NovelToon NovelToon
Pewaris Terahir Murim

Pewaris Terahir Murim

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Spiritual / Sistem / Cintapertama / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:990
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:

**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**

Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.

Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.

Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33: FINAL

Malam sebelum final, Ha-neul tidak bisa tidur.

Ia duduk di atap asrama, memandangi langit kelabu yang tak pernah berubah. Angin bertiup lebih kencang dari biasanya, membawa aroma aneh—campuran dupa, darah, dan sesuatu yang busuk. Di kejauhan, bangunan pusat Sekte Iblis masih menyala, jendela-jendelanya seperti mata-mata yang mengawasi.

"Gugup?" tanya Hyeol-geon.

"Bukan gugup. Aku memikirkan Hyeon Mu."

"Petarung berjubah merah itu. Aku sudah amati pertarungannya. Dia kuat, cepat, dan tidak punya banyak kelemahan."

"Tapi pasti ada."

"Pasti. Setiap petarung punya kelemahan. Kau harus menemukannya besok."

Ha-neul mengangguk. Ia sudah memikirkan strategi sepanjang sore, tapi belum menemukan celah yang jelas. Hyeon Mu bertarung seperti mesin—efisien, tanpa gerakan sia-sia. Ia tidak mudah terpancing, tidak mudah lelah, tidak membuat kesalahan bodoh.

Ini akan jadi pertarungan terberatnya.

"Ingat, Ha-neul. Tujuanmu bukan menang, tapi bertahan hidup dan tetap di dalam. Jangan sampai masuk tiga besar ritual."

"Aku tahu, Guru. Tapi jika aku kalah di final, aku peringkat dua. Itu tetap tiga besar."

"...Iya. Itu masalahnya."

Ha-neul diam. Jika ia kalah di final, ia akan masuk tiga besar dan berisiko menjalani ritual mengerikan itu. Jika ia menang, ia juara—juga tiga besar. Tidak ada jalan keluar yang sempurna.

"Kau harus kalah di final, tapi dengan cara yang membuatmu tidak dipilih untuk ritual."

"Bagaimana caranya?"

"Tunjukkan kelemahan. Buat mereka berpikir kau tidak layak untuk ritual. Tapi jangan sampai kau mati."

Ha-neul merenung. Itu strategi berisiko. Satu kesalahan, dan lawannya bisa membunuhnya.

Tapi tidak ada pilihan lain.

---

Pagi final tiba dengan suasana yang berbeda.

Arena utama dipenuhi lebih banyak orang dari sebelumnya. Bukan hanya penonton biasa, tapi juga petinggi-petinggi Sekte Iblis dari cabang-cabang lain. Mereka datang dari berbagai wilayah untuk menyaksikan final turnamen tahunan ini. Di tribun paling atas, kursi khusus disiapkan untuk Penguasa Sekte sendiri.

Ha-neul berdiri di ruang tunggu, memeriksa pedang kayunya untuk terakhir kali. Di sampingnya, Seo Jun-ho sudah bisa duduk, meski masih terbungkus perban.

"Kang Woo, lo pasti bisa," kata Jun-ho lemah. "Gua yakin."

Ha-neul menatapnya. "Jun-ho, apa pun yang terjadi nanti... kau harus selamat. Cari kakakmu. Tinggalkan tempat ini."

Jun-ho mengerutkan kening. "Lo ngomong apa? Lo juga harus—"

"Janji."

Jun-ho diam. Lalu perlahan, ia mengangguk. "Janji."

---

Ha-neul melangkah ke arena.

Di seberang, Hyeon Mu sudah menunggu. Jubah merahnya berkibar pelan, meski tidak ada angin. Rambut panjangnya tergerai, matanya setajam silet. Di tangannya, sebilah pedang lurus—sederhana, tapi dari pancarannya, Ha-neul tahu itu senjata berkualitas tinggi.

"Kang Woo," sapa Hyeon Mu. Suaranya dalam, tenang. "Aku sudah mengamati semua pertarunganmu. Kau petarung yang cerdas. Sayang sekali, kita harus bertemu di final."

Ha-neul tidak menjawab. Ia mengambil posisi.

Wasit mengangkat tangan. "Mulai!"

Hyeon Mu langsung menyerang.

Kecepatannya luar biasa—bahkan lebih cepat dari Jun-ho. Pedangnya menyambar seperti kilat, menciptakan jejak-jejak energi biru di udara. Ha-neul menghindar sekuat tenaga, tapi satu serangan nyaris mengenai bahunya. Ia merasakan ujung pedang itu menyobek bajunya.

"Dia level berbeda!" seru Hyeol-geon.

Ha-neul tahu. Ia harus ekstra hati-hati.

Hyeon Mu terus menekan. Tidak ada jeda, tidak ada kesalahan. Setiap serangan terukur, setiap langkah presisi. Ha-neul terus mundur, hampir tidak punya kesempatan membalas.

Penonton bersorak. Mereka haus pertumpahan darah.

Dua menit. Lima menit. Sepuluh menit.

Ha-neul mulai terdesak ke tepi arena. Tubuhnya sudah beberapa kali terkena sabetan—luka-luka kecil, tapi cukup untuk menguras tenaga. Ia belum sempat melancarkan satu serangan pun.

"Ha-neul, kau harus lakukan sesuatu!"

Aku tahu!

Saat Hyeon Mu menyerang lagi, Ha-neul tidak mundur. Ia melangkah maju, memiringkan tubuh, dan pedang kayunya menusuk. Bukan ke titik vital, tapi ke arah lengan lawan.

Tapi Hyeon Mu sudah membaca gerakannya. Ia memutar tubuh, menghindar, dan dalam gerakan yang sama, pedangnya menyabet perut Ha-neul.

SRET!

Darah muncrat. Ha-neul terhuyung, memegangi perutnya. Lukanya dalam—tidak fatal, tapi cukup untuk melumpuhkan jika terus dibiarkan.

Hyeon Mu berhenti. "Menyerahlah. Kau sudah kalah."

Ha-neul terengah-engah. Darah mengucur di sela jarinya. Tubuhnya bergetar menahan sakit.

Tapi ia belum menyerah. Ia ingat rencananya—menunjukkan kelemahan. Ini saatnya.

Ia mencoba berdiri tegak, lalu pura-pura limbung. Wajahnya dibuat pucat, napas tersengal-sengal. Pedang kayunya hampir jatuh.

"Kau... kau memang kuat," katanya terbata-bata. "Aku... aku tidak bisa..."

Hyeon Mu mengamatinya. Matanya menyipit, mencari tipu daya. Tapi Ha-neul terlalu pandai berpura-pura. Tiga tahun menjadi sampah di klan telah mengajarinya seni bersandiwara.

"Menyerah," desak Hyeon Mu. "Aku tidak ingin membunuhmu."

Ha-neul bergeming. Lalu perlahan, ia menjatuhkan pedang kayunya.

"Aku... menyerah."

Hening.

Penonton bersorak—tapi sorak kecewa. Mereka ingin melihat pertarungan sampai mati, bukan penyerahan diri.

Wasit mendekat. "Kang Woo menyerah! Pemenangnya: Hyeon Mu!"

Hyeon Mu menatap Ha-neul lama. Ada sesuatu di matanya—mungkin rasa hormat, mungkin curiga. Tapi ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya berbalik dan melangkah keluar arena.

Ha-neul tergeletak di lantai, dikelilingi genangan darahnya sendiri. Petugas medis segera datang, membawanya ke ruang perawatan.

Di tribun khusus, Penguasa Sekte mengerutkan kening. "Menyerah? Anak itu menyerah?"

Ajudan menunduk. "Lukanya cukup parah, Tuan. Mungkin ia tidak mampu melanjutkan."

"Hm." Penguasa Sekte merenung. "Tapi ia tetap peringkat dua. Masuk tiga besar." Ia tersenyum tipis. "Siapkan ritual. Aku ingin melihat apakah anak itu layak jadi bagian dari koleksiku."

---

Di ruang perawatan, Ha-neul terbaring dengan perban tebal melilit perutnya. Lukanya dijahit dan dibalut, tapi rasa sakit masih terasa. Ia memejamkan mata, mencoba mengatur napas.

Jun-ho duduk di sampingnya, wajah cemas. "Lo gila, Kang Woo. Lo bisa mati."

"Tapi tidak mati."

"Lo sengaja kalah?"

Ha-neul membuka mata, menatap Jun-ho. "Kau tahu, Jun-ho? Di tempat ini, kadang menang lebih berbahaya daripada kalah."

Jun-ho mengerutkan kening. "Maksud lo?"

Ha-neul tidak menjawab. Ia hanya menatap langit-langit.

Di luar, suara pengumuman menggema. Tiga besar turnamen: Hyeon Mu sebagai juara, Kang Woo sebagai runner-up, dan Naga Hitam sebagai peringkat ketiga. Mereka akan menjalani ritual Penguatan Iblis tiga hari lagi.

Ha-neul menarik napas panjang.

Ritual itu. Ia harus selamat darinya. Atau setidaknya, berpura-pura gagal.

"Kau punya rencana?" bisik Hyeol-geon.

"Belum. Tapi aku akan cari."

"Kau hanya punya tiga hari."

"Aku tahu."

Ha-neul memejamkan mata. Di balik kelopaknya, ia melihat bayangan Soo-ah tersenyum di lembah tersembunyi. Ia ingat janjinya: akan pulang.

Ia harus pulang.

1
Riska Purwati
👍👍👍👍👍👍
maklie_
aku mampir 💪
Asepsolih Sutarman
ceritanya seru, suka banget.....top markotop
Asepsolih Sutarman
makin seru ceritanya...👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!