Chandra Baswara lahir pada malam yang indah di bawah cahaya rembulan, tetapi kebahagiaan itu retak sejak awal ketika ayahnya menolak dirinya hanya karena tanda lahir besar di wajahnya. Sejak kecil Chandra tumbuh dengan kasih sayang ibunya, namun dunia di sekitarnya tidak selalu sebaik itu. Tatapan aneh, bisikan, dan ejekan membuatnya terbiasa menyendiri dan perlahan menutup hatinya dari orang lain. Baginya, hidup sendiri terasa lebih aman daripada harus kembali merasakan penolakan. Namun semuanya mulai berubah ketika seseorang hadir tanpa memandang kekurangannya, sementara sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan keluarganya perlahan terungkap. Di tengah luka, penerimaan, dan pencarian jati diri, Chandra harus belajar memahami bahwa manusia tidak selalu sekejam yang ia bayangkan, dan bahwa nilai dirinya jauh lebih besar daripada apa yang terlihat di wajahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB IV—PINTU BESI
Rumah terasa sepi, Setelah menunaikan kewajibannya, Chandra merasa ada yang terlupa, yang benar saja Ibunya belum pulang. Ia segera pergi ke rumah Kakaknya untuk menanyakannya apakah ibunya ada di sana atau tidak disana, berhubungan rumahnya dengan rumah Kakakmya masih satu lingkup RT jadi tak begitu jauh ia segera melangkahkan kaki kesana.
Sesampai disana, diteras terlihat Baskara duduk di kursi dengan buku di tangannya.
“Assalamualaikum mas, ibukku ada di sini?” Salam dan tanya Chandra
Chandra meletakan bukunya yang sedang dia baca ke atas meja di sebelahnya lalu menjawab dengan gembira “Waalaikumsalam Chand, gak ada” Jawabnya dan lanjutnya “eh…, Mama aja juga ga ada di rumah, palingan Ibu Mandira sama Mama keluar bareng, emangnya kamu ga tanya lewat chat?”
“Ga, Mas sendiri ga ngirim pesan ke Mama Pertiwi juga kan?”
“Hahaha sudah pandai jawab gini ya” Tawa Baskara menggema bersandingan suara jangkrik di halaman rumah.
Chandra hanya berdiri diam menatap kakaknya dengan wajah datar.
Tawa Baskara selesai dengan sendirinya “Sudah duduk saja dulu di sini! Mama dan Ibu Mandira pasti keluar berdua jadi tunggu saja disini saja, mau Mas buatkan minuman?.”
Chandra segera menempatkan badan di kursi sebelah kakaknya “Mau Americano saja mas.”
“Eh yo nggak ada to dek kalo americano, gak mau kopi biasa atau gak kopi susu gitu?” terkaget-kaget ia mendengar jawaban adiknya.
“Hhhm gak gak mas, adanya apa begitu mas samain sama mas saja” Chandra terseyum kecil
Senyum kecil itu sungguh langka terjadi, bagai Supermoon menampakkan diri ke dunia. Baskara sungguh salah tingkah sendiri atas senyuman kecil itu.
“Bentar mas buatin ya” Kata dari Baskara sambil berlari ke arah dapur karena salah tingkah sendiri.
Chandra menggaruk pelipisnya, jarang sekali kakaknya bersikap aneh seperti itu akan tetapi ia sendiri tak menyadari bahwa dirinya pun juga.
Beberapa menit berlalu
Baskara keluar membawakan kopi hitam dua dan meletakannya di meja di antara mereka lantas ia menyuruh sang adik untuk segera meminumnya.
“Ayo minum, kau tamu istimewaku hari ini.”
Lirikan sinis berada dalam wajah Chandra “Kau memperlakukanku seperti orang luar ya?.”
“Eh ya nggak justru karena aku kakak yang baik makanya aku mengistimewakan kamu gini” Jawab Baskara menjelaskan.
Tak menggubris perkataan kakaknya, Chandra mengangkat cangkir setara dengan mulutnya dan meminumnya. Tak tahunya kopi itu tanpa gula.
“Wekk….ASU….ini tanpa gula mas?!” Ekspresi dengan perkataan selaras karena kepahitan.
“Iya wong katanya tadi sesuaiin dengan punya nya mas ya mas sesuaiin” Dalih Baskara meringis merasa tak bersalah.
“Ya sih”
“Tak rasa-rasa kamu kog beda gini ya malam ini, kenapa? Keliatannya kamu sedang bahagia ya, ada apa ini coba cerita?!” Rasa penasaran menguasai diri Baskara.
“Gak ada apa-apa.”
“Kalau sedang bahagia ya di bagi-bagi, ayo to cerita ke mas sekarang!” Pinta Arka menggali hati Chandra.
“Gak ada apa-apa mas” Pengulangan kata dari Chandra untuk mencoba menutup hatinya.
“Mas rasa ada apa-apa, oh ya mas tadi sore di mintai sesuatu oleh adik kelas….”
Belum selesai kakaknya berbicara Chandra langsung memotongnya “Oh mas dalangnya”
“Lah dalang apa? kog tiba-tiba omong begitu” Tanda tanya berada diatas kepala Baskara sekarang.
Alis Chandra saling mendekat dan rahangnya agak mengeras “Sudah lah mas, gausah bohong tadi saja sudah omong, ga ada gunanya.”
“Dalang apa sih dek?” tanya lagi dari Baskara sambil mengikir pelipisnya pelan.
“Kamu kan yang ngasih nomorku ke si Arka?” Ucapnya dengan Tatapan yang tak lepas dari wajah kakaknya, seolah mencari pengakuan.
Baskara menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka suara. “Iya Mas yang ngasih, kenapa kog mas bisa jadi dalang?.”
Alis Chandra mulai mengendor atas pengakuan sang kakak “Ya gak kenapa-kenapa aku kaget saja kog ada orang chat aku tadi pas aku baru bangun ngagetin saja, lagian dari pagi hingga petang tadi dia terus menggangguku.”
“Mengganggu?” Tanya singkat Baskara dengan memiringkan kepala pelan
“Tadi waktu istirahat dia tiba-tiba ngajak aku ngobrol. Pas pulang sekolah juga nahan aku cuma buat ngomong nggak jelas. Sekarang Mas kasih nomorku ke dia, terus dia chat lagi. Padahal nggak ada urusan penting sama sekali.” Chandra menjelaskan yang awalnya alisnya sudah mengendor sekarang kembali hampir menyatu.
Baskara menatap adiknya lama. Di balik wajah kesal itu, ia melihat sesuatu yang jarang muncul seperti sekarang, Chandra sedang bercerita, meski tak sadar. Hatinya terasa hangat. Doanya pagi tadi seperti pelan-pelan dikabulkan.
“Hei aku sedang omong malah melongo” Alisnya semakin hampir benar-benar menyatu.
“Eh maaf hehe……kalau Mas boleh berpendapat, Arka itu hanya ingin menjadi temanmu sesimpel itu” Baskara menjelaskan.
“Gak mungkin lah” Sanggah dari Chandra.
“Di beri tahu kog malah bantah”
“Di pikir-pikir gak mungkin mas” Bantahnya seakan menolak pendapat Baskara
“Kenapa kog ga mungkin? Mas malah berharap kamu punya beberapa teman bahkan sahabat tak usah banyak, sedikit saja tapi baik padamu saja mas sudah senang banget”.
Syok mendengar perkataan sang kakak, akan tetapi lagi-lagi yang namanya Chandra ini tak tahu caranya menerima kasih sayang dari orang terdekatnya, hingga rasa syok tersebut di alihkan oleh pertanyaan di dalamnya “Memang beda teman dan sahabat?.”
“Jelas beda” Ujar Baskara
“Apa bedanya”
Baskara menarik napas sejenak sebelum menjelaskan ke Chandra “Gampangnya gini, teman cuma akan mendengar cerita tanpa merasakan sedangkan sahabat akan melakukan keduanya” Ucap Baskara sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.
Chandra memilih diam. Tatapannya kosong, seolah kata-kata kakaknya belum benar-benar ia pahami.
“Kamu akan memahaminya jika kamu memilikinya” Ungkap Baskara yang membuat tanda tanya besar di kepala Chandra
“Dalam arti?.”
Baskara menarik napas pelan lagi, lalu menatap Chandra dengan serius sebelum berbicara “Entah teman atau sahabat, bukalah pintu besi itu untuk orang sekitarmu karena mungkin ada beberapa orang yang ingin masuk kedalam.”
Sunyi malam itu membuat suara jangkrik bersenandung keras, namun suara tersebut tak terdengar ke telinga Chandra, hanya suara hati dan pikiran yang terdengar sedang saling bertabrakan.
Teman? Sahabat? Buka pintu besi? Seseorang masuk ke dalam? Apa maksudnya semua itu?.
Baskara sadar adiknya mulai tenggelam dalam pikirannya, jadi ia sengaja mengalihkan pembicaraan. Ia meraih kembali buku yang sebelumnya ia letakan di atas meja. Ia menunjukkan buku itu “Kamu tahu buku ini?” Tanyanya sambil menunjukkan
Chandra menggeleng ke kanan dan ke kiri menandakan tak mengetahui buku yang sedang di tunjukan oleh kakaknya.
“Ckk……Ga asyik banget” Ejeknya pelan, nyaris tanpa nada.
“Biarin” Jawab Chandra yang tak kalah sinis
“Kamu bakal tertarik dengan buku ini” Ungkapnya untuk meyakinkan Chandra
“Belum tentu”
Baskara mulai menjelaskan tentang buku tersebut hingga percakapan mereka terus mengalir tentang buku itu, malam tetap berjalan semestinya dengan bulan dan bintang-bintang yang menemani mereka berdua tak lupa juga dengan hawa dingin sebagai penenang suasana.
Malam yang tenang tetap berlanjut untuk mereka berdua