Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.
Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.
Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.
Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Penyamaran
Angin gurun menderu di celah-celah tebing Lembah Air Mata, membawa serta debu halus yang terasa tajam seperti serpihan kaca di kulit.
Lembah ini disebut demikian karena formasi bebatuannya yang terus-menerus meneteskan air asin dari sumber purba di bawah tanah, satu-satunya tempat yang cukup sejuk di tengah keganasan Benua Pasir Emas, namun kini tempat itu telah berubah menjadi sarang kegelapan.
Terlihat Wira dan Sekar bergerak merayap di balik gundukan pasir merah.
Di bawah sana, ribuan tenda militer dari tiga kerajaan besar, Kerajaan Surya, Kerajaan Debu Merah, dan Kerajaan Kalajengking Hitam telah mengepung oase pusat.
Bau kemenyan hitam yang menyengat tercium hingga ke puncak tebing, bercampur dengan aroma amis darah dari hewan-hewan kurban ritual.
"Wira, lihat itu," bisik Sekar sambil menunjuk ke arah barisan orang-orang yang dirantai.
"Mereka bukan hanya tentara. Banyak warga sipil yang dipaksa menjadi budak pengangkut barang persembahan." lanjutnya.
Wira mengamati situasi dengan seksama. Sedangkan Siwa yang di punggungnya memberikan getaran peringatan yang lebih kuat dari biasanya.
Di benua ini, atmosfer energinya terasa jauh lebih padat dan menekan.
"Sekar, kita tidak bisa masuk dengan cara biasa. Penjagaan di gerbang lembah menggunakan cermin pendeteksi sukma. Jika kita masuk sebagai pendekar, alarm akan berbunyi dalam sekejap," ucap Wira.
Ia kemudian melirik ke arah tumpukan pakaian kumal dan peti-peti kayu yang ditinggalkan di belakang kotak logistik.
"Kita harus menjadi bagian dari mereka. Budak pengangkut barang." lanjutnya mendapat ide.
Dengan cepat, keduanya menanggalkan jubah pengembara mereka yang bersih, menggantinya dengan kain rami kasar yang penuh noda debu dan peluh.
Wira mengoleskan lumpur ke wajahnya, sementara Sekar menutupi rambut peraknya dengan kain kumal, menyamarkan kecantikannya di balik lapisan jelaga.
Dan Siwa, yang biasanya mencolok kini dibungkus dengan kain rami tebal, nampak tak lebih dari sekadar sebilah kayu penyangga beban yang biasa dibawa para kuli.
Sambil memanggul peti kayu besar yang berat, Wira dan Sekar bergabung ke dalam barisan budak yang sedang digiring masuk ke dalam lembah.
Saat melewati gerbang penjagaan, Wira menyadari sesuatu yang membuatnya merinding. Para penjaga di sini, bahkan prajurit tingkat rendah sekalipun, memiliki aura yang sangat stabil dan tajam.
"Bocah, waspadalah," suara Siwa bergema di batin Wira.
"Kultivasi di benua ini telah berevolusi secara ekstrem karena kerasnya alam gurun. Mereka tidak menggunakan sistem Arus atau Gelombang seperti di samudera. Mereka menggunakan sistem Kristalisasi, dan kemungkinan di setiap benua lain nanti juga akan selalu berbeda, kau harus bisa menembuh batasanmu, Bocah dan harus memperlebar inti energimu" jelas Siwa mengingatkan.
Wira mengangguk paham dan mengerutkan kening sambil terus melangkah di bawah ancaman cambuk penjaga.
Melalui sisa batinnya dengan Siwa, ia memahami struktur kekuatan di Benua Pasir Emas yang jauh lebih tinggi dan mematikan dibanding benua Samudera Biru sebelumnya, sebutan tingkat kultivasi di benua Pasir Emas ini yaitu ada,
Ranah Pasir Berbisik (Tahap Dasar): Pendekar yang mampu mengeraskan kulit mereka sekeras butiran pasir, membuat mereka sulit ditembus senjata tajam.
Ranah Badai Debu (Tahap Menengah): Mampu memanipulasi udara kering menjadi senjata pemotong yang tidak terlihat.
Ranah Kristal Matahari (Tahap Tinggi): Energi suksma mereka telah memadat menjadi kristal di dalam inti tubuh, memungkinkan mereka menyimpan energi ribuan kali lebih besar.
Ranah Gurun Abadi (Tahap Puncak): Seorang pendekar yang bisa menyatu dengan alam pasir, mampu menghilangkan keberadaan fisik mereka sepenuhnya dan muncul di mana saja dalam jangkauan gurun.
_
"Para Raja di tenda pusat itu... aku merasakan setidaknya mereka semua berada di puncak Ranah Kristal Matahari," bisik Wira sangat pelan kepada Sekar saat mereka meletakkan peti di dekat tenda logistik utama.
Sekar mengangguk, napasnya sedikit memburu karena tekanan gravitasi buatan di lembah ini.
"Dan Pendeta Bayangan yang diceritakan Jenderal Sabrang... aku takut dia sudah menyentuh ranah yang lebih tinggi lagi." jawab Sekar penuh kekhawatiran.
Mereka berdua pun berhasil menyusup semakin dalam, melewati barisan penjaga yang sedang asyik berpesta pora di atas penderitaan para tawanan.
Saat mendekati tenda pusat yang sangat luas dan berwarna emas gelap, Wira melihat pemandangan yang menyayat hati yaitu, tiga Raja dari kerajaan besar duduk mengelilingi sebuah meja batu raksasa.
Raja Bhaskara dari Kerajaan Surya, Raja Maruta dari Kerajaan Debu Merah, dan Ratu Kala dari Kerajaan Kalajengking Hitam.
Namun, kini mata mereka tidak lagi menunjukkan kewarasan.
Pupil mata mereka telah hilang, digantikan oleh kabut hitam yang berputar-putar, itu adalah tanda bahwa jiwa mereka telah dirasuki sepenuhnya oleh energi hitam entitas kuno.
Di tengah meja mereka, terdapat sebuah jantung mekanis raksasa yang terbuat dari emas murni yang berdenyut, dan setiap denyutannya menyerap energi dari lembah tersebut.
"Tuanku Pendeta," suara Raja Bhaskara terdengar serak dan tidak manusiawi.
"Kapan Dewa Gurun akan bangkit sepenuhnya? Kami sudah memberikan seluruh cadangan sukma kerajaan kami." lanjut tanya Raja Bhaskara.
Setelah itu, satu tarikan nafas berikutnya muncul sosok dari balik bayang-bayang di sudut tenda, sesosok pria kurus tinggi dengan jubah yang seolah terbuat dari asap. Inilah Pendeta Bayangan.
"Sabar, wahai para penguasa," ucap Pendeta Bayangan dengan nada dingin yang menusuk tulang.
"Hanya tinggal satu bahan lagi. Darah dari kerajaan yang paling murni... Embun Pagi. Begitu garis keturunan mereka diputus di altar ini, Benua Pasir Emas akan menjadi gerbang pertama bagi sang Penguasa Semesta untuk turun ke bumi." lanjut jelasnya dengan penuh tekanan.
Di sisi lain, Wira yang sedang berpura-pura menata peti di luar tenda seketika mengepalkan tangannya. Siwa di balik bungkusan kain rami pun juga mulai bergetar panas.
"Wira, kita harus bergerak sekarang sebelum mereka mengirim pasukan ke Embun Pagi," bisik Sekar, tangannya sudah menyentuh gagang pedang pendeknya yang disembunyikan di balik kain rami.
"Belum, Sekar. Lihat di sana," Wira menunjuk ke arah penjara besi di belakang altar.
Di sana terdapat seorang gadis kecil yang mengenakan pakaian sutra biru langit yang telah kotor.
Gadis itu adalah Putri Arum Sari, satu-satunya pewaris Kerajaan Embun Pagi yang ternyata telah diculik lebih awal dan dia juga menjadi kunci dari ritual ini.
Tiba-tiba, seorang jenderal dari Ranah Kristal Matahari berjalan mendekati barisan budak tempat Wira berada.
Ia merasa ada sesuatu yang aneh dengan aliran energi di area tersebut.
"Hei, kau! Budak yang memegang kayu besar itu!" teriak sang jenderal sambil menunjuk ke arah Wira.
"Balikkan badanmu!" teriaknya kembali.
Sekar menahan napas, siap mencabut senjatanya, namun Wira tetap tenang, ia membalikkan badan dengan wajah yang tampak bodoh dan ketakutan, persis seperti perannya sebagai kuli pengangkut.
"I-iya, Tu-tuan Jenderal? Apakah peti ini telah ku diletakkan di tempat yang salah?" tanya Wira dengan suara yang gemetar dibuat-buat.
Sang jenderal pun mendekat, matanya menatap tajam ke arah bungkusan kain rami yang berisi Siwa.
"Apa yang kau bawa itu? Terasa ada getaran energi yang sangat asing di dalamnya." tanya Jenderal itu dengan penuh tekanan namun tidak mempengaruhi Wira.
"Oh, ini? Ini hanyalah kayu penyangga punggung saya, Tuan. Punggung saya bungkuk karena terlalu banyak memikul beban," jawab Wira sambil tersenyum bodoh.
Sang jenderal tidak percaya begitu saja. Ia kemudian mengulurkan tangannya yang dilapisi kristal energi untuk menyentuh Siwa.
Dan saat tangannya hampir menyentuh kain rami tersebut, sebuah ledakan energi tiba-tiba terjadi di sisi lain lembah.
BOOM!
"Serangan! Pasukan Embun Pagi menyerang gerbang depan!" teriak para prajurit.
Itu adalah pengalihan yang dibuat oleh Jenderal Sabrang sesuai rencana mereka sebelumnya.
Sang jenderal yang menginterogasi Wira langsung berbalik arah, memimpin pasukannya menuju gerbang.
"Sekarang, Sekar!" teriak Wira.
Wira menyentakkan kain rami yang membungkus Siwa. Sebatang Kayu lusuh itu kini memancarkan cahaya biru langit yang menyilaukan, membelah kegelapan tenda pusat.
Bersamaan dengan itu, Sekar juga melesat secepat kilat, pedang peraknya menebas rantai-rantai penjara besi tempat Putri Arum Sari dikurung.
"Siapa kalian?!" teriak Raja Bhaskara sambil berdiri. Ia menghantamkan tinjunya ke meja batu, menciptakan gelombang badai pasir kristal yang tajam ke arah Wira.
Melihat itu, Wira langsung memutar Siwa dengan kecepatan tinggi, menciptakan dinding angin yang mementalkan butiran kristal tersebut.
"Aku? Aku hanya pedagang ubi yang tersesat di pesta pora para kerajaan gila ini!" jawab Wira dengan sinis.
Sedangkan di sisi Raja Bhaskara yaitu si Pendeta Bayangan menatap Wira dengan kebencian yang mendalam.
"Kau... Kau kah pembawa tongkat dari timur itu? Cih-... Ternyata kau lebih cepat dari yang kuperkirakan. Tapi di Benua Pasir Emas ini, kekuatan matahari adalah milik kami!" ucap Pendeta Bayangan yang sudah mulai mengeluarkan energinya.
Melihat akan adanya pertempuran, dengan sedikit sisa kesadarannya Raja Bhaskara, Raja Maruta, dan Ratu Kala, mengendap bersembunyi di belakang.
Pendeta Bayangan mengangkat tangannya ke arah langit. Seketika, suhu di dalam lembah meningkat drastis hingga mencapai titik panas yang bisa melelehkan logam.
Ini adalah kekuatan Ranah Gurun Abadi yang dimanipulasi oleh energi hitam.
"Wira, suhunya terlalu tinggi! bahkan sukmaku terasa mulai terbakar!" seru Sekar sambil melindungi sang putri di belakang punggungnya.
Wira menyadari bahwa di benua ini, ia tidak bisa hanya mengandalkan teknik pemurnian biasa.
Tingkat kultivasi di sini terlalu padat dan terfokus pada panas yang menghancurkan.
"Siwa, pinjamkan aku kekuatan dari akar bumi!" ucap Wira.
Kemudian Wira menghujamkan Siwa ke tanah lembah yang lembap.
Ia menarik energi dari sumber air asin di bawah tanah Lembah Air Mata, menyatukannya dengan energi suci biru langitnya.
Seketika, uap air dingin yang dahsyat meledak dari titik jatuhnya Siwa, menetralkan panas neraka yang diciptakan Pendeta Bayangan.
"Mari kita lihat seberapa tahan kristalmu terhadap pembekuan mendadak!" ucap Wira dengan nada yang sudah berubah menjadi lebih dingin dengan di iringi senyum tipisnya.
Wira langsung melesat maju, bukan ke arah Pendeta Bayangan, melainkan ke arah jantung mekanis emas di tengah meja.
Ia tahu bahwa itulah sumber kekuatan yang merasuki ketiga raja tersebut.
Dan akhirnya pertempuran besar di Lembah Air Mata pun pecah.
Wira harus menghadapi tiga raja dengan Ranah Kristal Matahari secara bersamaan, sementara Sekar berjuang melindungi Putri Arum Sari dari serbuan prajurit bayangan.
Di langit Benua Pasir Emas, awan hitam mulai berkumpul, menandakan bahwa Sang Penyeimbang kini sedang menghadapi ujian yang jauh lebih berat dari apa pun yang pernah ia alami sebelumnya.
"Siwa, jangan biarkan aku hampir pingsan lagi seperti di Samudera Biru!"
"Tentu, Bocah! Tapi pastikan setelah ini kau tidak mandi di tempat umum lagi! Fokuslah pada jantung emas itu dulu!" jawab Siwa serius namun bercanda.
Wira hanya tersenyum di tengah badai pasir yang mengamuk.
Dengan satu lompatan dahsyat, ia mengangkat Siwa tinggi-tinggi, siap menghujamkan keadilan ke pusat kegelapan benua emas ini.
......................
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁