Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Udara subuh yang menusuk tulang menyelimuti pelataran parkir apartemen saat mobil SUV mewah Adrian membelah kegelapan menuju jalur Puncak.
Di dalam kabin, suasana hening hanya diisi oleh suara mesin yang halus dan embusan hawa dingin dari AC yang merayap di sela-sela jok kulit.
Liana, yang harus bangun pukul 03.00 pagi demi persiapan rias, tampak sangat kelelahan.
Kepalanya bersandar lemas pada kaca jendela yang berembun, sementara naskah di pangkuannya hampir merosot jatuh.
Tubuh mungilnya sedikit meringkuk, mencoba menghalau rasa dingin yang mulai menembus jaket tipisnya.
Adrian melirik sekilas ke samping. Ia melihat bahu Liana yang sedikit gemetar.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan yang berkabut, tangan kirinya meraih sebuah selimut wol tebal berwarna abu-abu dari kursi belakang.
Dengan gerakan yang sangat pelan—seolah takut memecahkan keheningan pagi itu—Adrian menyampirkan selimut itu ke tubuh Liana.
Ia merapikan ujungnya hingga menutupi dada gadis itu, memastikan tidak ada celah udara dingin yang masuk.
Tepat saat tangan Adrian menjauh, bibir Liana bergerak sedikit. Ia mengigau dalam tidurnya yang lelap.
"Dasar buaya..." gumam Liana dengan suara serak yang hampir tidak terdengar.
Gerakan tangan Adrian terhenti di udara. Ia tertegun sejenak, lalu sebuah senyum kecil yang tulus tersungging di bibirnya.
Ia menggelengkan kepalanya pelan, merasa lucu karena bahkan dalam mimpinya pun, Liana masih menganggapnya sebagai pria hidung belang yang berbahaya.
"Tidur yang nyenyak, Gadis Pasar. Kamu butuh banyak tenaga untuk menghadapi kabut Puncak nanti," bisik Adrian sangat pelan.
Adrian kembali fokus menyetir, namun kali ini ia sengaja menurunkan kecepatan mobilnya agar perjalanan terasa lebih tenang, membiarkan Liana menikmati mimpi tentang "buaya" yang kini justru sedang menjaganya dengan penuh kelembutan.
Mobil berhenti perlahan di sebuah tanjakan tersembunyi yang menghadap langsung ke arah lembah.
Kabut tipis menyelimuti pepohonan pinus, menciptakan suasana yang sunyi dan sakral.
Adrian mematikan mesin, lalu menoleh ke samping, menatap wajah lelap Liana yang masih terbungkus selimut wol.
"Liana, bangun. Kita sudah sampai," bisik Adrian lembut sambil menyentuh bahu gadis itu.
Liana mengerjap-ngerjap, nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.
Ia mengucek matanya dan melihat jam di dasbor. "Sudah sampai, Pak? Kru yang lain mana?"
"Kita sengaja berangkat lebih awal. Ayo turun, aku ingin menunjukkan sesuatu sebelum para kru datang dan merusak suasana ini dengan kabel-kabel mereka," ajak Adrian.
Liana mengangguk patuh, meski kakinya masih sedikit lemas.
Begitu keluar dari mobil, udara dingin Puncak langsung menyergap kulitnya.
Di ufuk timur, garis cahaya keemasan mulai membelah kegelapan langit, mengubah warna biru pekat menjadi jingga yang membara.
Adrian melangkah mendekat, lalu tanpa ragu ia menggenggam tangan Liana.
Telapak tangan Adrian yang besar dan hangat terasa kontras dengan jemari Liana yang membeku.
Liana sempat tersentak, namun ia tidak menarik tangannya; keindahan alam di depannya seolah menyihirnya untuk tetap diam.
Perlahan, Adrian berpindah posisi. Ia berdiri tepat di belakang Liana, melingkarkan kedua lengannya di bahu gadis itu, memeluknya dari belakang untuk membagi kehangatan tubuhnya.
"Indah sekali, bukan?" bisik Adrian tepat di samping telinga Liana.
Napas hangatnya terasa menyentuh leher Liana, membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
Liana menganggukkan kepalanya pelan. "Indah sekali, Pak." jawabnya lirih. Namun, sejujurnya, fokus Liana bukan lagi pada matahari terbit itu.
Jantungnya berdetak sangat kencang, suaranya seolah berdentum di dalam dada hingga ia takut Adrian bisa merasakannya melalui punggungnya.
Rasa canggung dan takut mendadak menyerang Liana.
Ia merasa situasi ini terlalu intim untuk seorang produser dan penarinya.
"Pak, saya mau ke sana dulu, mau cuci muka," ucap Liana gugup, mencoba melepaskan diri dari dekapan hangat itu.
Namun, lengan Adrian justru semakin mengunci posisinya dengan lembut. Ia tidak membiarkan Liana menjauh.
"Liana, jangan takut," ujar Adrian dengan nada suara yang dalam dan menenangkan.
"Diamlah di sini sebentar saja. Biarkan kita menikmati ini sebelum dunia hiburan yang bising itu menarik kita kembali."
Liana terdiam, ia tak lagi memberontak. Di bawah langit Puncak yang mulai terang, ia bisa merasakan ketulusan dalam pelukan Adrian, meski di sudut hatinya, bayangan anting berlian dan telepon misterius semalam tetap menghantuinya seperti kabut yang enggan pergi.
Suasana magis di puncak bukit itu pecah seketika saat suara deru mesin truk peralatan dan riuh rendah suara kru mulai terdengar dari kejauhan.
Lampu sorot besar mulai diturunkan, dan kesunyian subuh berganti dengan hiruk-pikuk produksi film yang sibuk.
Liana, yang merasa debaran jantungnya hampir meledak karena pelukan Adrian, segera melepaskan diri dengan gugup saat melihat beberapa orang mulai mendaki ke arah mereka.
"Pak, tim sudah datang! Saya ke sana dulu bergabung dengan yang lain!" pamit Liana tanpa berani menatap mata Adrian.
Ia setengah berlari menuju kerumunan kru, mencoba menormalkan napasnya yang memburu.
Tanpa mereka sadari, sejak tadi ada sepasang mata yang memperhatikan interaksi intim itu dari balik pintu mobil van produksi.
Rina berdiri di samping Adrian, menatap punggung Liana yang mulai menjauh.
"Pak, jangan bermain api," bisik Rina dengan nada peringatan yang sangat serius.
"Bapak sudah punya tunangan. Arum tidak akan tinggal diam kalau tahu apa yang terjadi di sini."
Adrian tidak langsung menoleh. Ia tetap menatap ke arah Liana yang kini sedang dikelilingi penata busana.
Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, wajahnya kembali dingin dan berwibawa.
"Sshhh. Diam saja kamu, Rina. Ini urusanku," sahut Adrian pendek.
"Tapi Pak, Liana terlihat tulus. Dia bukan wanita dari dunia kita yang terbiasa dengan sandiwara," lanjut Rina, suaranya mengandung kecemasan.
"Aku tidak mau Liana pergi dan terluka hanya karena Bapak sedang ingin bermain-main saja dengannya."
Adrian akhirnya menoleh, menatap asistennya dengan tatapan tajam yang tak terbantahkan.
"Siapa bilang aku hanya bermain-main? Aku tidak akan membiarkan dia pergi begitu saja."
Rina menggelengkan kepalanya perlahan, merasa ngeri dengan keras kepala bosnya.
"Pak, Anda akan menyesal nanti. Kebohongan ini punya tanggal kedaluwarsa."
"Adrian tidak pernah menyesal, Rina," ucap Adrian datar, lalu melangkah pergi meninggalkan asistennya yang terpaku sendirian.
Di sudut lain, Liana mulai mengganti pakaiannya dengan gaun putih tipis berbahan sifon.
Kulitnya langsung merinding saat udara hutan pinus yang lembap menyentuh tubuhnya.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin kecil, teringat pelukan Adrian tadi. Ada rasa bahagia yang menyeruak, namun juga ada firasat buruk yang membayangi, persis seperti peringatan Rina yang tak ia dengar.
"Semua posisi! Riasan terakhir! Mesin kabut, nyalakan!" seru asisten sutradara melalui pelantang suara, suaranya menggema di sela-sela batang pohon pinus yang menjulang tinggi.
Udara Puncak pagi itu terasa membekukan, namun Liana sudah berdiri di tengah set, hanya mengenakan gaun putih tipis berbahan sifon yang melambai ditiup angin sepoi-sepoi.
Kulitnya merinding, namun matanya menatap lurus ke depan, penuh konsentrasi.
Di sudut lain, Rina berdiri memegangi jaket tebal Adrian, tatapannya cemas melirik ke arah bosnya dan Liana bergantian.
"Kamera siap! Suara siap! Action!"
Musik instrumental piano yang melankolis mulai mengalun dari pengeras suara besar.
Liana mulai menggerakkan tubuhnya. Gerakannya lambat, penuh duka, seolah ia sedang menari meratapi kehilangan di tengah hutan yang sunyi.
Kabut buatan perlahan menyelimuti kakinya, menciptakan ilusi magis yang menakjubkan di layar monitor.
Sesuai skenario, Adrian melangkah masuk ke dalam frame dari balik pohon pinus besar.
Ia mengenakan kemeja hitam yang basah oleh embun, wajahnya menampilkan raut pria yang tersesat namun menemukan harapan.
Melihat kedatangan Adrian, Liana tersentak—sesuai perannya sebagai gadis yang ketakutan.
Ia berhenti menari, mundur beberapa langkah, dan bersiap untuk berlari menjauh ke dalam kegelapan hutan.
"Jangan takut..." ucap Adrian, suaranya rendah dan parau, persis seperti dialog di naskah.
Ia melangkah mendekat, mengulurkan tangannya perlahan, sorot matanya mengunci pandangan Liana.
"Menarilah, untukku."
Liana terdiam. Ia menatap mata Adrian, dan entah kenapa, kalimat itu terasa bukan lagi sekadar dialog film.
Ia merasakan ketulusan yang sama seperti saat Adrian memeluknya saat matahari terbit tadi.
Perlahan, Liana kembali mengangkat tangannya. Ia kembali menari, kali ini gerakannya tidak lagi penuh duka, melainkan penuh harapan dan penyerahan diri.
Adrian tidak diam. Ia mulai mengikuti tarian Liana.
Gerakannya canggung namun penuh emosi, mencoba menyamai ritme tubuh gadis itu. Mereka berputar di antara pepohonan, seolah dunia di luar hutan ini tidak lagi eksis.
Di puncak tarian, Adrian melangkah cepat, melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Liana yang ramping, menariknya masuk ke dalam dekapan hangat.
Wajah mereka begitu dekat, napas mereka memburu dalam ritme yang sama di tengah dinginnya kabut.
Adrian menatap bibir Liana, lalu perlahan menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya ke bibir Liana. Jarak di antara mereka sirna.
Liana memejamkan matanya, jantungnya berdentum kencang. Ini bukan lagi akting. Ini nyata.
" Cut! "
Suara sutradara menggelegar, memecahkan keheningan magis di antara mereka. A
Adrian dan Liana tersentak, perlahan melepaskan pagutan mereka, wajah keduanya merona merah, bukan hanya karena dingin, tapi karena ciuman yang baru saja terjadi.
Sesaat studio hening, lalu tiba-tiba meledak oleh gemuruh tepuk tangan dan sorakan kagum dari seluruh kru.
"Luar biasa! Chemistry kalian gila! Kita langsung dapat hasil yang bagus di take pertama!" seru sutradara dengan wajah semringah, mengacungkan jempol ke arah mereka.
Di sudut set, Rina berdiri terpaku, tangannya terkepal erat memegangi jaket Adrian.
Ia melihat bagaimana Adrian menatap Liana setelah ciuman itu—bukan tatapan seorang produser yang puas, melainkan tatapan seorang pria yang sedang jatuh cinta.
Peringatannya sepertinya sia-sia. Adrian benar-benar sedang bermain api, dan Rina tahu, hutan pinus ini akan menjadi saksi awal dari sebuah badai besar yang siap menghancurkan segalanya.
ditunggu crazy upnya