Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langit Yang Runtuh
Saat The Nautilus-X memecah permukaan samudera Hindia, pemandangan yang menyambut Liora dan Adam bukanlah ketenangan fajar. Langit Indonesia, yang seharusnya membiru, kini tertutup oleh bayangan logam raksasa yang membentang dari ufuk ke ufuk. Bahtera Exodus pusat komando tertinggi para elit telah menembus stratosfer. Gesekannya dengan atmosfer menciptakan awan api yang terus-menerus, membuat dunia tampak seperti sedang terbakar dalam balutan warna oranye yang sakit.
"Mereka melakukan pendaratan paksa," bisik Adam, suaranya masih parau namun kini memiliki resonansi manusia yang nyata. Ia bersandar di pintu kapal selam, menghirup udara laut yang asin dengan mata yang bergetar. "Karena kita menghancurkan 'Anchor' di Sektor Zero, mereka tidak bisa lagi mengendalikan bumi dari jauh. Mereka harus mendarat untuk menghubungkan sistem mereka secara fisik ke jalur tektonik."
"Hendrawan, bagaimana kondisi Muara Takus?" Liora segera menghubungi markas melalui radio satelit darurat.
Suara Hendrawan terdengar di tengah deru ledakan. "Liora! Syukurlah kalian selamat! Kondisi di sini kacau! Para Arc.hon yang tadinya kehilangan arah setelah Sektor Zero hancur, kini mendadak menjadi beringas. Mereka tidak lagi mencoba berkhotbah; mereka menghancurkan apa saja yang menghalangi jalur pendaratan Bahtera! Mereka menuju ke arah bor-bor tektonik di sepanjang Cincin Api!"
Liora menatap Adam. "Apa tujuan mereka sebenarnya dengan mendaratkan Bahtera sebesar itu?"
"Mereka ingin melakukan 'The Great Over rite'," jawab Adam. Ia menunjukkan tangannya yang masih bergetar di bawah kulitnya, sisa-sisa nanoteknologi dari eksperimen Unit 731 masih berpendar redup. "Mereka akan menancapkan pasak-pasak Bahtera ke dalam gunung-gunung berapi aktif. Mereka akan menggunakan energi magma untuk menyiarkan frekuensi 'The Silence' secara global tanpa butuh satelit. Jika itu terjadi, setiap memori, setiap emosi, dan setiap sejarah manusia akan terhapus dalam satu detik. Kita akan menjadi tubuh kosong yang siap diisi ulang dengan program mereka."
Liora memutar kemudi kapal menuju pelabuhan darurat. "Kita harus menghentikan pendaratan itu."
"Kita tidak bisa menghentikan pendaratan sesuatu yang massanya sebesar kota," Adam menggeleng. "Tapi kita bisa membuat mereka 'salah mendarat'. Di dalam memori digital yang sempat kuserap, aku menemukan bahwa Bahtera itu memiliki sensor gravitasi yang sangat sensitif. Jika kita bisa mengaktifkan frekuensi resonansi di satu titik yang salah, mereka akan menganggap titik itu sebagai landasan, padahal itu adalah jebakan."
"Gunung Padang?" tebak Liora.
"Bukan. Gunung Padang sudah terlalu terdeteksi. Kita butuh tempat yang mereka anggap sebagai 'Alibi' tapi sebenarnya adalah senjata. Borobudur."
Liora mengernyit. "Bukankah Borobudur sudah kita gunakan?"
"Baru permukaannya, Liora. Unit 731 melakukan riset di sana karena mereka tahu Borobudur dibangun di atas pertemuan dua sungai purba yang membentuk pola vortex. Jika kita bisa membalikkan resonansi stupa utama, kita bisa menciptakan 'lubang hitam gravitasi' yang akan menarik Bahtera itu jatuh ke titik yang tidak berpenghuni, bukan ke pusat kota."
Saat mereka memacu kendaraan taktis dari pesisir menuju pedalaman Jawa, mereka melihat pemandangan yang membuat pembaca bertanya-tanya tentang kemanusiaan. Di jalan-jalan, orang-orang mulai kehilangan kesadaran mereka. Beberapa berdiri diam seperti patung, yang lain menangis tanpa sebab. Efek samping dari hancurnya Sektor Zero mulai terasa; jiwa manusia yang selama ini "ditopang" secara artifisial oleh frekuensi elit mulai mengalami kegagalan sistem.
"Mereka sedang sekarat, Adam," suara Liora tercekat.
"Bukan sekarat, Liora. Mereka sedang 'kosong'. Dan jika kita tidak segera mengisi kekosongan itu dengan frekuensi asli bumi di Borobudur, mereka akan menjadi permanen seperti itu. Sebuah planet berisi mayat hidup."
Di langit, Bahtera Exodus mulai mengeluarkan pasak-pasak raksasanya yang bersinar merah. Salah satu pasak itu meluncur jatuh, menghantam puncak Gunung Merapi dengan dentuman yang menggetarkan seluruh pulau Jawa. Abu vulkanik mulai menyembur, namun warnanya bukan abu-abu, melainkan hitam pekat bermuatan listrik.
"Satu menit lagi, dan mereka akan mengunci koordinat kedua," teriak Hendrawan lewat radio.
Liora menginjak pedal gas lebih dalam. Di depannya, siluet Borobudur nampak megah di bawah bayangan Bahtera yang menutupi matahari. Ini adalah perlombaan antara Arsitektur Jiwa melawan Arsitektur Kehancuran.
Namun, di tengah perjalanan, sebuah pesan masuk ke dasbor kendaraan mereka. Sebuah video pendek yang berulang-ulang. Video itu menunjukkan Area 51 gurun Nevada yang selama ini dianggap alibi. Tapi kali ini, tanah gurun itu terbelah, dan dari dalamnya muncul sesuatu yang selama ini tidak pernah dibayangkan oleh siapa pun, bahkan oleh Adam.
"Adam... lihat ini," Liora menunjuk layar.
Dari dalam "Alibi" Area 51, muncul ribuan pesawat kecil yang membawa simbol Unit 731 asli. Mereka bukan milik elit di Bulan. Mereka adalah faksi ketiga Para Ilmuwan Pembangkang yang selama ini bersembunyi di bawah tanah Amerika, menunggu saat elit dan pemberontak saling menghancurkan.
"Ternyata alibi itu punya alibi di dalamnya," bisik Adam. "Perang ini bukan lagi dua arah, Liora. Ini adalah perang tiga penjuru untuk memperebutkan sisa-sisa nyawa bumi."
Pembaca kini dipaksa untuk berpikir: Siapakah faksi ketiga ini? Apakah mereka lebih baik dari elit Bulan, ataukah mereka adalah sisa-sisa kekejaman murni yang ingin mengambil alih proyek Nephilim untuk diri mereka sendiri? .