NovelToon NovelToon
Call Man Service

Call Man Service

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Dikelilingi wanita cantik / Teen
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: APRILAH

Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.

Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.

Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Pemulihan ibu Xiao Han berjalan lebih cepat dari perkiraan dokter. Setiap hari terapi fisik di rumah sakit, ibu mulai bisa menggerakkan lutut sedikit demi sedikit. Jari kakinya yang dulu mati rasa sekarang bisa menekuk pelan saat dipijat. Wajahnya semakin bercahaya, senyumnya lebih sering muncul, dan suaranya sudah kuat untuk bercanda dengan Xiao Mei.

“Kak Han, lihat! Ibu bisa angkat kaki ini sedikit!” kata ibu suatu pagi, sambil mengangkat lutut kanannya sekitar 10 cm dari kasur. Xiao Mei bertepuk tangan kegirangan, langsung memeluk ibunya.

“Keren banget, Bu! Nanti kalau sudah bisa jalan, kita ke mall bareng ya? Beli es krim!”

Ibu tertawa, matanya berkaca-kaca. “Iya, Mei. Ibu janji. Dan Han… terima kasih ya, Nak. Tanpa kamu, Ibu mungkin nggak sampai di sini.”

Xiao Han hanya tersenyum tipis, memegang tangan ibunya. “Ibu yang kuat, Bu. Kita semua yang kuat.”

Hua Ling’er datang setiap sore seperti biasa. Dia membawa buku cerita untuk dibacakan ke ibu, atau sekadar duduk sambil memijat kaki ibu yang masih kaku. Ibu sangat menyayangi Hua Ling’er—selalu memanggilnya “Ling’er” dengan nada hangat, seperti memanggil anak sendiri.

Tapi belakangan ini, Hua Ling’er mulai lebih pendiam. Matanya sering melirik ke ponsel Xiao Han setiap kali bergetar. Dia melihat nama “Lin Qing” muncul di notifikasi—pesan singkat seperti “Meeting selesai jam 4, kamu jemput aku di kantor ya?” atau “Ibu gimana hari ini? Aku kirim sup lagi nanti sore.”

Suatu sore, saat ibu tertidur setelah terapi, Xiao Mei ke kantin beli es teh, Hua Ling’er dan Xiao Han duduk sendirian di koridor rumah sakit. Angin AC bertiup dingin, tapi suasana di antara mereka terasa lebih dingin lagi.

“Kak…” Hua Ling’er mulai, suaranya pelan tapi tegas. “Aku boleh tanya sesuatu?”

Xiao Han menoleh. “Apa, Ling’er?”

Hua Ling’er menarik napas dalam, matanya menatap lurus ke mata Xiao Han.

“Lin Qing… dia siapa sebenarnya buat Kakak?”

Xiao Han terdiam sesaat. Dia tahu pertanyaan ini akan datang, tapi tetap terasa seperti tamparan.

“Dia bos aku, Ling’er. Supir pribadinya. Yang bayar gaji aku sekarang.”

Hua Ling’er menggeleng pelan, matanya mulai berkaca-kaca.

“Aku tahu itu. Tapi… dia datang hampir setiap hari ke rumah sakit. Dia masak sup buat Ibu. Ibu panggil dia ‘seperti menantu’. Dia kirim pesan terus ke Kakak, bahkan malam-malam. Dan Kakak… Kakak selalu jawab cepat. Kadang senyum sendiri baca pesannya.”

Xiao Han menunduk, tangannya mengepal di pangkuan.

“Ling’er… itu cuma kerja. Dia baik ke keluarga aku karena aku kerja sama dia. Biaya rumah sakit, operasi, semuanya dia tanggung. Tanpa dia, Ibu mungkin nggak bisa operasi secepat ini.”

Hua Ling’er menatapnya tajam, air mata mulai menetes.

“Tapi Kak… aku lihat caranya dia pandang Kakak. Bukan pandangan bos ke bawahan. Itu pandangan… orang yang sayang. Dan Kakak juga… kadang Kakak pandang dia sama. Aku takut, Kak. Aku takut Kakak lebih nyaman sama dia daripada sama aku.”

Xiao Han meraih tangan Hua Ling’er, menggenggam erat.

“Ling’er, dengar aku. Lin Qing baik, dia bantu banyak. Tapi dia bos. Mitra kerja. Nggak lebih dari itu. Yang aku sayang, yang aku mau masa depannya cerah, itu kamu. Kamu yang selalu ada di sini, nemenin aku nangis pas Ibu kritis, nemenin Xiao Mei belajar pas aku lembur. Kamu yang bikin aku merasa… rumah.”

Hua Ling’er menangis pelan, tapi tidak menarik tangannya.

“Tapi kenapa Kakak nggak pernah cerita detail? Kenapa Kakak selalu bilang ‘cuma kerja’? Aku nggak butuh uangnya, Kak. Aku cuma butuh Kakak jujur. Apa Kakak… pernah lebih dari kerja sama dia?”

Xiao Han diam lama sekali. Matanya menatap lantai koridor yang mengkilap.

“Aku pernah… deket sama dia. Lebih dari yang seharusnya. Tapi itu sebelum aku putuskan fokus ke keluarga. Sebelum aku janji sama kamu. Sekarang… aku cuma supirnya. Nggak ada lagi yang lain.”

Hua Ling’er menatapnya, mencari kebenaran di mata Xiao Han.

“Kak janji?”

Xiao Han mengangguk, suaranya tegas meski dadanya sesak.

“Janji. Aku nggak akan bohong lagi. Kalau kamu mau, aku bisa kurangi jam kerja sama dia. Atau cari kerja lain. Asal kamu percaya aku.”

Hua Ling’er mengusap air matanya, lalu memeluk Xiao Han erat-erat.

“Aku percaya, Kak. Aku cuma takut kehilangan. Aku sayang Kak Han banget.”

Xiao Han membalas pelukan itu, menutup mata. Di koridor rumah sakit yang sepi, mereka berpelukan lama, seperti mencoba menahan dunia yang semakin rumit di sekitar mereka.

Di kejauhan, ponsel Xiao Han bergetar lagi—pesan dari Lin Qing:

**Lin Qing:**

Ibu gimana hari ini? Aku kirim sup lagi nanti malam. Kalau butuh apa-apa, bilang ya.

Xiao Han menatap pesan itu sebentar, lalu mematikan layar tanpa membalas. Untuk pertama kalinya, dia merasa perlu jarak—bukan karena benci, tapi karena ingin menjaga apa yang benar-benar miliknya.

Pemulihan ibunya terus berlanjut.

Tapi pemulihan hati Xiao Han, Hua Ling’er, dan mungkin Lin Qing, baru saja dimulai.

1
Wang Chen
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Wang Chen
ummm♥️
Wang Chen
/Determined//Determined//Determined/
Wang Chen
oh my Vina♥️♥️
Wang Chen
fhb
Wang Chen
ok
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
😍/Drool//Drool/
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
/Determined//Determined//Determined/
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Luar biasa
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
lanjut
APRILAH
Chapter 16, sabar ya🙏
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Lanjutkan
APRILAH: Asyiappp
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
🤭🤭/Determined//Slight/
APRILAH: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Aaaaa tidak... itu Vina ku
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Vina I love you
APRILAH
Chapter 11, sabar ya guys
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
/Drool//Drool//Drool/
APRILAH: 🤭/Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
tapi aman sih harusnya, Aria cukup lembut dan baik
APRILAH: iya sih
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
mantul
APRILAH: 🤭/Grin//Proud/
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
/Drool//Drool//Drool/
APRILAH: /Grin//Grin//Grin/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!