NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 Sah

Rabu datang dengan cara yang tidak dramatis sama sekali.

Tidak ada hujan sinematik seperti malam pertama aku bertemu Revano. Tidak ada langit yang kelabu atau angin yang bertiup dengan timing yang terlalu pas. Hanya pagi Jakarta yang biasa — panas yang sudah terasa sejak pukul tujuh, suara klakson dari jalan bawah, dan alarm ponselku yang berbunyi pukul enam seperti setiap hari kerja.

Aku bangun. Mandi. Membuat kopi sendiri dari sisa sachet yang ada di laci dapur.

Duduk di tepi kasur dengan cangkir di tangan dan menatap koper yang sudah setengah aku packing sejak kemarin malam — karena Sabtu ini aku pindah, dan ada logika aneh yang membuat aku mulai packing sebelum hari pernikahannya bahkan selesai, seolah tangan perlu pekerjaan konkret supaya kepala tidak terlalu sibuk dengan hal-hal yang tidak konkret.

Aku menutup koper. Itu urusan Sabtu.

Sekarang urusan Rabu dulu.

Blazer birunya ada di gantungan pintu.

Biru dongker, potongan structured, yang aku beli dua tahun lalu untuk presentasi klien besar yang pada akhirnya tidak jadi karena proyeknya dibatalkan. Sejak itu blazer itu menggantung di sana — terlalu bagus untuk dipakai ke acara biasa, terlalu sayang untuk dijual, dan entah bagaimana berhasil selamat dari beberapa kali sesi decluttering yang aku lakukan ketika stres.

Hari ini dia dapat momennya.

Aku memakainya di atas kemeja putih, celana hitam panjang yang potongannya masih bagus, dan sepatu flat hitam yang nyaman karena aku tidak tahu akan berdiri berapa lama dan aku tidak dalam suasana hati untuk menderita demi penampilan di acara yang secara teknis tidak perlu terlihat istimewa untuk siapapun selain dua orang saksi.

Aku berdiri di depan cermin kecil di belakang pintu kamar mandi.

Rambut yang sudah aku rapikan dengan cukup. Makeup yang minimal tapi ada — concealer, bedak, lipstik nude yang cukup sopan. Anting kecil emas yang selalu aku pakai ke acara yang perlu terlihat serius.

Perempuan di cermin itu terlihat seperti orang yang akan meeting dengan klien penting. Bukan orang yang akan menikah dalam dua jam.

Mungkin itu yang tepat untuk hari ini.

Kantor Catatan Sipil yang dipilih bukan yang terdekat dari penthouse atau dari kosan — melainkan di kecamatan yang berbeda, cukup jauh dari kawasan yang biasa jadi radar media atau kolega keluarga Aldrich. Kenzo yang memilihnya, aku yakin, dengan pertimbangan yang sudah diperhitungkan sampai ke probabilitas sekecil apapun ada wajah yang dikenal lewat di hari yang salah.

Aku tiba dengan transportasi online. Mobil Revano sudah ada di parkiran ketika aku sampai — hitam, bersih, dengan Kenzo yang berdiri di dekat pintu masuk gedung sambil mengecek ponselnya.

Dia melihatku datang dan mengangguk sopan. "Selamat pagi, Bu Ariana. Pak Revano sudah di dalam."

"Terima kasih, Kenzo."

Aku masuk.

Gedung Kantor Catatan Sipil itu punya bau khas — campuran antara kertas lama, pendingin ruangan yang terlalu dingin untuk ruangannya, dan sesuatu yang tidak bisa aku definisikan tapi langsung membawa perasaan bahwa apapun yang terjadi di sini bersifat resmi dan permanen.

Revano berdiri di dekat meja tunggu di koridor, memakai jas abu-abu gelap yang berbeda dari biasanya — lebih formal dari jas kerjanya sehari-hari, tapi bukan tuxedo atau apapun yang berlebihan. Dasi hitam tipis. Rambut yang sama rapinya.

Dia melihatku masuk.

Tidak ada komentar soal penampilanku. Tidak ada senyum sambutan. Hanya tatapan singkat yang aku tidak bisa baca sepenuhnya, lalu dia mengangguk sedikit — bahasa tubuh yang paling Revano untuk menyampaikan: kamu datang, bagus, kita mulai.

Di sampingnya ada Tania — pengacara yang sama dari hari penandatanganan kontrak, hari ini memakai blazer abu-abu dan membawa map tipis yang aku asumsikan berisi dokumen yang perlu.

Kami berempat. Itu saja.

Petugasnya bernama Pak Hendra — aku membaca dari name tag di jasnya. Usia lima puluhan, wajah yang ramah dengan cara yang terlatih oleh bertahun-tahun melakukan hal yang sama, dan cara bicara yang efisien tanpa terasa terburu-buru.

Ruangannya kecil. Meja petugas di satu sisi, dua kursi untuk yang akan menikah di depannya, kursi tambahan di pinggir untuk saksi. Di dinding ada foto presiden dan wakil presiden yang sudah mulai melengkung di sudutnya, dan satu tanaman plastik di pojok yang debunya tipis tapi ada.

Kami duduk.

Pak Hendra membuka dokumen. Memeriksa. Membandingkan dengan KTP kami masing-masing yang sudah diserahkan Kenzo sebelumnya. Proses yang sudah dia lakukan ribuan kali dengan cara yang tepat sama setiap kalinya.

"Revano Aldrich?" tanyanya, menatap ke arah Revano.

"Ya."

"Ariana Dewi?"

"Ya."

"Baik." Dia membuka halaman berikutnya. "Kita akan mulai prosesnya. Saya akan membacakan beberapa hal yang perlu dikonfirmasi oleh kedua pihak—"

Aku mendengarkan dengan bagian kecil dari pikiranku sementara bagian yang lain sibuk mencatat hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan yang sedang dibacakan Pak Hendra.

Misalnya — bahwa kursi ini sedikit miring ke kanan dan aku harus duduk sedikit condong ke kiri untuk merasa seimbang. Bahwa pendingin ruangan berbunyi setiap tiga puluh detik dengan bunyi klik kecil yang konsisten. Bahwa Kenzo duduk tegak di kursi saksinya dengan ekspresi netral yang sempurna, sementara Tania sesekali mencatat sesuatu di map tipisnya.

Dan bahwa Revano, di kursi sebelahku, tidak bergerak sama sekali selama Pak Hendra bicara. Tangannya di atas paha, punggung tegak, menatap ke arah petugas dengan konsentrasi yang entah genuine atau hanya terlatih — aku belum bisa membedakan keduanya secara konsisten.

"— apakah Saudara Revano Aldrich menyatakan dengan sukarela dan tanpa paksaan untuk melangsungkan pernikahan ini?"

"Ya."

"— apakah Saudari Ariana Dewi menyatakan dengan sukarela dan tanpa paksaan untuk melangsungkan pernikahan ini?"

Aku menarik napas yang tidak terdengar.

"Ya."

Ada bagian dari proses ini yang memerlukan tanda tangan. Bukan satu — beberapa. Di buku register, di formulir, di dokumen akta yang akan menjadi bukti hukum bahwa ini terjadi dan nyata dan tidak bisa dibatalkan hanya dengan berubah pikiran.

Aku menandatangani dengan tangan yang stabil. Entah karena aku memang tidak gugup dalam pengertian konvensional, atau karena gugup yang aku rasakan sudah berbeda bentuknya — bukan tremor di tangan, tapi sesuatu yang lebih diam di bawah tulang rusuk yang tidak menunjukkan diri ke luar.

Revano menandatangani setelah aku. Tangannya tidak bergetar. Tentu saja tidak.

Kenzo dan Tania menandatangani sebagai saksi.

Pak Hendra memeriksa semuanya sekali lagi — teliti, tidak terburu-buru — lalu menekan stempel resmi di atas dokumen dengan gerakan yang sudah sangat hapal ototnya.

Bunyi stempel itu keras di ruangan yang kecil.

Dan Pak Hendra mengangkat mukanya dengan senyum profesional yang sudah dia latih ribuan kali.

"Dengan ini pernikahan Saudara Revano Aldrich dan Saudari Ariana Dewi dinyatakan sah secara hukum." Dia menyerahkan dokumen akta ke arah kami. "Selamat."

Kami tidak saling menatap ketika kata itu diucapkan.

Aku menatap dokumen akta yang ada di tangan Pak Hendra. Revano menatap meja. Atau mungkin dokumennya juga — aku tidak melihat dengan jelas karena aku sendiri sedang sibuk memastikan ekspresi wajahku tidak mengkhianati apapun yang sedang terjadi di dalam dadaku.

Kenzo yang pertama bergerak — berdiri, mengambil dokumen dari Pak Hendra dengan sopan, mengucapkan terima kasih dengan nada yang profesional sempurna. Tania mengemasi mapnya.

Revano berdiri.

Aku berdiri.

Dan untuk tiga detik yang cukup panjang untuk terasa seperti lebih dari tiga detik, kami berdiri di ruangan kecil itu dengan dokumen akta pernikahan yang sudah ditandatangani dan distempel berpindah tangan antara Pak Hendra ke Kenzo, dan tidak ada yang berkata apapun ke siapapun.

Lalu Revano berkata, ke arahku, dengan suara yang cukup rendah untuk tidak terdengar Pak Hendra yang sudah kembali menekuni mejanya: "Kamu baik-baik saja?"

Pertanyaan yang sama dengan yang aku tanyakan kepadanya di trotoar Kuningan hari Selasa.

Aku menatapnya. Pertama kalinya kami benar-benar saling menatap sejak aku masuk ke ruangan ini.

"Sedang menuju ke sana," jawabku.

Kalimat yang sama dengan yang aku bilang ke Nara.

Sesuatu di sudut matanya bergerak sedikit. Pengakuan yang sangat kecil — bahwa dia tahu dari mana kalimat itu berasal, bahwa dia mendengarnya waktu aku mengatakan ke Nara di telepon yang tidak sengaja masih terhubung ketika kami bicara soal syarat tambahan, atau mungkin hanya kebetulan yang terasa seperti bukan kebetulan.

Aku tidak bertanya.

Dia tidak menjelaskan.

Kami keluar dari ruangan itu bersama — bukan bergandengan, bukan berdampingan dengan jarak yang berarti apa-apa, hanya dua orang yang berjalan ke arah yang sama melalui koridor yang berbau kertas lama dan pendingin ruangan yang terlalu dingin.

Di parkiran, Kenzo dan Tania berpamitan — Tania ke mobilnya, Kenzo untuk mengurus beberapa hal yang dia sebutkan dengan singkat ke Revano dalam bahasa yang setengahnya nama dokumen dan setengahnya nama orang yang tidak aku kenal.

Itu meninggalkan aku dan Revano di parkiran.

Situasi yang semakin sering terjadi — berdua, tanpa agenda yang terstruktur, tanpa Kenzo atau Tania atau meja pertemuan formal di antara kami.

Mobilnya ada di baris yang berbeda dari tempatku tadi turun dari transportasi online.

"Kamu naik apa pulang?" tanyanya.

"Online."

Dia diam sejenak. "Aku antar."

"Tidak perlu—"

"Kita searah. Kamu ke kosan, aku ke kantor, rutenya lewat sana." Dikatakan dengan nada yang tidak memberi ruang untuk diperdebatkan tapi juga tidak memerintah — lebih seperti menyampaikan fakta logistik.

Aku tidak punya argumen yang cukup kuat untuk menolak fakta logistik.

"Baik."

Di dalam mobilnya, tidak ada yang berbicara selama beberapa menit pertama. Musik tidak dinyalakan. Supir — bukan Kenzo hari ini, tapi orang lain yang aku tidak tahu namanya — mengendarai dengan tenang melewati jalanan yang sudah mulai padat meski belum sampai puncak kemacetan siang.

Aku menatap jendela. Revano membuka ponselnya — bukan untuk menelepon, sepertinya membaca sesuatu.

"Sabtu," katanya tanpa mengangkat mata dari layar.

"Hm?"

"Kamu bilang Sabtu untuk pindahan."

"Iya."

"Kenzo akan ke kosanmu pukul sepuluh untuk bantu koordinasi."

"Aku tidak butuh banyak bantuan, barangnya tidak—"

"Bukan soal jumlah barang." Dia mengangkat mata dari ponselnya. "Ini soal memastikan prosesnya berjalan tanpa ada yang perlu kamu urus sendirian di hari yang tidak mudah."

Aku menatapnya.

Kalimat itu — cara dia mengatakannya, hari yang tidak mudah — tidak terdengar seperti kalimat dari pasal kontrak manapun. Tidak terdengar seperti efisiensi logistik atau manajemen variabel. Terdengar seperti seseorang yang tahu bahwa pindah dari tempat yang sudah dua tahun jadi ruang pribadimu ke tempat yang asing adalah sesuatu yang punya bobotnya sendiri, dan memilih untuk mengakui bobot itu meski tidak dengan banyak kata.

"Terima kasih," kataku.

Dia mengangguk dan kembali ke ponselnya.

Mobil berhenti di depan gang menuju kosanku.

Aku membuka pintu. Lalu berhenti.

"Revano."

Dia menatapku.

"Hari ini—" aku berhenti sebentar, mencari kalimat yang tepat, "—terima kasih sudah tidak membuatnya lebih besar dari yang perlu."

Dia menatapku dengan ekspresi yang sudah mulai sedikit bisa aku baca — bukan ekspresi yang menunjukkan banyak, tapi ekspresi dari seseorang yang sedang mendengarkan dengan lebih dari telinganya.

"Itu yang kamu butuhkan," katanya akhirnya.

Sederhana. Tidak ada elaborasi. Tidak ada klaim bahwa itu karena kebaikan hati atau strategi atau apapun.

Hanya: itu yang kamu butuhkan.

Aku turun dari mobil. Menutup pinturnya pelan. Berdiri di trotoar dan menatap mobilnya pergi sampai belok di ujung jalan dan menghilang di balik tikungan.

Lalu aku berbalik dan berjalan ke kosanku — yang dalam tiga hari lagi bukan lagi kosanku, yang kuncinya akan aku kembalikan ke Ibu kos hari Jumat, yang tempat tidurnya akan aku tinggalkan bersama semua malam tidak tidurnya dan semua pagi yang terlalu cepatnya.

Di depan pintu, aku merogoh saku blazer biruku untuk mengambil kunci.

Dan menemukan sesuatu yang lain di sana juga — dokumen kecil, dilipat dua dengan rapi. Aku tidak ingat menaruhnya di sana.

Aku membukanya.

Bukan dokumen kontrak. Bukan pasal apapun.

Selembar kertas dengan tulisan tangan yang rapi dan sedikit kaku — seperti orang yang jarang menulis tangan tapi memilih melakukannya kali ini:

Lampiran B telah diselesaikan. Konfirmasi dari lembaga keuangan akan dikirim ke emailmu hari ini.

— R

Aku membaca dua kali.

Lalu menyadari bahwa kata-kata di kertas kecil itu artinya utang Bapak — angka yang sudah dua tahun menghantui setiap pagi dan setiap malam — sudah tidak ada lagi. Diselesaikan. Hari ini. Hari yang sama dengan hari ini.

Aku berdiri di depan pintu kosanku dengan kertas kecil itu di tangan dan langit Jakarta yang terik di atas kepala dan suara motor yang lewat di gang dan semua kebisingan kota yang tidak pernah berhenti.

Dan untuk pertama kalinya sejak dua tahun lalu — air matanya datang.

Bukan untuk Revano. Bukan untuk pernikahan kontrak atau pasal-pasal atau dua belas bulan ke depan yang penuh ketidakpastian.

Untuk Bapak dalam kemeja batik birunya, tertawa di foto yang masih menempel di dinding kamarku.

Untuk Mama di Depok yang besok pagi akan menyiram tanamannya tanpa tahu bahwa tanahnya aman.

Untuk dua tahun yang aku jalani sendirian — dan satu hari yang, meski dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan, memungkinkan semuanya bisa dilepaskan.

Aku menyeka mata dengan punggung tangan. Membuka pintu. Masuk.

Meletakkan kertas kecil itu di atas meja — di sebelah foto Bapak dan jauh dari surat penagihan yang sudah tidak relevan lagi.

Dan duduk di tepi kasur sambil membiarkan diri merasa semua yang perlu dirasakan sebelum Sabtu datang dan segalanya berubah lagi.

— Selesai Bab 6 —

1
Nina Ninu
terlalu kaku dan bertele tele
Nabilah Putri
💪💪
Wahyu🐊
ok
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!