NovelToon NovelToon
Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Nikah Rahasia: Jing Vs Sinting

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

​“Eh, Jing! Sini lu!”
“Apaan sih, Sin? Dasar Sinting!”
​Di kantor, Jingga dan Sinta adalah musuh bebuyutan yang hobi cakar-cakaran. Namun di balik meja kerja, mereka menyimpan satu rahasia besar: Sebuah Buku Nikah.
​Terjebak perjodohan kolot, mereka terpaksa menikah secara rahasia dengan tiga aturan maut:
​Tetap jadi musuh di kantor.
​Jangan campuri urusan kekasih masing-masing.
​Dilarang jatuh cinta!
​Sanggupkah mereka menjaga rahasia saat cemburu mulai terasa lebih nyata daripada sekadar kontrak di atas kertas?
​"Pernikahan ini cuma bisnis, tapi kok gue pengen pecat pacar lu sekarang juga, ya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tanggung Jawab Rumah Tangga

Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden apartemen lantai dua belas itu tidak membawa kehangatan yang biasanya dinikmati Sinta. Sebaliknya, cahaya itu justru mempertegas debu-debu yang mulai menumpuk di rak TV dan tumpukan kotak sereal kosong di atas meja makan. Setelah kejadian dramatis di dalam mobil Adrian kemarin malam, suasana di dalam apartemen terasa sangat canggung. Jingga dan Sinta seperti dua kutub magnet yang sama-sama menolak untuk saling bersentuhan, bahkan sekadar bertukar pandang saat berpapasan di lorong menuju kamar mandi.

Namun, ketenangan semu itu hancur berantakan tepat pukul delapan pagi ketika ponsel mereka berdua berbunyi hampir bersamaan. Sebuah panggilan video grup masuk. Nama kontaknya: “Keluarga Besar Bahagia”.

Sinta menghela napas panjang, menatap layar ponselnya dengan ngeri. Ia melirik Jingga yang baru saja keluar dari kamar dengan rambut acak-acakan dan hanya mengenakan kaos kutang putih serta celana pendek longgar.

"Jingga! Cepat pakai baju yang bener! Mama sama Papa telepon!" bisik Sinta panik.

Jingga mendengus, namun ia segera menyambar kemeja kantor yang digantung di kursi makan dan memakainya tanpa dikancingkan. Sinta menekan tombol terima. Di layar ponsel, muncullah wajah Jeng Lastri yang sudah dandan rapi dan Ayah Sinta, Pak Baskoro, yang tampak sedang menyeruput kopi di beranda rumahnya di Yogyakarta.

"Selamat pagi, Anak-Anakku!" seru Jeng Lastri dengan suara melengking yang seketika membuat nyawa Sinta terkumpul penuh. "Gimana kabarnya? Masih sehat kan setelah kejadian... eh, kejadian di Bogor kemarin?"

Sinta berdehem, melirik Jingga yang kini duduk di sampingnya dengan wajah "siap tempur". "Sehat, Ma. Aman kok."

"Aman apanya?" Pak Baskoro memotong dari layar sebelah. "Ayah dengar dari Jeng Lastri, kalian di sana masih kayak orang asing. Sinta, Ayah perhatikan laporan mutasi rekening yang Ayah bantu pantau, kok uang belanja bulanan kamu masih utuh? Kamu nggak masak buat suamimu?"

Sinta terperanjat. Ia lupa kalau ayahnya, sang pensiunan auditor bank, masih punya akses untuk memantau kedisiplinan finansialnya. "Bukan gitu, Yah. Kami... kami kan sibuk di kantor. Sering makan di luar."

"Makan di luar itu boros!" sahut Jeng Lastri tak mau kalah. "Jingga, Mama mau tanya. Tagihan listrik dan air bulan ini siapa yang bayar? Terus uang kebersihan lingkungan apartemen gimana? Kalian sudah bagi tugas belum?"

Jingga mengusap wajahnya yang masih mengantuk. "Belum, Ma. Biasanya ya siapa yang ingat aja yang bayar."

"Nah! Itu dia masalahnya!" Jeng Lastri menepuk meja di seberang sana. "Pernikahan itu bukan cuma soal cinta-cintaan—yang Mama lihat juga belum ada di antara kalian—tapi soal manajemen. Kalian itu satu unit ekonomi sekarang. Kalau manajemennya berantakan, rumah tangga kalian bakal ambruk sebelum cicilan apartemen lunas!"

Pak Baskoro mengangguk setuju. "Ayah dan Jeng Lastri sudah sepakat. Mulai hari ini, kalian harus buat laporan keuangan rumah tangga. Bagi tugas siapa yang belanja, siapa yang bayar tagihan, dan siapa yang bersih-bersih. Ayah nggak mau dengar Sinta jajan terus, dan Ayah nggak mau lihat Jingga malas-malasan soal urusan rumah."

"Tapi Yah—"

"Nggak ada tapi-tapi! Minggu depan Mama mau lihat buku catatan keuangan kalian. Dan ingat, kalau kalian nggak bisa kompak urus rumah, Mama bakal sering-sering sidak ke sana!" ancam Jeng Lastri sebelum akhirnya memutus panggilan video secara sepihak.

Hening.

Sinta dan Jingga saling pandang selama beberapa detik sebelum akhirnya sama-sama membuang muka. Suasana apartemen yang tadinya sunyi kini terasa berat oleh beban instruksi orang tua mereka.

"Lu denger kan?" tanya Sinta memecah keheningan. Ia mengambil selembar kertas dan pulpen dari tas kerjanya. "Kita harus bagi tugas. Gue nggak mau Mama atau Ayah datang ke sini cuma buat marahin gue soal lantai yang berdebu atau tagihan listrik yang telat."

Jingga menarik kursi makan dan duduk di depan Sinta. "Oke. Lu mau gimana?"

"Kita mulai dari pengeluaran," Sinta mulai mencoret-coret kertas. "Listrik, air, internet, iuran lingkungan, dan laundry. Totalnya bisa sekitar tiga sampai empat juta sebulan. Gue mau kita bagi dua rata."

Jingga menyipitkan mata. "Gue setuju bagi dua. Tapi soal laundry, gue keberatan. Gue lebih suka cuci baju sendiri pakai mesin cuci di belakang. Gue nggak suka baju gue dicampur sama punya orang lain."

"Ya udah, kalau gitu lu cuci baju lu sendiri, gue cuci punya gue sendiri. Tapi deterjen dan pewangi kita patungan," balas Sinta tegas. "Terus soal makanan. Ayah protes karena gue jarang masak. Mulai besok, kita harus belanja mingguan. Gue yang masak, lu yang cuci piring. Deal?"

Jingga tampak berpikir sejenak. Bayangan tumpukan piring kotor di wastafel membuatnya bergidik, namun membayangkan Sinta yang biasanya hanya bisa menyeduh mi instan tiba-tiba harus masak, membuatnya ragu. "Lu yakin bisa masak? Terakhir kali lu nyoba goreng telur aja, teflonnya gosong."

Sinta melotot. "Itu karena gue lagi kepikiran revisi kredit dari Pak Adrian! Sekarang gue bakal serius. Pokoknya gue masak, lu cuci piring. Titik."

"Oke, deal," jawab Jingga pendek. "Tapi ada satu lagi. Kebersihan apartemen. Gue nggak mau lu naruh handuk basah di atas kasur atau ninggalin kapas pembersih muka di meja rias. Itu jorok, Sin."

"Gue juga nggak mau lu ninggalin kaus kaki bekas di ruang tamu, Jingga! Bau!" balas Sinta tak mau kalah.

Diskusi itu berlanjut selama hampir satu jam. Untuk pertama kalinya sejak mereka dipaksa menikah tiga bulan lalu, mereka berbicara seperti dua orang dewasa yang sedang menegosiasikan kontrak bisnis, bukan seperti sepasang musuh yang sedang gencatan senjata. Ada sesuatu yang pragmatis namun intim dalam cara mereka membahas detail-detail sepele seperti merek sabun cuci piring atau jadwal membuang sampah.

"Ini daftarnya," Sinta menyodorkan kertas yang penuh dengan coretan. "Total pengeluaran tetap kita bagi dua. Uang belanja mingguan kita masukin ke satu amplop, siapa pun yang ke supermarket, pakai uang itu. Jangan ada yang pakai uang pribadi buat urusan bersama kalau nggak darurat."

Jingga membaca daftar itu dengan teliti. "Oke. Soal tagihan listrik, biar gue yang urus lewat aplikasi biar nggak telat. Lu urus tagihan air dan iuran lingkungan."

"Sepakat," gumam Sinta. Ia merasa sedikit lega. Setidaknya sekarang ada struktur dalam kekacauan hidupnya. Namun, rasa lega itu hanya bertahan sesaat sebelum ia teringat sesuatu. "Jingga, soal... soal kejadian kemarin malam di mobil. Kita harus tetap profesional di kantor. Jangan sampai gara-gara kita bagi tugas rumah, lu jadi makin berani ikut-ikutan urusan gue sama Mas Adrian."

Ekspresi Jingga yang tadinya sudah sedikit melunak langsung berubah menjadi kaku kembali. Ia berdiri dari kursi, merapikan kemejanya yang belum dikancingkan. "Urusan rumah tangga ini cuma buat menenangkan orang tua kita, Sin. Di kantor, lu tetap pacarnya Pak Adrian, dan gue tetap orang asing bagi lu. Lu nggak usah khawatir."

Jingga berjalan menuju kamar untuk bersiap-siap berangkat, namun langkahnya terhenti di ambang pintu. "Tapi ingat satu hal. Jangan bawa urusan kantor ke rumah. Kalau lu mau kencan sama dia, pastikan bau parfumnya nggak nempel di baju lu pas lu pulang ke sini. Gue nggak mau udara di apartemen gue terkontaminasi."

Sinta menggigit bibir, ingin membalas namun kata-katanya tertahan di tenggorokan. Ia melihat punggung Jingga yang menghilang di balik pintu kamar. Mengapa setiap kali mereka mulai bisa berkomunikasi secara normal, pembicaraan itu selalu diakhiri dengan luka kecil yang menyakitkan?

Sore harinya, sesuai dengan kesepakatan baru mereka, Sinta pulang lebih awal untuk mampir ke supermarket. Ia membeli sayuran, daging ayam, dan beberapa bumbu dapur dasar. Ia merasa aneh membawa kantong belanjaan yang isinya bukan sekadar makanan siap saji atau camilan. Di kasir, ia mengeluarkan amplop bertuliskan "Uang Bersama" yang baru saja mereka buat tadi pagi. Ada rasa tanggung jawab yang asing menyusup di dadanya.

Sesampainya di apartemen, ia mendapati Jingga sedang berlutut di depan mesin cuci, tampak sedang bergelut dengan kabel yang melilit.

"Ngapain lu?" tanya Sinta sambil menaruh belanjaan di dapur.

"Mesin cucinya bunyi aneh. Mungkin ada kancing baju lu yang nyangkut di dalam," gerutu Jingga tanpa menoleh. Wajahnya berkeringat, dan ada noda minyak di tangannya.

Sinta memperhatikan pria itu. Jingga yang ketus, Jingga yang sombong di kantor, sekarang sedang sibuk memperbaiki mesin cuci agar baju-baju mereka bisa bersih. Sesuatu di dalam diri Sinta melunak. Ia mengambil selembar tisu basah dan mendekati Jingga.

"Nih, lap tangan lu. Biar gue yang panggil tukang besok kalau emang rusak," ucap Sinta sambil menyodorkan tisu.

Jingga menatap tisu itu, lalu menatap Sinta. Untuk sesaat, tidak ada ejekan di matanya. Hanya ada kelelahan yang sama. "Nggak usah. Udah bener kok. Cuma selangnya aja yang kegencet."

Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka makan malam bersama di satu meja dengan makanan yang dimasak sendiri—meski hanya tumis kangkung dan ayam goreng yang sedikit terlalu asin. Mereka makan dalam diam, namun diam kali ini terasa berbeda. Bukan diam yang penuh permusuhan, melainkan diam yang dipenuhi dengan kesadaran bahwa mereka kini benar-benar sedang berbagi hidup.

Setelah makan, tanpa disuruh, Jingga membawa piring-piring kotor ke wastafel. Suara dentingan piring dan kucuran air menjadi latar suara Sinta yang sedang merapikan daftar belanjaan untuk minggu depan.

"Sinta," panggil Jingga pelan dari arah wastafel.

"Ya?"

"Deterjennya habis. Masukin ke daftar belanja minggu depan," ucapnya datar.

Sinta tersenyum tipis, sebuah senyum yang tak terlihat oleh Jingga. "Udah gue masukin dari tadi. Lu tenang aja."

Di balik jendela apartemen, hujan kembali turun membasahi Jakarta. Di dalam ruangan sempit itu, dua orang yang terpaksa bersatu itu mulai belajar bahwa tanggung jawab rumah tangga bukan hanya soal angka dan tagihan, tapi tentang bagaimana menoleransi kehadiran satu sama lain di tengah kekacauan dunia. Namun, mereka juga tahu bahwa di luar sana, di bawah lampu-lampu kantor yang dingin, sandiwara besar mereka masih menanti untuk dilanjutkan. Dan entah sampai kapan benteng pertahanan itu bisa bertahan sebelum akhirnya runtuh oleh kenyataan yang mereka bangun di dapur kecil ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!