NovelToon NovelToon
Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Huang Shen: Penguasa Seratus Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di Alam Bawah Sembilan Langit, hanya satu hukum yang berlaku, yaitu yang kuat berkuasa, sedangkan yang lemah akan mati.

Seorang pemuda enam belas tahun membuktikannya setiap hari. Yatim piatu sejak Sekte Iblis membantai desanya empat tahun lalu, hidupnya kini hanya memungut ampas pil di selokan dan tidur di kolong jembatan. Setiap hari direndahkan, dipukuli, dianggap sampah oleh para kultivator.

Sampai suatu malam, ketika sekarat di selokan setelah dipukuli hampir mati, sebuah warisan kuno terbangun di dadanya.

Gerbang Iblis dalam Darah. Peninggalan dari 66.000 tahun lalu yang memberinya kemampuan mengerikan untuk menyerap darah musuh demi memulihkan luka dan menaikkan level kultivasi.

Dari pemulung jadi pemburu. Dari korban jadi ancaman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Harga Sebuah Kekuatan

Tiga hari sejak Gerbang terbuka, dan Huang Shen sudah tidak mengenali dirinya sendiri di pantulan air.

Bukan karena matanya yang masih menyala merah di momen-momen tertentu. Bukan karena tangannya yang kini lebih kuat dari yang pernah dia bayangkan. Melainkan karena dia tidak lagi merasakan penyesalan apapun saat mengingat preman Hong mati di bawah kepalan tangannya. Tidak ada rasa bersalah apalagi rasa takut. Yang ada hanya kepuasan dingin yang menempel di dada seperti lapisan es nan tipis.

“Kau berbeda dari tiga hari yang lalu, Tuanku,” dengus suara dari dalam dadanya.

Huang Shen mengepalkan tangan, merasakan Qi berputar di setiap ruas jarinya. “Aku hanya jadi lebih jujur pada diri sendiri.”

“Menarik. Kebanyakan orang pertama membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai pada kesimpulan itu.”

“Aku memang bukan kebanyakan orang yang kau maksud.”

Suara itu tidak menjawab. Tapi Huang Shen menangkap sesuatu seperti persetujuan dalam keheningan yang menyusul.

Adapun hari ini, ada urusan yang sudah tertunda cukup lama. Bao Cheng, pedagang pil palsu di Distrik Pedagang, masih bernapas. Huang Shen sudah merencanakan ini semalaman. Kali ini dia tidak ingin terburu-buru. Bao Cheng harus tahu dulu kenapa dia mati.

Toko “Pil Keajaiban Tuan Bao” terletak di sudut Jalan Perak, diapit dua toko yang lebih besar dan lebih terhormat. Plang kayunya masih mengkilap, dicat emas murahan yang mengelupas di sudut-sudutnya. Di balik etalase kaca berdebu, berjejer botol-botol berisi pil berwarna-warni yang sebagian besar tidak lebih berguna dari kerikil sungai.

Huang Shen mengintai dari celah atap rumah kosong di seberang.

Tatkala pintu toko terbuka dengan keras, alisnya sedikit terangkat.

Seorang wanita keluar. Usianya sekitar dua puluh delapan, mengenakan gaun abu-abu yang bersih kendati sederhana. Rambutnya disanggul rapi, tapi beberapa helai terlepas, menandakan dia baru saja terlibat perdebatan sengit. Di tangannya tergenggam selembar kertas kontrak yang sudah diremas.

Di belakangnya, Bao Cheng berteriak dari ambang pintu. Lelaki gemuk itu merah padam wajahnya.

“Kontrak sudah ditandatangani, Nyonya Mu! Hutang almarhum suamimu tetap hutangmu! Kau punya waktu tiga hari sebelum aku bawa masalah ini ke Asosiasi Pedagang!”

“Kontrak itu cacat!” tampik wanita itu, suaranya tegas kendati matanya menyiratkan amarah yang ditahan keras-keras. “Suamiku tidak pernah menerima pil yang kau klaim sudah dikirim!”

“Lalu mana buktinya?” cibir Bao Cheng. “Kau pikir kata-kata janda miskin lebih berharga dari tanda tangan di atas kertas? Lebih baik kau menikah denganku saja untuk menebusnya.”

Wanita itu, yang rupanya bernama Mu Qingxue, mengepalkan kertas kontrak itu sampai buku-buku jarinya memutih. Lalu dia berbalik dan melangkah pergi dengan kepala tegak.

Sementara Bao Cheng menyemburkan ludah ke arah punggungnya. Lalu menoleh ke dua lelaki berbadan besar yang berdiri di sisi pintu. Huang Shen tidak bisa mendengar kata-katanya, tapi melihat gerakan bibir Bao Cheng dan anggukan dua preman itu sudah cukup.

Mereka tentu saja mengikuti wanita itu.

Huang Shen mengalihkan pandangan ke pintu toko yang kini tertutup.

Bao Cheng sendirian di dalam. Tapi dua preman itu menghalangi jalur tercepat ke pintu depan.

Maka kaki Huang Shen mulai bergerak, bukan ke arah wanita itu, melainkan memotong melalui gang sempit di sisi selatan toko untuk mencari pintu belakang. Gang itu tembus ke lorong yang sama di mana dua preman menggiring wanita tadi ke sudut yang lebih gelap.

Huang Shen melihatnya dari kejauhan. Wanita itu sudah terpojok di antara tong-tong sampah dan dinding batu. Satu preman memegang bahunya, yang lain memotong jalan mundurnya. Wajah wanita itu pucat, tapi dagunya masih terangkat.

Masalahnya Huang Shen sejatinya tidak mempedulikannya.

Yang menghalangi jalannya adalah preman pertama yang berdiri tepat di lintasan yang perlu dia lewati.

Satu langkah. Dua langkah. Preman itu akhirnya menoleh. “Hei, mau ke mana kau, bocah—”

Huang Shen lebih dulu menggenggam tenggorokan lelaki itu dan mendorongnya ke dinding dengan satu gerakan. Qi merah mengalir dari telapak tangannya. Preman itu tidak sempat berteriak. Matanya terbalik, lalu diam setelah lehernya remuk.

Darah meresap ke dalam kulit Huang Shen, tipis tapi terasa.

Preman kedua melihat ini. Wajahnya berubah dari mengancam menjadi pucat pasi dalam hitungan detik. Dia melepaskan bahu wanita itu dan berlari tanpa menoleh.

Wanita itu terpaku sebentar. Huang Shen merasakan pandangannya seperti merasa ada cahaya dari sisi, tapi dia tidak menoleh. Langkahnya lurus ke pintu belakang toko Bao Cheng.

Di belakangnya, terdengar suara langkah cepat wanita itu menjauh.

Sementara Bao Cheng sedang asik menghitung koin di meja belakang saat Huang Shen masuk melalui pintu belakang yang tidak terkunci.

Lelaki gemuk itu lantas mendongak. Matanya menyipit. “Siapa kau? Toko sudah tutup dari belakang, pergi sebelum aku… .”

“Bao Cheng.” Huang Shen berdiri di tengah ruangan yang dipenuhi rak-rak berisi botol pil. “Tiga tahun lalu. Tiga butir pil Pemurnian Qi kelas tiga seharga setengah bulan penghasilanku, dan hasilnya tidak lebih dari dua hari keram perut.”

Setelah membisu cukup lama, Bao Cheng akhirnya tertawa pendek. “Kau… kau itu bocah pemulung? Yang dulu datang balik minta uang dikembalikan?” Decaknya bernada mengejek. “Sudah tiga tahun, rupanya kau masih ingat saja.”

“Aku ingat semuanya,” tutur Huang Shen lagi-lagi bernada datar. “Setiap orang. Setiap hal. Semuanya.”

Bao Cheng hanya berdiri di sana saat tangannya bergerak ke bawah meja. “Aku punya koneksi dengan Wang Teng. Kau mau masalah? Pergi sekarang dan—”

“Wang Teng.” Huang Shen mengulangi nama itu. Catatannya dalam kepala bertambah satu. “Terima kasih sudah mengingatkan.”

Tinju Darah Penghancur Batu menghantam dada Bao Cheng sebelum tangan lelaki itu sempat menarik senjata dari bawah meja.

Bao Cheng terpental ke rak belakang. Botol-botol pil jatuh berhamburan di lantai. Dia mencoba merangkak, mulutnya mengeluarkan suara antara teriakan dan erangan.

“Kau… iblis… .” cetus Bao Cheng, matanya melebar menatap mata Huang Shen yang mulai menyala merah. “Kau apa…?”

“Aku hanya mengambil yang menjadi hakku,” tukas Huang Shen.

Pukulan kedua pun mengakhiri semuanya.

Alhasil, darah yang mengalir dari Bao Cheng mulai bergerak ke arah Huang Shen, diserap melalui telapak kaki dan tangan. Lebih banyak dari preman Hong. Gerbang di dadanya menyala lebih terang dari biasanya.

Pemurnian Qi: Tingkat Lima.

Lalu sesuatu pecah di dalam kepalanya seperti ada seseorang yang memutar isi kepalanya dengan kedua tangan. Huang Shen memegang rak yang masih berdiri untuk menopang tubuhnya. Matanya yang merah tidak mau kembali ke warna normal, malah makin pekat, dan penglihatannya bergelombang.

“Apa ini?” desaknya dalam batin.

“Darah kotor,” sahut suara dari Gerbang, lebih serius dari biasanya. “Bao Cheng menyerap terlalu banyak pil berkualitas rendah selama hidupnya. Darahnya penuh racun kecil yang tertumpuk dan tubuhmu belum cukup kuat untuk menyaringnya.”

“Kenapa tidak kau peringatkan lebih awal?”

“Aku bukan pelayanmu, Tuanku.”

Huang Shen memaksa dirinya keluar melalui pintu belakang. Satu langkah, dua langkah, tiga langkah. Gang belakang terasa berputar. Hingga kakinya tidak lagi mau bekerja sama dengan otaknya, dan sebelum dia bisa memilih tempat yang lebih baik, lutut kanannya lebih dulu menyentuh tanah.

Lalu sisinya membentur dinding batu dan dia meluncur ke bawah sebelum langkah kaki yang ringan dan ragu-ragu itu terdengar. Huang Shen mencoba membuka matanya, tapi kelopaknya terasa seperti diisi pasir basah.

Sesuatu yang dingin pun menyentuh bibirnya. Itu Air dingin dan bersih.

Dia membuka matanya dengan susah payah.

Wajah wanita itu. Mu Qingxue. Dari dekat, wajahnya terlihat lebih dewasa dari yang awalnya Huang Shen perkirakan, dengan garis-garis halus di sudut matanya yang menandakan seseorang yang sudah sering menahan banyak hal. Tapi matanya tajam, dan sekarang penuh dengan keraguan yang jujur.

“Syukurlah kau masih hidup,” cetusnya, lebih kepada dirinya sendiri.

Huang Shen ingin menjawab, akan tetapi yang keluar hanyalah suara parau yang tidak jelas, lalu matanya menutup sendiri.

Suara terakhir yang dia dengar sebelum kesadaran benar-benar pergi adalah wanita itu berbisik, setengah bertanya pada dirinya sendiri.

“Siapa kau sebenarnya?”

1
black_rose
Thor mau nanya levelnya kok gk ditampil?
DanaBrekker: Memang di novel ini sengaja aku buat bertahap penjelasan kultivasinya, mengikuti perjalanan Huang Shen 😄

Tapi kalau mau lihat urutan lengkapnya bisa lihat di bawah ini ;

1. Pemurnian Qi
2. Pembentukan Dasar
3. Inti Emas
4. Jiwa Baru
5. Pembentuk Jiwa
6. Transformasi Jiwa
7. Manusia Abadi
8. Emas Keabadian
9. Keabadian Agung
10. Dewa Purba
11. Puncak Keabadian

Huang Shen saat ini di Inti Emas level 8. Terima kasih atas pertanyaannya. 👍
total 1 replies
Tonton Sitohang
lanjutkan updet terus mase. mantap jiwa
DanaBrekker: Terima kasih atas dukungannya 👍
total 1 replies
Kecoa Laut
apakah ini tipe cerita yang mc-nya langsung op?
DanaBrekker: tipe Xianxia gelap dan tokoh utamanya memang op sejak awal, kelanjutannya belum tentu 😄
total 1 replies
Bg Gofar
manteb gan
DanaBrekker: Terima kasih 👍
total 1 replies
MuhFaza
menariknya novel ini sejauh yang aku baca ada sisi gelap dari fantasi timur, malah lebih mirip genre horor menurutku
Kecoa Laut: horor dengan bumbu ehem2 lebih tepatnya 🤭
total 2 replies
YunArdiYasha
coba baca karya bru. semangat
DanaBrekker: Terima kasih semoga menghibur 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!