NovelToon NovelToon
Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Sistem Rebahan Tak Terkalahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Irzad

Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Awan hitam legam bergulung-gulung bagai lautan tinta yang tumpah di atas kanvas langit Benua Langit Azure. Udara yang biasanya dipenuhi oleh energi spiritual yang murni dan menyegarkan, kini terasa berat, lembap, dan menekan dada. Sesekali, kilatan petir ungu menyambar di kejauhan, membelah kegelapan sore itu dengan cahaya yang menyilaukan, disusul oleh gemuruh guntur yang menggetarkan fondasi gunung.

Badai spiritual tahunan yang dikenal sebagai "Kutukan Naga Air" akhirnya tiba. Ini adalah fenomena alam yang ditakuti oleh para kultivator tingkat rendah, di mana hujan yang turun tidak hanya membawa air sedingin es, tetapi juga mengandung serpihan energi Yin liar yang mampu menusuk meridian dan membekukan aliran darah jika seseorang berada di luar ruangan terlalu lama.

Dalam sejarah Sekte Awan Mengalir, hari-hari badai seperti ini adalah waktu di mana seluruh murid akan mengunci diri di dalam asrama atau aula latihan mereka. Mereka akan mengaktifkan formasi penghangat ruangan, menyeduh teh akar jahe spiritual, dan bermeditasi dengan aman di bawah perlindungan atap genteng berlapis pelindung Qi.

Namun, tahun ini, pemandangan di Puncak Utama Sekte Awan Mengalir terlihat seperti sebuah lukisan absurd yang digambar oleh orang gila.

Di Aula Meditasi Inti yang megah, tempat di mana Pemimpin Sekte Linghu dan para Tetua Tertinggi biasanya mencari pencerahan, angin kencang melolong ganas. Hujan turun dengan sangat lebat, butirannya sebesar buah anggur, menghantam lantai giok putih tanpa ampun.

Alasannya sangat sederhana: Atap aula yang dulunya berlapis emas dan menelan biaya ribuan batu roh itu, kini telah dibongkar total hingga tak bersisa.

Pemimpin Sekte Linghu duduk bersila di atas singgasananya. Jubah sutra keemasannya yang tak ternilai harganya kini basah kuyup, menempel ketat di tubuhnya dan meneteskan air berlumpur. Rambutnya yang biasanya diikat rapi dengan mahkota giok kini lepek dan menutupi separuh wajahnya. Air hujan yang mengandung energi Yin liar menerpa wajahnya tanpa ampun, membuat bibirnya sedikit membiru karena kedinginan.

Namun, Linghu tidak beranjak. Rahangnya mengeras. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba memaksakan ekspresi kedamaian kosmik di wajahnya yang menggigil.

Di sekelilingnya, enam belas Tetua Tertinggi juga duduk bersila dalam formasi melingkar. Kondisi mereka tidak jauh lebih baik. Tetua Puncak Alkimia, yang biasanya dikelilingi oleh hawa panas, kini bersin-bersin dengan hidung memerah. Tetua Puncak Pedang memeluk lututnya sendiri, berusaha menahan giginya agar tidak bergemeretak terlalu keras.

"T-t-tahan, saudara-saudaraku..." suara Linghu bergetar, mencoba menyalurkan Qi dari Dantian-nya untuk menghangatkan tubuh, namun energi badai terlalu kuat untuk dilawan tanpa atap pelindung. "I-ini adalah ujian. Master Lin telah m-menunjukkan jalannya... Jendela Kekosongan! Kita tidak boleh membiarkan k-kemanjaan fisik menghalangi k-kita dari sentuhan langsung alam semesta!"

Tetua Inspeksi mengangguk patah-patah, mengusap air hujan yang masuk ke matanya. "B-benar, Pemimpin Sekte! Saya bisa m-merasakannya! Kesombongan saya sedang dicuci b-bersih oleh badai ini! Master Lin pasti sedang melakukan hal y-yang sama di Dapur Luar, menahan penderitaan ini dengan s-senyuman agung!"

Nun jauh di sana, di Puncak Pedang Berkabut, situasinya bahkan lebih tragis.

Jian Chen, sang jenius pedang yang baru saja pulih dari serangan balik mentalnya, kini berdiri di tengah lapangan lumpur asramanya yang atapnya juga telah ia hancurkan sendiri. Ia tidak mengenakan baju atasan. Otot-ototnya yang kekar diguyur hujan badai yang sedingin es. Ia mencoba tidur sambil berdiri, menengadah menatap petir dengan mata terpejam, mencoba memahami esensi "Kemalasan Absolut" di tengah penderitaan fisik yang ekstrem.

"Rileks... aku harus rileks..." gumam Jian Chen dengan bibir ungu dan tubuh bergetar hebat. "Jika aku kedinginan, itu berarti egoku masih menolak alam. Master Lin... ajari aku ketiadaanmu!"

Sementara para elit sekte sedang menyiksa diri mereka sendiri atas nama pencerahan palsu, sang "Master" yang menjadi sumber dari seluruh bencana arsitektur ini sedang menghadapi badai dengan cara yang sangat berbeda.

Dapur Luar sedang dilanda kepanikan kecil. Ketika badai pecah, hujan lebat mulai menerobos masuk melalui celah-celah jendela dan tentu saja, melalui lubang raksasa berdiameter dua meter di atap sudut barat laut—lubang yang diyakini sebagai "Jendela Kekosongan".

"Cepat! Tutup karung-karung gandum itu dengan terpal kulit binatang!" teriak Wang Ta, suaranya nyaris tenggelam oleh gemuruh guntur. "Zhao Er! Pindahkan keranjang sayuran spiritual menjauh dari area yang bocor! Jangan sampai kelembapan ini merusak tekstur kubis kita!"

Ratusan pelayan berlarian panik, mencoba menyelamatkan bahan makanan. Hujan badai ini terlalu ganas. Lantai batu dapur mulai digenangi air sedalam mata kaki. Udara dingin membuat napas mereka mengepul menjadi asap putih.

Di tengah kekacauan itu, Wang Ta tiba-tiba teringat pada sesuatu yang paling penting. Jantungnya seakan berhenti berdetak.

"Tuan Lin!" seru Wang Ta dengan horor absolut di wajahnya. "Lubang di atap itu tepat berada di atas tempat Tuan Lin bermeditasi! Beliau akan basah kuyup oleh badai Yin ini!"

Wang Ta meraih sebuah payung besar yang terbuat dari daun teratai raksasa dan berlari menerobos kerumunan pelayan yang panik. Zhao Er menyusul di belakangnya dengan wajah pucat pasi. Jika Master Lin sampai jatuh sakit karena mereka gagal melindunginya dari hujan, Pemimpin Sekte pasti akan menguliti mereka hidup-hidup.

Wang Ta menerobos tirai sutra biru yang kini basah di bagian bawahnya. "Tuan Lin! Hamba datang untuk memayungi—"

Kata-kata Wang Ta terhenti di tenggorokannya. Payung daun teratai di tangannya jatuh ke lantai yang basah. Mulutnya terbuka lebar, nyaris menyentuh dadanya. Matanya melotot menatap pemandangan absurd yang menentang semua hukum alam dan logika kultivasi.

Di atas Kursi Goyang Energi Qi-nya, Lin Fan sedang tidur menyamping dengan posisi meringkuk layaknya seekor kucing besar yang malas. Selimut linen putihnya menutupi seluruh tubuhnya, sementara kepalanya bersandar nyaman di atas bantal sutra es. Di bawah tumitnya, Batu Giok Api-Es Yin Yang memancarkan cahaya merah yang lembut, memberikan hawa hangat yang menyeimbangkan suhu di sekitar kursi tersebut.

Namun, bukan postur tidurnya yang membuat Wang Ta dan Zhao Er membeku di tempat.

Tepat di atas kepala Lin Fan, hujan badai turun dengan ganas dari lubang "Jendela Kekosongan". Ribuan tetes air berukuran besar meluncur deras, siap untuk menghantam tubuh pemuda yang sedang tertidur itu.

Akan tetapi, tepat sekitar tiga inci di atas wajah dan tubuh Lin Fan, tetesan-tetesan hujan lebat itu... berbelok.

*Ting! Tiktiktik! Wusss...*

Terdengar suara halus yang aneh, seperti air hujan yang mengenai kaca transparan yang melengkung. Tetesan hujan itu menghantam sebuah kubah energi tak kasat mata—'Payung Nirwana Tanpa Bentuk'—lalu meluncur turun ke sisi kanan dan kiri kursi goyang, menciptakan sebuah tirai air yang indah di sekeliling Lin Fan.

Tidak ada satu tetes pun air hujan yang mengenai selimutnya. Tidak ada satu pun percikan yang menyentuh wajahnya. Ruangan di dalam kubah pelindung itu benar-benar kering kerontang.

Lebih menakjubkan lagi, energi pasif dari kursi goyang dan batu giok bergabung dengan kubah pelindung tersebut. Hawa dingin badai yang membawa energi Yin liar disaring oleh lapisan kubah tak kasat mata itu, meninggalkan hanya udara sejuk dan suara rintik hujan yang terdengar seperti melodi pengantar tidur paling mewah yang pernah ada.

*Kreeet... kreeet... zzzzz...*

Lin Fan mendengkur halus. Dahinya sama sekali tidak berkerut. Sudut bibirnya bahkan melengkung membentuk senyuman damai. Suara hujan badai di luar yang memekakkan telinga justru bertindak sebagai *white noise* yang sempurna, memblokir suara kepanikan para pelayan dapur dan membuatnya tidur seratus kali lebih nyenyak dari biasanya.

Wang Ta jatuh berlutut. Air mata haru dan kekaguman spiritual tumpah dari matanya yang sipit, bercampur dengan air hujan yang menetes dari rambutnya.

"Langit..." bisik Wang Ta dengan suara serak, mengatupkan kedua tangannya di depan dada. "Apakah kau melihatnya, Zhao Er? Apakah matamu yang fana ini mampu mencerna keagungan yang ada di hadapan kita?"

Zhao Er, yang juga sudah berlutut di samping Koki Kepala, mengangguk patah-patah sambil terisak pelan. "Hamba melihatnya, Kepala Koki... Master Lin... beliau bahkan tidak repot-repot membuka mata untuk menangkis badai alam. Auranya secara alami menolak air hujan! Langit menangis, tapi ketiadaan beliau membelah air mata langit itu sendiri!"

"Ini adalah Tingkat Penolakan Duniawi!" desis Wang Ta, tubuh gempalnya bergetar karena euforia religius. "Para Tetua di Puncak Utama pasti sedang menderita menahan dingin saat ini karena membongkar atap mereka. Mereka mengira menahan rasa sakit adalah bagian dari pencerahan. Tapi Master Lin... beliau mengajarkan kita bahwa ketika Dao kita sudah mencapai kekosongan absolut, bahkan bencana alam pun akan menyingkir karena segan untuk menyentuh tubuh agung kita!"

Faktanya, di balik alam bawah sadarnya, Lin Fan sedang menikmati mimpi yang sangat indah tentang berendam di pemandian air panas di musim dingin sambil meminum es limun.

*[Ding! Menghadapi Badai Yin Liar tanpa menggerakkan satu otot pun.]*

*[Misi Bertahan Hidup Pasif: Berhasil.]*

*[Efisiensi Tidur mencapai 300% berkat kombinasi White Noise Hujan Badai, Kursi Goyang, dan Pemanas Batu Giok.]*

*[Menerima Pengalaman Kultivasi Pasif: +50 per detik selama badai berlangsung.]*

*[Sistem mencatat: Tingkat kemalasan Host telah melampaui batas hukum termodinamika sekte ini.]*

Lin Fan hanya menggeliat kecil, memeluk bantalnya lebih erat. Hembusan napasnya yang teratur melepaskan sedikit residu Qi yang hangat, yang menyebar melalui celah kubah pelindung dan menerpa wajah Wang Ta dan Zhao Er, menghangatkan tubuh mereka yang kedinginan.

"Beliau... beliau membagikan hawa murninya untuk melindungi kita yang kedinginan," isak Wang Ta, benar-benar tersentuh. "Mulai sekarang, aku bersumpah, Dapur Luar tidak akan pernah memasang atap di sudut barat laut ini! Biarkan Jendela Kekosongan ini terbuka selamanya sebagai saksi bisu kekuatan sejati!"

Badai "Kutukan Naga Air" berlangsung selama tiga hari tiga malam berturut-turut.

Selama tiga hari itu, seluruh petinggi dan murid elit Sekte Awan Mengalir di Puncak Utama dan Puncak Pedang mengalami penderitaan yang tak terlukiskan. Mereka terserang demam spiritual, kulit mereka pucat pasi, dan beberapa tetua bahkan harus menelan pil Yang murni dosis tinggi agar meridian mereka tidak membeku. Namun mereka menanggungnya dengan gigi terkatup, percaya bahwa ini adalah proses memurnikan ego mereka.

Di sisi lain, selama tiga hari tiga malam itu pula, Lin Fan menghabiskan waktunya dengan tidak melakukan apa-apa selain rebahan di atas kursi goyangnya yang hangat dan kering. Ia hanya sesekali bangun untuk memakan bubur daging cincang yang disuapkan oleh Zhao Er dengan sangat hati-hati agar tidak menembus batas kubah tak kasat mata (Zhao Er harus menggunakan sendok bergagang panjang), lalu kembali tertidur dengan damai di bawah alunan suara hujan.

Ketika awan hitam akhirnya menyingkir dan matahari kembali bersinar di hari keempat, Sekte Awan Mengalir telah berubah.

Para Tetua yang selamat dari badai tanpa atap itu merangkak keluar dari aula mereka dengan tubuh kurus kering dan mata cekung. Namun, karena tekanan mental ekstrem yang mereka paksakan pada diri mereka sendiri selama badai, beberapa dari mereka secara kebetulan memecahkan kebuntuan mental mereka dan benar-benar mengalami sedikit peningkatan dalam kultivasi pikiran.

"Master Lin benar!" seriak Tetua Inspeksi dengan suara serak, mengangkat tangannya yang gemetar ke arah matahari. "Penderitaan ini menghancurkan ilusi kenyamanan kita! Arsitektur Kekosongan adalah jalan yang benar!"

Sementara itu, di Dapur Luar, Lin Fan membuka matanya dengan segar bugar. Kulitnya bersinar sehat, energinya penuh hingga meluap-luap, dan ia merasa seperti baru saja kembali dari liburan panjang di resor bintang lima. Ia bangkit dari kursinya, meregangkan tubuhnya yang bugar, dan menatap genangan air di halaman dapur yang mulai mengering.

"Ah... cuaca hari ini cukup cerah," gumam Lin Fan santai, tanpa beban sedikit pun. "Wang Ta, apakah ada camilan pagi ini? Menganggur selama tiga hari ternyata membuat perutku cukup cepat lapar."

Ketika berita tentang Lin Fan yang melewati badai tiga hari tanpa lecet, tanpa basah, dan malah terlihat semakin segar menyebar ke Puncak Utama... sekte itu sekali lagi dihebohkan oleh kebesaran sang "Master Tidur" yang misterius.

1
ikyar
bagus lucu
rinn
🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!