Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Awan Putih di Puncak Lawu
Pagi itu, suasana di sekitar penginapan masih dibalut oleh sunyi yang dingin. Kabut putih tebal menggantung rendah, menyembunyikan kaki-kaki bukit dan hanya menyisakan pucuk pepohonan yang tampak samar.
Di tengah keheningan itu, tiga sosok manusia muncul dari balik kabut. Mereka berdiri mematung di depan pintu penginapan, mengenakan jubah putih bersih tanpa noda sedikit pun.
Di dada jubah mereka, terukir lambang awan berlapis benang perak yang berkilau lembut setiap kali tertimpa cahaya fajar.
Tatapan mata mereka lurus ke depan—tidak memancarkan kekasaran, namun juga tidak menyiratkan keramahan. Ada sebuah keangkuhan yang halus dalam postur mereka yang tegak.
Sin Yin adalah yang pertama menyadari kehadiran mereka. Ia berdiri di ambang pintu, menyandarkan bahunya pada kusen kayu sambil bersedekap. Sepasang matanya yang tajam menatap tamu-tamu tak diundang itu dari atas ke bawah.
“Sepertinya tamu kita tidak pernah berhenti mengalir seperti air sungai,” ucap Sin Yin dengan nada sinis yang khas, namun tangannya tetap berada dekat dengan hulu pedangnya.
Wang Long keluar beberapa saat kemudian. Langkahnya tenang, jubah biru tuanya tampak kontras dengan kabut putih di sekelilingnya.
Begitu matanya menangkap lambang awan di dada para tamu itu, salah satu pria berjubah putih melangkah maju. Ia membungkuk dengan gerakan formal yang kaku namun sempurna, memberikan salam seorang pendekar.
“Atas nama Perguruan Awan Putih, kami datang membawa undangan,” ucap pria itu. Suaranya menggema tenang, membelah udara pagi yang lembap.
Perguruan Awan Putih. Nama itu bukanlah nama sembarangan di dunia persilatan.
Berdiri kokoh di puncak Gunung Lawu, mereka dikenal sebagai pilar golongan putih yang sangat menjaga martabat.
Namun, bagi sebagian pendekar pengelana, mereka sering dianggap lebih mementingkan kemurnian nama dan etika daripada turun langsung membela rakyat yang tertindas.
Sin Yin menyipitkan matanya, sebuah senyum kecut tersungging di bibirnya. “Undangan? Atau sebuah panggilan pengadilan bagi mereka yang kalian anggap mengganggu ketenangan?”
Utusan itu tetap bergeming, wajahnya sedatar papan kayu. “Kami tidak pernah menghakimi tanpa mendengar penjelasan terlebih dahulu.”
Wang Long menangkupkan tangan, membalas salam dengan penuh kesopanan. “Apa tujuan sebenarnya dari undangan ini?”
Utusan yang tampak paling tua di antara ketiganya merogoh balik jubahnya dan membuka sebuah gulungan sutra putih yang harum.
“Desas-desus tentang munculnya pewaris Sembilan Master Naga telah menyebar ke seluruh penjuru. Golongan putih merasa perlu untuk memastikan kebenaran kabar yang menggetarkan dunia ini.”
Sin Yin mendengus pelan, suaranya mengandung tawa mengejek.
“Golongan putih baru bergerak setelah kabar menyebar luas, ya? Di mana kalian saat desa-desa dibantai?”
Pria berjubah putih itu tetap tidak menunjukkan kemarahan. “Perguruan kami bertugas menjaga keseimbangan dunia persilatan agar tidak jatuh ke dalam kekacauan total.”
Sin Yin melangkah satu kaki ke depan, menatap tajam langsung ke mata utusan itu. “Menjaga keseimbangan… atau hanya sekadar menjaga nama baik agar tidak tercemar?”
Suasana mendadak menjadi hening dan tegang. Hanya suara gesekan daun yang terdengar. Wang Long segera melangkah setengah langkah ke depan, menengahi ketegangan batin antara Sin Yin dan utusan tersebut.
“Kapan aku harus hadir?” tanya Wang Long, mengalihkan perhatian kembali pada inti masalah.
“Tiga hari dari sekarang. Kami menunggumu di gerbang langit, Puncak Lawu.”
Perjalanan Menuju Puncak
Gunung Lawu berdiri megah di kejauhan, puncaknya seolah-olah menembus kubah langit. Awan-awan tipis melingkar di lerengnya, bergerak perlahan menyerupai sabuk putih yang agung.
Di puncaknya yang tertinggi, bangunan-bangunan dari kayu cendana dan batu gunung berdiri dengan anggun, tampak seperti istana surgawi yang melayang di atas awan.
Dalam perjalanan mendaki jalan setapak yang terjal, Sin Yin berjalan sejajar di samping Wang Long. Napasnya teratur meski jalanan semakin menanjak. Ia sesekali melirik wajah pemuda di sampingnya yang tampak tak terganggu oleh tipisnya udara pegunungan.
“Kau yakin ingin datang ke sarang mereka?” tanya Sin Yin, nada suaranya menyiratkan kekhawatiran yang ia coba tutupi.
“Aku tidak bisa menghindar selamanya, Sin Yin. Jika aku lari, mereka akan terus memburu bayanganku,” jawab Wang Long tenang.
“Mereka bukan seperti orang-orang Sungai Ular yang emosional. Mereka lebih licin dan penuh dengan aturan yang menjerat.”
“Aku tahu.”
Sin Yin menghentikan langkah sejenak, menatap Wang Long sekilas dengan sorot mata menyelidik. “Kau tidak takut?”
Wang Long menghentikan langkahnya juga. Ia menoleh ke arah Sin Yin, dan sebuah senyum tipis yang hangat terukir di wajahnya. “Aku lebih takut kalau kau marah lagi padaku karena hal sepele.”
Mendengar itu, jantung Sin Yin berdegup sedikit lebih kencang. Ia hampir saja tersenyum, namun dengan cepat ia membuang muka dan kembali memasang wajah serius, meski rona merah samar muncul di pipinya. “Jangan bercanda di saat seperti ini.”
“Aku tidak bercanda,” sahut Wang Long. Ia menatap Sin Yin dengan lembut, membuat gadis itu terpaku sejenak. “Kau lebih sulit dihadapi daripada sepuluh pendekar tua yang penuh dengan tipu muslihat.”
Sin Yin tertawa kecil tanpa sadar, sebuah tawa yang merdu namun singkat. Namun, sedetik kemudian ia kembali mengerutkan kening.
“Golongan putih sering menyebut diri mereka penegak keadilan. Tapi banyak dari mereka yang hanya menjaga reputasi agar tetap terlihat suci di mata dunia.”
Wang Long mengangguk setuju, matanya menatap ke puncak gunung yang kian dekat.
“Kalau begitu, aku tidak akan berbicara dengan kata-kata. Aku akan berbicara dengan tindakan.”
Aula Awan Putih
Tiga hari kemudian, mereka sampai di halaman luas Perguruan Awan Putih. Lantai batu putih di sana dipoles hingga mengilap, memantulkan bayangan langit di atasnya.
Tiang-tiang kayu raksasa menjulang tinggi, menyangga atap aula yang megah. Puluhan murid dengan jubah putih yang seragam berdiri berbaris rapi di sisi kiri dan kanan, menciptakan lorong manusia yang penuh tekanan.
Di kursi utama aula, duduk seorang pria tua dengan janggut putih panjang yang menjuntai hingga ke dada. Rambutnya yang seputih salju terikat tinggi dengan tusuk konde perak.
Tatapannya sangat tenang, namun di balik ketenangan itu tersimpan ketajaman yang bisa membelah sukma—seperti pedang yang masih tersimpan rapat di dalam sarungnya.
“Selamat datang, Wang Long,” suaranya berat dan berwibawa, menggema ke setiap sudut aula tanpa perlu berteriak. “Aku adalah Ketua Perguruan Awan Putih.”
Pria itu tidak menyebutkan namanya, sebab di dunia persilatan, gelarnya saja sudah cukup untuk membuat orang membungkuk hormat.
“Kami mendengar kabar bahwa pewaris naga telah muncul kembali, membawa warisan Sembilan Master Naga yang legendaris,” lanjutnya.
Beberapa murid di barisan belakang mulai berbisik-bisik pelan, mata mereka penuh rasa ingin tahu sekaligus keraguan. “Namun, dunia ini tidak membutuhkan naga baru jika naga itu hanya akan membawa badai kehancuran.”
Sin Yin menyipitkan mata, tangannya mengepal di balik lengan bajunya. Ia merasakan aroma penghakiman yang kental di udara.
Wang Long melangkah maju dengan tenang, lalu menangkupkan tangan dengan hormat yang sewajarnya. “Apa sebenarnya maksud dari perkataan Ketua?”
“Puluhan tahun lalu, Sembilan Master Naga membawa kedamaian. Namun, sejarah mencatat bahwa kekuatan sebesar itu selalu berisiko merusak keseimbangan jika jatuh ke tangan yang salah,” Ketua itu berdiri perlahan dari kursinya, auranya menyebar luas menekan udara.
“Kami ingin tahu—apakah kau benar-benar pewaris mereka? Dan jika benar… apakah kau memiliki kelayakan untuk memikul beban tersebut?”
Suasana di aula mendadak tegang. Seorang tetua lain dengan wajah keras melangkah maju. “Banyak yang meragukan bahwa darah naga benar-benar kembali ke dunia ini.”
Tiba-tiba, seorang murid muda bertubuh tegap bersuara dengan lantang dari barisan, “Atau mungkin ini hanya sebuah gelar kosong yang sengaja diciptakan untuk menakuti golongan hitam!” Beberapa murid lain tampak mengangguk setuju, tatapan mereka merendahkan.
Sin Yin tidak tahan lagi, ia maju satu langkah dengan dagu terangkat. “Kalian terlalu pandai meragukan sesuatu yang bahkan belum berani kalian lihat dengan mata kepala sendiri!”
Ketua Awan Putih mengangkat tangannya sedikit, seketika seluruh aula kembali sunyi.
“Aula ini adalah tempat untuk berdiskusi, bukan tempat untuk saling berteriak.” Matanya kembali tertuju pada Wang Long. “Anak muda, kami tidak datang sebagai musuh. Namun, golongan putih tidak akan menerima sebuah simbol besar tanpa melalui ujian.”
“Ujian seperti apa yang kalian inginkan?” tanya Wang Long datar.
“Buktikan bahwa kau bukan sekadar legenda yang diciptakan oleh desas-desus. Buktikan kekuatanmu.”
Hening panjang menyelimuti aula. Wang Long menatap lurus ke mata Ketua Perguruan tanpa rasa gentar sedikit pun. “Aku tidak datang ke sini untuk mencari pengakuan dari siapa pun.”
“Namun, pengakuan akan datang dengan sendirinya jika kau memutuskan untuk berdiri di atas panggung dunia persilatan,” sahut sang Ketua dengan nada yang tak terbantahkan.
Sin Yin menoleh pada Wang Long. Ia merasa ini adalah sebuah tekanan psikologis yang berat.
Jika Wang Long gagal dalam ujian ini, namanya akan dicemooh sebagai penipu oleh seluruh golongan putih. Namun jika ia terlalu menonjol, ia akan menjadi target utama kecemburuan banyak orang.
Ketua melanjutkan, “Dalam tujuh hari ke depan, kami akan mengirim pendekar-pendekar terbaik dari generasi muda kami untuk mengujimu secara bergantian.”
Sin Yin mendengus, dadanya membusung penuh keberanian. “Dan jika mereka semua kalah di tangan Wang Long?”
“Jika mereka kalah, kami akan mengakui secara resmi bahwa sang naga memang telah benar-benar kembali ke daratan ini.”
Wang Long terdiam sejenak, mengatur napasnya yang tenang. “Aku tidak pernah ingin menjadi simbol bagi siapa pun.”
Ketua Awan Putih menatapnya dengan tajam, seolah sedang membaca isi hati pemuda itu. “Dunia yang sedang kacau ini sangat membutuhkan sebuah simbol untuk bersatu.”
“Dunia yang kacau ini tidak butuh simbol, Ketua. Dunia ini membutuhkan tindakan nyata untuk menghentikan penderitaan,” sahut Wang Long tegas.
Jawaban itu membuat seluruh aula terkesiap. Ketua Perguruan memandang Wang Long untuk waktu yang sangat lama, lalu sebuah senyum tipis yang misterius muncul di bibirnya. “Kau memang berbicara seperti seorang naga yang agung.”
Beberapa murid tampak tidak puas dan menggenggam hulu pedang mereka, namun wibawa sang Ketua membuat mereka tetap terpaku di tempat.
“Baik. Tujuh hari dari sekarang. Buktikan bahwa kehadiranmu tidak akan menjadi badai yang merusak segalanya.”
Di Tangga Batu Puncak
Setelah meninggalkan aula yang menyesakkan itu, Sin Yin dan Wang Long berjalan berdampingan menuruni tangga batu panjang yang membelah lereng gunung.
“Ini adalah sebuah jebakan reputasi yang licik,” gumam Sin Yin, matanya menatap anak tangga di bawahnya dengan geram.
“Bukan jebakan, Sin Yin. Hanya sebuah ujian yang harus dilewati,” sahut Wang Long.
“Kalau kau menang, mereka akan berusaha mengikat namamu pada kepentingan golongan putih agar mereka terlihat lebih kuat. Tapi kalau kau kalah sedikit saja, mereka akan menginjak-injak namamu tanpa ampun,” jelas Sin Yin dengan nada bicara yang penuh emosi.
Wang Long tersenyum tipis, menatap hamparan awan di bawah mereka. “Bagaimana kalau aku sejak awal memang tidak peduli pada nama dan reputasi?”
Sin Yin berhenti melangkah. Ia menoleh dan menatap Wang Long dalam-dalam. “Kau peduli, Wang Long.”
Wang Long ikut berhenti, menatapnya dengan heran. “Pada apa?”
“Pada orang-orang lemah yang kau bela. Kau tahu bahwa dengan nama itu, kau bisa memberi mereka harapan,” ucap Sin Yin dengan suara yang melembut.
Hening sejenak. Angin pegunungan yang sangat dingin berembus melewati mereka, mengibarkan rambut dan jubah. Sin Yin berdiri di satu anak tangga yang lebih rendah, membuatnya harus sedikit mendongak untuk menatap mata Wang Long.
“Bagaimana jika nanti mereka memaksamu memilih? Antara mematuhi aturan kaku golongan putih atau dicap sebagai golongan hitam?” tanya Sin Yin serius.
“Aku tidak akan memilih warna jubah mereka, Sin Yin. Aku akan selalu memilih rakyat jelata yang desanya dibantai tanpa pembelaan,” jawaban Wang Long keluar dengan begitu tegas, tanpa ada keraguan sedikit pun di dalamnya.
Sin Yin tersenyum kecil, sebuah senyum ketulusan yang murni. “Itu adalah satu-satunya jawaban yang benar.”
Wang Long menatap langit yang kian cerah. Awan-awan putih bergerak perlahan, seolah memberikan jalan bagi cahaya matahari.
Namun, jauh di kejauhan, di balik rimbunnya kabut hutan yang gelap di kaki gunung—sepasang mata dingin dari balik topeng hitam kembali mengawasi setiap gerak-gerik mereka.
Sang pembunuh bayangan masih di sana, menunggu dalam kesabaran yang mematikan. Kini tantangan bagi Wang Long telah menjadi berkali-kali lipat lebih berat.
Golongan putih yang meragukannya, golongan hitam yang mengincarnya, dan pembunuh bayangan yang menginginkan darahnya.
Di tengah badai yang mulai terbentuk itu, Wang Long harus membuktikan bahwa naga yang kini bangkit bukanlah sekadar legenda kosong, melainkan sebuah takdir yang akan mengguncang dunia persilatan.
Bersambung...