Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.
Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.
Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.
Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Bau antiseptik di lorong rumah sakit ini terasa semakin mencekik, namun kepalaku harus tetap tegak. Aku tidak boleh hancur sekarang, saat Arlan sedang berada di titik terendahnya. Setelah dokter menjelaskan prosedur pengobatan jangka panjang untuk gagal ginjal stadium awal dan pemulihan lambung Arlan, aku melangkah keluar menemui Bang Haris yang masih setia menunggu di ruang tunggu.
"Bang," panggilku parau. Bang Haris menoleh, guratan kelelahan juga tampak di wajahnya.
"Gimana kondisi Arlan, Ran?"
"Dia stabil, tapi perjalanannya akan panjang, Bang. Cuci darah mungkin belum, tapi diet ketat, istirahat total, dan pengobatan rutin ini nggak bisa dikompromi. Aku nggak mungkin membiarkan dia menyentuh berkas kantor satu lembar pun," aku menghela napas panjang, menatap lurus ke mata abangku. "Bang, aku butuh bantuanmu. Aku mau fokus ngerawat Arlan, tapi aku juga nggak mau Arania Group yang baru lahir ini hancur lagi. Ayah butuh orang yang bisa dipercaya di sampingku."
Bang Haris terdiam sejenak. Aku tahu permintaanku ini berat. Dia punya perusahaannya sendiri di Singapura yang sedang berkembang pesat.
"Kamu mau Abang handle Arania Group sementara kamu fokus ke Arlan?" tanya Bang Haris memastikan.
Aku mengangguk pelan. "Hanya Abang yang aku percaya. Aku nggak mau ada celah lagi buat orang-orang seperti Harva atau Rendra masuk ke manajemen."
Bang Haris tersenyum tipis, lalu menepuk bahuku dengan mantap. "Oke. Abang iyakan. Arlan itu sudah seperti adik kandungku sendiri. Soal perusahaan Abang di Singapura, nggak masalah. Abang akan minta asisten kepercayaan Abang di sana untuk terbang ke Jakarta atau mengurus semuanya lewat remote. Abang akan stay di sini, bantu kamu dan Ayah jaga Arania Group."
Rasa lega yang luar biasa menyapu dadaku. "Makasih, Bang. Makasih banyak."
"Sama-sama, Ratu Es. Sekarang, masuklah. Temani dia. Biar urusan eksternal, biar Abang yang pasang badan," ujar Bang Haris sebelum beranjak menjauh untuk menghubungi asistennya di Singapura.
Aku kembali masuk ke kamar rawat Arlan. Pria itu tampak tertidur pulas karena pengaruh obat. Aku duduk di sampingnya, menggenggam tangannya yang kini terlihat lebih kurus.
"Lan, dengerin aku ya," bisikku di telinganya, meski dia belum sadar. "Kamu nggak perlu mikirin kantor lagi. Bang Haris sudah setuju buat bantu kita. Tugas kamu cuma satu: sehat. Kita akan lewati ini, walaupun harus pelan-pelan. Kita sudah menang dari pengkhianatan, kita juga pasti menang dari rasa sakit ini."
Satu Minggu Kemudian.
Kondisi Arlan mulai menunjukkan kemajuan, meski ia masih harus menjalani observasi ketat. Di sisi lain, suasana di Arania Group tetap stabil berkat kepemimpinan Bang Haris yang tegas namun adem.
Sinar matahari sore menerobos celah gorden, menyinari wajah Arlan yang perlahan mulai kembali berwarna, meski tubuhnya masih terlihat sangat ringkih di balik selimut rumah sakit. Ia terbangun saat aku sedang merapikan botol air mineral di nakas.
Arlan menatapku lamat-lamat. Ada pancaran kesedihan dan keraguan yang dalam di matanya, jenis tatapan yang belum pernah kulihat bahkan saat ia sedang kritis sekalipun.
"Ran..." suaranya serak.
Aku segera duduk di tepi ranjangnya, menggenggam tangannya yang kini tak lagi sedingin kemarin. "Iya, Lan? Ada yang sakit? Mau minum?"
Arlan menggeleng pelan. Ia menarik napas panjang, tampak kesulitan menyusun kata-kata. "Sampai kapan kamu mau di sini?"
"Maksud kamu?" aku mengerutkan kening. "Aku akan di sini sampai kamu boleh pulang, sampai kamu benar-benar sembuh."
Arlan memalingkan wajahnya ke arah jendela, menghindari tatapanku. "Aku sekarang cacat, Ran. Lambungku rusak, ginjalku bermasalah. Aku nggak tahu apakah aku bisa jadi pria yang kamu banggakan lagi di kantor. Aku bahkan nggak tahu apakah aku bisa menemanimu sampai tua tanpa menjadi beban."
Ia menjeda kalimatnya, suaranya mulai bergetar. "Kamu wanita karier yang hebat. Kamu punya masa depan yang sangat cerah di Arania Group. Apa kamu benar-benar mau tetap di sini... bersamaku? Menghabiskan waktu mudamu hanya untuk menjaga pria penyakitan yang harus diet ketat dan mungkin nanti harus cuci darah?"
Rasa sesak seketika memenuhi dadaku. Aku menarik dagunya perlahan agar ia kembali menatapku.
"Dengar aku, Arlan," ucapku tegas, suaraku sedikit bergetar namun penuh keyakinan. "Tiga tahun aku hidup sebagai 'Ratu Es' di Jakarta. Aku punya uang, aku punya jabatan, aku punya segalanya, tapi aku merasa mati di dalam. Kenapa? Karena aku nggak punya kamu."
Aku mencium punggung tangannya dengan lembut. "Kondisi fisikmu mungkin berubah, tapi jiwa yang aku cintai tetap sama. Aku nggak butuh CEO yang sempurna, aku butuh kamu. Bang Haris sudah ambil alih semua urusan kantor di bawah pengawasan asistennya dari Singapura. Ayah juga sudah merestui."
Aku mencondongkan tubuh, membisikkan janji yang takkan pernah kupatahkan. "Aku di sini bukan karena kasihan, Lan. Aku di sini karena ini adalah tempatku. Di sampingmu. Baik saat kamu sedang memimpin rapat, maupun saat kamu sedang berjuang di ranjang rumah sakit ini. Jangan pernah tanya lagi apakah aku akan tetap di sini, karena jawabannya akan selalu sama sampai napas terakhirku."
Arlan terdiam. Setetes air mata mengalir dari sudut matanya, namun kali ini bukan air mata keputusasaan. Ia menarik tanganku, menciumnya lama dengan sisa tenaga yang ia miliki.
"Maafkan aku karena sempat ragu, Ran..." bisiknya parau. "Terima kasih sudah tidak pergi."
Di balik pintu yang sedikit terbuka, aku melihat Bang Haris berdiri diam. Ia tersenyum tipis, lalu menutup pintu itu rapat-rapat, memberi kami ruang. Aku tahu, badai kesehatan ini mungkin akan panjang, tapi dengan Bang Haris yang menjaga benteng kami di kantor, aku bisa fokus menjaga hati dan raga pria yang telah menjadi rumahku.