sepuluh tahun lalu,Aldric veynheart kehilangan segalanya
ia kehilangan ayahnya di singgasana dengan pedang patah ditangan.
Ia kehilangan ibunya yang ditikam dari belakang saat berlindung.ia kehilangan adiknya - Liana enam tahun yang dilempar dari menara tertinggi.
dan dimalam yang sana,dibalik tirai,ia melihat Elera ,istri yang dinikahinya sebulan lalu,bersandar mesra di dada Darius veynheart ,Kaka tirinya.
senyum Elera,saat menatap Darius adalah paku terakhir di peti mati hati Aldric sebelum ia sempat berteriak,sebelum tendangan menghantam punggungnya.
Tubuhnya meluncur ke jurang maut - jurang tak berdasar di bawah istana ,tempat ribuan monster dan roh penasaran bercokol. Tempat tak seorangpun kembali tapi Aldric bisa kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: SAUDARA KHIANAT
Tepuk tangan itu berhenti.
Darius berdiri di tengah ruangan dengan senyum puas, dikelilingi empat sosok berjubah hitam—The Shadow Council. Topeng perak mereka menyala redup dalam cahaya lilin, menciptakan bayangan-bayangan mengerikan di dinding.
Aldric secara naluriah menarik Elara ke belakangnya, tubuhnya siap menerjang kapan saja. Urat hitam di tangannya berdenyut kencang, matanya yang abu-abu kini memancarkan semburat merah terang.
"Jangan coba-coba," kata Darius santai. "Mereka bukan penjaga biasa. Mereka adalah pembunuh terlatih Shadow Council. Satu gerakan curiga, dan kau akan mati sebelum sempat mengedip."
Elara menggenggam lengan Aldric erat-erat. Tubuhnya gemetar, tapi ia tidak berteriak. Tidak histeris. Matanya justru menatap Darius dengan kebencian murni.
"Darius..." suaranya bergetar, "kau iblis."
Darius tertawa—tawa janggal, tanpa humor. "Iblis? Lihat siapa yang kau bela, Elara. Lihat matanya. Lihat urat hitam di tangannya. Dia lebih iblis dari aku."
Aldric tidak terpancing. Ia fokus mengamati empat sosok berjubah itu. Mereka berdiri diam seperti patung, tapi ia bisa merasakan aura mereka—gelap, dingin, mematikan. Masing-masing memegang senjata berbeda: pedang lurus, belati melengkung, rantai berduri, dan sepasang pisau lempar.
Empat lawan satu. Plus Darius. Plus mungkin lebih banyak penjaga di luar.
Ini jebakan. Jebakan yang sempurna.
"Kau tahu," Darius melangkah maju, berjalan santai di sekitar ruangan, "aku sudah menunggu momen ini sejak malam itu. Malam ketika kau jatuh ke jurang."
Aldric diam. Matanya terus mengikuti setiap gerakan Darius.
"Aku tidak benar-benar yakin kau mati, kau tahu? Jurang Maut—tempat tak seorang pun kembali. Tapi darah Veynheart itu keras kepala. Aku pikir-pikir, mungkin kau bisa selamat." Ia berhenti di depan cermin, menatap bayangannya sendiri. "Dan ternyata benar."
"Kenapa?" Suara Aldric rendah, menggeram. "Kenapa kau lakukan semua ini? Ayah mencintaimu. Ibu—ibuku—menerimamu sebagai anak sendiri. Kami keluarga."
"Keluarga?" Darius berbalik, wajahnya berubah—dari santai menjadi marah dalam sekejap. "Kau sebut itu keluarga? Aku anak selir, Aldric! Ibuku adalah wanita simpanan yang tidak pernah diakui! Aku tumbuh di bayang-bayangmu, selalu nomor dua, selalu tidak cukup baik!"
"Ayah tidak pernah membedakan—"
"TIDAK!" bentak Darius. Wajahnya memerah, urat di lehernya menonjol. "Dia tidak pernah membedakan di depan, tapi di dalam? Aku tahu! Aku selalu tahu! Kau anak kesayangannya! Kau yang mendapat senyum tulus! Kau yang dipeluk hangat! Aku? Aku hanya dapat jabatan resmi dan tugas kerajaan!"
Aldric terdiam. Ia tidak tahu Darius menyimpan dendam sedalam ini.
"Ayah mengirimku ke medan perang saat aku baru enam belas. 'Belajar jadi pemimpin,' katanya. Tapi kau? Kau dilatih di istana, dilindungi, dimanjakan." Darius tertawa getir. "Dan saat kau menikah, lihat siapa yang kau dapat—Elara, wanita tercantik di kerajaan. Sementara aku? Dijodohkan dengan bangsawan gemuk dari utara yang hanya peduli pada mahar."
"Aku tidak tahu kau—"
"Tentu kau tidak tahu! Karena kau tidak pernah peduli!" Darius berteriak. "Kau sibuk dengan kebahagiaanmu sendiri, dengan keluargamu yang sempurna, sementara aku membusuk dalam kecemburuan!"
Hening. Suara napas Darius berat, emosinya meluap-luap. Tapi cepat ia kendalikan diri, tersenyum lagi—senyum dingin yang mengerikan.
"Tapi lihat sekarang. Aku yang duduk di singgasana. Aku yang akan menikahi Elara." Ia menatap Aldric dengan puas. "Dan kau? Kau buronan. Monster. Iblis."
Aldric mengepalkan tangan. "Elara tidak akan pernah mencintaimu."
"Aku tidak butuh cintanya." Darius mengangkat bahu. "Aku butuh darah Veynhart di sisiku. Anak-anaknya akan jadi pewaris sah. Dan kau—kau akan mati malam ini, untuk selamanya."
Salah satu sosok berjubah—yang memegang pedang lurus—melangkah maju. Suaranya serak, seperti batu bergesekan.
"Cukup bicara, Darius. Bunuh dia."
Darius mengangguk. "Baik, Tuan."
Ia melambaikan tangan. Empat sosok itu bergerak serempak—cepat, terkoordinasi, mematikan.
Aldric bereaksi sebelum mereka sempat menyerang.
Ia mendorong Elara ke belakang, ke arah jendela. "LARI!" teriaknya, lalu berputar menghadapi serangan pertama.
Pedang lurus menyambar ke arah lehernya. Aldric merunduk, tendangan rendah menyapu kaki penyerang. Tapi pria berjubah itu sudah antisipasi—ia melompat, rantai berduri melayang dari sisi lain.
Crass!
Rantai itu mengenai lengan Aldric, merobek kulit dan daging. Rasa sakit menyambar, tapi lukanya cepat menutup—regenerasi bekerja.
Pria dengan belati melengkung muncul di belakangnya, menusuk pinggang. Aldric berputar, menangkap tangan itu, membanting tubuhnya ke lantai. Tapi dua lainnya sudah datang.
Pisau lempar melesat—dua, empat, enam. Aldric menghindari sebagian, tapi dua pisau menancap di bahu dan pahanya. Ia menggeram kesakitan, tapi terus bertarung.
Empat lawan satu. Terlalu banyak.
Tapi ia tidak punya pilihan.
Dengan kecepatan iblis, ia menerjang pria berpedang, merampas pedangnya, lalu membalikkan tubuh untuk menangkis serangan rantai. Baja berbenturan, percikan api beterbangan.
Di sudut ruangan, Elara tidak lari. Ia mengambil belati pemberian Aldric—belati yang tadi disimpannya—dan bersiap. Matanya mencari celah, mencari kesempatan untuk membantu.
"Elara, lari!" teriak Aldric lagi, sambil menangkis serangan bertubi-tubi.
"TIDAK!" teriaknya balik. "Aku tidak akan tinggalkan kau!"
Darius tertawa melihat adegan itu. "Romantis sekali. Tuan-tuan, jangan bunuh wanitanya. Aku masih butuh dia untuk upacara."
Shadow Council mengabaikannya—mereka terlalu fokus pada Aldric.
Pertarungan berlangsung sengit. Aldric berhasil melukai satu—pria dengan belati melengkung—dengan tebasan di dada. Tapi tiga lainnya terus menekan. Luka-lukanya bertambah banyak, regenerasi mulai kewalahan.
Mereka terlalu kuat. Terlatih. Sempurna.
Aldric tersandung, jatuh berlutut. Rantai berduri melilit lehernya, menarik kencang. Ia tercekik, wajahnya membiru.
"Aldric!" Elara berteriak.
Dengan sisa tenaga, Aldric meraih rantai itu, menarik sekuat tenaga. Pria pemegang rantai terhuyung ke depan—dan Elara melihat kesempatan.
Ia menusukkan belatinya ke punggung pria itu.
Srek!
Pria itu menjerit, rantai terlepas. Ia berbalik, menampar Elara keras hingga wanita itu terpental ke dinding.
"ELARA!"
Aldric bangkit dengan kemarahan membabi buta. Urat hitam di sekujur tubuhnya bersinar merah. Ia menerjang pria yang menampar Elara, menusukkan pedang rampasan ke dadanya berulang-ulang—satu, dua, tiga, sepuluh kali—hingga tubuh itu roboh tak bergerak.
Dua tersisa. Tapi Aldric sudah kehabisan tenaga. Ia terhuyung, berlutut, napasnya tersengal. Darah mengalir dari puluhan luka di tubuhnya.
Darius bertepuk tangan pelan.
"Luar biasa," katanya. "Kau benar-benar membunuh dua anak buah Shadow Council. Ayah pasti bangga."
Aldric menatapnya dengan mata merah. "Turun... dan lawan aku... jika kau berani..."
Darius tertawa. "Aku tidak bodoh, Adik. Aku tidak akan bertarung dengan monster setengah iblis." Ia memberi isyarat pada dua anggota Shadow Council tersisa. "Selesaikan."
Mereka melangkah maju.
Tapi tiba-tiba—
Brak!
Jendela kamar pecah berkeping-keping. Sesosok bayangan besar melompat masuk, menerjang dua Shadow Council itu dengan kekuatan luar biasa.
Varyn.
Iblis tua itu berdiri di tengah ruangan, mata merahnya menyala terang. Tubuh raksasanya memenuhi setengah kamar. Cakarnya mencengkeram leher satu Shadow Council, sementara kakinya menginjak yang lain.
"Kupikir kau butuh bantuan, Nak."
Aldric terbelalak. "Varyn? Kau—kau bisa ke atas?"
"Aku tidak bisa keluar dari jurang. Tapi aku bisa mengirim sebagian diriku—sebuah avatar. Cukup kuat untuk beberapa saat." Varyn tersenyum lebar. "Sekarang, selesaikan urusanmu."
Ia membanting dua Shadow Council itu ke dinding dengan keras. Mereka pingsan—atau mati—tidak jelas.
Darius mundur, wajahnya pucat. "A—apa itu?"
Aldric bangkit, meskipun tubuhnya goyah. Belati Elara masih di tangannya—berlumuran darah.
"Ini," katanya pelan, "adalah temanku."
Darius berbalik, mencoba lari. Tapi Aldric sudah lebih dulu—menerjang, mendorong Darius ke dinding, belati di lehernya.
"Jangan—jangan bunuh aku!" Darius merengek. "Aku—aku kakakmu! Kita saudara!"
"Apa kau ingat itu saat membunuh ayah? Saat membunuh ibu? Saat melemparku ke jurang?" Suara Aldric dingin, menusuk.
"Aku—aku dipaksa! Shadow Council memaksaku! Mereka—"
"Bohong." Aldric menekan belati lebih dalam—sedikit lagi, dan leher Darius akan teriris. "Matamu tidak menunjukkan penyesalan. Hanya ketakutan."
"Aldric!" Elara meraih lengannya. "Tunggu!"
Aldric menoleh. Elara berlari mendekat, meskipun wajahnya lebam bekas tamparan.
"Jangan bunuh dia," katanya. "Bukan seperti ini."
"Apa?"
"Dia layak diadili. Di depan rakyat. Agar semua tahu apa yang ia lakukan." Elara menatap Darius dengan dingin. "Biar dia merasakan malu, hinaan, pengkhianatan—seperti yang ia lakukan pada kita."
Aldric ragu. Di dalam dirinya, iblis berbisik: Bunuh. Habisi. Balas dendam.
Tapi di luar, Varyn berkata, "Dia benar, Nak. Kematian terlalu cepat untuknya. Biar ia hidup dalam neraka."
Aldric menarik napas panjang. Lalu perlahan, ia menurunkan belati.
Darius menghela lega—tapi lega itu hanya sebentar.
BUK!
Aldric meninju wajahnya keras hingga pingsan.
"Itu untuk ayah," katanya. Lalu meninju lagi. "Itu untuk ibu." Dan sekali lagi. "Itu untuk Liana."
Darius terkulai, tidak sadar.
Di luar, suara riuh rendah mulai terdengar—para tamu, penjaga, orkestra yang bingung. Keributan di kamar pengantin pasti sudah menarik perhatian.
"Kita harus pergi," kata Elara. "Sebentar lagi mereka akan datang."
Varyn mengamati situasi. Tubuhnya mulai transparan—avaratnya melemah.
"Aku tidak bisa lama-lama di sini," katanya. "Tapi aku akan buka jalan."
Ia berjalan ke pintu, membuka lebar-lebar. Di lorong, lima penjaga terperanjat melihat monster raksasa.
"PERGI!" raung Varyn.
Para penjaga itu lari terbirit-birit.
Aldric meraih tangan Elara. "Ayo."
Mereka berlari keluar, melewati lorong-lorong yang mulai kacau. Varyn mengikuti di belakang, mengusir siapa pun yang mencoba mendekat. Tapi tubuhnya semakin transparan, semakin lemah.
Di gerbang belakang, Varyn berhenti.
"Aku tidak bisa lebih jauh," katanya. "Sisa kekuatanku habis. Kau harus lanjut sendiri."
Aldric menatap iblis itu. "Terima kasih, Varyn. Aku tidak akan lupa."
"Jangan lupa janjimu. Bebaskan aku dari jurang."
"Aku akan kembali. Aku janji."
Varyn tersenyum—senyum hangat terakhir. Lalu tubuhnya menghilang, meninggalkan hanya debu dan bayangan.
Aldric dan Elara berlari ke kegelapan malam, meninggalkan istana yang mulai kacau balau.
Di belakang mereka, teriakan dan bunyi alarm memecah keheningan.
Pengejaran dimulai.
Tapi untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, Aldric merasa... bebas.
Tangannya menggenggam erat tangan Elara.
Ia tidak akan melepaskannya lagi.