Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, Alya menerima tawaran menjadi istri kontrak Bima, CEO muda paling berpengaruh di kota itu. Pernikahan mereka hanya berlangsung satu tahun — tanpa cinta, tanpa perasaan, tanpa masa depan.
Namun tinggal serumah dengan pria sedingin es yang diam-diam menyimpan luka masa lalu membuat batas antara kontrak dan kenyataan perlahan memudar. Ketika hati mulai terlibat, fitnah dan pengkhianatan justru menghancurkan kepercayaan mereka.
Saat kontrak berakhir, Alya pergi membawa rahasia yang tak pernah Bima duga.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang CEO muda harus belajar bahwa kehilangan jauh lebih menyakitkan daripada mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 — Pelatihan dan Tekanan
Jam sembilan tepat, bel rumah utama Wijaya berbunyi.
Alya sudah siap sejak setengah jam lalu.
Dress selutut warna nude yang sederhana namun elegan membalut tubuhnya. Rambutnya diikat rendah dengan rapi. Make-up tipis. Tidak mencolok, tapi cukup menunjukkan kelas.
Hari ini bukan tentang penampilan semata.
Hari ini tentang pembentukan.
Di ruang tamu utama, seorang wanita paruh baya dengan postur tegak dan sorot mata tajam berdiri menunggu. Setelan navy yang dikenakannya terlihat formal tanpa cela.
“Selamat pagi. Saya Ratna Mahendra. Konsultan etiket dan public image.”
Nada suaranya halus, tapi tegas.
“Alya Wijaya,” jawab Alya sopan.
Ratna menatapnya dari ujung kepala hingga kaki. Bukan menilai kecantikan. Menilai kesiapan.
“Kita punya waktu lima hari sebelum gala perusahaan. Waktu yang sangat singkat.”
“Saya siap belajar.”
“Bagus. Karena dunia yang akan Anda masuki bukan sekadar pesta makan malam.”
Pelatihan dimulai tanpa basa-basi.
Cara berjalan di atas heels dengan langkah stabil dan anggun. Cara duduk dalam balutan gaun formal panjang. Cara tersenyum di depan kamera tanpa terlihat dibuat-buat. Cara menjawab pertanyaan jebakan wartawan.
Setiap detail diperhatikan.
“Jangan terlalu cepat menjawab pertanyaan sensitif,” ujar Ratna ketika Alya menyelesaikan simulasi wawancara. “Diam dua detik sebelum berbicara menunjukkan kontrol.”
Alya mengangguk dan mengulang simulasi itu lagi.
Lebih tenang.
Lebih terukur.
Dari lantai dua, Bima memperhatikan melalui celah pintu ruang kerja pribadinya.
Ia tidak ikut campur.
Namun ia mengamati.
Setiap gerakan Alya menunjukkan kesungguhan. Tidak mengeluh. Tidak defensif saat dikoreksi.
Ketika waktu makan siang tiba, Ratna menghentikan sesi pertama.
“Kemajuan Anda cepat. Tapi jangan puas. Dunia elite tidak memaafkan kesalahan kecil.”
“Saya mengerti.”
Ratna tersenyum tipis sebelum pamit.
Begitu pintu tertutup, Alya menghela napas panjang.
Baru setengah hari dan rasanya seperti menjalani ujian berjam-jam.
“Terlalu berat?”
Suara Bima terdengar dari belakang.
Alya menoleh. Ia tidak menyadari pria itu sudah berdiri di ambang pintu.
“Tidak,” jawabnya jujur. “Hanya berbeda dari dunia saya sebelumnya.”
Bima melangkah masuk.
“Dunia kamu sebelumnya tidak mengharuskanmu menjaga setiap kata.”
Alya tersenyum tipis. “Sekarang iya.”
“Menyesal?”
Pertanyaan itu terdengar ringan. Namun maknanya dalam.
Alya menatapnya lurus.
“Kalau saya menyesal, saya tidak akan berdiri di sini.”
Bima tidak langsung menjawab. Tatapannya seolah mencoba membaca sesuatu yang lebih dalam.
“Gala nanti akan dihadiri investor dari Singapura dan Jepang. Mereka bukan tipe yang mudah terkesan.”
“Saya tidak perlu membuat mereka terkesan,” jawab Alya tenang. “Saya hanya perlu tidak membuat kesalahan.”
Sudut bibir Bima bergerak tipis.
“Kamu mulai mengerti.”
Siang itu pelatihan berlanjut dengan simulasi jamuan makan formal. Posisi sendok, garpu, cara memegang gelas wine, bahkan cara tertawa yang tidak berlebihan.
Alya mencatat semuanya di kepalanya.
Bukan karena takut.
Tapi karena ia tidak ingin menjadi beban.
Sore menjelang ketika pelatihan hari pertama selesai. Alya kembali ke kamar untuk beristirahat sejenak sebelum makan malam.
Tubuhnya lelah.
Namun pikirannya justru semakin tajam.
Ia menyadari sesuatu.
Semua persiapan ini bukan hanya demi citra perusahaan.
Ada tekanan lain.
Dan tekanan itu terasa seperti datang dari dalam lingkaran sendiri.
Saat makan malam, suasana lebih tenang dibanding hari-hari sebelumnya.
Namun ponsel Bima berdering.
Ia melihat layar sekilas sebelum mengangkatnya.
“Ya.”
Nada suaranya berubah.
Lebih dingin.
Lebih formal.
Alya tidak berniat menguping, namun beberapa kata terdengar jelas.
“Rapat mendadak?”
“Besok pagi?”
“Direksi lama?”
Hening beberapa detik.
“Baik. Saya akan hadir.”
Panggilan berakhir.
“Ada masalah?” tanya Alya tanpa nada ingin tahu berlebihan.
“Beberapa anggota direksi mempertanyakan keputusan pernikahan ini.”
Alya berhenti sejenak.
“Karena saya?”
“Karena waktunya.”
Jawaban itu diplomatis.
Namun cukup jelas.
Pernikahan ini bukan hanya soal dua orang.
Ini soal kekuasaan.
“Mereka menganggap pernikahan mendadak bisa memengaruhi saham perusahaan,” lanjut Bima.
Alya menatapnya.
“Lalu?”
“Saya akan menangani.”
Nada suaranya tegas.
Namun Alya memahami satu hal.
Ia bukan hanya istri.
Ia simbol keputusan CEO.
Dan simbol selalu disorot.
“Kalau perlu, saya bisa hadir di rapat,” ucapnya pelan.
Bima mengangkat alis tipis.
“Kamu bahkan belum resmi duduk di kursi dewan.”
“Justru itu. Mereka mungkin ingin melihat siapa wanita yang Anda pilih.”
Hening beberapa detik.
Tatapan Bima berubah.
Bukan meremehkan.
Melainkan mempertimbangkan.
“Kamu tahu mereka bisa menjatuhkanmu dengan satu pertanyaan tajam?”
Alya mengangguk.
“Saya juga tahu kalau saya terus bersembunyi, mereka akan menganggap saya kelemahan.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Bima berdiri perlahan dari kursinya.
“Rapat jam sepuluh pagi. Ruang utama.”
Ia berjalan mendekat.
“Datanglah.”
Itu bukan sekadar izin.
Itu kepercayaan.
Malam itu Alya tidak langsung tidur. Ia membuka laptop, membaca laporan perusahaan yang bisa ia akses. Struktur saham. Nama-nama direksi. Riwayat konflik internal.
Ia tidak ingin datang besok hanya sebagai pajangan.
Ia ingin datang dengan persiapan.
Dari sisi lain kamar, Bima memperhatikannya tanpa suara.
“Tidak perlu memaksakan diri.”
Alya tetap menatap layar.
“Saya tidak memaksa. Saya beradaptasi.”
“Kamu tidak takut?”
“Tentu saja takut.”
Ia akhirnya menoleh.
“Tapi saya lebih takut dianggap tidak pantas.”
Kalimat itu membuat ruangan terasa berbeda.
Bima mematikan lampu utama, menyisakan cahaya redup dari lampu samping tempat tidur.
“Kamu bukan kelemahan,” katanya pelan.
Itu bukan kalimat romantis.
Itu pernyataan.
Alya tidak menjawab.
Namun untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang terasa sedikit lebih hangat di antara mereka.
Bukan cinta.
Belum.
Tapi pengakuan.
Pagi berikutnya akan menjadi ujian pertama Alya di hadapan orang-orang yang mungkin tidak pernah menginginkannya berada di posisi ini.
Dan ia tidak berniat mundur.
Ia sudah menjadi Nyonya Wijaya.
Dan besok, ia akan membuktikan bahwa status itu bukan kesalahan.
Ia menutup laptop perlahan.
Layar hitam memantulkan wajahnya sendiri—tenang, tapi penuh tekad. Ia tahu rapat direksi bukan ruang ramah untuk orang baru. Terlebih lagi, untuk wanita yang tiba-tiba muncul sebagai istri CEO.
Ia tidak naif.
Beberapa dari mereka pasti menganggapnya alat.
Sebagian mungkin menganggapnya ancaman.
Dan sisanya hanya menunggu ia melakukan satu kesalahan kecil.
Alya berdiri dari kursi, berjalan ke balkon kamar. Udara malam Jakarta terasa lebih dingin dari biasanya. Lampu-lampu kota berkelip seperti ribuan mata yang mengawasi.
“Dunia kamu besar sekali,” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.
Bima yang berdiri tidak jauh darinya mendengar.
“Dan kejam,” tambahnya datar.
Alya menoleh.
“Kalau begitu, saya harus belajar menjadi kuat di dalamnya.”
Bima menatapnya beberapa detik. Tidak ada senyum. Tidak ada komentar meremehkan.
“Kuat saja tidak cukup,” katanya akhirnya. “Kamu juga harus cerdas membaca orang.”
“Saya akan belajar.”
“Kamu sudah melakukannya hari ini.”
Hening sejenak.
Untuk pertama kalinya, percakapan mereka terasa seperti dua sekutu yang sedang mempersiapkan medan perang.
Bukan suami-istri kontrak.
Bukan atasan dan bawahan.
Melainkan dua orang yang sama-sama tidak ingin kalah.
Alya kembali masuk ke dalam kamar. Ia melepas antingnya perlahan, meletakkannya di atas meja rias. Setiap gerakannya terkontrol, namun pikirannya bekerja cepat.
Besok bukan hanya tentang membela dirinya.
Besok tentang menjaga nama yang kini ia sandang.
Nama yang terukir di papan perusahaan.
Nama yang kini melekat di belakang namanya sendiri.
“Alya.”
Ia menoleh.
“Jangan mencoba menyerang lebih dulu,” ucap Bima. “Amati. Jawab seperlunya. Jangan menunjukkan emosi.”
Alya mengangguk.
“Saya tidak akan mempermalukan Anda.”
Bima menatapnya lebih dalam.
“Bukan itu maksudku.”
Kalimat itu membuat Alya terdiam.
Untuk beberapa detik, tidak ada suara di antara mereka selain detak jam dinding yang halus.
“Jaga dirimu,” lanjut Bima singkat.
Itu bukan instruksi formal.
Itu perhatian yang tidak diucapkan secara terang-terangan.
Alya tidak membalas dengan kata-kata manis.
Ia hanya mengangguk kecil.
“Besok jam sepuluh,” katanya memastikan.
“Jam sepuluh.”
Lampu kamar dimatikan sepenuhnya.
Kali ini, hening di antara mereka bukan karena jarak.
Melainkan karena fokus.
Besok akan menjadi panggung pertama Alya di dunia yang selama ini hanya ia lihat dari balik meja staf biasa.
Besok, ia tidak lagi berdiri di belakang.
Ia akan duduk sejajar.
Dan ketika pintu ruang rapat itu terbuka—
ia tidak akan masuk sebagai wanita yang beruntung menikah dengan CEO.
Ia akan masuk sebagai Alya Wijaya.
Istri sah.
Bagian dari keputusan.
Dan seseorang yang tidak bisa diremehkan.