Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16
Julian berdiri mematung di bawah bayangan pohon pinus yang besar itu, membiarkan dinginnya angin Arcandale menusuk kulitnya yang pucat. Aroma mawar dan hujan yang ditinggalkan Kenzie masih menggantung di udara, seolah mengejek pertahanannya yang baru saja hancur berkeping-keping.
Kata-kata Kenzie menghantamnya lebih telak daripada serangan fisik mana pun. Jangan sampai kau mengkhianatinya.
Setiap langkah Julian menuju rumah terasa seperti berjalan di atas hamparan paku perak. Julian merasa kotor. Ia merasa seperti pengkhianat yang paling hina karena membiarkan seorang gadis yang baru ia temui beberapa minggu telah membangkitkan gairah posesif yang seharusnya sudah mati bersama sejarahnya.
Sesampainya di rumah gaya Victoria-nya yang sunyi, Julian tidak langsung menuju kamar utama. Ia berdiri di depan cermin besar di lorong bawah, menatap pantulan dirinya sendiri. Wajah yang tampan, rahang yang tegas, mata biru yang jernih, namun di dalamnya, ia melihat seorang monster yang sedang kehilangan kendali.
Dengan langkah gontai, ia menaiki tangga dan membuka pintu kamar Elena dengan sangat perlahan. Ruangan itu berbau lavender dan obat-obatan yang menyesakkan. Elena terbaring di sana, tampak begitu kecil dan rapuh di balik tumpukan selimut. Napasnya pendek, sesekali terdengar rintihan halus yang menunjukkan bahwa tidurnya pun tidak nyenyak karena rasa sakit.
Julian berlutut di samping tempat tidur. Ia meraih tangan Elena yang dingin dan kering, lalu menempelkannya ke keningnya sendiri. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh, membasahi sprei putih yang rapi.
"Maafkan aku, Elena..." bisik Julian, suaranya pecah oleh isakan yang tertahan. "Maafkan aku karena membiarkan pikiranku berkelana ke tempat yang tidak seharusnya. Maafkan aku karena aku merasa cemburu pada pria yang mendekati Kenzie, saat kaulah yang seharusnya memiliki seluruh perhatianku."
Julian menangis diam-diam dalam kegelapan. Ia menangis karena ia menyadari satu kebenaran yang mengerikan, ia mencintai Elena dengan seluruh rasa setianya, namun ia juga tidak bisa memungkiri bahwa Kenzie adalah magnet yang menarik jiwanya ke arah kegelapan yang manis.
Julian merasa terbelah menjadi dua. Sebagian dirinya ingin tetap menjadi suami yang berbakti bagi Elena hingga napas terakhirnya, namun sebagian lainnya meronta, ingin mengejar Kenzie dan memastikan tidak ada tangan manusia lain yang menyentuh kulit gadis itu.
"Aku mencintaimu, Elena." bisik Julian lagi, kali ini lebih keras, seolah-olah ia sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Aku tidak akan membiarkan The Constant itu merusak janji yang kita buat empat puluh tahun lalu. Meski kau sendiri bilang bahwa kau mengizinkan, tapi aku tidak seharusnya melakukan itu."
Tiba-tiba, Elena bergerak sedikit dalam tidurnya. Jemarinya yang lemah seolah mencoba membalas genggaman Julian. Tanpa membuka mata, Elena bergumam lirih. "Pergilah ke arah cahayamu, Julian. Jangan terperangkap dalam rasa tidak bersalah dan kesedihan."
Julian tersentak. Apakah Elena mendengar isakannya? Atau apakah ini hanya racauan dalam mimpinya?
Julian tetap di sana selama berjam-jam, membiarkan lututnya sakit karena lantai kayu yang keras. Ia tidak berani beranjak, seolah-olah jika ia pergi, ia akan benar-benar kehilangan pegangannya pada kemanusiaan. Di luar, badai London kembali datang, seakan mencerminkan gejolak hebat yang sedang menghancurkan hati sang pelindung kota itu.
...•••...
Pagi di SMA Arcandale diawali dengan kabut yang lebih tebal dari biasanya, seolah-olah alam sedang berusaha menyembunyikan ketegangan yang tersisa dari kejadian di perpustakaan kemarin sore. Atmosfer sekolah terasa berat, penuh dengan bisik-bisik siswa yang sempat melihat ketegangan antara sang introvert Julian dan si kapten basket Hallen di perpustakaan kemarin.
Julian melangkah melewati gerbang sekolah dengan setelan yang kembali ke setelan awal, wajah tanpa ekspresi, mata biru yang sedingin es dan langkah kaki yang tidak menyisakan ruang bagi siapa pun untuk menyapa. Julian mengenakan jaket varsity miliknya, ritsletingnya tertutup rapat hingga dagu, seolah ia sedang membentengi dirinya dari dunia luar. Ia tidak menoleh ke kiri maupun ke kanan. Baginya, setiap pasang mata manusia yang menatapnya adalah gangguan bagi beban berat yang baru saja ia tanggung semalam di samping tempat tidur Elena.
Kenzie sudah berada di sana lebih dulu. Ia berdiri di dekat loker, memegang sebuah buku sastra klasik yang sudah lusuh. Wajahnya tetap tenang, datar dan tak tersentuh, sebuah topeng yang telah ia sempurnakan selama empat ratus tahun. Namun, jauh di lubuk hatinya, desiran aneh yang muncul kemarin sore saat ia menggoda Julian masih menyisakan getaran kecil yang mengganggu konsentrasinya.
Hallen muncul dari ujung koridor. Biasanya, ia akan datang dengan tawa keras atau setidaknya dengan langkah kaki yang penuh percaya diri. Namun pagi ini, bahunya tampak sedikit merosot. Hallen melihat Kenzie, lalu melirik ke arah Julian yang baru saja masuk ke kelas di ujung lorong tanpa menoleh sedikit pun. Hallen menarik napas panjang, mengumpulkan keberanian yang tersisa, lalu melangkah mendekati Kenzie.
"Kenzie." panggilnya pelan.
Kenzie tidak langsung mendongak. Ia membalik halaman bukunya perlahan sebelum akhirnya menatap Hallen dengan tatapan dinginnya yang khas. "Ada apa, Hallen?"
"Aku ingin minta maaf soal kemarin." ucap Hallen sungguh-sungguh. Ia meremas tali tas punggungnya. "Soal di perpustakaan. Aku tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman, apalagi sampai membuat keributan dengan Julian. Aku yang benar-benar ceroboh."
Kenzie menutup bukunya pelan. "Lantainya memang licin, Hallen. Kau hanya melakukan apa yang dilakukan manusia saat melihat seseorang akan jatuh. Tidak ada yang perlu disesali."
Hallen tertegun sejenak mendengarkan kata 'manusia' dari mulut Kenzie, namun ia segera menepis keheranannya. Ia menatap Kenzie lebih dalam. Ada sesuatu yang berbeda di dalam dadanya pagi ini. Jika sebelumnya rasa sukanya pada Kenzie hanyalah sebuah rasa penasaran terhadap gadis misterius, kini rasa itu telah bermutasi menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih menyakitkan dan lebih nyata.
Kehangatan tubuh Kenzie yang sempat ia rasakan sekejap kemarin telah meninggalkan jejak permanen di ingatannya. Hallen merasa ingin melindungi gadis ini, meskipun ia tahu bahwa di balik kedinginan Kenzie, ada kekuatan yang tidak bisa ia pahami. Namun, Hallen juga sadar diri. Ia melihat bagaimana Julian menatap Kenzie kemarin, tatapan seorang pemilik yang tidak sudi berbagi.
Aku tidak boleh menghancurkan ini. Jika aku menyatakan perasaanku sekarang, dia pasti akan semakin menjauh, pikir Hallen.
"Terima kasih, Kenzie." gumam Hallen, memendam desakan di hatinya untuk menggenggam tangan gadis itu. "Aku hanya tidak ingin kau menjauhiku atau merasa aneh saat kita belajar kelompok lagi. Aku berjanji akan lebih menjaga jarak."
"Fokuslah pada ujianmu, Hallen. Itu lebih penting daripada memusingkan soal jarak." jawab Kenzie datar, lalu berjalan melewati Hallen tanpa menoleh lagi.
Hallen terpaku di tempatnya, menatap punggung Kenzie yang menjauh. Rasa suka itu kini tersimpan rapat di bawah lapisan pertemanan yang rapuh, sebuah rahasia yang ia sumpahi tidak akan ia bicarakan pada siapa pun.
Tak jauh dari sana, Lyana berdiri di dekat mading, berpura-pura membaca pengumuman sekolah. Matanya yang tajam menangkap seluruh interaksi antara Hallen dan Kenzie. Lyana merasakan sisa-sisa amarah kemarin masih mendidih di nadinya.
Hallen yang merasa memiliki hutang maaf juga pada ketenangan Lyana, kemudian menghampiri gadis itu.
"Lyana." panggil Hallen.
Lyana berbalik, memasang wajah manisnya yang palsu dalam sekejap. "Hai, Hallen. Ada apa? Kau tampak pucat pagi ini."
"Aku ingin minta maaf juga padamu." ujar Hallen tulus. "Kemarin suasananya jadi tidak enak. Aku tidak tahu kenapa Julian sampai seemosi itu, aku minta maaf jika itu membuatmu tersinggung."
Lyana tertawa kecil, suara yang merdu namun menyimpan duri. "Oh, soal itu. Kau tidak salah. Julian memang terkadang terlalu protektif pada hal-hal yang menurutnya berharga. Tapi aku baik-baik saja. Aku hanya terkejut melihat sisi lain dari dia."
Lyana menatap Hallen dengan tatapan menyelidik. Ia bisa merasakan energi Hallen yang sedang gelisah, energi manusia yang sedang jatuh cinta. Sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya.
"Kau sangat menyukai Kenzie, ya?" bisik Lyana tiba-tiba, membuat Hallen tersentak.
"Apa? Tidak, aku—"
"Jangan bohong padaku, Hallen. Matamu mengatakannya dengan jelas." Lyana melangkah mendekat, aroma mawar hitam samar-samar tercium oleh Hallen. "Tenang saja. Rahasiamu aman bersamaku. Lagipula, siapa yang tidak suka pada gadis secantik dan sepintar Kenzie?"
Lyana meninggalkan Hallen yang membeku dengan detak jantung yang tak beraturan. Di dalam hatinya, Lyana tertawa. Hallen adalah pion yang sempurna. Jika Julian tertarik pada Kenzie dan Hallen juga mencintai Kenzie, maka ia hanya perlu menyulut api sedikit lagi untuk melihat mereka semua saling menghancurkan.
...•••...