Penyatuan dua dinasti bisnis raksasa melalui pernikahan mendadak Fank Manafe dan Renata Batistuta memaksa Ezzvaro dan Gabriel terjebak dalam satu atap sebagai saudara tiri.
Namun, di balik status formal itu, tersimpan sejarah kelam: mereka adalah mantan kekasih yang berpisah dengan luka menganga akibat pengkhianatan dan kecemburuan fatal tiga tahun lalu.
Ketika gairah terlarang dan dendam masa lalu mulai membakar batasan moral, mereka terseret ke dalam konspirasi bisnis yang berbahaya.
Di tengah desingan peluru dan pengkhianatan keluarga, Ezzvaro harus memilih antara melindungi wanita yang paling ia benci atau membiarkan dunia menghancurkannya.
Di dunia di mana "cinta adalah kelemahan dan kekuasaan adalah segalanya," kelebihan/melampaui batas akan memaksa mereka menghadapi pilihan tersulit: bersatu dalam kehancuran atau saling menghancurkan demi bertahan hidup 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35
Malam di London selalu punya dua wajah: kemegahan yang dingin dan kegelapan yang menjebak. Di kediaman utama Manafe-Batistuta, suasana terasa sepi karena Ezzvaro dan Gabriel sedang menghadiri konferensi bisnis di Zurich. Zendaya berdiri di depan cermin raksasa kamarnya, mematut gaun silk slip berwarna sampanye yang melekat sempurna di tubuhnya.
"Kak, kau benar-benar mau pergi?" suara berat remaja terdengar dari ambang pintu.
Zendaya menoleh, melihat Lionel yang bersandar di bingkai pintu dengan tatapan cemas. "Mommy dan Daddy tidak ada di rumah, Kak. Sebaiknya kau di sini saja. Firasatku tidak enak."
Zendaya mendengus kecil sambil memoleskan lipstik merah darah. "Jangan jadi polisi moral, Lionel. Kakak sudah ada janji dengan Cristin dan Blora. Hanya sebentar, aku akan pulang cepat. Kau tidurlah lebih awal, kerjakan tugas analisismu itu."
Lionel menghela napas, tahu bahwa keras kepala kakaknya adalah warisan mutlak dari ayah mereka. "Baiklah. Hati-hati, jangan sampai pulang terlalu larut. Dan tolong, hindari paparazzi saat kau kembali. Aku tidak mau besok pagi melihat wajahmu di tabloid Daily Mail lagi."
"Ssst... serahkan pada kakakmu yang cantik ini," sahut Zendaya sambil mengedipkan mata, menyambar tas kecilnya dan melenggang pergi.
Klub malam The Vault adalah pusat dekadensi kaum elit. Musik techno berdentum rendah, menggetarkan lantai dansa yang penuh sesak. Di sofa VIP yang tersembunyi, Zendaya duduk dengan anggun, membiarkan Cristin dan Blora berpesta dengan botol-botol champagne mahal.
"Oh, ayolah Zen! Malam ini malam kebebasanmu. Kenapa masih memesan jus jeruk?" Cristin tertawa melengking, menunjuk gelas berisi cairan oranye di depan Zendaya. "Kau seperti anak sekolah yang tersesat di sarang serigala."
Zendaya tersenyum tipis, mengangkat bahunya. "Aku butuh kesadaran penuh untuk melihat kalian mempermalukan diri sendiri di lantai dansa nanti."
Namun, Zendaya tidak menyadari bahwa di balik kegelapan bar, seseorang telah mengawasi gelas itu sejak tadi. Di tengah kerumunan, Lucas Leiva berdiri dengan topi yang ditarik rendah, memberikan kode pada seorang pelayan. Tanpa sepengetahuan Zendaya, jus jeruk yang ia anggap aman itu telah dicampur dengan zat sintetis yang tidak berasa—obat perangsang dosis tinggi yang dirancang untuk melumpuhkan logika dan membakar saraf sensorik.
Hanya butuh sepuluh menit setelah tegukan terakhir.
Zendaya mulai merasa suhu ruangan meningkat drastis. Kepalanya berdenyut, dan tiba-tiba, lampu-lampu klub yang berkelap-kelip terasa seperti menusuk matanya. Pandangannya mengabur. Tubuhnya terasa panas membara, sebuah sensasi asing yang membuatnya kehilangan kendali atas otot-ototnya.
"Aku... aku harus ke toilet," bisiknya parau pada kedua temannya yang sudah terlalu mabuk untuk peduli.
Zendaya berjalan terhuyung-huyung. Di lorong yang remang menuju area privat, sebuah tangan kekar menangkap pinggangnya. Zendaya ingin berteriak, ingin menepis, namun zat itu sudah bekerja sepenuhnya. Ia hanya bisa merasakan aroma parfum maskulin yang tajam sebelum semuanya berubah menjadi hitam.
...****************...
Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui tirai otomatis yang perlahan terbuka, menyinari sebuah penthouse mewah yang asing.
Zendaya mengerang, kelopak matanya terasa sangat berat, seolah direkatkan oleh lem. Saat ia akhirnya berhasil membuka mata, hal pertama yang ia rasakan adalah hawa dingin yang kontras dengan rasa panas yang masih tersisa di nadinya. Ia terbangun di atas ranjang king size dengan sprei sutra putih yang kini tampak berantakan.
Ia masih mengenakan gaun sampanyenya, namun gaun itu sudah kusut dan tertarik ke atas hingga ke pinggulnya.
"Di mana... aku?" bisiknya dengan suara yang hilang.
Zendaya mencoba duduk, namun seketika sebuah rasa sakit yang tajam dan luar biasa menyerang bagian bawah tubuhnya. Ia meringis, memegangi perut bawahnya yang terasa kram dan perih. Ia menunduk melihat tubuhnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat bercak-bercak merah—bekas gigitan dan lebam di sepanjang leher, bahu, dan pahanya.
Dengan tangan gemetar, Zendaya meraba ke bawah gaunnya. Napasnya tercekat.
Underwear-nya hilang.
Ia turun dari ranjang dengan kaki yang lemas seperti jelly. Saat kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin, ia menoleh kembali ke arah ranjang. Di sana, di atas sprei putih yang bersih itu, terdapat bercak darah—sebuah tanda bisu dari sebuah paksaan atau kejadian yang melampaui batas.
"Oh tidak... tidak, tidak, tidak..." Zendaya menutup mulutnya dengan tangan, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya yang pucat.
Ia mencari di sekeliling ruangan yang luas itu. Tidak ada siapa-siapa. Kamar ini terlalu maskulin, terlalu dingin, dan terlalu asing. Ia melihat ke arah meja rias, namun tidak menemukan celana dalamnya di mana pun. Pikirannya kacau balau, memori semalam hanya menyisakan potongan-potongan gambar kabur tentang jus jeruk, lorong gelap, dan rasa sakit yang menghantamnya berkali-kali.
"Apa aku diperkosa?" isaknya pecah. "Siapa... siapa yang tidur denganku?"
Zendaya merangkul tubuhnya sendiri, merasa kotor dan hancur di saat yang bersamaan. Harga dirinya yang selama ini setinggi langit runtuh menjadi debu. Ia teringat wajah ayahnya, Ezzvaro, dan ibunya, Gabriel. Bagaimana ia akan menatap mereka? Bagaimana ia akan menjelaskan bahwa putri kesayangan mereka telah ternoda di sebuah tempat yang ia pun tidak tahu namanya?
"Daddy... aku hancur, Dad..." gumamnya di tengah tangis yang semakin histeris. "Siapa yang melakukan ini? Kenapa kepalaku tidak bisa mengingat apa-apa?"
Zendaya mencoba berdiri tegak meski rasa sakit di bagian bawahnya membuatnya ingin pingsan. Ia harus keluar dari tempat terkutuk ini. Namun, saat ia melangkah menuju pintu keluar, matanya menangkap sebuah benda di atas nakas samping tempat tidur.
Sebuah kalung. Bukan kalung miliknya.
Itu adalah sebuah kalung rantai besi—ia teringat ini rantai anjing yang sama dengan yang dipakai oleh pria bernama Dare di mobil Lucas waktu itu.
Darah Zendaya mendidih, bercampur dengan ketakutan yang luar biasa. Apakah ini rencana Rex? Apakah ini balasan atas jari tengah yang ia berikan di lapangan kemarin? Jika benar, maka ini bukan lagi sekadar pembullyan sekolah. Ini adalah penghancuran hidup yang nyata.
Zendaya menyambar mantel yang tergeletak di sofa, menutupi tubuhnya yang hancur, dan melangkah keluar dengan tatapan mata yang memerah—bukan hanya karena tangis, tapi karena benih dendam yang kini tumbuh di atas reruntuhan harga dirinya.
🌷🌷🌷