NovelToon NovelToon
Luminar

Luminar

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:835
Nilai: 5
Nama Author: Nostalgic

Dunia telah retak, bukan hanya di permukaannya, melainkan di benak dan jiwa segala yang bernyawa. Kegelapan Umbra bukan sekadar musuh yang bisa ditusuk pedang, melainkan kabut tebal yang memisahkan hati dari hati, harapan dari kenyataan, dan cahaya dari tempatnya berpijak. Alam semesta kini hanyalah kepingan-kepingan kaca yang pecah, masing-masing memantulkan bayangan kesendirian yang suram, menunggu tangan yang berani menyatukannya kembali.

Di tengah kehampaan itu, hadirlah Luminar. Bukan sebagai benda, bukan pula sebagai sosok yang bisa dipeluk atau dilihat mata telanjang. Luminar adalah bisikan yang melayang di sela-sela angin, adalah denyut nadi yang tak terlihat namun terasa di setiap detak jantung yang masih berharap. Ia adalah entitas misterius yang wujudnya berubah-ubah bagaikan cahaya yang menembus prisma—kadang berupa aurora yang menari di langit malam, kadang berupa kilatan samar yang hanya muncul di sudut mata saat kita merasa paling sepi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nostalgic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Pertarungan Penentuan Melawan Monster Penghancur

Seketika, sebuah notifikasi cahaya biru transparan muncul melayang di hadapan Luminar Putih:

[LEVEL UP! Level 2 → Level 3. Semua atribut dasar meningkat +3. Kekuatan, Kecepatan, Pertahanan, dan Energi meningkat signifikan.]

Heras yang berada di dalam sosok Luminar merasakan aliran energi baru yang segar mengalir di seluruh pembuluh darahnya, menyembuhkan sedikit luka-luka ringan yang ia dapatkan sebelumnya. Napasnya yang tadinya tersengal perlahan menjadi lebih teratur, dan ia menghela napas panjang, merasa lega karena pertarungan sepertinya sudah berakhir. Ia mulai memusatkan pikirannya untuk melepaskan penyatuan dengan Luminar, membiarkan cahaya di tubuhnya perlahan meredup.

Namun, harapan itu buyar seketika.

Dari dalam lubang selokan yang masih terbuka lebar, terdengar suara teriakan yang jauh lebih kuat, lebih nyaring, dan lebih mengerikan daripada sebelumnya. Suara itu bukan sekadar raungan, melainkan jeritan yang menusuk tulang, seolah gabungan antara lolongan binatang buas dan jeritan manusia yang kesakitan.

Tiba-tiba, sebuah benda tajam menusuk keluar dari kegelapan selokan. Itu adalah sebuah sirip punggung yang telah berevolusi menjadi sesuatu yang menyerupai pedang runcing raksasa—tajam, bergerigi, dan berkilau dengan cairan beracun yang berwarna ungu pekat. Muncullah sosok monster baru, perpaduan mengerikan antara ikan martin dan makhluk humanoid. Tubuhnya berwarna perak kebiruan yang gelap, dengan sisik-sisik yang keras dan kasar bagaikan baju zirah besi. Matanya merah menyala, memancarkan kebencian yang membara. Mulutnya terbelah lebar hingga ke pipi, memperlihatkan barisan gigi-gigi tirus yang tajam dan berderet rapat. Sirip-sirip di tubuhnya berubah menjadi duri-duri mematikan, dan yang paling menakutkan adalah "pedang" alami yang tumbuh dari punggungnya yang panjangnya hampir mencapai tiga meter, siap untuk mengoyak apa saja yang ada di hadapannya.

Tubuh monster itu sangat besar, jauh lebih besar dari monster sebelumnya. Dengan kekuatan yang luar biasa, ia menjebol tanah dan tembok di sekitar tutup selokan, membuat beton-beton pecah berantakan dan tanah amblas, hanya untuk membebaskan dirinya keluar. Ia mendarat dengan berat yang membuat tanah bergetar, lalu perlahan menegakkan tubuhnya yang raksasa. Matanya yang merah menatap tajam tepat ke arah Luminar Putih. Tanpa aba-aba, ia mengayunkan tubuhnya, mengarahkan pedang sirip tajam itu dengan kecepatan kilat, siap untuk menusuk Luminar hingga tembus.

Sring!

Luminar Putih nyaris tidak sempat bereaksi. Ia hanya sempat melompat mundur dengan susah payah, namun ujung pedang sirip itu masih berhasil menggores bahunya, meninggalkan luka yang terasa perih dan panas. Pertarungan kedua pun dimulai, namun kali ini rasanya jauh lebih berat.

Monster Martin itu menyerang tanpa henti. Pedang siripnya berayun ke kiri dan kanan, menebas udara dengan suara desisan yang menakutkan. Setiap tebasannya menghantam tanah, membuat lubang-lubang besar dan debu beterbangan ke mana-mana. Luminar Putih harus terus bergerak, melompat, dan menghindar. Namun, energi yang ia gunakan untuk pertarungan sebelumnya belum sepenuhnya pulih, dan beban pertarungan ini mulai terasa berat di otot-ototnya. Kakinya terasa seperti diisi timah, dan napasnya kembali memburu, semakin cepat dan semakin dangkal. Keringat bercucuran, bercampur dengan darah yang menetes dari luka di bahunya.

Luminar mencoba membalas dengan serangan tinju cahaya, namun monster itu menangkisnya dengan mudah menggunakan pedang siripnya yang keras, bahkan terkadang menangkis dengan sisik tubuhnya yang sekeras baja. Luminar mencoba menendang, namun monster itu menangkis dengan ekornya yang kuat, mendorong Luminar terlempar ke belakang hingga menabrak dinding tembok.

Heras merasa tubuhnya semakin lelah. Setiap gerakan terasa menyiksa. Pandangannya mulai sedikit kabur, dan rasa sakit di seluruh tubuhnya seolah berteriak minta istirahat. Namun, ia tahu ia tidak bisa berhenti.

Dalam satu serangan yang ganas, Luminar berhasil mengumpulkan sisa energinya untuk meluncurkan serangan beruntun ke arah dada monster Martin. Bam! Bam! Bam! Pukulan-pukulan itu mendarat dengan keras, membuat monster itu terhuyung mundur dan akhirnya terjatuh, tergeletak tak berdaya di tanah yang berdebu.

Heras menghela napas lega, namun napas itu tertahan di tenggorokan.

Anehnya, monster itu tidak menghilang menjadi partikel cahaya seperti yang sebelumnya. Sebaliknya, partikel-partikel energi monster yang sempat pecah dan bertebaran di udara—sisa dari pertarungan dengan monster ikan trout karang tadi—tiba-tiba berputar membentuk pusaran angin yang kencang. Partikel-partikel itu bergerak cepat, seolah ditarik oleh kekuatan magnet, dan menyatu kembali ke dalam tubuh monster Martin yang tergeletak itu.

Tubuh monster itu mulai membesar dengan cepat. Semakin besar, semakin besar, dan semakin besar lagi! Ia tumbuh melampaui batas wajar, menghancurkan rumah-rumah di sekitar gang sempit itu. Atap-atap rumah remuk terhimpit tubuhnya yang raksasa, dinding-dinding bata runtuh menimpa barang-barang milik warga, dan kaca-kaca jendela pecah berantakan. Suara benda-benda hancur bergema memekakkan telinga.

Kerumunan warga yang sebelumnya hanya mengintip dari kejauhan kini berhamburan lari ketakutan. Teriakan histeris wanita, tangisan anak-anak, dan teriakan pria yang meminta keluarga mereka berkumpul bercampur aduk menjadi satu kekacauan yang luar biasa. Orang-orang berlarian menyelamatkan diri, saling dorong, menjatuhkan barang-barang yang mereka bawa, berusaha keluar dari gang itu secepat mungkin sebelum dihancurkan oleh monster raksasa itu. Debu, asap, dan puing-puing bangunan beterbangan di mana-mana, membuat suasana menjadi suram dan menyesakkan.

Monster Martin yang kini telah berubah menjadi raksasa setinggi gedung dua lantai itu mengamuk. Ia mengayunkan pedang sirip raksasanya, menebas dan menghancurkan bangunan-bangunan di sekitarnya tanpa ampun. Tembok runtuh, atap rubuh, dan jalanan retak besar di bawah kakinya.

Heras, yang masih dalam wujud Luminar Putih, merasa tubuhnya hampir ambruk. Kakinya gemetar hebat, energinya hampir habis tersedot habis. Namun, melihat monster itu mengamuk dan membahayakan nyawa warga yang masih berusaha lari, ia tahu ia tidak bisa menyerah. Dengan sisa tekad yang ada, ia memaksakan dirinya untuk tetap bertarung.

"Kau tidak akan... berhenti, bukan?" gumam Heras di dalam hatinya, menahan rasa sakit yang luar biasa. "Kalau begitu... aku juga tidak akan berhenti!"

Dengan sekuat tenaga yang tersisa, Heras memicu energi terakhirnya di dalam tubuh Luminar. Cahaya di tubuhnya kembali menyala, meski tidak secerah sebelumnya, namun kali ini dengan tekad yang membara. Ia memutuskan untuk menggunakan kemampuan pembesaran tubuhnya, untuk bisa menandingi ukuran monster raksasa itu dalam pertarungan terakhir yang menentukan.

1
Nasipelang
lego euy
Nasipelang
rasa sakit ini, adalah bukti bahwa aku masih hidup
Anonymous
oke
Anonymous
kece
Anonymous
mc nya menderita saya suka
Nasipelang
awalnya ngebosenin, tapi lama-lama seru juga
Anonymous
oke
Anonymous
bujet
Anonymous
baru aja kenalan udah ditinggal ama luminar
Anonymous
uwihh level up coyy
Anonymous
kasihan mc nya jir
Anonymous
mirip nexus yah
Anonymous
kena de javu
Nasipelang: de javu nya apa
total 1 replies
Anonymous
jirr
Arctic General
Sangat bagus... kek ultraman 🗿
Arctic General
up thorr oii🦖
Arctic General
Buset kek ginga🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!