Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.
Selamat Bacaaaa 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Fajar menyingsing di Oxford dengan warna ungu pucat yang menembus sela-sela gorden tipis di ruang tamu. Lucky Caleb tidak benar-benar tertidur lelap.
Tubuhnya lelah, namun jiwanya waspada, seolah takut jika ia memejamkan mata terlalu lama, rumah ini dan isinya akan menguap seperti mimpi indah yang sering menyiksanya selama lima tahun terakhir.
Ia berbaring di sofa, terbungkus selimut rajut yang beraroma seperti Freya—perpaduan vanila dan kehangatan rumah. Di dalam keheningan pagi yang suci itu, terdengar suara gesekan halus dari arah tangga.
Kriet…
Lucky membuka matanya perlahan. Dunianya seketika melambat.
Seorang anak laki-laki kecil berdiri di sana, di ujung tangga terakhir. Ia mengenakan piyama bermotif dinosaurus, rambut cokelat gelapnya berantakan khas bangun tidur, dan tangan kecilnya sedang mengucek mata kanan. Anak itu berhenti melangkah saat menyadari ada sosok asing yang mengisi ruang tamunya.
Waktu seolah membeku, ditarik oleh benang-benang takdir yang begitu tipis. Lucky menahan napasnya, jantungnya berdegup dalam dentuman yang sangat pelan, seolah takut getarannya akan mengejutkan bocah itu.
Alistair menurunkan tangan dari wajahnya. Ia mengerjapkan matanya yang besar dan jernih—mata yang merupakan salinan sempurna dari mata Lucky. Bocah itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap Lucky dengan rasa ingin tahu yang murni, tanpa rasa takut, seolah-olah jiwanya mengenali frekuensi pria yang ada di depannya.
Setiap inci gerakan Alistair terasa lambat di mata Lucky. Anak itu melangkah maju satu langkah. Kaki kecilnya yang tanpa alas menyentuh karpet dengan lembut. Ia berjalan mendekati sofa, matanya tidak lepas dari wajah Lucky yang kini sudah basah oleh air mata yang jatuh tanpa suara.
Lucky perlahan mengubah posisinya menjadi duduk. Ia tidak berani bersuara. Ia hanya membuka tangannya sedikit, sebuah isyarat universal bagi seorang anak yang sedang mencari perlindungan.
Alistair berhenti tepat di depan lutut Lucky. Ia mengulurkan tangan kecilnya, jemarinya yang mungil bergerak perlahan menuju wajah Lucky. Lucky memejamkan mata, membiarkan sentuhan itu terjadi. Saat kulit halus Alistair menyentuh pipi Lucky yang kasar karena jambang tipis, dunia seolah meledak dalam keheningan yang penuh haru.
Jari kecil itu menghapus satu tetes air mata di pipi Lucky. Alistair menatapnya dengan lekat, lalu sebuah senyuman tipis, senyuman yang memiliki sudut yang sama persis dengan senyuman Lucky—terukir di wajah kecil itu.
"Siapa?" suara Alistair terdengar seperti bisikan malaikat di telinga Lucky.
Lucky menelan ludahnya yang terasa pahit karena haru. "Aku... aku Lucky," suaranya serak dan gemetar.
Alistair tidak bertanya lebih lanjut. Dengan gerakan yang sangat alami, ia justru merayap naik ke atas sofa, masuk ke dalam dekapan Lucky, dan menyandarkan kepalanya di dada pria itu. Ia seolah menemukan bantal yang selama lima tahun ini ia cari dalam mimpi-mimpinya.
Lucky memeluk tubuh mungil itu dengan sangat erat namun penuh kehati-hatian, seolah ia sedang memegang permata paling rapuh di dunia. Isaknya pecah di puncak kepala Alistair. Ia menghirup aroma rambut anaknya—aroma bayi yang bercampur dengan kehangatan pagi.
"Mommy..." Alistair memanggil saat melihat Freya berdiri di ambang pintu dapur dengan mata sembab.
Freya menyaksikan pemandangan itu dengan hati yang hancur sekaligus bahagia. Ia melihat bagaimana Alistair begitu mudah menerima Lucky, seolah ikatan darah memang tidak bisa dibohongi oleh waktu atau jarak.
"Itu Lucky, sayang. Dia... dia teman lama Mommy yang akan tinggal bersama kita sekarang," ucap Freya lembut, meskipun hatinya ingin berteriak bahwa pria itu adalah ayahnya.
Lucky mendongak, menatap Freya dengan pandangan penuh terima kasih. Ia tahu, untuk saat ini, kata "Ayah" mungkin masih terlalu berat untuk Alistair, namun pelukan ini sudah lebih dari cukup untuk menebus lima tahun kehampaannya.
Namun, kedamaian pagi itu terusik oleh suara deru mesin mobil yang berhenti di depan gerbang. Bukan satu, melainkan tiga mobil SUV hitam bermesin besar. Lucky dan Freya saling berpandangan. Wajah Freya seketika berubah pucat.
"Daddy..." bisik Freya.
Pintu depan diketuk dengan keras, tidak sabar. Fank Montgomery masuk lebih dulu, wajahnya tampak sangat tegang.
Di belakangnya, berdiri seorang pria paruh baya dengan aura kekuasaan yang mengintimidasi: William Montgomery.
William menatap ruang tamu yang sederhana itu, lalu matanya tertuju pada Lucky yang masih memeluk Alistair di sofa. Tatapannya penuh penghinaan, seolah ia baru saja melihat serangga di dalam istana putrinya.
"Lepaskan cucuku, Penyanyi," suara William menggelegar, dingin dan tajam seperti pisau bedah. "Kau sudah menghancurkan hidup putriku sekali di Berlin. Jangan kira kau bisa masuk ke sini dan mengacaukan masa depan pewaris Montgomery dengan keberadaanmu yang tidak berguna."
Lucky berdiri, namun ia tidak melepaskan Alistair. Ia justru menggendong anaknya, memposisikan tubuh Alistair di belakang bahunya untuk melindunginya dari tatapan kakeknya sendiri.
"Tuan Montgomery," Lucky berujar dengan nada yang tenang namun memiliki ketegasan yang belum pernah ia miliki sebelumnya. "Saya mungkin bukan siapa-siapa di mata Anda. Saya bukan diplomat, bukan pengusaha real estat. Tapi saya adalah pria yang akan mati demi melindungi anak ini dan ibunya. Anda bisa membawa semua pengawal Anda, tapi Anda tidak akan bisa membawa pergi keluarga saya lagi."
William tertawa sinis. "Keluarga? Kau baru saja menikah dengan putri diplomat di Berlin, Lucky Caleb. Kau adalah skandal berjalan. Fank, ambil Alistair."
Fank maju selangkah, namun ia berhenti saat melihat tatapan Freya. Freya berdiri di samping Lucky, menggenggam lengan pria itu dengan kuat.
"Cukup, Daddy!" teriak Freya. "Dua jam yang diberikan Fank di Berlin lima tahun lalu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku karena aku membiarkan Lucky pergi. Tapi kali ini, aku tidak akan mengulanginya. Alistair adalah anak Lucky. Dan jika Daddy ingin membawanya, Daddy harus melangkahi mayatku dulu."
Suasana di ruang tamu itu memanas. Alistair, yang merasa ketegangan, mulai terisak kecil di pundak Lucky. Lucky mengusap punggung anaknya, membisikkan kata-kata penenang di tengah badai yang sedang berkecamuk.
Pertarungan antara kekuasaan mutlak Montgomery dan cinta yang tulus dari seorang pria yang telah melepaskan segalanya baru saja dimulai. Lucky Caleb tidak lagi memegang gitar; kali ini, ia memegang masa depannya yang paling nyata.
🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
smngt Thor ceritanya bgus bgt