebuah tampilan yang sukses membuat Lady terkesima.
"Jadi, Kak Nathan juga kerja di Sinclair Group?" tanya Lady mencoba membuka percakapan, suaranya sedikit malu-malu.
Nathaniel mengangguk kecil sambil menyesap minumannya. "Iya, saya membantu Tuan William dan Alessia di sana."
Alessia yang sedang asyik memotong steaknya melirik ke arah Lady, lalu ke arah Nathaniel. Ia menyadari binar kekaguman di mata sahabatnya itu. Entah mengapa, ada secuil rasa tidak nyaman yang merayap di hati Alessia melihat bagaimana Lady memperhatikan Nathaniel, meski ia sendiri yang mengatur pertemuan ini.
"Lady ini desainer interior yang hebat, Kak. Siapa tahu nanti kantor Kakak perlu direnovasi," celetuk Alessia, mencoba bersikap senormal mungkin meski hatinya mendadak terasa sedikit sesak.
Nathaniel hanya tersenyum tipis, sementara Lady tampak tersipu. Di meja itu, Nathaniel tetap menjadi sosok yang paling tenang, tidak menyadari bahwa penyematan nama "Sinclair" oleh Alessia tadi telah mengubah banyak hal dalam persepsi orang-orang di sekitarnya, termasuk perasaan yang mulai tumbuh di antara mereka bertiga.
Suasana meja makan yang riuh dengan percakapan reuni itu mendadak terasa lebih hangat bagi siapa pun yang memperhatikan detail kecil di sana. Alessia, yang sedang asyik menanggapi cerita seru teman-temannya, tampak sedikit kesulitan memotong serat daging steak yang cukup tebal di piringnya. Gerakannya terhenti beberapa kali karena ia terlalu fokus bercerita.
Tanpa perlu diminta, Nathaniel yang duduk di sebelahnya langsung menghentikan makannya. Dengan sigap dan tenang, ia menukar piring mereka. Jemari tangannya yang kokoh dengan lihai memotong daging tersebut menjadi potongan-potongan kecil yang pas untuk ukuran suapan Alessia. Tak cukup sampai di situ, ia juga meraih serbet kain yang sedikit merosot dari pangkuan Alessia dan menyampirkannya kembali dengan rapi agar gaun mahal adiknya itu tidak terkena noda.
Semua itu dilakukan Nathaniel dengan wajah datar, seolah-olah merawat Alessia adalah gerak refleks yang sudah tertanam dalam sistem sarafnya.
"Tuh, lihat kan? Kak Nathan ini memang super duper perfeksionis!" seloroh Alessia sambil tertawa, ia langsung menyantap potongan daging yang sudah rapi itu tanpa rasa sungkan sedikit pun.
Lady dan teman-temannya yang lain saling berpandangan, tampak terkesima sekaligus sedikit iri melihat perlakuan manis tersebut.
"Oh ya?! Wah, jarang-jarang ada pria seperti itu. Biasanya cowok itu kan ya sudah, apa adanya saja. Makan ya makan sendiri, mana kepikiran sampai memotongkan daging atau merapikan serbet begini," tambah salah satu teman Alessia dengan nada kagum yang tak ditutup-tutupi.
Lady yang sejak tadi memperhatikan Nathaniel kini semakin terpesona. Baginya, ketampanan Nathaniel bukan hanya soal wajah, tapi soal bagaimana pria itu memberikan perhatian penuh pada detail terkecil demi kenyamanan wanita di sampingnya.
"Mungkin karena sudah terbiasa menjaga Alessia sejak dulu ya, Kak?" tanya Lady mencoba memancing interaksi lebih jauh dengan Nathaniel.
Nathaniel hanya tersenyum tipis, sebuah senyum profesional namun tetap terasa hangat. "Sudah menjadi kebiasaan. Jika ada yang berantakan atau kurang pas, rasanya tidak tenang," jawabnya singkat namun berwibawa.
Alessia mengangguk setuju, namun di dalam hatinya, ia merasakan sesuatu yang menggelitik. Ia sudah biasa diperlakukan seperti ini oleh Nathaniel selama sepuluh tahun, tapi melihat reaksi teman-temannya yang begitu memuja sang "Kakak", ia mendadak merasa ingin egois, seolah perhatian Nathaniel adalah wilayah pribadinya yang tidak boleh dicicipi orang lain.
Suasana di meja makan mendadak sedikit hening, seolah semua mata tertuju pada keberanian Lady yang terang-terangan menunjukkan ketertarikannya. Lady menatap Nathaniel dengan binar penuh harap, ponselnya sudah siap di tangan.
"Boleh aku minta nomornya?" tanya Lady, suaranya sedikit bergetar namun mantap.
Nathaniel tertegun sejenak. Ia melirik ke arah Alessia, mencari "instruksi" atau mungkin sekadar reaksi dari adiknya itu. Namun, Alessia justru memberikan anggukan kecil dengan senyum tipis yang sulit diartikan, isyarat bahwa Nathaniel harus memberikan nomornya demi kesopanan di depan teman-temannya.
Dengan gerakan yang tenang, Nathaniel menyebutkan deretan angka ponselnya. "Silakan," jawabnya singkat.
"Aku akan segera kirim pesan nanti," kata Lady dengan wajah yang merona merah, jemarinya lincah mengetik nomor tersebut. "Disimpan ya, Kak. Namaku Lady Montgomery. Jangan sampai lupa, ya?"
Nathaniel hanya mengangguk sopan sebagai formalitas. "Tentu, Lady."
Alessia kembali menyantap steaknya, namun kali ini rasanya tidak selezat tadi. Ada perasaan aneh yang mencubit dadanya saat melihat Lady begitu antusias menyimpan nomor Nathaniel. Ia sendiri yang mendorong pertemuan ini, ia sendiri yang memberi lampu hijau, tapi melihat nama "Lady Montgomery" kini bersanding di daftar kontak Nathaniel membuatnya merasa ingin menarik kembali kata-katanya.
"Wah, Lady langsung gerak cepat ya!" goda teman lainnya, membuat suasana kembali riuh.
Sepanjang sisa malam itu, Lady tampak lebih bersemangat bercerita, sesekali melontarkan pertanyaan pribadi pada Nathaniel tentang hobi atau tempat favoritnya. Nathaniel menjawab seadanya, tetap dengan gaya bicaranya yang hemat kata namun berwibawa.
Sesaat setelah mereka berpamitan dan berjalan menuju parkiran, suasana di antara Alessia dan Nathaniel mendadak terasa sedikit canggung. Angin malam bertiup cukup kencang, membuat Alessia sedikit merapatkan blazer yang ia kenakan.
———
Suasana di dalam mobil mewah itu mendadak terasa jauh lebih sempit dari ukuran aslinya. Hanya ada suara deru mesin yang halus dan pendar lampu jalanan yang sesekali menerangi wajah mereka secara bergantian.
"Kak... kok ada yang aneh sama diriku ya? Aku berharap Kakak tidak simpan nomor Lady, padahal aku sendiri yang suruh Kakak ketemu dia," ungkap Alessia, suaranya pelan namun terdengar sangat gamblang. Ia menatap ke luar jendela, seolah takut melihat reaksi Nathaniel.
Nathaniel terdiam sejenak. Tangannya yang masih memegang kemudi tampak mengencang sebentar sebelum ia melambatkan laju mobil dan menepi di bahu jalan yang sepi. Ia memutar tubuhnya, menatap Alessia yang tampak gelisah di kursi penumpang.
"Lalu kamu mau aku bagaimana, Al?" tanya Nathaniel dengan nada suara yang sangat tenang, namun menuntut kejujuran.
"Mungkin karena aku tidak siap ya, Kakak perhatian sama adik lain selain aku," tambah Alessia lagi. Ia akhirnya menoleh, menatap Nathaniel dengan tatapan yang jujur dan rapuh. "Aku terbiasa menjadi satu-satunya yang Kakak urusi. Melihat Kakak memberikan nomor ponsel pada Lady... rasanya seperti ada sesuatu yang dicuri dariku."
Nathaniel tidak langsung menjawab. Ia justru mendekatkan dirinya ke arah Alessia, melanggar batas ruang pribadi mereka. Jarak mereka kini begitu dekat hingga Alessia bisa merasakan hembusan napas Nathaniel yang hangat di permukaan kulitnya.
"Kalau kamu tidak suka, aku tidak akan lakukan," ujar Nathaniel tegas. Matanya yang berwarna cokelat gelap menatap tajam ke dalam manik mata Alessia, memancarkan kesungguhan yang tak terbantahkan.
"Aku memberikan nomor itu karena kamu yang memintanya. Jika bagimu itu sebuah kesalahan, maka itu tidak akan pernah menjadi prioritas bagiku."
Alessia terpaku, tak mampu memalingkan wajah. Ia menatap mata kakaknya itu, cokelat gelap yang dalam dan sangat memesona. Alis tebal Nathaniel yang tertata rapi menambah kesan maskulin yang kuat di wajahnya. Dalam hati, Alessia mengakui: Jelas saja Lady suka. Siapa pun wanita yang memiliki mata, pasti akan tertarik pada pria di depannya ini.
"Kakak serius?" bisik Alessia, suaranya nyaris hilang.
"Sejak kapan aku pernah bercanda soal permintaanmu?" Nathaniel mengulurkan tangan, jemarinya mengusap dagu Alessia dengan sangat lembut sebelum kembali ke kemudi. "Jika kamu ingin aku hanya menjadi 'kakak' untukmu, maka dunia luar tidak akan mendapatkan bagian dariku."
Pernyataan itu terasa seperti janji yang mengikat. Alessia merasakan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Ada rasa puas yang egois sekaligus ketakutan yang mendalam; ia senang Nathaniel memprioritaskannya, namun ia juga sadar bahwa ikatan di antara mereka kini sudah jauh melampaui sekadar hubungan saudara angkat.
Nathaniel kembali menjalankan mobilnya dengan perlahan, membiarkan keheningan malam yang menenangkan mengisi kabin. Senyum tipis terukir di wajahnya saat mendengar nada suara Alessia yang mendadak berubah menjadi ceria.
"Ah, tapi kalau Ayah tahu aku menghalangi Kakak dekat dengan perempuan lain, aku pasti akan segera dicarikan jodoh lagi," ungkap Alessia, ada sedikit nada khawatir dalam suaranya. Ia membayangkan daftar pria-pria kaku pilihan ayahnya yang mungkin sudah mengantre di meja kerja William.
Nathaniel melirik sekilas dari balik kemudi, matanya berkilat penuh keyakinan. "Tenang saja, Al. Siapa pun pria yang mendekatimu, jodohmu sudah pasti harus melalui seleksiku dulu," kata Nathaniel dengan nada protektif yang tak terbantahkan.
"Benarkah?! Wah! Kalau begitu Kakak akan selalu ada di pihakku, kan?" ujar Alessia senang. Ia menyandarkan punggungnya di jok kulit yang empuk, merasa seolah baru saja mendapatkan tameng paling kuat di dunia. Baginya, selama Nathaniel yang memegang "kunci" seleksi itu, ia merasa aman karena ia tahu standar Nathaniel akan sangat tinggi, mungkin terlalu tinggi untuk pria mana pun.
Nathaniel hanya bergumam mengiyakan, namun dalam hati ia mengulangi kalimat itu sebagai janji pada dirinya sendiri. Tentu saja harus melaluiku, batinnya. Ia tidak akan membiarkan sembarang pria menyentuh dunia yang telah ia jaga dengan seluruh keringat dan air matanya selama sepuluh tahun ini.
"Tapi Kak," panggil Alessia lagi, suaranya kini terdengar lebih jahil. "Bagaimana kalau kriteriamu terlalu sulit? Bagaimana kalau tidak ada pria yang lulus seleksimu?"
Nathaniel menghentikan mobil tepat di depan lobi kediaman Sinclair. Ia mematikan mesin, lalu menoleh ke arah Alessia dengan tatapan yang sulit diartikan, sebuah tatapan yang lebih dari sekadar seorang kakak.
"Kalau tidak ada yang lulus, berarti memang tidak ada yang cukup pantas untukmu," jawab Nathaniel rendah. "Dan jika itu terjadi, aku tidak keberatan jika harus terus menjagamu sampai kapan pun."
Alessia terdiam, merasakan desiran aneh di dadanya. Ia tidak tahu apakah itu sebuah janji perlindungan atau sebuah pengakuan terselubung bahwa Nathaniel tidak benar-benar ingin menyerahkannya pada siapa pun.