NovelToon NovelToon
Rian Sang Anomali Sihir

Rian Sang Anomali Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain
Popularitas:69
Nilai: 5
Nama Author: alghazalibms 19980223

Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18. Harga diri sang semut

Udara pagi ini terasa lebih dingin dari biasanya. Embun beku membentuk kristal-kristal kecil di daun-daun rumput, dan napasku mengembun membentuk awan putih pendek. Aku menarik jaket kulitku lebih kencang, sebuah jaket yang kini sudah kusam dan memiliki beberapa tambalan hasil jahitanku yang berantakan. Aku berdiri di depan rumah kami, yang kini sudah terlihat berbeda. Dinding kayunya tidak lagi berwarna cerah, tapi telah berubah menjadi abu-abu keperakan akibat terpaan angin laut dan hujan. Sebuah teras kecil telah kutambahkan di depan pintu, lengkap dengan dua bangku kayu kasar yang dibuat di hari-hari dimana hujan turun tanpa henti.

"Pagi, Rian," suara Ratri yang sudah sangat kukenal menyapaku dari dalam rumah. Suaranya tidak lagi penuh keajaiban seperti dulu, tapi lebih seperti sapaan rutin seorang anggota keluarga.

"Ayo, kita periksa jebakan," ucapku, suara datar. Ini sudah menjadi ritual pagi kami. Aku mengambil tombak kayu runcing yang bersandar di dinding—senjata yang kubuat setelah menyadari memancing di danau tidak selalu cukup. Ratri mengangguk, mengambil keranjang anyaman yang sudah mulai aus.

Kami berjalan menyusuri jalur yang sama, jejak kaki kami telah membentuk sebuah jalan setapak permanen menuju hutan. Pohon-pohon yang dulu hijau segar kini memiliki beberapa daun menguning. Beberapa jenis burung yang dulu sering kulihat sudah tidak lagi terdengar kicauannya, digantikan oleh spesies lain yang lebih tahan dingin.

Kami mencapai jebakan pertama, sebuah lubang dalam yang ditutupi ranting dan daun. Kosong. Seperti kemarin, dan tiga hari sebelumnya. Aku menghela napas, rasa frustrasi yang sudah familiar menggerogoti. "Coba di dekat sungai," ujarku, mencoba menutupi kekecewaan.

Ratri hanya mengangguk. Dia tidak lagi menawarkan untuk "membujuk" hewan buruan datang dengan kekuatannya. Dia tahu jawabanku akan sama: tidak. Kami telah melalui percakapan itu berulang kali, hingga akhirnya dia memahami bahwa bagiku, bertahan hidup harus dilakukan dengan cara yang wajar, bukan dengan kemudahan instan yang diberikan kekuatannya.

Di sungai, jebakan kedua juga kosong. Hanya ada jejak kecil yang menunjukkan bahwa sesuatu telah memakan umpan yang kami taruh. Kami pulang dengan keranjang kosong. Lagi.

Eveline sedang di kebun saat kami kembali. Dia dengan setia menyirami tanaman-tanaman kami dengan air dari sungai. Tugasnya tidak pernah berubah. Setiap pagi, siang, dan sore. Tanaman-tanaman itu tumbuh, tapi dengan kecepatan yang sangat normal, bahkan terasa lambat. Beberapa sayuran hijau sudah bisa dipanen, tapi itu tidak cukup. Rasa alpukat kocok yang dulu terasa istimewa, kini menjadi bagian dari menu mingguan yang mulai membosankan.

"Tidak dapat apa-apa?" tanya Eveline dengan suara datarnya yang biasa, tanpa nada tanya yang sesungguhnya. Itu adalah pertanyaan yang sama yang dia lontarkan hampir setiap kali kami kembali dengan tangan hampa.

"Tidak," jawabku singkat, meletakkan tombak kayu di tempatnya. Aku masuk ke dalam rumah, menghindari tatapan mereka. Ruangan itu terasa pengap. Aroma kayu yang dulu segar kini telah menghilang, digantikan oleh bau asap api yang telah meresap ke dalam dinding dan bau tanah yang lembap. Aku melihat sekeliling. Semuanya sama. Tempat tidur yang sama, meja yang sama, perapian yang sama. Tidak ada yang baru. Tidak ada yang berubah.

Siang hari kuhabiskan dengan memperbaiki atap yang bocor di beberapa titik—pekerjaan yang sepertinya tidak pernah benar-benar selesai. Ratri duduk di teras, menatap laut dengan pandangan kosong. Kadang, dia melontarkan pertanyaan yang sama. "Kau yakin tidak mau aku...?"

"Tidak, Ratri. Terima kasih," jawabku, memotongnya sebelum dia menyelesaikan kalimatnya. Percakapan ini juga sudah menjadi bagian dari rutinitas.

Aku tahu mereka berdua berusaha. Ratri dengan pengertiannya, Eveline dengan ketaatannya. Tapi di balik itu, aku bisa merasakan kejenuhan yang sama juga menyelimuti mereka. Ritual tanpa makna. Hidup yang hanya tentang bertahan, bukan benar-benar hidup.

Saat senja tiba, aku duduk di bangku teras, memandangi matahari terbenam yang—jujur saja—sudah tidak semenakjubkan dulu. Warnanya sama, bentuknya sama, langitnya sama. Keindahan itu seolah tertutup oleh kabut rutinitas yang membosankan.

Ratri duduk di sampingku, tanpa bicara. Eveline berdiri di dekat pintu, berjaga seperti biasa. Kami seperti tiga patung yang terpaku dalam sebuah adegan yang diulang hari demi hari.

Kedamaian yang dulu kurasakan saat pertama kali tiba di pulau ini, perlahan berubah menjadi sebuah sangkar yang nyaman. Aman, tapi mengurung. Tenang, tapi sepi.

Aku menarik napas dalam. Bulan-bulan telah berlalu. Musim telah berganti. Dan kami... kami masih di sini. Masih melakukan hal yang sama. Bertahan. Bukan berkembang. Bukan mencari jawaban. Hanya... menunggu. Dan aku mulai bertanya-tanya, sampai kapan kami bisa terus seperti ini sebelum salah satu dari kami akhirnya meledak karena kebosanan yang tak tertahankan?

 Kebosanan itu seperti kabut tebal yang menyelimuti hari-hariku. Setiap pagi, bangun dari tempat tidur yang sama. Setiap siang, memperbaiki atap yang sama. Setiap sore, memandangi matahari terbenam yang sama. Rutinitas ini membuatku merasa seperti mesin, bukan manusia. Yang lebih menggangguku, aku merasa semakin kehilangan jati diriku. Aku cuma jadi beban yang dilindungi, orang yang bersembunyi di balik rok Ratri dan kekuatan Eveline. Aku bukan apa-apa tanpa mereka.

"Ratri," ucapku suatu pagi, suaraku tegas memecah kesunyian yang sudah terlalu biasa. "Aku ingin kau latih aku."

Ratri yang sedang merapikan kebun, menoleh dengan mata berkerut. "Latih? Latih apa?"

"Bela diri. Atau apapun itu yang bisa membuatku tidak selalu bergantung padamu dan Eveline. Aku lelah jadi orang yang selalu dilindungi. Aku ingin bisa membela diriku sendiri."

Wajah Ratri berubah serius. "Rian, aku... ragu itu ide yang bagus."

"Kenapa? Karena aku manusia lemah?" tanyaku, sedikit tersinggung.

"Bukan itu," dia cepat menyanggah, lalu mendekatiku. "Lihat, kekuatan 'Pembangkit'-mu memang setara setengah dewa dalam hal potensi energi. Tapi fisikmu... tetap fisik manusia biasa dari duniamu. Tulangmu, ototmu, daya tahannya. Bahkan manusia di dunia ini, yang tumbuh dengan sihir dan elemen yang lebih keras, punya ketahanan fisik yang lebih baik dari pada darimu."

Dia menatapku dalam-dalam, matanya yang emas penuh dengan kekhawatiran. "Latihan fisik dewi dan manusia itu berbeda jurangnya, Rian. Apa yang bagiku hanya pemanasan, bagimu bisa mematikan. Aku tidak ingin... tanpa sengaja melukaimu."

Aku mendengus, rasa frustrasi menggelegak. "Aku tidak peduli! Aku lebih baik mencoba dan gagal, dari pada terus-terusan jadi beban yang tidak berguna! Aku lebih baik sakit sekarang daripada selamanya merasa seperti ini—seperti karat yang menggerogoti harga diriku sendiri!"

Kata-kata itu meledak dari mulutku, mencerminkan perasaan hina yang telah kupendam selama berbulan-bulan. Hidup aman tapi tidak berarti. Itu lebih menyiksa bagiku.

Ratri terdiam lama, memandangiku. Aku bisa melihat konflik di matanya. Dia mengerti perasaanku, tapi juga takut. Akhirnya, dengan napas berat, dia mengangguk pelan. "Baik. Tapi kita lakukan dengan sangat, sangat hati-hati. Kau yang akan menentukan batasnya."

Kami pergi ke padang rumput yang lebih luas. Eveline mengawasi dari kejauhan, pose tubuhnya sedikit tegang, seolah siap menerjang jika sesuatu yang buruk terjadi.

"Pertama, kita coba blokir pukulan sederhana," ujar Ratri, mengambil posisi santai. "Aku akan menyerang pelan. Cobalah halangi."

Dia mengayunkan tangannya ke arah bahuku. Aku mengangkat lengan untuk menangkis. BAM!

Dunia berputar. Aku terlempar ke belakang sejauh tiga meter, jatuh berdebum di atas rumput. Nyeri tajam seperti sambaran petir mengalir dari lengan yang menangkis ke seluruh tubuhku. Napas tersedak di tenggorokan. Kupandang langit biru yang berputar-putar, tidak bisa bergerak.

"Anjir... a...anjir..." erangku, suara tercekik. "Kek... kek ditabrak truk......" Rasanya seperti setiap tulang rusukku retak. Itu bukan pukulan. Itu adalah kekuatan yang tidak manusiawi. Dan itu hanya serangan "pelan" dan "sederhana" baginya.

Ratri sudah berlutut di sampingku, wajahnya panik. "Rian! Maaf! Aku sudah menahan kekuatan, aku sungguh—"

"Aku... baik," batinku, meski berbicara saja sakit. "Lain kali... lebih pelan lagi."

Butuh sepuluh menit bagiku untuk bisa duduk. Lengan kananku membengkak dan berwarna biru keunguan. Ratri ingin menyembuhkannya dengan kekuatannya, tapi aku menolak. "Ini konsekuensinya. Biarkan."

Esok harinya, aku kembali dengan sebuah "zirah" buatanku—lapisan-lapisan kayu keras yang diikat dengan tali rotan di sekitar lengan dan dadaku. Itu terlihat konyol dan berat, tapi setidaknya itu memberiku sedikit keberanian.

"Lagi," perintahku.

Ratri menghela napas, lalu melakukan pukulan yang sama. BAM!

Zirah kayu itu pecah berantakan. Aku kembali terlempar, meski tidak sejauh sebelumnya. Rasa sakitnya masih luar biasa. Aku meringis menahan rintihan.

Hari demi hari, kami mengulangi ritual ini. Aku membuat pelindung yang lebih baik, menambahkan bantalan dari daun dan kulit. Tapi hasilnya selalu sama: aku terpelanting, tubuh penuh memar, dan Ratri hampir menangis karena merasa bersalah. Setiap kali dia memohon untuk berhenti, jawabanku selalu sama: "Lanjutkan."

"Kenapa kau begitu keras kepala?!" teriak Ratri suatu hari, suaranya pecah setelah melihatku muntah-muntah karena pukulan yang mengenai perut. "Lihat dirimu! Kau menyiksa diri sendiri!"

Aku berdiri dengan gemetar, ludahkan rasa besi di mulutku. "Karena... lebih baik tulangku yang patah sekarang, daripada jiwa dan harga diriku yang hancur perlahan menjadi debu! Lebih baik aku merasakan sakit fisik yang nyata ini, daripada terus-menerus dilumpuhkan oleh rasa tidak berdaya yang menggerogoti dari dalam!"

Aku menatapnya, mata berkaca-kaca karena sakit dan emosi. "Aku tidak ingin kehilangan diriku, Ratri! Aku adalah Rian Saputra, dan Rian Saputra akan berdiri dengan kekuatannya sendiri, atau dia akan jatuh mencoba!"

Saat-saat itu, aku melihat sesuatu yang berubah di mata Ratri. Kekaguman yang dalam, bercampur dengan rasa sakit karena melihat penderitaanku, dan sebuah pemahaman yang jernih. Dia melihat bahwa yang sedang kuperjuangkan bukanlah sekadar kekuatan fisik, tapi jiwa manusia yang menolak untuk ditaklukkan.

Rutinitas itu berlanjut. Memar yang baru menumpuk di atas memar yang lama. Tapi perlahan, sangat perlahan, sesuatu mulai berubah. Otot-ototku yang awalnya lunak, kini mengeras. Refleksku yang lambat, mulai meningkat. Aku belajar membaca gerakan Ratri, belajar mengalirkan tenaga pukulannya, bukan menahannya secara kaku.

Dan kemudian, pada suatu sore, setelah berminggu-minggu berlatih, itu terjadi.

Ratri mengayunkan pukulan yang sama, dengan kekuatan yang sama yang selalu membuatku terjengkang. Aku mengangkat lengan yang sudah dipenuhi bekas luka dan otot yang baru terbentuk. BUK!

Suara yang berbeda. Bukan suara kayu pecah atau daging yang terbentur keras. Tapi suara benturan yang padat, kokoh.

Tubuhku tergoyang, kakiku melesak beberapa inci ke dalam tanah. Nyeri masih ada, tajam dan menusuk. Tapi aku tidak terjatuh. Kakiku masih menancap di tanah. Lengan yang menahan itu, meski bergetar liar, tetap di posisinya.

Aku berdiri. Menahan pukulan itu.

Ratri berdiri di depanku, tangannya masih terkepal, matanya membelalak tidak percaya. Lalu, sebuah tetesan air mata emas menetes di pipinya. Bukan karena sedih atau bersalah. Tapi karena sebuah rasa hormat yang luar biasa.

Aku, dengan napas tersengal dan tubuh yang bergetar hebat, tersenyum. Senyum tipis, penuh kemenangan.

"Aku... tidak jatuh," desisku.

Ratri mengangguk, tidak bisa berkata-kata. Dia mengerti. Ini bukan tentang menjadi sekuat dewi. Ini tentang menjadi cukup kuat untuk diriku sendiri. Dan hari ini, untuk pertama kalinya, aku sudah membuktikannya.

 Napasku masih tersengal-sengal, setiap otot di tubuhku berdenyut nyeri, tapi sebuah api baru berkobar di dalam dada. Aku berhasil menahan satu pukulan Ratri. Itu bukan kemenangan atasnya, tapi kemenangan atas rasa takut dan ketidakberdayaanku sendiri. Dan seperti kecanduan, aku ingin lebih.

"Lagi," desisku, berusaha berdiri tegak meski lutut masih gemetar. "Naikkan levelnya."

Wajah Ratri yang baru saja menunjukkan kekaguman, langsung berkerut khawatir. "Rian, tidak. Lihat kondisimu. Itu sudah cukup untuk hari ini—bahkan untuk minggu ini."

"Aku bilang, naikkan levelnya!" hardikku, suara serak namun penuh tekad. "Aku baru saja mulai, Ratri! Aku tidak akan berhenti hanya karena satu pukulan!"

"Tapi kau tidak mengerti," bantahnya, suara meningkat. "Yang kau alami tadi adalah level paling dasar dari yang paling dasar! Level berikutnya... itu bukan lagi tentang kekuatan fisik biasa. Itu akan melibatkan kecepatan, teknik, dan tekanan energi yang bahkan aku sendiri tidak yakin bisa mengendalikannya dengan sempurna!"

"Aku tidak peduli!" teriakku, frustrasi. "Aku lebih takut untuk tetap menjadi orang yang lemah ini daripada takut terluka! Aku harus tahu sejauh mana batasku! Aku harus tahu jurang pemisah antara diriku dan kalian!"

Aku melihat langsung ke matanya yang emas, menusuk dengan segala tekad dan rasa takut yang kusembunyikan. "Tolong, Ratri."

Dia terdiam lama, wajahnya berperang antara keinginanku dan rasa takutnya. Akhirnya, dengan erahan yang putus asa, dia mengangguk perlahan. "Baik. Tapi ingat, kau yang meminta."

Dia mengambil posisi lagi, tapi kali ini, semuanya berbeda. Aura di sekelilingnya berubah. Udara seakan menjadi lebih padat, lebih berat. Dia tidak hanya mengandalkan otot. Seluruh tubuhnya seolah menyatu dengan alam sekitar, setiap gerakannya halus namun mematikan seperti angin topan yang sedang bermain-main.

Dia tidak lagi hanya menyerang lurus. Gerakannya menjadi seperti tarian mematikan. Dia menghilang dari pandanganku dan muncul di sampingku, sebuah sikut menghantam rusukku sebelum aku sempat bereaksi. Saat aku berusaha memukul balik, tangannya sudah membelokkan pukulanku dengan mudah, menggunakan tenagaku sendiri untuk melemparku ke tanah.

Aku bangkit, mencoba menendang. Dia menangkap kakiku dengan satu tangan dan dengan lembut—namun dengan kekuatan yang tak terbantahkan—melemparku berputar di udara sebelum aku mendarat dengan keras di atas rumput.

Ini bukan lagi sekadar soal kekuatan. Ini tentang penguasaan. Dia bergerak seperti air, mengalir di sekitar setiap seranganku yang kaku dan penuh amarah, lalu membalas dengan presisi yang menghancurkan. Aku seperti anak kecil yang berusaha melawan seorang master bela diri. Setiap seranganku sia-sia, setiap pertahananku mudah ditembus.

Aku terjatuh untuk kesekian kalinya, kali ini tidak bisa langsung bangun. Dadaku sesak, pandanganku berkunang-kunang. Rasanya seperti seluruh tubuhku telah dihancurkan oleh sebuah mesin raksasa yang bergerak dengan keanggunan yang menyesakkan.

"Sudah cukup, Rian," suara Ratri terdengar sayup, penuh keprihatinan.

Dengan sisa tenaga, aku menggulingkan tubuhku dan mendongak. Langit biru yang cerah terasa seperti mengejek kegagalanku. Air mata panas akhirnya menetes, bercampur dengan keringat dan kotoran di pipiku. Bukan karena sakit fisik, tapi karena penghinaan yang begitu dalam terhadap diriku sendiri.

"Aku... tidak bisa," aku mengakui, suara parau dan penuh kekalahan. "Aku bahkan tidak bisa menyentuhmu."

Ratri berlutut di sampingku. "Itu karena kau mencoba melawan dengan caraku, di levelku. Itu mustahil, Rian. Tapi lihat, kau tidak menyerah. Kau masih berusaha. Itu yang penting. Kau tidak pernah manja, dan kau tetap berjuang untuk jati dirimu sendiri."

"Jati diri apa?" erangku, getir. "Jati diri sebagai orang yang lemah yang harus selalu dilindungi? Aku malu, Ratri. Aku malu karena harus bersembunyi di balik kekuatanmu dan Eveline. Aku... aku seorang lelaki! Seharusnya aku yang melindungi, bukan yang dilindungi!" Pengakuan itu keluar dengan pedih, mencerminkan luka ego terdalam yang selama ini kupendam.

Saat itu, Eveline mendekat. Dia berdiri di atas kami, tatapan birunya yang kosong menatapku yang terbaring tak berdaya.

"Tuanku terluka. Apa yang harus kulakukan?" tanyanya dengan suara datarnya yang biasa.

Aku memandangnya, lalu kembali menatap Ratri. Sebuah pikiran gila muncul di kepalaku yang kacau.

"Ratri... bisakah kau melawan Eveline? Seandainya kalian bertarung, siapa yang menang?"

Ratri memandangku, lalu ke Eveline, seolah mempertimbangkan pertanyaanku dengan serius.

"Eveline adalah mayat hidup sempurna," jawabnya perlahan. "Kekuatannya fisik murni, tanpa rasa sakit atau lelah. Dia seperti senjata pamungkas yang berjalan. Jika kita bandingkan... kekuatan fisikmu, Rian, setelah berlatih ini, mungkin sekitar... 10."

Dia menunjuk Eveline. "Kekuatan fisik Eveline, dengan segala efisiensi dan daya hancurnya, adalah 100."

Aku mengangguk pelan. Itu selisih yang jauh. Sangat jauh.

Lalu dia menunjuk dirinya sendiri. "Dan kekuatanku... sebagai dewi jatuh, meski tidak dalam kondisi penuh... adalah 1.000.000."

Angka itu menggantung di udara seperti pukulan terakhir. 10... 100... 1.000.000.

Aku hanya bisa memandangnya, lalu memejamkan mata. Geleng kepala ku pelan. Aku tertawa getir. Tertawa pada diriku sendiri yang begitu naif, berpikir bahwa dengan sedikit latihan, aku bisa mendekati kekuatan mereka.

Jurangnya tidak terpikirkan. Aku bukan hanya lemah. Aku bahkan tidak berada di liga yang sama. Aku seperti semut yang berusaha memahami kekuatan raksasa.

"Jadi, untuk menyamai Eveline saja, aku harus 10 kali lebih kuat dari sekarang," gumamku. "Dan untuk menyamaimu... aku harus 100.000 kali lebih kuat."

Ratri mengangguk, wajahnya sedih. "Ya. Tapi kekuatan bukanlah segalanya, Rian. Lihat, kau telah membangun rumah ini. Kau menciptakan kehidupan di sini. Itu adalah kekuatan yang berbeda."

Tapi kata-katanya tenggelam dalam lautan keputusasaanku. Aku berbaring di sana, di atas rumput, menyadari betapa kecil dan tidak berartinya diriku di hadapan kekuatan sejati yang mengisi dunia ini. Aku mungkin punya kekuatan "Pembangkit Sempurna", tapi tanpa kekuatan untuk mempertahankan diri sendiri, itu seperti seorang anak kecil yang memegang pedang legendaris—berharga, tapi rentan.

Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar mempertanyakan: apa gunanya bisa membangkitkan orang mati, jika aku sendiri tidak cukup kuat untuk menjaga nyawaku sendiri?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!