Seorang Kaisar pengendali petir menyamar menjadi kuli bangunan demi membangun kembali bangsanya, namun ia justru menemukan cinta yang memaksanya meruntuhkan tradisi kuno demi seorang pria biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anton Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: RAHASIA SANG KAISAR
Gubuk kecil itu terasa jauh lebih sempit dari biasanya. Hujan di luar masih menderu, menghantam atap seng dengan suara yang memekakkan telinga, namun pikiran Anton Firmansyah jauh lebih bising. Di telapak tangannya yang kasar dan penuh kapalan, sebuah lencana emas berbentuk kilat berkilauan tertimpa cahaya lampu minyak yang berkedip-kedip.
Lencana itu bukan sekadar perhiasan. Itu adalah segel pribadi penguasa Kekaisaran Ser. Simbol dari wanita yang menguasai 2.001.103 Km^2 daratan, lautan, dan nyawa manusia.
"Rara..." bisik Anton, suaranya tercekat di tenggorokan. "Tidak mungkin. Itu tidak mungkin."
Ia teringat bagaimana 'Rara' tertawa saat makan nasi bungkus bersamanya. Ia teringat bagaimana jemari wanita itu begitu halus saat bersentuhan dengannya tadi. Dan ia teringat sepasang mata perak yang tajam namun penuh luka itu—mata yang sama yang ia lihat saat sang Kaisar berdiri di atas balkon istana dua tahun lalu.
"Kak Anton? Kenapa Kakak melamun?" tanya Budi, salah satu anak yatim tertua di gubuk itu, yang terbangun karena suara guntur.
Anton segera mengepalkan tangannya, menyembunyikan lencana itu di balik telapaknya. "Tidak apa-apa, Bud. Tidurlah lagi. Kakak hanya... sedang memikirkan pekerjaan esok hari."
"Tapi Kakak terlihat pucat," Budi mendekat, menatap wajah Anton yang kaku. "Apakah si Mbak penjual nasi itu mengatakan sesuatu yang buruk?"
Anton menggeleng pelan, lalu mengusap kepala Budi. "Pergilah tidur. Segalanya akan baik-baik saja."
Namun, di dalam hatinya, Anton tahu segalanya tidak akan pernah sama lagi. Sebuah rahasia besar telah jatuh ke pangkuannya, dan beban rahasia itu terasa lebih berat daripada balok beton mana pun yang pernah ia angkut di proyek jembatan.
Pelarian Menuju Takhta
Sementara itu, di bawah kegelapan badai, Serena melesat. Ia tidak lagi berlari seperti seorang gadis desa; ia bergerak secepat sambaran kilat. Setiap langkahnya memercikkan listrik biru yang segera padam tertimpa air hujan. Pakaian kebayanya yang basah kuyup terasa berat, namun ia tidak peduli.
Ia masuk melalui pintu rahasia di menara barat istana. Di sana, Paman Bram sudah menunggu dengan wajah cemas yang luar biasa.
"Yang Mulia! Syukurlah Anda kembali!" Bram segera menyampirkan jubah kering ke bahu Serena. "Laporan intelijen benar. Sisa-sisa pengikut Jenderal Karsa mencoba melakukan sabotase di gudang persenjataan timur. Mereka mengira Anda sedang bermeditasi dan istana sedang dalam kondisi lemah."
Serena melepas kain pengikat rambutnya, membiarkan rambut hitamnya terurai basah. Matanya berkilat marah. "Mereka meremehkan penglihatan kilatku, Paman. Berapa banyak dari mereka?"
"Sekitar lima puluh orang, Yang Mulia. Mereka dipimpin oleh seorang mantan kolonel bernama Darmono."
"Siapkan pasukan bayangan," perintah Serena, suaranya kembali menjadi dingin dan penuh wibawa. "Aku sendiri yang akan menyapa mereka. Aku butuh pelampiasan untuk amarah yang tertahan ini."
"Tapi, Yang Mulia... Anda baru saja kembali dari... sana. Apakah ada masalah dengan pemuda itu?" tanya Bram hati-hati.
Serena terdiam sejenak. Ia meraba sakunya dan menyadari lencananya hilang. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. "Lencanaku tertinggal, Paman. Dia... dia pasti sudah tahu siapa aku sekarang."
Bram terbelalak. "Ini bencana politik, Yang Mulia! Jika dia bicara kepada orang lain—"
"Dia tidak akan bicara!" potong Serena tajam. "Anton bukan orang seperti itu. Sekarang, lupakan soal lencana. Kita punya pengkhianat yang harus dibersihkan dari tanah Arrinra."
Malam itu, pemberontakan kecil Darmono berakhir dalam hitungan menit. Serena muncul di tengah-tengah mereka seperti dewi kematian yang dibalut listrik biru. Ia tidak banyak bicara; setiap ayunan tangannya melepaskan gelombang kejut yang melumpuhkan lawan. Namun, di balik kegarangannya, pikiran Serena tetap tertambat pada sebuah gubuk reot di pinggiran sungai.
Pagi yang Berbeda
Keesokan harinya, matahari terbit dengan malu-malu di balik awan sisa badai. Anton berdiri di depan gerbang besar proyek jembatan. Namun, ia tidak masuk. Ia hanya berdiri di sana, menatap menara istana yang menjulang tinggi di kejauhan.
"Woi, Anton! Kenapa bengong di gerbang? Semen sudah datang itu!" teriak salah satu rekan kerjanya.
Anton menarik napas panjang. "Aku... aku kurang enak badan hari ini. Sampaikan pada Mandor, aku izin."
Ia berjalan menjauh, namun bukan menuju rumahnya. Ia berjalan menuju alun-alun kota, tempat di mana rakyat biasa diperbolehkan mendekat ke arah tembok luar istana untuk menyampaikan petisi atau sekadar melihat kemegahan takhta.
Di sana, ia melihat patung Serena Arrinra yang baru saja selesai dibangun. Patung itu menggambarkan sang Kaisar dengan pedang Raijin terhunus ke langit. Gagah, dingin, dan tak tergapai.
"Apa yang aku pikirkan?" gumam Anton pada dirinya sendiri. "Dia adalah Kaisar. Dia bisa menghancurkan gunung dengan lambaian tangan. Dan aku? Aku hanyalah kuli yang berbau debu dan semen."
Ia merogoh sakunya, merasakan lencana emas itu. Sebuah konflik batin yang hebat berkecamuk di dalam dirinya. Ada rasa bangga karena wanita sehebat itu sudi makan bersamanya, namun ada rasa takut dan rendah diri yang jauh lebih besar.
"Dia menyamar hanya untuk mengejekku? Tidak, Rara... maksudku, Yang Mulia, tidak mungkin sejahat itu. Tapi kenapa? Kenapa dia melakukan itu padaku?"
Panggilan Tak Terelakkan
Tiba-tiba, empat orang prajurit istana dengan seragam lengkap mendekati Anton di tengah alun-alun. Kerumunan rakyat segera menepi, memberi jalan dengan wajah ketakutan.
"Anton Firmansyah?" tanya salah satu prajurit dengan suara lantang.
Anton tersentak. "I-iya, saya."
"Anda dipanggil ke istana atas perintah langsung dari Yang Mulia Kaisar. Ikut kami sekarang."
Orang-orang di alun-alun mulai berbisik-bisik. Ada yang mengira Anton akan dihukum, ada yang mengira ia akan diberi penghargaan lagi. Anton sendiri merasa kakinya lemas. Apakah Serena akan membungkamnya karena dia tahu rahasianya?
Ia dibawa masuk melewati gerbang utama yang sangat besar, melewati barisan pengawal yang berdiri kaku seperti patung, hingga sampai di sebuah taman tertutup di dalam istana. Taman itu penuh dengan bunga teratai dan air terjun buatan yang menenangkan. Di sana, Serena sedang berdiri membelakanginya, mengenakan jubah sutra putih yang sederhana namun elegan.
"Tinggalkan kami," perintah Serena kepada para pengawal.
Setelah para prajurit pergi, keheningan menyelimuti taman itu. Hanya suara gemericik air yang terdengar. Anton tetap berdiri membatu, kepalanya tertunduk dalam.
"Kau tidak ingin menyapa penjual nasi langgananmu, Anton?" tanya Serena pelan, tanpa berbalik.
Anton menelan ludah. Ia berlutut dengan satu kaki, cara rakyat jelata memberi hormat pada penguasa. "Ampun, Yang Mulia. Hamba... hamba tidak tahu bahwa hamba telah bersikap kurang ajar selama ini."
Serena berbalik dengan cepat. Wajahnya tampak sedih melihat Anton yang begitu formal dan menjaga jarak. "Berdirilah, Anton. Aku tidak memanggilmu ke sini untuk melihatmu berlutut."
"Hamba tidak layak berdiri di depan Anda, Yang Mulia," sahut Anton, suaranya bergetar. "Hamba menemukan ini semalam." Ia mengulurkan tangannya, menunjukkan lencana emas itu.
Serena mendekat, mengambil lencana itu, namun ia juga menggenggam tangan Anton. Anton mencoba menarik tangannya, merasa telapaknya yang kasar tidak pantas bersentuhan dengan kulit lembut sang kaisar.
"Jangan tarik tanganmu," ujar Serena tegas. "Tangan ini yang melindungiku dari balok besi. Tangan ini yang memberiku roti di gubuk itu. Kenapa kau sekarang menjadi begitu takut?"
"Karena sekarang hamba tahu siapa Anda!" Anton akhirnya berani mengangkat wajahnya. Matanya memerah. "Anda adalah penguasa dua juta kilometer persegi wilayah ini! Anda adalah pemilik setiap napas di Arrinra! Dan hamba... hamba hanya seorang kuli yang tinggal di gubuk bocor bersama anak-anak yatim!"
"Apakah status itu mengubah siapa Rara di matamu?" tanya Serena, matanya berkaca-kaca.
"Tentu saja mengubah segalanya!" teriak Anton, frustrasi. "Rara adalah wanita yang saya pikir bisa saya lindungi. Rara adalah wanita yang saya pikir... saya pikir bisa saya cintai sebagai seorang pria biasa. Tapi Anda? Anda tidak butuh perlindungan saya. Anda punya tentara, Anda punya petir, Anda punya segalanya!"
Serena terdiam, sebuah air mata jatuh di pipinya. "Aku punya segalanya, Anton... tapi aku tidak punya teman bicara yang jujur. Aku tidak punya orang yang melihatku sebagai manusia, bukan sebagai simbol kekuasaan. Di gubuk itu, bersama anak-anak itu, aku merasa... pulang."
"Itu hanya ilusi, Yang Mulia," sahut Anton pahit. "Anda merindukan kesederhanaan karena Anda terlalu kenyang dengan kemewahan. Tapi bagi kami, kesederhanaan adalah perjuangan untuk tetap hidup. Kita hidup di dua dunia yang tidak akan pernah bersatu. Jika rakyat tahu Kaisar mereka bergaul dengan kuli, martabat takhta ini akan hancur."
Serena maju selangkah, jarak mereka kini sangat dekat. "Martabat takhta dibangun di atas kebahagiaan rakyatnya, bukan di atas keangkuhan kasta. Aku tidak peduli apa kata para menteri."
"Tapi saya peduli!" balas Anton. "Saya tidak ingin Anda menjadi bahan tertawaan karena saya. Saya mencintai Arrinra, dan saya mencintai apa yang Anda lakukan untuk negeri ini. Jangan biarkan kehadiran saya merusak visi besar Anda."
Tawaran yang Berat
Serena menatap Anton dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lalu, apa yang kau inginkan? Kau ingin aku melupakanmu? Kau ingin kita kembali menjadi orang asing?"
Anton terdiam lama. Hatinya perih. "Mungkin itu yang terbaik. Hamba akan terus bekerja membangun jembatan Anda. Hamba akan terus mendidik anak-anak yatim itu untuk menjadi warga negara yang baik. Tapi Rara... Rara harus mati di ingatan hamba."
"Aku tidak bisa melakukan itu, Anton," Serena menggelengkan kepalanya. "Aku sudah memindahkan anak-anak yatimmu ke panti asuhan terbaik di bawah pengawasan istana pagi ini. Mereka tidak akan kedinginan lagi saat hujan."
Anton terkejut. "Apa? Anda tidak berhak—"
"Aku berhak melakukan apa pun demi kesejahteraan rakyatku," potong Serena, kembali ke mode penguasanya. "Dan kau, Anton Firmansyah. Aku tidak akan membiarkanmu kembali ke debu semen itu sebagai kuli biasa. Aku butuh orang yang jujur di sekitarku. Aku menunjukmu sebagai pengawas pembangunan nasional."
"Hamba menolak!" tegas Anton. "Itu adalah nepotisme. Orang-orang akan bilang hamba mendapatkan jabatan itu karena... karena kedekatan kita. Hamba ingin mendapatkan segalanya dengan keringat hamba sendiri."
Serena tersenyum tipis, sebuah senyum bangga. "Itulah kenapa aku memilihmu. Karena kau satu-satunya orang yang berani menolak perintah Kaisar demi harga dirimu."
Ia mendekati Anton, lalu berbisik di telinganya. "Tetaplah di istana selama beberapa hari. Pikirkan tawaran ini. Bukan sebagai kuli, tapi sebagai pria yang mengenalku lebih dari siapa pun."
Serena berjalan pergi, meninggalkan Anton yang berdiri lunglai di tengah taman yang indah itu.
Bayangan di Balik Tirai
Tanpa sepengetahuan mereka, di balik pilar besar istana, seorang pria dengan janggut putih tipis dan mata yang licik sedang mengamati percakapan itu. Dia adalah Menteri Agung Laksmana, pemimpin dari faksi bangsawan tua yang paling menentang reformasi Serena.
"Jadi, kabar burung itu benar," bisik Laksmana pada asistennya. "Kaisar kita yang agung telah jatuh hati pada seekor tikus got."
"Apa yang harus kita lakukan, Tuan?" tanya si asisten.
"Biarkan mereka menikmati asmara sesaat ini. Kita akan menggunakan pemuda ini sebagai umpan. Jika rakyat tahu Kaisar mereka ingin menaikkan kasta seorang kuli menjadi bangsawan, mereka akan merasa terhina. Tradisi adalah tulang punggung Ser, dan jika kita mematahkan tulang itu, Serena akan jatuh bersama takhtanya."
Menteri Laksmana tersenyum licik. "Siapkan para penyebar kabar di pasar-pasar. Dan hubungi para dukun di wilayah Barat. Kita butuh sesuatu yang lebih dari sekadar rumor untuk menghancurkan hubungan ini."
Malam yang Sepi
Anton duduk di kamar mewah yang disediakan untuknya di istana. Tempat tidur itu begitu empuk, jauh lebih empuk dari tikar pandannya, namun ia tidak bisa memejamkan mata. Ia merasa seperti burung di dalam sangkar emas.
Ia mengeluarkan lencana emas yang tadi sempat ia genggam. Ia menyadari satu hal: rahasia sang Kaisar bukan hanya tentang identitasnya, tapi tentang kesepian yang mendalam di balik kekuatan petirnya.
"Serena..." bisik Anton. "Apa yang harus aku lakukan?"
Di kamar lain, Serena pun tidak bisa tidur. Ia berdiri di balkon, menatap hujan yang mulai reda. Ia tahu bahwa dengan membawa Anton ke istana, ia telah memulai perang baru. Bukan perang melawan pengkhianat bersenjata, melainkan perang melawan norma, tradisi, dan kebencian yang telah berurat akar selama berabad-abad.
"Aku akan mengubah kekaisaran ini, Anton," janji Serena pada malam. "Meski aku harus membakar seluruh tradisi lama dengan petirku untuk menciptakan tempat di mana kita bisa berdiri sejajar."
Konflik batin di antara keduanya baru saja dimulai. Antara cinta yang tulus dan kenyataan kasta yang kejam, manakah yang akan bertahan di bawah langit Arrinra?