NovelToon NovelToon
Setelah Titik,Ada Temu

Setelah Titik,Ada Temu

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahmuda / Romansa Fantasi / CEO / Dark Romance / Mantan / Tamat
Popularitas:15.3k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.

Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.

Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".

Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Lia menarik napas panjang, mencoba mengusir sesak yang masih bersisa. Di atas meja kayu yang permukaannya sudah mulai terkelupas, ia membuka laptop tuanya. Jemarinya diam di atas papan tik, ragu untuk memulai. Namun, ia tahu, ia harus bertahan hidup. Ia tidak boleh terus-menerus tenggelam dalam abu kenangan semalam yang telah ia bakar.

Saat layar menyala, sebuah notifikasi surat elektronik (email) muncul di sudut kanan atas. Nama pengirimnya tampak familier: Radit, teman seangkatannya saat di Fakultas Sastra dulu.

Lia mengernyitkan dahi dan segera membukanya.

Subjek: Peluang Kerjasama Penerbitan - Urgent!

Lia, apa kabar? Aku dengar kamu sedang 'menghilang' di Bali, tapi tulisanmu tidak bisa sembunyi. Seseorang dari Penerbit Aksara Nusantara melihat beberapa sajak yang pernah kamu unggah di blog lama dan beberapa jurnal sastra kampus dulu.

Pihak penerbit sangat tertarik dengan gaya bahasamu yang puitis namun tajam. Mereka menawarkanku untuk menghubungimu. Mereka ingin menerbitkan kumpulan puisimu dalam bentuk buku tunggal. Kontraknya sangat serius, Lia. Bayaran di depannya cukup untuk membuatmu hidup tenang di sana tanpa harus mencemaskan biaya operasional sekolah pesisirmu selama setahun penuh.

Katakan padaku jika kamu tertarik. Mereka ingin naskah mentahnya segera.

Tangan Lia gemetar, kali ini bukan karena takut atau sedih, melainkan karena secercah harapan yang tiba-tiba muncul di tengah kegelapan. Sastra—hal yang sempat ingin ia tinggalkan karena luka dari keluarga Adhitama—justru kembali datang untuk menyelamatkannya.

Lia menatap keluar jendela, ke arah anak-anak nelayan yang sedang bermain di pinggir pantai. Ia teringat janjinya pada diri sendiri untuk tidak lagi merendahkan martabatnya demi cinta yang mustahil. Dengan tawaran ini, ia bisa mandiri. Ia tidak perlu lagi merasa berutang budi atau takut pada ancaman siapa pun.

"Terima kasih, Semesta," bisik Lia lirih.

Ia mulai mengetik balasan untuk Radit. Namun, di tengah keseriusannya, sebuah pemikiran melintas di kepalanya: Siapa sebenarnya pemilik Penerbit Aksara Nusantara? Mengapa mereka begitu gigih mencarinya di saat ia sedang berusaha menghilang?

Lia segera menepis pikiran buruk itu. Ia butuh pekerjaan ini. Ia butuh alasan untuk tetap berdiri tegak sebagai "Azzalia sang penyair", bukan sekadar "wanita yang pernah dicium Regas di gubuk bambu".

Baru saja ia menekan tombol send, terdengar suara motor berhenti di depan gubuknya. Bukan mobil mewah, melainkan motor tua milik kurir ekspedisi desa.

"Misi, Bu Lia! Ada paket kilat dari Jakarta. Katanya penting sekali," teriak kurir itu dari balik pagar.

Jantung Lia kembali berpacu. Jakarta. Mengapa semua hal dari kota itu seolah menolak untuk melepaskannya?

Lia melangkah mendekati pagar dengan perasaan waswas. Ia menerima kotak karton sedang itu, membawanya masuk, dan meletakkannya di atas meja di samping laptop yang masih menyala. Tangannya sedikit gemetar saat menyayat isolasi penutup paket tersebut.

Begitu kotak terbuka, aroma yang sangat ia kenal segera menyeruak. Mawar putih. Segar, tanpa duri, dan masih berembun seolah baru saja dipetik dari taman rahasia. Di bawah rangkaian bunga itu, terdapat tumpukan buku dengan sampul yang sudah sangat familiar di ingatan Lia.

Lia menarik napas tertahan. Itu adalah edisi langka karya-karya penyair dunia dan buku teori sastra klasik yang dulu sering ia pinjam di perpustakaan universitas. Buku-buku yang pernah menjadi bahan diskusinya bersama seorang pria di meja pojok perpustakaan Teknik.

Ia mengambil satu buku paling atas, sebuah kumpulan puisi karya Pablo Neruda. Saat membukanya, selembar kertas kecil jatuh dari selipan halaman.

Tidak ada nama pengirim. Hanya ada satu baris tulisan tangan yang sangat rapi dan tegas—tulisan yang semalam sempat ia bakar jejaknya di atas kertas koran, namun kini muncul kembali dalam bentuk fisik.

"Mawar putih untuk kemurnian sajakmu, dan buku-buku ini untuk menemanimu membangun mimpi. Jangan biarkan dunia memadamkan cahayamu, Lia. Teruslah menulis."

Lia terduduk lemas di kursinya. Jantungnya bergemuruh hebat. Paket ini bukan dari Penerbit Aksara Nusantara, tapi jelas dikirim oleh seseorang yang tahu persis selera dan luka-lukanya.

"Regas..." bisiknya perih.

Bagaimana bisa pria itu sempat mengirimkan paket secepat ini? Apakah dia sudah menyiapkannya bahkan sebelum dia menginjakkan kaki di Jakarta? Lia menatap mawar putih itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, bunga itu melambangkan penghormatan Regas pada profesinya sebagai guru sastra, namun di sisi lain, ini adalah pengingat bahwa Regas tidak akan pernah benar-benar membiarkannya pergi, meskipun Lia sudah mematahkan kartu SIM-nya.

Lia menutup matanya rapat-rapat, mencengkeram pinggiran meja. Ia baru saja ingin melupakan kejadian semalam dan fokus pada tawaran Radit, tapi kehadiran buku-buku ini seolah menariknya kembali ke masa-masa ospek, masa di mana ia pertama kali melihat sosok "Kakak Tingkat" idola itu mencuri pandang ke arahnya.

Tiba-tiba, sebuah kecurigaan muncul. Lia kembali menatap layar laptopnya, pada email dari Radit tentang Penerbit Aksara Nusantara.

"Mungkinkah..." Lia menggantung kalimatnya. Apakah tawaran penerbitan yang datang tiba-tiba itu juga merupakan bagian dari rencana Regas untuk "mendukung" impiannya dari kejauhan?

1
Niken Dwi Handayani
Ghea bukan anaknya Regas ya? kalau 5 tahun terpisah, anak nya belum masuk SD. Mungkin anak kakak nya
Chelviana Poethree
👍👍👍
Chelviana Poethree
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!