"Kak, hari ini jadikan pulang bareng?"
"Nggak bisa, Viona lagi sakit Gue harus segera bawah dia pulang."
"Kak, boleh nggak kerumah, Aku takut Kak."
"Imlie bisa nggak, nggak usah manja Gue lagi jagain Viona di rumah sakit. Lo sendiri dulu aja ya. Kan ada pembantu Sayang. Ingat! Jangan begadang ya."
"Hiks.. Aku juga sakit Kak. Tapi mengapa dia yang selalu menjadi prioritasmu."
Anak pembawa sial, Saya nyesal udah lahirin Kamu. Kenapa bukan Kamu saja yang mati hah?"
"Ck, anak sialan. Saya muak lihat Kamu."
"Mati aja sana Li, nggak guna juga. Papa sama Mama aja udah nggak anggap Lo anak."
"Mimpi apa Gue. Punya Adik berhati busuk kayak Lo."
"Aku memang gadis pembawa sial. Aku tidak pantas hidup. Tapi, tidak pantaskah Aku mendapatkan pelukan kasih sayang itu? Hahaha siapa juga yang akan memeluk gadis pembawa sial seperti Aku."
kisah ini tentang seorang gadis yang dengan ikhlas menerima segalah kebencian yang di berikan kepadanya. ingin tahu kelanjutannya yang penasaran bisa langsung baca🤭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Happy reading<<<<<<<
Dreeeet
"Pulang sekarang atau Lo bakal tau akibatnya." ujar Aryan setelah Imlie mengangkat telfonnya.
"Dih, tadi Vionanya kagak ada? Kayanya tadi khawatir banget tuh." ujar Imlie membahas perihal tadi.
"Pulang sekrang." geram Aryan.
"Dih, kayanya situ Bapak Aku aja. Bapak Aku aja kagak peduli sama Aku kenapa Kakak peduli.. Udah ya bye byeee." cerocos Imlie dan mematikan sambungan itu membuat Aryan kesal bukan main.
"Sialan." batin Aryan.
"Semakin ngelawan ya Kamu." batin Aryan.
Sedangkan di tempat Imlie setelah menunggu agak lama karena antrian akhirnya pesanannya jadi juga. "Silahkan Dek." ujar Karyawan itu.
"Terimakasih Kak." jawab Imlie.
"Subhanallah, Kayanya bakal enak banget nih pedes pedes gurrrih." gumam Imlie.
"Allahumma bariklana fiima razaktana waqina 'Adzabannar... Allahumma salli'Ala Sayyidina Muhammad Wa'Ala Ali Sayyidina Muhammad." do'a Imlie dan di akhiri dengan sholawat kebiasaan yang selalu di terapkan.
"Masyaallah enak banget." gumam Imlie setelah menyicipi sedikit kuahnya yang berwarna merah.
"Kakak, Beta pesan satu eee terserah Kaka saja yang pilih soalnya beta pamalas milih." ujar seorang Pria yang memang sudah langganan di warung seblak ini.
"Eh Nona.. Beta izin duduk di sini ya." ujar Pria itu dan duduk berhadapan dengan meja di tengah mereka.
"Ya." jawab Imlie.
"Eh Kakak, beta sampai lupa. Level 10." balas Pria itu lagi.
"Oke, Sam." balas Karyawan itu.
"Nona, boleh kenalan tidak?" tanya Pria yang bernama Sam itu. Imlie mengangkat wajahnya dan menatap Pria di depannya ini. Imlie mengangguk dan Pria itu mengulurkan tangannya.
"Nama beta Samsul panggil saja Sam." jawab Sam.
"Kalau Gue Imlie." jawab Imlie.
"Lo kayanya bukan orang jakarta kan?" tanya Imlie memastikan.
"Iyo, Saya dari Ambon." jawab Sam dan Imlie mengangguk.
Setelah menunggu beberapa saat pesanan milik Sam langsung datang.
"Eh, Nona Saya mau foto, kalau kamera kanal Nona nggak Apa apa to?" tanya Sam.
"Ya." jawab Imlie.
Dan Sam mulai foto dan wajah Imlie terlihat jelas. Setelah lama menikmati seblaknya akhirnya Imlie berpamitan untuk pergi.
"Wih, Cewek tadi manis ee....." batin Sam kemudian mengangkat telfon yang sejak tadi berdering.
"Mangapa lay?" tanya Sam kesal.
"Lo di mana kambing? Jadi kan Lo besok pindah?" tanya Pria di seberang sana.
"Iyo jadi, tadi beta sudah sempat berbicara lay sama Ketua." jawab Sam.
"Ingat! Besok Lo jangan buat malu." peringat Pria di seberang sana.
"Wih, Lo pikir beta mau ngapain sampe mau buat malu itu. Astagfirullah jang suudzon for beta." jawab Sam.
"Heh Kambing, Lo bisa kagak jangan campur campur gitu ngomongnya kepala Gue sakit dengarnya Kambing." kesal Pria di seberang sana.
"Terserah Saya Kambing." jawab Sam dan mematikan sambungan itu.
Imlie membawa motornya dengan kecepatan di atas rata rata. Tak sadar kalau dia di ikuti oleh beberapa Pria yang tadi memperhatikannya di warung. Hingga sampai ke temoat sunyi Imlie langsung di hadang karena sejak tadi di sadar akan situasi yang berbahaya.
"Halo Manisss.. Ketemu lagi kita. Masih ingat kan sama Abang Abang? Pasti dong kan tadi baru aja ketemunya." ujar seorang Pria kekar.
"Si manis di warung seblak." sambung Pria satunya lagi.
"Hahahahah." dan mereka tertawa sedangkan Imlie hanya santai. Mrmbuat seorang Pria tampan yang dari kejauhan memantau tersenyum tipis menunggu reaksi gadis itu dia sedikit tercengang karena tidak ada sedikit pun rasa takut di wajah gadis itu.
"Udah, ngebacotnya?" tanya Imlie santai membuat mereka melongoh kemudian kembali tertawa sedangkan seseorang nampak sedikit tercengang.
"Halah.. Cantik cantik Kok jutek sih manis. Mau nggak jalan jalan sama Abang, nanti di traktir deh." ujar si A.
"Gue bukan pengemis." jawab Imlie santai tidak menatap mereka dan malah membuka pesan.
Aryan>>>>>>>
"Udah pulang?"
Imlie>>>>>>>
"Udah."
Aryan sedikit tercengang melihat pesan yang dikirimkan oleh Imlie. Dia kira gadis itu akan meminta bantuan atau nangis nangis di saat ada masalah. Tapi, Imlie tidak. Ya, karena Aryan yang sedang memperhatikan Imlie lah dari jarak agak jauh itu.
"Gadis ini lebih milih menghindar dari Gue dari pada takut dengan situasinya sekarang. Ayo!! Kita lihat apa yang terjadi Sayang..ini hukuman buat Lo biar nggak ngelawan lagi." ujar Aryan memang bukan dia yang menyuruh para Pria itu. Tetapi, dia ingin Gadisnya jera biar tidak akan keluar malam lagi.
"Lo mau pake cara kasar apa lbut? Kalau kita sih kasar ya. Biar lebih beda aja gitu." jawab Si B.
"Ck, dasar sampah masyarakat." ujar imlie kemudian turun dari motornya menaiki sedikit hoodie di pergelangan tangannya.
"Ayo!! Biar celat selesai. Gue juga suka yang kasar kalau sama manusia modelan kalian." ujar Imlie.
"Wah!! Berani juga nih cewek... Ayo!! Pegang tangannya dan kita bawah." teriak Si A pada Si B dan C.
"HIYAAAAA..."
BUGH
BUGH
KREEK
"AKKHHHH... SAKIT BANGET WOY, TULANG GUE RONTOK." teriak Si C.
Sedangkan Si B terkapar di jalanan dengan keadaan kepala pusing. Aksi Imlie tadi membuat Aryan memperhatikannya dari jarak jauh langsung kaget bukan main.
"Ternyata tak sepolos yang Gue kenal." batin Aryan pikir selama ini Imlie adalah gadis lemah nyataanya dia salah besar.
"CK, GITU DOANG KEMAMPUAN KALIAN? LO... AYO MAJU, CEPAATT GUE UDAH NGANTUK MAU PULANG TERUS BOBO CANTIK." ujar Imlie menunjuk ketua mereka yaitu Si A. Yang sudah pucat wajahnya.
"Lo, siap siap gigi depan Lo hilang." gumam Imlie.
"LO CEWEK JANGAN BELAGU YA.. HIYAAAAA." teriak Si A dan berniat menendang Imlie.
Tapi.........
"Eh, sorry." jawab Imlie yang mengambil helmnya al hasil Pria itu menedang Helmnya Imlie yang sangat keras.
"AKHHHH SIALAN." teriak Si A karena memang tidak memakai sepatu.
"Ck, makanya minimal pake sepatu lah. Jadi, kaya gini kan musibahnya." jawab Imlie dan manaruh kembali helmnya.
Tetapi si A tidak menyerah dia kembali berdiri dan bersiap memberikan to jokan pada Imlie.
Tapi.........
"AKKKHHH GIGI GUE COPOOOT." teriak Si A merasakan dua gigi depannya copot karena pukulan Imlie di wajahnya.
"Innalillahi." ujar Imlie.
"Yasudah, ini buat berobat ya.. Maaf sekalih lagi kalau kurang." ujar Imlie memberikan masing masing 20 ribu di saku para preman yang sudah lemah karena pujulan Imlie.
"Bersyukur... Walaupun hanya dua ribu bisa beli seblak lagi. Kalau aja tadi Gue pukul kalian tanpa kalian gangguin Gue. Mungkin Gue bakal bertanggung jawab Full dan bawah kalian ke RSJ. tapi kan kalian mukul Gue duluan jadilah seimpas lah." jawab Imlie kemudian melajukan motornya.
Sedangkan Aryan masih kaget di tempat melihat aksi gadisnya tadi. Aryan tak menyangka jika Imlie bisa menguasai bela diri.
"Kenapa Gue baru tau?" batin Aryan kemudian menyalakan motornya dan mengikuti Imlie. Ya, Aryan melacak hpnya Imlie sehingga dia baru tau di mana lokasi Imlie dan saat mau ke warung seblak Aryan di kejutkan dengan Imlie yang di hadang para Preman.
Bruuum bruuum
"Malam ini Lo buat Gue keliling kaya orang nggak jelas." batin Aryan dan mengikuti Imlie yang membawa motornya cepat hingga sampai di depan gerbangnya, Imlie turun dan menarik gerbang itu tapi dia menatap ke belakang melihat Aryan yang baru saja datang.
"Ck males banget." batin Imlie.
Aryan pun menghentikan motornya.
"Enak banget ya makan seblaknya, hmm?" tanya Aryan duduk di atas motornya.
"Ya, enak." jawab Imlie.
"Lo tau nggak sejak tadi Gue nyariiin Lo muter muter." ujar Aryan.
"Aku nggak nyuruh Kak." ujar Imlie membuat Aryan geram.
"Imlie." geram Arya.
"Apa?"
"Lo.."
"Apa lagi sih?" ujar Imlie membuat Aryan langsung membawa Imlie ke pelukannya.
"Lo, tadi abis ngapain?" tanya Aryan.
"Nggak." jawab Imlie.
"Yakin, hmm?" tanya Aryan.
"Ya." jawab Imlie lagi.
"Lo jangan bohongi Gue ya. Tadi Gue lihat Lo tawuran." ujar Aryan.
"Ooh." jawab Imlie.
"Sejak kapan?" tanya Aryan membuat Imlie memasang wajah bertanya.
"Sejak kapan Lo bisa jago bela diri?" tanya Aryan.
"Dari dulu." jawab Imlie.
"Kenapa nggak bilang?" tanya Aryan lagi.
"Nggak penting." jawab Imlie.
"Lo, irit kosa kata ya? Ngomong itu yang panjang." jawab Aryan. Padahal dia biasanya lebih irit kosa kata.
"Oke, Aku memang pernah belajar bela diri. Dan untuk apa Aku bilang ke sana ke sini.. Kan nggak penting juga." ujar Imlie.
"Tapi penting buat Gue." jawab Aryan.
"Buat?" tanya Imlie.
"Karna kalau Lo atau Viona dalam masalah. Gue kan bisa langsung memutuskan buat nyelamatin Viona duluan. Karena Lo udah bisa atasin masalah Lo sendiri." jawab Aryan santai.
Degh
Nyes
Dada Imlie langsung sesak.
"Oke,dari dulu sampai sekarang Gue memang menyelesaikan masalah Gue sendiri. Tanpa bantuan siapa pun." ujar Imlie kesal.
"Lo cewek mandiri, Gue suka."
"Goblok." batin Imlie kesal bukan main.