Mendadak jadi istri dari seorang billionaire? mungkin ini sebuah keberuntungan bagi kalian, tapi tidak dengan Serafina. Semenjak menjadi istri dari pria billionaire, Serafina tidak bisa menjadi dirinya sendiri dan harus menjadi standar perilaku para wanita kalangan atas didunia. Apalagi suaminya tidak mencintainya dan hanya menganggap nya sebatas istri pelunas hutang.
demi melunasi hutang hutang paman dan bibinya, Serafina dipaksa masuk kedalam kehidupan para kalangan elit. dia harus bisa menjadi seorang istri yang anggun dan menjadi contoh para wanita di dunia.
apakah pernikahan Serafina bertahan?
______________
hai semua, aku author Flower senang bisa bertemu dengan kalian🦩❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flower, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Love Me Hubby⁶
Tak lama, akhirnya mereka sampai disebuah rumah mewah yang elit dan elegan. Serafina menatap takjub pada bangunan tersebut, ia melihat banyak sekali tanaman bunga bermacam macam disetiap kebun, Serafina menoleh kearah Alexander, namun tiba tiba matanya tertuju pada sebuah perban ditangan pria itu.
"tuan...ada apa dengan anda..." tanya Serafina menatap tangan Alexander, pria itu mengikuti arah pandangan Serafina kemudian berdehem kecil. "hanya luka kecil" jelasnya singkat. "tapi mengapa sampai diperban?" Serafina menatap penuh kebingungan.
Alexander bukanlah tipe pria yang suka banyak berbicara, dia mengabaikan Serafina dan membuka pintu mobil, dia keluar sendiri tanpa menunggu Serafina. Gadis itu hanya menghela nafas pelan, melihat sikap Alexander yang begitu dingin dan cuek padanya. Ia pun keluar dari mobil dan menyusul Alexander yang telah berjalan lebih dulu.
karena kesal melihat Serafina berjalan begitu lambat, alhasil Alexander mendekati nya lagi. "t-tidak tuan...aku bisa jalan sendiri" ucap Serafina dengan panik. Alexander menghentikan langkahnya tepat didekat Serafina, tatapannya menunduk untuk menatap wajah gadis itu. "lepaskan sepatumu" ucap Alexander dingin, serafina hanya menatapnya bingung.
"m-maksudnya tuan?"
"aku bilang lepaskan sepatumu sekarang atau aku akan menggendong mu disini didepan orang-orang" bisik Alexander ketika mendekati wajahnya. Sontak Serafina menatap kearah para pelayan dan beberapa pengawal, dia menelan ludahnya dengan kasar dan melepaskan high heels nya.
Alexander menoleh kearah pelayan yang berdiri tak jauh dari mereka, dengan cekatan membawakan sandal wanita dengan motif bunga. Serafina tentu saja bahagia melihat sandal tersebut, karena dia bisa berjalan dengan leluasa sekarang. "cepat masuk, kakekku sudah menunggu didalam"
Serafina tanpa sadar tersenyum dan mengangguk cepat, sejenak Alexander terdiam melihat senyuman tulus itu, namun dengan cepat dia membuang muka dan berjalan mendahului Serafina.
ketika mereka memasuki Mension, beberapa pelayan menyambutnya dengan hormat. mendapatkan perlakuan seperti itu bagi Alexander sudah biasa namun tidak dengan Serafina, gadis itu malah balas membungkukkan tubuhnya.
namun pelayan tersebut malah semakin membungkukkan tubuhnya hingga Serafina pun ikutan membungkukkan tubuhnya lebih dalam lagi. "apa yang sedang kau lakukan" ucap Alexander mengejutkan Serafina. "apa kau sedang mengadakan perlombaan membungkuk?" ucap Alexander membuat Serafina menahan malu.
"cepat kemari dan berikan salam pada kakek" Serafina hanya menurut, dia mendekati Alexander dan kini menatap pada seorang pria paruh baya yang sedang duduk dimeja makan.
"kakek....ini calon istriku" tegas Alexander menatap kakeknya yang sedang menatap mereka. tatapan kakek William membuat Serafina menelan ludahnya dengan kasar, hingga pria tua itu berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati mereka. Serafina bersembunyi dibalik tubuh besar Alexander ketika kakek William melangkah menuju kearahnya.
"kemarilah nak .." ucap kakek William terdengar lembut, membuat Serafina tidak merasa terancam. Perlahan Serafina memberanikan dirinya untuk mendekati kakek William. Sang kakek tersebut tersenyum lebar dan meraih kedua tangan Serafina. "kau sangat pandai memilih calon istri, cucuku. Aku merestui kalian, dan kapan kalian akan menikah?" kakek William menatap cucunya.
"besok" jawab Alexander singkat, sementara sang kakek hanya mengangguk dan tersenyum bangga. "kau tidak perlu mengurus apapun, biarkan kakek yang akan mengurus semuanya"
kakek William kembali menatap kearah Serafina yang masih menundukkan kepalanya "siapa namamu nak ...kau cantik sekali, matamu terlihat seperti mata nenek Alexander saat masih hidup"
"nama saya Serafina kakek" mendengar jawabannya, sang kakek tersenyum, kemudian menarik Serafina menuju meja makan. "ayo, makanlah semua yang ada disini, wanita pasti sangat menyukai makan kan? maka habiskan selagi kamu mampu menghabiskannya" sang kakek dengan bahagia mendudukkan Serafina di kursi tepat didekat nya, dan meletakkan makanan diatas piringnya. Bahkan sang kakek mendekatkan semua makanan kearah Serafina.
"makanlah yang banyak, ayo cepat" dengan penuh perhatian kakek William memberikan Serafina berbagai macam makanan. Diam diam bibir Alexander tersenyum tipis, hampir tak terlihat. Dia belum pernah melihat kakeknya sebahagia ini semenjak neneknya meninggal akibat ikut terbakar didalam rumah tersebut.
Serafina menatap kearah Alexander, pria itu mengubah tatapannya yang tadinya melembut kembali dingin. Tatapan itu mampu membuat Serafina menundukkan pandangannya kembali.
Bersambung.....
*
*
*
Hai para readers kesayangan Author, tetap semangat dalam menjalani hari hari biasa ya, jangan pernah menyerah dalam menghadapi keadaan🍃
Seraphina lagi bahaya
tapi kita lihat apa akan sama Kya yg lain suka oleng kalau masa lalu datang