Di kota futuristik Astra City, manusia biasa dan mereka yang memiliki kekuatan super hidup berdampingan setelah munculnya fenomena langit merah misterius. Raka Mahendra, pemuda dengan energi kosmik yang tak terkendali, harus menghadapi takdirnya, menyelamatkan kota, dan mengungkap rahasia di balik kekuatannya. Bersama Kayla, pengendali gravitasi, dan Adrian, bayangan dari masa lalu, Raka akan menghadapi peperangan, pengkhianatan, dan takdir kosmik yang akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DragonLucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 – Eclipse Syndicate
Malam itu, di ruang bawah tanah yang tersembunyi jauh di bawah kota, cahaya merah samar memantul dari dinding logam. Sekelompok orang berpakaian gelap berkumpul, wajah mereka sebagian tertutup topeng. Di tengah ruangan, seorang pria bertopi tinggi menatap layar holografik kota yang terbagi menjadi dua sektor.
“Laporan terbaru?” tanya pria itu dengan suara dingin.
Seorang anggota baru maju, menunduk. “Sektor utara berhasil dikuasai sebagian, namun Alpha masih aktif. Helios Guard menahan sebagian besar serangan.”
Pria itu menghela napas. “Alpha itu… semakin kuat. Eclipse Syndicate kita tidak bisa lagi mengandalkan serangan frontal. Kita butuh strategi baru.”
Di sudut ruangan, seorang wanita dengan mata tajam menatap peta holografik. “Kita perlu menguasai sisi selatan juga. Jika kita bisa menembus pertahanan mereka dan memecah perhatian Raka, kota ini akan jatuh.”
Rencana Eclipse
Pria bertopi tinggi tersenyum tipis. “Baik. Kita mulai dengan memecah Helios Guard dari dalam. Mata-mata sudah siap. Lalu kita kirim unit eksperimen baru—lebih cepat, lebih agresif. Alpha tidak akan punya waktu menyesuaikan diri.”
Anggota lain menatap dengan antusias. “Unit baru ini… lebih berbahaya dari sebelumnya?”
Pria itu mencondongkan tubuh, matanya menyala merah. “Ya. Kita menyebutnya ‘Eclipse Level Omega’. Ini bukan makhluk biasa. Setiap serangan mereka bisa menimbulkan kerusakan besar. Dan yang terpenting… mereka dikontrol secara langsung oleh jaringan pikiran Adrian.”
Adrian dan Rencana Licik
Di ruang kontrol lain, Adrian berdiri di depan layar besar, senyum liciknya muncul. “Raka… Kau pikir kau bisa melindungi kota ini dengan Alpha-mu? Aku akan tunjukkan arti sebenarnya dari kekuatan Eclipse Syndicate.”
Ia menekan beberapa tombol, dan hologram menampilkan formasi pasukan yang akan menyerang kota besok malam. “Kita tidak hanya menyerang fisik. Kita menyerang moral, fokus, dan harapan mereka. Saat mereka kehilangan arah… Alpha itu tidak akan berarti apa-apa.”
Seorang anggota bertopeng bertanya, “Apa kita harus memperkenalkan agen baru, yang infiltrasi Helios?”
Adrian mengangguk. “Benar. Helios akan terkecoh, mereka tidak tahu siapa teman dan siapa musuh. Dan ketika waktunya tiba… kita akan menghancurkan kota sepenuhnya, satu sektor demi satu sektor.”
Bayangan Eclipse
Kembali di kota, Raka, Kayla, dan Damar masih memulihkan diri dari serangan sebelumnya. Namun cahaya biru Alpha Raka terasa lebih stabil—tanda bahwa ia kini sadar bahwa musuh tidak hanya fisik, tapi juga strategi dan intrik.
Raka menatap radar, napasnya berat. “Ada sesuatu yang tidak beres… aku bisa merasakan pola baru dari serangan mereka. Eclipse… mereka mulai bermain dengan kita dari bayangan.”
Kayla memegang tangannya. “Rak… kita harus siap. Jika mereka punya rencana yang lebih besar… kita harus lebih pintar dari sebelumnya.”
Damar menambahkan, “Kita butuh informasi. Kita harus tahu siapa yang ada di balik ini, dan apa rencana Eclipse Syndicate sebelum mereka menyerang lagi.”
Raka menatap kota yang sepi. “Baik. Kita akan membongkar Eclipse Syndicate… dan menghentikan rencana mereka sebelum terlambat.”
Akhir Bab
Di langit malam, cahaya biru Alpha Raka masih menyala, menandakan tekadnya untuk melindungi kota. Namun di balik bayangan, Eclipse Syndicate merencanakan langkah berikutnya—serangan yang lebih berbahaya, lebih cerdik, dan lebih mematikan.
Adrian tersenyum, matanya menyala merah. “Arc 2… baru saja dimulai. Kota ini akan jatuh… dan Alpha itu akan melihat darah di tangannya sendiri.”