NovelToon NovelToon
SELESAI MENJADI SABAR

SELESAI MENJADI SABAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Keluarga / Suami Tak Berguna
Popularitas:15.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Lembaran yang Benar-Benar Baru

Dua minggu setelah sidang pembuktian yang melelahkan itu, sebuah notifikasi masuk ke surel Hana. Itu adalah salinan putusan dari sistem elektronik pengadilan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Hana membuka dokumen tersebut di meja kantornya. Matanya dengan cepat memindai barisan kalimat hukum yang kaku, hingga akhirnya ia menemukan kata-kata yang ia cari: "Mengabulkan gugatan Pemohon untuk seluruhnya."

Hana menyandarkan punggungnya ke kursi kerja. Ia mengembuskan napas panjang yang seolah-olah telah ia tahan selama lima tahun. Secara hukum, ia bukan lagi istri Aris. Ia bebas. Tidak ada lagi ikatan, tidak ada lagi kewajiban untuk bersabar menghadapi penghinaan. Ia merasa seolah-olah sebuah beban seberat ribuan ton baru saja diangkat dari dadanya.

"Selamat, Hana," sebuah suara familiar terdengar dari ambang pintu bilik kerjanya.

Hana mendongak dan melihat Adrian berdiri di sana dengan senyum tipis yang tulus. Pria itu sepertinya sudah mengetahui kabar tersebut melalui Baskara.

"Terima kasih, Adrian," jawab Hana dengan suara yang jauh lebih stabil dari biasanya. "Rasanya... aneh. Saya pikir saya akan menangis histeris, tapi ternyata saya hanya merasa sangat tenang. Seperti baru saja menyelesaikan maraton yang sangat panjang."

Adrian masuk ke dalam bilik kerja Hana dan meletakkan sebuah map kulit berwarna cokelat tua di atas mejanya. "Kalau begitu, saatnya fokus pada garis finis yang baru. Saya sudah meninjau performamu selama sebulan terakhir. Di tengah badai pribadimu, kamu masih bisa memberikan analisis risiko yang paling akurat bagi perusahaan. Dewan direksi setuju dengan usul saya."

Hana mengernyitkan dahi, membuka map tersebut. Di dalamnya terdapat surat keputusan pengangkatan jabatan. "Manajer Senior Strategi Keuangan."

"Ini... ini terlalu cepat, Adrian," bisik Hana tak percaya.

"Tidak ada yang terlalu cepat bagi orang yang kompeten, Hana. Kamu punya ketenangan di bawah tekanan—sesuatu yang baru saja kamu buktikan di pengadilan dan di kantor. Saya butuh seseorang yang bisa memimpin tim baru untuk ekspansi kita di Asia Tenggara, dan saya ingin orang itu adalah kamu."

Hana menatap surat itu, lalu menatap Adrian. Untuk pertama kalinya, ia melihat masa depan yang bukan sekadar tentang bertahan hidup, melainkan tentang berkembang. "Saya terima tantangan ini. Terima kasih karena sudah percaya pada kemampuan saya, bukan sekadar merasa kasihan pada situasi saya."

Sore harinya, Hana memutuskan untuk melakukan satu hal terakhir untuk menutup masa lalunya. Ia pergi ke rumah lama Aris untuk mengambil sisa barang-barangnya yang masih tertinggal. Kali ini ia tidak meminta pengawalan ketat, hanya ditemani oleh Bi Inah yang ia hubungi untuk membantu berkemas.

Suasana rumah itu tampak suram. Taman depan yang biasanya Hana siram setiap pagi kini kering meranggas. Pintu pagar tidak lagi dikunci. Saat Hana masuk, ia melihat Aris sedang duduk sendirian di teras dengan sebotol minuman soda di tangan. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya.

Saat melihat Hana, Aris tidak lagi melompat dan membentak. Ia hanya menatap Hana dengan pandangan yang kosong dan layu.

"Kamu menang, Hana," ujar Aris dengan suara parau. "Surat putusannya sudah sampai tadi siang. Ibu menangis terus di dalam. Dia tidak menyangka kamu benar-benar tega meninggalkan kami."

Hana berhenti di depan Aris, menjaga jarak yang aman. "Ini bukan soal menang atau kalah, Aris. Ini soal konsekuensi. Selama lima tahun saya mencoba membangun rumah ini, tapi kamu dan Ibu justru meruntuhkannya pelan-pelan dengan kata-kata dan perlakuan kalian."

"Aku tidak bermaksud sejahat itu, Hana. Aku hanya... aku hanya tidak tahu cara lain untuk membuatmu tetap di sampingku," pengakuan Aris terdengar tulus namun sangat menyedihkan.

"Itu masalahnya, Aris. Kamu mencintai dengan cara mengurung, bukan mendukung. Dan sekarang, pengadilan sudah memberi kita ruang masing-masing. Saya harap kamu bisa belajar menjadi pria yang lebih baik, demi dirimu sendiri, bukan untuk saya lagi."

Hana masuk ke dalam kamar, mengambil dua koper terakhir berisi buku-buku dan pakaian lamanya. Bi Inah membantunya dengan sigap. Tidak ada drama lagi, tidak ada teriakan. Hanya kesunyian yang jujur.

Sebelum keluar, Hana meletakkan kunci cadangan rumah itu di atas meja ruang tamu. Ia juga meninggalkan sebuah amplop berisi uang yang cukup banyak. "Ini untuk pengobatan Ibu selama sebulan ke depan. Anggap ini tanda terima kasih terakhir saya karena Ibu pernah menjadi bagian dari hidup saya. Jangan hubungi saya lagi."

Hana melangkah keluar dari pintu itu untuk terakhir kalinya. Ia tidak menoleh ke belakang.

Malam itu, Hana merayakan kepindahannya ke apartemen baru yang lebih luas, hasil dari kenaikan jabatannya. Apartemen itu berada di pusat kota, dengan jendela besar yang menyajikan gemerlap lampu Jakarta.

Ia mengundang Bi Inah dan Adrian untuk makan malam sederhana. Bi Inah memasak masakan rumahan yang lezat, sementara Adrian membawa sebotol jus anggur kualitas terbaik. Mereka duduk di ruang tamu yang hangat, tertawa, dan membicarakan masa depan.

Saat Bi Inah sedang sibuk di dapur, Adrian berjalan mendekati Hana yang sedang berdiri di balkon.

"Apa rencana pertamamu sebagai wanita merdeka?" tanya Adrian.

Hana tersenyum, menatap langit malam. "Besok saya akan bangun pagi, menyeduh kopi, dan menikmati keheningan tanpa rasa takut. Setelah itu, saya akan bekerja dengan keras untuk tim baru saya. Saya ingin membangun karier yang selama ini saya tunda demi orang lain."

Hana menoleh ke arah Adrian. "Dan mungkin, suatu saat nanti, saya akan mencoba membuka hati lagi. Tapi tidak sekarang. Sekarang, saya ingin jatuh cinta pada diri saya sendiri dulu."

Adrian mengangguk, menghargai kejujuran Hana. "Itu adalah rencana terbaik yang pernah saya dengar."

Hana Anindita menutup matanya sejenak, merasakan angin malam yang membelai wajahnya. Ia bukan lagi wanita yang sabar menunggu kebahagiaan datang dari orang lain. Ia adalah wanita yang menjemput kebahagiaannya sendiri. Badai telah benar-benar berlalu, meninggalkan tanah yang basah namun subur, siap untuk ditanami benih-benih harapan yang baru.

Ia benar-benar sudah selesai menjadi sabar. Dan hidupnya baru saja dimulai.

1
arniya
Aris bukan d penjara??!
Mom Ilham
anaknya hana apa khabarnya ya
Lia Kiftia Usman
karyamu asyiik dibaca..thor..
Sefna Wati: terima kasih kkk sudah mampir baca novel karyaku ya ...
sehat selalu ya🥰🥰
jangan lupa tinggalkan like nya ya dan mampir di novel lainnya mana tau kakak juga suka dengan cerita yang lain🥰🥰🥰🥰
🥰🥰🥰
total 1 replies
Nor
Kok ceritanya aneh yaa, kenapa tiba² ada surat tanah peninggalan almarhum ayah hana. sebenarnya ayah hana itu masih hidup atau sudah meninggal?
Sefna Wati: kalau mau tau kelanjutannya baca terus ya kak biar gak penasaran 🥰🥰🥰
total 1 replies
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
terlambat sudah penyesalan mu Aris mau gimana pun kamu memohon agar Hana mau kembali tetep aja hasilnya nihil karna Hana sekarang bukan Hana yang dulu lagi
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok gak Aris gak emak nya sama² ngeyel sih udah tau nanti kena ulti sama Hana eh masih aja mau gangguin Hana 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
baguslah akhirnya sekarang Hana bisa hidup tenang dan terbebas dari hama² ini
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
pelajaran nya disini tu jangan pernah meremehkan orang dari penampilan nya,berawal dari Hana yang diperlakukan seperti babu sekarang malah lebih bersinar dari orang² yang dulu memerintah nya
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kapokkk modyar aee kau Aris bisa² habis sudah semua harta haram mu itu 😂😂
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
sok²an meremehkan ni si Aris jangan kira karna Hana dulu diperlakukan seperti babu bukan berarti fungsi kepintaran di otak nya udah gak kerja yaa 😏
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
karma mu Aris bahkan anak mu aja gak Sudi lagi sama kamu lagian bisa² nya dia beli keramik baru tapi anak nya aja nunggak SPP 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok si Aris makin gak ngotak ya emang gak punya tangan ya buat mijet doang masak Hana Mulu yang gerak 😑
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
emang sih semua orang itu punya batas kesabaran gak semua orang itu tahan disakiti berkali kali apa lagi sama keluarga nya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!