Nadine, seorang gadis belia harus menikah muda karena sebuah insiden, kehidupan yang sederhana dengan sang suami membuatnya bahagia , Nadine tidak mau tahu tentang kehidupan suaminya, yang ternyata seorang CEO yang kabur dari keluarga nya karena akan di jodohkan. namun kejadian tragis menimpanya, pasangan suami istri itu kecelakaan, sang suami di bawa pergi oleh mata-mata dari keluarga nya, lalu Amnesia, sedangkan Nadine koma saat melahirkan putra pertama mereka sampai usia putranya empat tahun,
Assalamualaikum....
Yuh... ikuti kisah selanjutnya....
Nadine yang sudah sadar dan berusaha mencari sang suami yang ternyata Amnesia
mohon dukungannya para pembaca...
terimakasih 🥰🥰🥰🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
Suasana di ruang tamu mansion itu seketika membeku. Nadine berdiri mematung, pipinya memerah panas akibat tamparan keras Aurel. Ia sebenarnya bisa saja menghindar, refleks tubuhnya yang terlatih selama bertahun-tahun menjaga diri di desa sangat mumpuni untuk menepis tangan manja Aurel, namun ia memilih untuk tetap diam.
Nadine membiarkan tamparan itu mendarat. Ia tahu, luka di pipinya adalah kunci untuk membuka pintu empati di hati Aditya yang selama ini tertutup rapat oleh dinding amnesia. Seperti kata Aurel, ada bagian dari rencana Nadine yang memang ingin menarik perhatian suaminya, memancing naluri pelindung pria itu yang telah lama mati.
Aditya menyaksikan kejadian itu dengan mata kepala sendiri. Suara tamparan itu menggema di telinganya seperti ledakan. Ia melihat Nadine hanya tertunduk, meremas jemarinya tanpa membalas sedikit pun, sebuah pemandangan yang menghancurkan hatinya.
"AUREL! APA YANG KAMU LAKUKAN?!" teriak Aditya, suaranya menggelegar hingga para pelayan di dapur berlarian keluar karena takut.
Aditya langsung menarik Nadine ke belakang tubuhnya, menjadikannya perisai hidup. Ia mencengkeram pergelangan tangan Aurel dengan sangat kuat, hingga wanita itu memekik kesakitan.
"aw...Lepaskan, Adit, ini sakit....hiks...! Dia pantas mendapatkannya! Dia wanita murahan yang menjebakmu semalam!" teriak Aurel histeris.
"Satu-satunya orang yang tidak tahu malu di sini adalah kamu, Aurel!" bentak Aditya. Nafasnya memburu. "Dia tidak menjebakku. Aku yang memohon padanya untuk diizinkan menginap di rumahnya , karena aku merasa lebih hidup di sana daripada di rumah ini bersama wanita sepertimu!"...,
" kau hanya tunangan,bukan ISTRIKU yang bisa kapan saja aku putuskan, lebih baik kau pergi dari sini,dan pertunangan kita batal, aku tidak ingin menikah dengan mu, Aku tidak mencintaimu" seru Aditya dengan nafas memburu... dadanya naik turun menahan amarah yang tertahan, seandainya Aurel laki-laki, sudah pasti ia akan menghajarnya habis-habisan.
Di tengah keributan itu, Aditya tidak peduli pada Aurel yang berteriak histeris tidak terima. Ia memutar tubuhnya, memegang kedua bahu Nadine dengan tangan yang gemetar karena amarah dan rasa bersalah.
"Mona... kamu baik-baik saja? Kenapa kamu tidak menghindar?" tanya Aditya, suaranya mendadak parau dan lembut.
Nadine mendongak perlahan. Matanya yang berkaca-kaca menatap lurus ke dalam netra Aditya. "Saya hanya seorang pelayan, Tuan Muda. Saya tidak punya hak untuk melawan calon istri Anda."
"Jangan katakan itu lagi, mulai sekarang, Aurel bukanlah calon istriku, sampai mati pun aku tidak akan pernah menikahinya!" potong Aditya pedih. Ia menyentuh pipi Nadine yang memar dengan ibu jarinya, gerakannya sangat halus seolah takut menyakiti lebih jauh. "Kamu bukan pelayan. Kamu asisten pribadiku. Dan mulai detik ini, tidak akan ada satu orang pun, termasuk Aurel atau Papa, yang boleh menyentuh seujung rambutmu pun."
Aditya menoleh ke arah Aurel yang sedang sibuk mengusap pergelangan tangannya yang memerah karena cengkraman Aditya "Aurel, keluar dari rumah ini sekarang. Dan jangan pernah injakkan kakimu di sini lagi sampai aku yang memintanya."
"Adit! Kamu mengusirku demi dia?!" sahut Aurel tidak terima.
"IYA! Sekarang pergi!"
"Aditya... apa-apaan kamu hah?, Mama tidak akan pernah membiarkan kamu memutuskan pertunangan ini, setelah ulang tahun perusahaan, kamu harus menikahi Aurel"teriak Adelia frustasi, ia tidak menyangka, walaupun putranya amnesia, masih sangat sulit untuk dikendalikan, bahkan kali ini lebih berani.
Aditya tidak peduli teriakan ibunya, ia menuntun Nadine menuju kamar Nadine untuk mengganti baju. Sepanjang jalan, ia tidak melepaskan genggaman tangannya.
Nadine tersenyum tipis di balik maskernya. Rencananya berhasil. Pipinya memang sakit, tapi ia merasakan kemenangan besar, Aditya telah memilihnya di depan semua orang, mengabaikan status dan logika.
Di telinga Nadine, suara Noah terdengar kembali lewat earpiece. "Ibu, Ayah sudah sepenuhnya berada di pihak kita. pengorbanan ibu saat ditampar tadi tidak sia-sia, tapi Noah ngeri sendiri melihat ibu ditampar seperti itu, pasti sangat sakit ya, tetapi. Mari kita hancurkan mereka perlahan, Bu."
Nadine menarik napas dalam. "Terima kasih, Noah. Jaga dirimu di rumah." bisiknya pelan setelah ia menutup pintu kamarnya, sedangkan Aditya juga akan kembali ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian...
Sedangkan di ruang tamu, Aurel terduduk, ia menangis karena tidak mau diusir dari rumah ini, ia berlari ke kamarnya, kamu menangis sejadi-jadinya di sana...
Brakkkkk
Brakkkkk
Cling...
Kini Suasana di kamar mewah Aurel pecah oleh suara dentuman keras. Sebuah botol parfum kristal mahal melayang dan menghantam cermin meja rias, menciptakan retakan besar yang menyerupai jaring laba-laba. Tidak puas, Aurel menyapu semua deretan kosmetik bermereknya hingga jatuh berserakan di lantai.
Brakkkkk...
"TIDAK MUNGKIN! DIA TIDAK BISA MELAKUKAN INI PADAKU!" teriak Aurel histeris. Napasnya tersengal, wajahnya yang cantik kini tampak mengerikan karena amarah yang meluap.
Ucapan Aditya di ruang tamu tadi terus terngiang-ngiang di kepalanya seperti kaset rusak. “Putus? Dia memutuskan pertunangan hanya karena pelayan busuk itu ditampar?”
"AWAS KAU MONA SIALAN, DASAR PELAYAN BUSUK, AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMBIARKANMU BAHAGIA"teriaknya frustasi, ia terus memberontak, karena amarah yang meluap-luap.
Adelia, ibu Aditya, masuk ke kamar dengan langkah tenang namun matanya memancarkan kegelisahan. Ia segera menghampiri Aurel dan memeluk bahu wanita muda itu, mencoba menahannya agar tidak merusak lebih banyak barang.
"Tenang, Aurel! Jangan seperti orang gila! Kamu hanya akan membuat Aditya semakin menjauh jika dia melihatmu mengamuk begini," ucap Adelia dengan suara rendah yang menenangkan...
Aurel berhenti lalu menoleh ke arah tantenya
"Tenang bagaimana, Tante?! Tante dengar sendiri tadi, kan? Dia membelanya! Di depan semua orang, dia mengusirku demi wanita kusam itu hiks ...!" Aurel menangis sejadi-jadinya di bahu Adelia. "Aku sudah menunggu lima tahun, Tante. Aku yang menemaninya saat dia baru bangun dari koma, aku yang meyakinkannya kalau kak Adit kecelakaan karena urusan pekerjaan!"
Adelia mengelus rambut Aurel, namun tatapannya menatap tajam ke arah jendela. "Dengar, Aurel. Aditya sedang dalam pengaruh emosi sesaat. Dia itu amnesia, ingatannya belum stabil. tante dan om mu sudah memberinya obat agar sampai kapanpun ia tidak bisa mengingat kembali kejadian 4 tahun yang lalu, Dia hanya merasa kasihan karena kamu memukul wanita itu di depannya. Kamu melakukan kesalahan bodoh dengan bermain kasar di depan matanya." ucap Adelia yang membuat Aurel seketika itu juga diam.
Ia merasa cemburu pada pelayan rendahan yang sudah membuat Aditya semakin jauh pada dirinya, padahal ia tahu sendiri, kalau Aditya melakukannya hanya karena kasihan pada pelayan kusam itu, tidak mungkin Aditya bisa sampai mencintai pelayan seperti itu,
"Aurel lepas kendali tante"Aurel mengusap air matanya lalu membetulkan kembali rambutnya yang tadi sempat ia acak-acak, matanya berkilat penuh amarah.