Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.
Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.
Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.
"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."
Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Anya sudah memutar lehernya, membunyikan buku-buku jarinya, dan bersiap melangkah masuk ke dalam vila untuk mengambil jaket kulitnya. Darah preman pasarnya sudah mendidih. Tidak ada yang boleh melukai orang-orang di sekitarnya—bahkan pengawal kaku seperti Dante dan Leo sekalipun.
"Pesawat jet sudah disiapkan," suara berat Kaelan menghentikan langkah gadis itu. "Untukku. Hanya untukku dan anak buahku."
Anya menoleh perlahan, keningnya berkerut dalam. "Hah? Apa maksudmu? Aku butuh waktu lima menit untuk ganti baju dan mengambil tongkat—"
"Kau tidak akan pergi ke mana-mana, Anya," potong Kaelan mutlak. Suaranya sedingin es, namun ada getaran keputusasaan yang tertahan di baliknya. Ia melangkah maju, menghalangi jalan Anya menuju pintu masuk.
Anya mendengus tak percaya. Ia berkacak pinggang, menatap tajam bos mafia yang menjulang di hadapannya. "Jangan bercanda, Kaelan. Paman Arthur yang bau tanah itu mengincarku, kan? Kalau begitu biarkan aku menemuinya dan menendang gigi palsunya sampai ke tenggorokan!"
"Ini bukan tawuran pasar, Anya!" bentak Kaelan, suaranya menggelegar memecah deburan ombak.
Anya tersentak mundur selangkah. Ini pertama kalinya Kaelan membentaknya dengan amarah yang begitu pekat sejak insiden di ruang makan.
Kaelan mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba mengontrol emosinya. Ia melangkah maju lagi, merengkuh kedua bahu Anya dengan cengkeraman yang erat, nyaris menyakitkan.
"Dengarkan aku," desis Kaelan, menatap lurus ke dalam mata cokelat gadis itu yang kini memancarkan kilat kemarahan dan kebingungan. "Arthur menyewa pembunuh bayaran profesional. Sniper. Senjata otomatis. Mereka tidak akan maju dengan tangan kosong sepertimu. Jika kau ikut kembali ke kota malam ini... kau akan mati sebelum kakimu menyentuh aspal."
"Aku bisa jaga diri! Kau sendiri yang melatihku!" bantah Anya keras kepala, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Kaelan, namun tenaga pria itu tak tertandingi.
"TAPI AKU TIDAK BISA!" raung Kaelan, suaranya pecah.
Keheningan seketika menyelimuti teras vila itu. Hanya suara angin malam yang terdengar. Anya terdiam membeku, menatap dada bidang Kaelan yang naik-turun dengan cepat.
Sang Ketua Klan Obsidian itu menundukkan kepalanya, menyatukan dahinya dengan dahi Anya. Napasnya terasa panas menerpa wajah gadis tomboy itu.
"Aku tidak bisa melihatmu terluka, Anya," bisik Kaelan parau, suaranya kini terdengar begitu rapuh, mengingatkan Anya pada Milo yang ketakutan semalam. "Jika kau ada di medan perang itu, fokusku akan hancur. Aku akan mati-matian melindungimu, dan itu justru akan menjadi celah bagi Arthur untuk membunuh kita berdua. Kau... kau adalah kelemahanku sekarang."
Mendengar pengakuan jujur dan telanjang dari seorang bos mafia kejam itu membuat pertahanan ego Anya runtuh seketika. Matanya mulai memanas.
"Pulau ini," lanjut Kaelan, ibu jarinya mengusap lembut pipi Anya. "Tidak ada satu pun anggota klan Obsidian yang tahu keberadaan tempat ini. Bahkan Arthur atau para Tetua. Pulau ini kubeli menggunakan nama samaran dan jalur uang rahasia. Ini adalah satu-satunya tempat di dunia ini yang tidak bisa disentuh oleh darah dan intrik keluargaku."
Kaelan menatap mata Anya dalam-dalam. "Tetaplah di sini bersama Ragas. Kau aman di sini. Sangat aman."
"Kau menyuruhku bersembunyi di sangkar emas sementara kau di luar sana mempertaruhkan nyawa sendirian?" suara Anya bergetar, air mata marah dan frustrasi menggenang di pelupuk matanya. Tangan mungilnya mencengkeram erat kerah kemeja Kaelan. "Kau curang, Bos Es! Kau memanjakanku, membuatku... membuatku terbiasa denganmu, lalu kau meninggalkanku?!"
"Aku tidak meninggalkanmu," Kaelan menangkup wajah Anya dengan kedua tangannya. Matanya berkilat penuh tekad yang mematikan. "Aku pergi untuk membersihkan sampah yang menghalangi jalan kita. Aku berjanji, aku akan kembali menjemputmu. Dan saat aku kembali... tidak akan ada lagi yang berani mengancam Nyonya Obsidian."
Anya menggigit bibir bawahnya, menahan isakan yang nyaris pecah. Ia benci menjadi tidak berguna. Ia benci menjadi pihak yang dilindungi. Namun, menatap mata Kaelan, Anya tahu bahwa kehadirannya di kota hanya akan menjadi beban mematikan bagi pria yang mulai ia cintai ini.
"Kalau kau sampai mati di sana..." ancam Anya dengan suara serak, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. "...aku sendiri yang akan menggali kuburanmu dan memukul kepalamu pakai tongkat bisbol."
Kaelan tersenyum pedih. "Aku tahu, Preman Pasar. Aku tahu."
Tanpa membuang waktu sedetik pun lagi, Kaelan menunduk dan meraup bibir Anya.
Bukan ciuman singkat seperti di atas tebing sore tadi. Ini adalah ciuman yang dalam, menuntut, dan penuh dengan rasa putus asa sekaligus kepemilikan yang absolut. Kaelan melumat bibir gadis itu, menyalurkan semua ketakutan, amarah, dan cinta yang selama ini ia pendam.
Anya membalas ciuman itu tak kalah putus asa. Ia mengalungkan lengannya di leher Kaelan, menarik rambut pria itu, mencoba merekam setiap detail aroma dan kehangatan sang mafia.
Saat mereka akhirnya melepaskan diri karena kehabisan napas, Kaelan mengecup dahi Anya untuk yang terakhir kalinya.
"Jaga dia dengan nyawamu, Ragas," perintah Kaelan dingin kepada pelayan tua yang berdiri tak jauh dari mereka.
"Pasti, Tuan. Semoga kemenangan menyertai Anda," Ragas menunduk hormat.
Kaelan berbalik, melangkah pergi meninggalkan teras tanpa menoleh lagi. Punggung lebarnya perlahan menghilang ditelan kegelapan malam menuju dermaga, di mana speedboat cepat sudah menunggunya untuk membawanya ke pesawat jet.
Anya berdiri terpaku di tepi teras. Angin laut malam terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya. Ia memeluk tubuhnya sendiri, menatap lampu speedboat yang perlahan menjauh dan menghilang di balik batas samudra.
Satu jam yang lalu, ia hampir merasakan ciuman manis di bawah senja. Kini, ia terkurung di surga tropis, berdoa untuk keselamatan pria berhati es yang tanpa sadar telah menjadi rumah baginya.
"Kau harus kembali, Kaelan," bisik Anya ke arah lautan gelap. "Kau sudah berjanji."