Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Paket di Mansion Seberang
Minggu pagi di kediaman Dharmawijaya terasa begitu tenang. Matahari menyelinap masuk melalui jendela-jendela besar rumah modern minimalis yang terletak di kawasan elit tersebut. Meskipun tidak seluas istana, setiap sudut rumah ini memancarkan kemewahan yang berkelas.
Karline baru saja selesai bersiap. Hari ini ia berjanji akan pergi jalan-jalan dengan Sarah dan rombongan kelasnya. Ia mengenakan kaos berwarna kuning cerah yang pas di tubuh, dipadukan dengan celana rok biku selutut yang memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih. Rambut hitamnya dibiarkan tergerai indah, dihiasi pita pink kecil yang menambah kesan manis.
Namun, ketenangannya pecah saat kakak sulungnya, Andhika Dharmawijaya, mengetuk pintu kamarnya dengan wajah buru-buru.
"Dek, tolong antar paket ini ke perumahan sebelah. Rumah nomor 12," ucap Andhika sambil menyodorkan sebuah kotak pendingin berisi bahan makanan premium.
Andhika adalah sosok yang kini memegang kendali bisnis keluarga. Di usianya yang 25 tahun, ia menggantikan peran sang papa, Arnold Dharmawijaya, seorang chef legendaris yang kini sudah pensiun karena faktor usia.
"Ih, Kak Dhika! Karline kan mau pergi sama teman-teman!" tolak Karline manja sambil mengerucutkan bibirnya. "Antar sendiri, dong!"
Andhika menghela napas, menatap adiknya dengan wajah tegas namun tetap lembut. "Kakak harus segera ke restoran, ada tamu VIP. Papa juga sudah nggak sekuat dulu buat urus pengantaran khusus begini. Ayolah, cuma sebentar. Ada supir yang antar sampai depan gerbang mereka."
Arnold, sang papa yang sedang menyeruput kopi di ruang makan, hanya tersenyum melihat kedua anaknya beradu mulut. Pemandangan itu sudah menjadi sarapan harian baginya. Ia bangga pada Andhika yang bertanggung jawab, dan ia sangat memanjakan Karline, putri bungsunya yang selama ini menyembunyikan identitas keluarganya di sekolah karena tidak ingin dipandang hanya karena nama besar ayahnya.
"Ya sudah, iya! Karline antar!" gerutu Karline akhirnya sambil menyambar kotak tersebut.
Mobil mewah keluarga Dharmawijaya berhenti di depan sebuah mansion megah yang tampak seperti istana. Karline turun dan melangkah menuju gerbang besar yang otomatis terbuka. Ia menarik napas panjang, tidak menyadari bahwa takdir sedang mempermainkannya pagi ini.
Karline menekan bel di samping pintu jati yang besar. Tak lama kemudian, pintu terbuka memperlihatkan seorang wanita paruh baya yang tampak sangat anggun dan elegan.
"Selamat pagi, Tante. Saya mau antar paket pesanan dari Mr. Andhika," ucap Karline sopan dengan senyum manisnya.
"Oh, ya ampun! Terima kasih ya, Sayang, ngomong-ngomong kamu siapa? kenapa bukan Mr Andhika yang mengantarnya?" jawab wanita itu, yang ternyata adalah Nyonya Erlana Pramudya. "Ma! Siapa yang datang?" sebuah suara berat yang sangat familiar terdengar dari dalam rumah.
"Saya Karline tante, Adiknya Mr Andhika." Nyonya Erlana mengangguk, ia baru tahu kalau andhika punya adik perempuan semanis ini.
Karline membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat sosok tinggi tegap muncul di belakang Nyonya Erlana. Itu Dean. Dean berdiri di sana hanya mengenakan kaos santai, tampak sangat terkejut melihat siapa yang berdiri di depan pintunya.
Karline yang hari ini tampil sangat cantik dan cerah tanpa jaket, tanpa masker, dan tampak sangat terawat membuat Dean terpana untuk kesekian kalinya.
"Karline?" gumam Dean tidak percaya.
Nyonya Erlana menoleh ke arah putranya, lalu kembali menatap Karline dengan mata berbinar. "Lho, Dean, kamu kenal? Ini adiknya Mr. Andhika, putra chef Arnold yang legendaris itu. Kamu tahu kan restoran mereka yang paling terkenal di kota ini?"
"Aku tidak tahu, Ma," sahut Dean dengan nada suara yang bergetar. "Aku tidak tahu kalau dia... putrinya Chef Arnold."
Nyonya Erlana tersenyum lebar. "Wah, kebetulan sekali! Ayo masuk dulu, Nak. Tante buatkan minum ya? Kita bincang-bincang sebentar."
"Maaf, Tante," Karline menjawab dengan cepat, suaranya kembali dingin dan formal. "Saya harus segera pergi. Teman-teman saya sudah menunggu."
Karline memberikan kotak itu kepada Nyonya Erlana, lalu segera berbalik.
"Karline, tunggu!" panggil Dean. Ia melangkah keluar dari pintu, mencoba mengejar Karline yang sudah berjalan cepat menuju gerbang. "Gue mau bicara soal yang kemarin..."
Karline menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh perlahan, memberikan tatapan kebencian yang sangat mendalam, seolah kehadiran Dean adalah polusi bagi paginya yang cerah. Ia tidak membalas ucapan Dean. Dengan tatapan yang menghujam jantung, Karline langsung berlari menuju mobilnya yang sudah menunggu di luar gerbang.
Dean hanya bisa diam mematung di teras rumahnya. Ia melihat mobil itu melaju pergi, membawa pergi gadis yang kini ia ketahui bukan hanya sekedar adik kelas yang cantik dan pintar, tapi juga putri dari keluarga terpandang yang selama ini ia hina dengan kata-kata kasar.
"Dean? Kamu mengenalnya? Dan ada apa dengan kalian?" tanya Mamanya dengan bingung.
Dean tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap aspal jalanan dengan rasa penyesalan yang semakin mencekik lehernya. Ia sadar, jurang antara dirinya dan Karline kini bukan lagi sekadar benci, tapi sudah menjadi dinding besar yang sangat sulit untuk diruntuhkan.