NovelToon NovelToon
Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Cahaya Dibalik Kabut Ridokan

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Time Travel / Tamat
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: Jilal Suherman

​Kang Han-jun adalah pria yang terbiasa diabaikan oleh dunia hingga sebuah truk mengakhiri hidupnya yang monoton. Namun, kematian bukanlah akhir. Ia terbangun di Kuil Kehampaan, sebuah titik antara dimensi Bumi dan Alura, di mana Planet Ridokan berada.
​Diberi kesempatan kedua oleh Sang Dewi sebagai penyeimbang dimensi, Han-jun dikirim ke Ridokan dengan satu misi: mengumpulkan 6 Prasasti Elemen sebelum Ras Iblis dari Benua Hitam menelan seluruh kehidupan. Meski dibekali kekuatan tanpa batas, Han-jun hanya ingin satu hal: hidup santai. Namun, takdir menyeretnya melintasi lima benua, membangun persahabatan yang tak terhancurkan, dan menghadapi kengerian dari tiga Dewa Iblis yang haus darah. Ini bukan sekadar perjalanan pahlawan; ini adalah kisah tentang pria yang mencari arti rumah di dunia yang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jilal Suherman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Perang Dingin di Meja Resepsionis dan Cangkang Sang Kaisar Gurun

Sinar matahari pagi menyinari jalanan berbatu Kerajaan Valeria, membawa serta kehangatan yang mengusir sisa-sisa embun malam. Di dalam kamar penginapan Bulan Sabit Berdarah, Ajil berdiri di depan cermin kayu yang retak di bagian ujungnya. Ia membasuh wajahnya dengan air dingin dari baskom tembaga. Tetesan air mengalir melewati rahangnya yang tegas, membasahi cambang tipis yang mulai tumbuh.

Ia menatap pantulan matanya sendiri. Kelam. Kosong. Setiap pagi, ia harus bertarung dengan kewarasannya sendiri untuk menyadarkan dirinya bahwa ia tidak sedang berada di Bumi. Bahwa saat ia membuka pintu kamar ini, ia tidak akan mendengar suara langkah kaki kecil Arzan yang berlarian mencari seragam sekolahnya, atau rengekan Dara yang meminta disuapi bubur.

Ajil menarik napas panjang, menekan rasa sesak di dadanya dalam-dalam. Ia mengenakan kembali Setelan Malam Abadi Kelas SS miliknya. Pakaian hitam legam itu seketika menyesuaikan diri dengan suhu tubuhnya, menutupi seluruh ototnya yang kini sekeras baja murni.

Ia melangkah turun ke ruang makan penginapan. Suasana pagi ini cukup tenang. Pemilik kedai, seorang pria paruh baya bertubuh tambun, buru-buru menyiapkan meja terbaik di sudut ruangan begitu melihat Ajil turun. Rumor bahwa pria berjaket hitam ini telah meratakan elit Silver Fang semalam membuat seluruh pelayan penginapan memperlakukannya layaknya seorang raja yang sedang menyamar.

"P-Pagi, Tuan Ajil! I-Ini sarapan terbaik kami," ucap pemilik kedai dengan tangan gemetar, meletakkan nampan kayu oak di atas meja.

Di atas nampan itu tersaji Pai Daging Rusa Hutan berukuran besar yang kulitnya dipanggang hingga keemasan dan renyah. Saat Ajil memotongnya menggunakan pisau perak, uap panas beraroma saus jamur hitam, anggur merah, dan kaldu tulang langsung mengepul menggiurkan. Sebagai pendamping, ada segelas besar Kopi Akar Pahit yang diseduh tebal tanpa gula.

Ajil duduk dan mulai memakan pai itu dalam keheningan. Tekstur daging rusa itu sangat lembut, berpadu dengan rasa gurih dari jamur sihir yang tumbuh di pegunungan barat. Kopi pahitnya memberikan tendangan kafein yang tajam, sangat cocok untuk lidahnya yang tidak terlalu menyukai hal-hal manis.

Tepat saat ia menghabiskan setengah porsinya, sebuah aroma yang sangat kontras dengan bau rempah kedai—wangi nektar bunga matahari dan embun embun pagi—tercium oleh indra penciumannya.

Erina menarik kursi kayu di seberang meja Ajil dan duduk dengan keanggunan seorang bangsawan istana. Sang High Elf itu mengenakan tunik sutra mithril yang lebih santai berwarna perak pudar, tanpa zirah beratnya, namun busur emasnya tetap tersampir di punggungnya. Rambut perak kebiruannya diikat sebagian ke belakang, memperlihatkan telinga runcingnya yang dihiasi anting kristal hijau kecil.

"Pagi yang indah, bukan?" sapa Erina, bibir merah mudanya melengkung membentuk senyuman tulus. Ia memesan Salad Buah Roh dan Teh Melati Perak kepada pelayan yang nyaris pingsan melihat kecantikan absolut sang peri.

Ajil hanya meliriknya sekilas, lalu kembali fokus pada makanannya. "Kau tidak punya pekerjaan lain selain mengikutiku di setiap waktu makan?"

Erina tertawa pelan, suaranya seperti dentingan lonceng angin. "Pekerjaanku adalah memastikan kau tidak menenggelamkan kota ini ke dalam lautan darah hanya karena suasana hatimu sedang buruk, Ajil."

Ajil tidak membalas. Ia menghabiskan kopinya, meletakkan dua keping perak di atas meja, dan bangkit berdiri. Erina dengan sigap mengambil sepotong apel roh dari mangkuknya, mengunyahnya dengan cepat, lalu melangkah mengikuti Ajil keluar dari penginapan.

Ratusan petualang berdesakan di depan Papan Misi, sementara para pelayan kedai hilir mudik membawa nampan berisi sarapan berat. Bau Sosis Babi Hutan Panggang yang dilumuri saus lada hitam dan aroma Kopi Biji Mahoni yang pahit dan pekat memenuhi udara.

Namun, hiruk-pikuk itu perlahan mereda, digantikan oleh keheningan penuh hormat saat pintu kayu ek ganda terbuka.

Ajil melangkah masuk. Setelan Malam Abadi Kelas SS miliknya menyerap cahaya pagi, menciptakan siluet dewa kematian yang tak tersentuh. Sepatu botnya berderap stabil. Di belakangnya, melangkah setengah langkah lebih lambat dengan keanggunan yang melampaui batas rasionalitas manusia, adalah Erina. Zirah sutra mithril sang High Elf memancarkan pendaran mutiara, dan rambut perak kebiruannya berkibar lembut.

Ajil berjalan lurus membelah lautan petualang menuju meja resepsionis. Di balik meja kaca mahoni itu, Karin sedang merapikan setumpuk perkamen laporan.

Begitu Karin mendongak dan melihat sepasang mata hitam Ajil yang kelam menatapnya, sesuatu di dalam dada resepsionis muda itu bergejolak hebat.

Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat. Wajahnya yang biasanya profesional dan tegas, seketika memerah hebat, merona seperti warna buah tomat yang direbus. Sejak kejadian Ajil melindungi anak-anak di pasar dan pesona dinginnya saat menghancurkan elit Silver Fang, Karin tanpa sadar telah menjatuhkan hatinya pada pria misterius ini.

"S-S-Selamat pagi, T-Tuan Ajil..." sapa Karin terbata-bata. Ia buru-buru membetulkan letak kacamatanya, memeluk setumpuk perkamen ke dadanya untuk menyembunyikan tangannya yang gemetar. Pipi dan telinganya memerah padam. "A-Ada yang bisa saya bantu hari ini? M-Misi baru? Atau... Anda butuh rekomendasi penginapan yang l-lebih hangat?"

Ajil bahkan tidak menyadari perubahan warna wajah Karin. Pikirannya hanya tertuju pada efisiensi waktu dan experience untuk pedangnya.

Namun, Erina menyadarinya.

Sang High Elf itu melangkah maju, berdiri menyejajarkan dirinya di samping Ajil. Mata zamrud Erina menyipit tajam, menatap Karin dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan yang sangat dingin dan menusuk. Insting teritorialnya sebagai seorang wanita yang telah mengklaim hati Ajil meronta.

"Dia tidak butuh rekomendasi darimu, Manusia," ucap Erina dengan nada merdu namun sedingin es abadi, mengangkat dagunya dengan gaya khas arogansi ras elf. "Tugasmu hanyalah menstempel kertas-kertas kotor itu. Jangan buang waktu pria ini dengan tatapan bodohmu, dan berhentilah memerah seperti babi panggang di atas meja kedai."

Karin tersentak. Harga dirinya sebagai staf resmi Guild Valeria tercubit. Meski ia tahu wanita di depannya adalah seorang High Elf Kelas SSS yang mengerikan, kecemburuan memberinya keberanian sesaat.

Karin menegakkan punggungnya, menatap Erina dengan rahang mengeras meski pipinya masih merah merona. "Saya sedang berbicara dengan Tuan Ajil, Nona Elf. Sebagai resepsionis, memastikan kenyamanan petualang Kelas S adalah tugas resmi saya. Mungkin di hutan Anda tidak diajarkan tata krama saat berada di fasilitas manusia?"

Udara di antara meja kaca itu seketika turun hingga ke titik beku. Percikan sihir tak kasat mata seolah beradu di udara. Perang dingin telah dimulai. Para petualang di sekitar mereka menelan ludah, perlahan melangkah mundur, tak berani terjebak di antara amarah seorang resepsionis yang sedang dimabuk cinta dan seorang High Elf yang sangat posesif.

Ajil sama sekali tidak peduli dengan aura permusuhan di antara kedua wanita itu. Baginya, pertikaian ini tak lebih dari sekadar suara bising angin lalu. Ia mengangkat tangan kanannya, dan sebuah perkamen hitam dengan cap tengkorak emas—misi Kelas S yang ia ambil dari papan—jatuh di atas meja kaca.

"Proses ini. Sekarang," perintah Ajil datar, memotong ketegangan di antara mereka dengan suara baritonnya yang berat.

Karin buru-buru mengalihkan pandangannya dari Erina, wajahnya kembali memerah saat menatap Ajil. "B-Baik, Tuan Ajil! Segera saya proses!" Karin mengambil stempel sihirnya dengan cepat. "Misi Menaklukkan Kaisar Kalajengking Baja (Level 95) di Gurun Pasir Hitam. I-Ini monster dengan tingkat pertahanan ekstrem. M-Mohon berhati-hati, Tuan Ajil..."

Erina mendengus sinis ke arah Karin, lalu memutar tubuhnya dengan anggun mengikuti langkah Ajil yang sudah lebih dulu berjalan keluar dari gedung Guild. "Gadis manusia yang menyedihkan," gumam Erina pelan, memastikan hanya ia yang mendengarnya.

Perjalanan menuju Gurun Pasir Hitam memakan waktu setengah hari ke arah selatan. Tidak ada pepohonan atau rumput di sini, hanya hamparan pasir berwarna hitam legam yang menyerap panas matahari Ridokan hingga suhu udara mencapai batas yang bisa mendidihkan air dalam hitungan detik.

Langkah sepatu bot Ajil meninggalkan jejak di atas lautan pasir yang mengepulkan asap. Di belakangnya, Erina menggunakan sihir angin suci untuk mendinginkan udara di sekitarnya.

Namun, mereka tidak berdua.

[SISTEM: Peringatan Pengintaian. 2 Entitas Darat (Level 110 & 105) terus mengikuti Anda. Jarak: 300 meter di belakang.]

Ajil melirik sekilas layar merah itu. Rino dan Richard. Dua petualang elit yang kemarin ia hancurkan harga dirinya itu, masih keras kepala mengikuti jejaknya. Mereka rela berjalan kaki di bawah terik matahari yang membakar zirah mereka, terengah-engah dan kehausan, hanya untuk melihat dari kejauhan.

"Mereka masih merangkak di belakang kita," ucap Erina santai. "Kau benar-benar tidak ingin aku menerbangkan mereka ke dalam kawah magma?"

"Biarkan saja. Kesombongan mereka sudah mati. Jika mereka ingin melihat bagaimana dunia ini bekerja, biarkan mereka menonton," jawab Ajil dingin.

Tiba-tiba, tanah pasir hitam di bawah kaki Ajil bergetar hebat. Pasir-pasir itu tersedot ke bawah, membentuk pusaran raksasa yang meluas dengan kecepatan mengerikan.

[SISTEM: Peringatan Bahaya Ekstrem! Boss Area Muncul dari Bawah Tanah!]

[Nama: Kaisar Kalajengking Baja]

[Level: 95]

[Kelas: S (Penguasa Teritorial)]

[Karakteristik: Zirah Kebal Sihir, Sengatan Racun Peleleh Tulang.]

Dari dalam pusaran pasir hitam itu, meledaklah sesosok monster raksasa. Ukurannya sebesar rumah tiga lantai. Seluruh tubuhnya ditutupi oleh cangkang logam berwarna hitam pekat yang mengkilap, memantulkan sinar matahari. Sepasang sapit raksasanya bergerigi dan memancarkan aura ungu beracun, sementara ekornya yang melengkung tajam di atas kepalanya meneteskan racun korosif yang membuat pasir hitam mendesis dan meleleh menjadi kaca hijau.

Monster itu tidak meraung, melainkan mengeluarkan suara ketukan logam yang sangat nyaring dan memekakkan telinga dari capitnya.

KLAK! KLAK! KLAK!

Ajil berdiri tegap, tidak menghindar. Ia mengepalkan tangan kanannya, mengaktifkan Tinju Petir Ungu. Saat capit raksasa itu mengayun horizontal untuk membelah tubuhnya, Ajil melesat maju, menghantamkan tinjunya lurus ke arah cangkang capit tersebut.

BLAAARRR!!!

Ledakan petir ungu mengguncang gurun pasir. Namun, yang terjadi selanjutnya membuat mata Ajil sedikit melebar.

Cangkang baja hitam monster itu tidak hancur. Baja magis itu berfungsi sebagai konduktor sempurna, menyerap energi petir ungu Ajil dan membuangnya ke dalam lautan pasir hitam di bawah kaki monster tersebut. Cangkangnya hanya menyisakan bekas hangus hitam.

"Menarik," desis Ajil.

Sebelum Ajil sempat menarik tinjunya, ekor kalajengking itu melesat turun dengan kecepatan yang melampaui suara.

WUSSSHH!

BOOOM!!

Ekor berduri raksasa itu menghantam dada Ajil dengan telak. Setelan Malam Abadi Kelas SS milik Ajil bekerja secara instan, memancarkan medan gaya yang mencegah duri beracun itu menembus kulitnya. Namun, kain itu tidak bisa menahan gaya kinetik murni dari monster seberat puluhan ton.

Dada Ajil terasa seolah dihantam oleh kereta api yang melaju seratus kilometer per jam. Tubuhnya terpental ke udara, melayang sejauh lima puluh meter, dan jatuh bergulingan di atas pasir hitam.

"Ugh—!" Ajil terbatuk keras. Darah segar menyembur dari mulutnya, menodai pasir hitam. Tiga tulang rusuknya patah seketika. Organ dalamnya bergeser. Rasa sakit yang luar biasa membakar dadanya, membuat pandangannya sedikit mengabur. Ini adalah luka terparah yang ia alami sejak tiba di Ridokan.

Di kejauhan, Rino dan Richard yang mengamati dari balik gundukan pasir menahan napas mereka. Jantung mereka berdegup kencang. Dewa kematian yang mereka puja itu... berdarah.

Erina memekik tertahan. "AJIL!" Sang peri hendak merapalkan sihir angin sucinya untuk menyerang monster itu.

"TETAP DI SANA!" raung Ajil, suaranya parau bercampur darah. Ia menancapkan jari-jarinya yang terbungkus sarung tangan kulit ke dalam pasir panas, memaksa tubuh manusianya untuk bangkit.

Mana Tak Terbatas di dalam tubuhnya langsung bekerja, menyatu dengan sel-sel tubuhnya, memaksa tulang rusuknya menyambung kembali dengan kecepatan brutal yang justru menghasilkan rasa sakit yang lebih menyiksa daripada saat tulangnya patah. Keringat dingin mengucur dari dahi Ajil.

Kaisar Kalajengking Baja itu tidak memberinya waktu. Ia merayap maju dengan cepat, menjepitkan capitnya dan menyemburkan gas racun ungu pekat dari mulutnya.

Ajil berdiri tegap, mengusap darah dari dagunya. Ia menatap monster Level 95 itu dengan sepasang mata kelam yang kini memancarkan aura membunuh yang benar-benar absolut. Rasa sakit di tubuhnya ini tidak membuatnya gentar; ia justru menyambutnya.

"Rasa sakit di tubuh fana ini hanyalah sebuah alarm yang mengingatkanku bahwa aku masih bernapas," gumam Ajil, suaranya berat dan menggetarkan udara di sekitarnya, menembus desisan angin gurun. "Dan selama aku masih bernapas... tidak ada dinding tebal di dunia ini yang tak bisa kuhancurkan untuk pulang."

Ajil merentangkan lengan kanannya ke samping. Pusaran dimensi terbuka, dan Pedang Petir Hijau Abadi ditarik keluar.

VZZZMMMM!

Langit gurun mendadak digulung oleh awan hitam. Petir hijau dan ungu menyambar-nyambar ganas, berpusar di bilah zamrud pedangnya.

Cangkang baja monster itu mungkin menyebarkan energi sihir ke tanah, tapi Ajil menyadari satu hal: sendi-sendi pergerakannya tidak berlapis cangkang penuh.

Saat monster itu menerjang dengan capit dan ekornya secara bersamaan, Ajil menghentakkan kakinya. Aura Gravitasi Jiwa diaktifkan secara maksimal, difokuskan hanya pada satu titik: ekor monster itu.

Bruk! Ekor mematikan yang sedang melayang di udara itu tiba-tiba seolah memiliki berat sejuta ton, terbanting jatuh dan tertanam dalam ke dalam pasir hitam, tak mampu diangkat oleh sang monster.

Kehilangan keseimbangan, capit monster itu terbuka lebar.

Ajil melesat maju menembus gas racun ungu—yang langsung dinetralkan oleh Malam Abadi—dan meluncur di bawah capit monster itu. Dengan segel pertama pedangnya, Tebasan Pembelah Batas, Ajil mengayunkan pedangnya ke atas, mengincar persendian lunak di antara leher dan cangkang dada sang Kaisar Kalajengking.

ZRAAAASHHH!!!

Bilah zamrud itu tidak memantul. Daya tebas God-Tier yang mengabaikan pertahanan fisik itu merobek sendi lunak sang monster, menembus langsung ke dalam sistem saraf pusatnya. Darah berwarna hijau korosif menyembur deras.

Ajil memutar bilah pedangnya di dalam tubuh monster itu, dan melepaskan Amukan Petir Abadi dari jarak nol sentimeter.

ZDAAAARRRR!!!!

Ledakan petir dari dalam menghancurkan organ vital monster itu. Cangkang bajanya retak dari dalam, memancarkan cahaya ungu dan hijau melalui celah-celahnya, sebelum akhirnya seluruh tubuh raksasa itu ambruk ke atas pasir hitam dengan suara benturan yang memekakkan telinga.

[SISTEM: Berhasil mengeksekusi Kaisar Kalajengking Baja (Lv.95). EXP Masif Ditambahkan!]

[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 95.]

[Ting! Level Up! Anda telah mencapai Level 98.]

[Menyerap drop material: 1x Inti Baja Racun (Kelas S), 2x Capit Baja Hitam. Disimpan ke Cincin Ruang.]

Ajil mencabut pedangnya, mengibaskan darah hijau dari bilahnya, lalu menyarungkannya kembali ke dimensi hampa. Ia terbatuk sekali lagi, namun sihir internalnya telah selesai memperbaiki tulangnya. Ia berdiri di tengah gurun, bermandikan keringat dan sisa-sisa badai petir.

Di kejauhan, Rino dan Richard merangkak keluar dari balik gundukan pasir. Mereka menyaksikan pertarungan itu dengan tubuh gemetar. Pria berjaket hitam itu terluka, tulangnya patah, namun ia tidak mundur satu inci pun. Ia menggunakan rasa sakit itu sebagai pijakan untuk menghancurkan monster yang kebal sihir tersebut.

Kedua mantan elit Kelas A+ itu berlari tertatih-tatih melintasi pasir panas, lalu menjatuhkan lutut mereka tepat sepuluh meter di belakang Ajil.

"Tuan Ajil...!" seru Rino, suaranya parau karena kehausan dan kekaguman. "Kami melihatnya! Kami melihat bagaimana Anda mengubah rasa sakit menjadi kemenangan! Tolong... biarkan kami merangkak di dalam bayangan Anda. Kami akan menjadi pedang dan perisai Anda, Tuan!"

Ajil membalikkan badannya secara perlahan. Matanya menatap kedua pria dewasa yang sujud di atas pasir panas itu. Di sebelahnya, Erina melangkah mendekat, matanya menatap Rino dan Richard dengan sinis, menunggu Ajil mengusir serangga-serangga ini lagi.

Namun, Ajil menatap mereka cukup lama. Ujian mental telah mereka lewati. Mereka membuang kebanggaan mereka, menahan lelah dan panas, tanpa menggunakan senjata.

"Perisai dan pedangku tidak butuh bantuan," ucap Ajil datar, suaranya membelah angin gurun. Ia melangkah melewati mereka. "Tapi jika kalian bersikeras untuk menjadi anjing penjaga... bersihkan sisa-sisa mayat ini. Dan jangan berharap aku akan menoleh jika kalian mati di medan perang selanjutnya.".

Mendengar kata-kata itu, Rino dan Richard mendongak. Air mata kelegaan dan rasa syukur mengalir di wajah mereka yang berdebu. Pria itu tidak mengusir mereka. Pria itu memberi mereka izin untuk mengikuti!

"Terima kasih, Tuan Ajil! Hidup kami adalah milik Anda!" teriak mereka serempak, menundukkan kepala mereka hingga menyentuh pasir yang mendidih.

Erina mendengus pelan, mengejar langkah Ajil. "Kau memungut dua serangga peliharaan hari ini, Ajil? Aku harap mereka pandai membersihkan sepatu botmu."

Ajil tidak membalas. Ia merapatkan kerahnya, matanya menatap lurus ke arah cakrawala yang bergetar karena panas. Permusuhan dengan Silver Fang telah ia nyalakan, pengikut setia telah ia dapatkan, dan levelnya kini semakin mendekati batas Seratus. Perang yang sesungguhnya di dunia Ridokan baru saja akan dimulai, dan sang Algojo siap menenggelamkan benua ini demi sebuah jalan pulang.

1
Mr.Jeje
bilamana ada kesalahan tulisan mohon untuk memberi tahu saya sebagai author🙏
KETUA SEKTE PEMBASMI DEWA: manja banget, kalau udah nulis pake AI yang bener juga lah, di cek 100×
total 1 replies
Mr.Jeje
saya sebagai author, bila mana ada kesalahan kata atau kalimat, mohon saran dan kritik nya untuk para pembaca. sebelumnya saya ucapkan terimakasih banyak.🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!